NovelToon NovelToon
Witch Hunter

Witch Hunter

Status: tamat
Genre:Perperangan / Action / Fantasi / Akademi Sihir / Iblis / Light Novel / Tamat
Popularitas:23.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayanagi Souma

Penyihir

Makhluk biadab yang memangsa manusia. Tak peduli siapa dirimu.
Mereka akan memangsamu. Membunuhmu.

Di dunia ini sihir terbagi dua.
Sihir cahaya dan sihir kegelapan.

Berabad-abad tahun lepas. Umat manusia berperang melawan makhluk mengerikan yang dinamakan penyihir. Sang para pengguna sihir kegelapan.

Umat manusia yang berjuang melawan mereka disebut 𝘛𝘩𝘦 𝘩𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. Mereka menggunakan sihir cahaya untuk membunuh para penyihir.

Kini saatnya untuk memburu penyihir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayanagi Souma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 –[ Sihir dan Penyihir 03 ]–

12 Maret 2023

"Kau sudah dengar? Sepuluh orang murid kelas tiga tewas dalam keadaan mengenaskan tempo hari."

"Eh, benarkah? Siapa pembunuhnya?"

"Rumornya itu adalah anak dari kelas khusus internasional."

"Ya, itu benar. Itu pasti ulah si pangeran sombong."

"Eh, masa? Kejam sekali. Mentang-mentang dia bergelar pangeran dia pikir bisa melakukan segala hal yang dia mau. Jahat sekali."

"Aku jadi tidak ingin dekat-dekat dengan kelas itu. Selain sombong, kelas itu berisi orang-orang yang tidak waras semua."

"Ya, mungkin karena merasa lebih berbakat dari kita yang dianggap rendah oleh mereka."

"Lalu, bagaimana dengan pangeran itu? Apa dia dihukum?"

"Sepertinya belum. Tapi, aku harap anak itu segera pergi dari tempat ini. Aku tidak ingin satu sekolah dengan pembunuh."

Pagi ini anak-anak terdengar ribut sekali. Aku tahu topiknya. Mereka membicarakan sepuluh murid yang ditemukan tewas di belakang gedung akademi. Itu bukan ulah penyihir, karena mayat mereka menunjukkan tanda bekas lebam yang banyak. Jelas, itu ulah manusia.

Rumor Amon yang menjadi pelakunya cepat tersebar ke seluruh sudut akademi. Seorang murid tidak sengaja melihatnya bersimbah darah tempo hari. Lalu murid itu segera melapor kepada penjaga sekolah. Otomatis pesan tersebar ke seluruh Professor juga Guru besar–seorang kepala akademi.

Mungkin saat ini Amon sedang dalam sidang. Aku tak terlalu mempedulikannya. Sebentar lagi kelasku akan dimulai. Kali ini praktek penulisan sihir.

Namun, rasanya aku jadi mengingat sesuatu. Nasehat berharga dari guruku, "Setiap orang memiliki cerita yang tak terhitung tentang rasa sakit dan kesedihan yang membuat mereka mencintai dan hidup sedikit berbeda darimu. Berhenti menilai, cobalah untuk mengerti."

Itu beliau ucapkan saat aku sedang memperhatikan seorang penebang kayu yang kerjanya hanya menebang pohon. Lantas guruku menceritakan kisah penebang kayu tersebut.

"Orang itu bukanlah seorang penebang kayu biasa. Dulunya, dia adalah seorang pendekar yang menikah dengan anak pengrajin kayu. Mereka hidup bahagia, diberkahi seorang anak laki-laki. Orang-orang di sekitarnya sangat ramah pada keluarga penebang kayu itu. Karena dia menjalani kehidupan yang baik. Selalu menolong setiap orang yang kesusahan.

"Namun takdir tidak bisa ditebak. Kehidupan penebang kayu itu berakhir dalam satu malam. Kebahagiaannya direnggut oleh seorang penyihir yang membantai desa. Buruk sekali pemandangan malam itu. Dimana-mana darah dan mayat berceceran. Istri dan anaknya tidak berhasil dia selamatkan. Istrinya meminta satu hal sebelum dia menghembuskan nafas terakhir. Dia meminta sebuah janji. Janji agar tidak melupakannya, melupakan seluruh kebaikan penduduk desa.

"Malam itu aku telat mengejar penyihir yang sudah lebih dulu menyerang desa. Api berkobar, melahap bangunan kayu, menyisakan abu. Di tengah kobaran api itu, si penebang kayu sedang menangis sembari memeluk istri dan anak laki-lakinya yang masih bayi. Sejak saat itu dia berniat membangun semua kenangannya kembali.

"Menjadi penebang kayu, perlahan membangun kembali desa, menepati janjinya. Mengenang semua kebaikan seperti yang di pinta istri tercintanya. Desa tempat kamu membeli bahan makanan dan lainnya adalah hasil kerja keras penebang kayu itu Sizhu."

Aku mengingatnya, desa itu adalah desa terdekat dengan rumah gubuk guruku. Jaraknya sekitar dua puluh kilometer. Hanya menghabiskan waktu sejam untuk sampai ke sana dengan berlari.

Saat itu aku tidak paham apa maksud guru mengatakan nasehat itu dan menceritakan kisah penebang kayu. Sampai sekarang pun aku masih belum paham sama sekali. Mungkin suatu saat nanti aku akan paham.

Professor yang menjelaskan penulisan sihir telah memasuki kelas. Aku melihat tempat duduk Amon di atas. Tidak ada. Sesuai dugaanku dia tidak masuk kelas. Reza juga tidak terlihat di tempat duduknya pagi ini. Biasanya anak itu selalu datang lebih awal dari yang lain. Apa yang terjadi pada anak rajin itu?

Kelasku yang hanya berisi sepuluh orang ini tampak sedikit lengang. Hanya delapan orang di sini. Diantaranya aku, Mei Mei di sebelahku, Kai Zen (Anak guru besar yang memegang akademi), Ashley di bangku tengah atas, Abe no Hana (seorang klan omnyouji dari jepang), Baldur (seorang pria besar berbangsa viking), Anna Croft (aku tidak tahu darimana dia berasal), dan Jason (dia pria botak yang terlihat dingin). Mereka semua memliki ambisi dan dedikasi masing-masing di sini. Berbeda dengan murid yang lain, Kai dan Mei Mei di sini tidak terlalu serius untuk belajar. Aku tahu mereka punya maksud lain untuk berada disini. Mereka adalah 'pengintai'. Tapi aku tidak tahu tujuan mereka menjadi pengintai di sini. Aku hanya bisa menebak-nebak.

Seperti hari ini. Hari ini akan menjadi sangat panjang.

Usai kelas berakhir, tidak seperti biasanya. Mei Mei tidak memaksaku ke kantin untuk makan siang. Dia bilang ada urusan mendesak. Jadinya hanya aku dan Ashley, makan siang berdua. Ashley mengajakku makan di luar gedung sekolah.

Menggelar sebuah karpet, bernaung di bawah pohon rindang. Kami seperti sedang mengadakan piknik. Ashley memberikanku bekal masakannya sesuai yang dia bilang kemarin. Kami mulai makan bersama. Berdoa sebelum makan.

"Saya khawatir dengan Amon. Saya pikir mustahil seorang pangeran sepertinya membunuh orang tanpa alasan. Saya yakin bukan dia pembunuhnya." Ashley memulai percakapan, sembari sesekali menyuap makanan.

"Mengapa kau berpikir seperti itu?"

"Um.. Sebenarnya Amon dan saya sudah lama kenal karena kami sama-sama terlahir sebagai keluarga bangsawan. Meskipun Amon terlihat sombong dan galak seperti itu, aslinya dia adalah orang yang baik. Dia bertekad melindungi rakyat jelata seperti pamannya. Karena lingkungan keluarga yang kurang baik, Amon dibesarkan dengan pemahaman yang terkuatlah yang menang. Itu ajaran ayahnya, ayahnya ingin agar ketika Amon menjadi raja berikutnya dia menyandang gelar sebagai orang terkuat." jelas Ashley, memasukan beberapa suap nasi goreng hangat ke dalam mulutnya.

Aku mengangguk-angguk paham. Itu membuatku sedikit mengerti dengan perilakunya yang sedikit aneh.

"Lalu, apa yang terjadi jika Amon dikeluarkan dari akademi ini?" tanyaku asal. Mengingat omongan sembarang murid tadi pagi.

"Dia... Saya tidak terlalu yakin, tapi sepertinya Amon tidak akan dianggap lagi oleh keluarganya."

Aku mengangkat satu alis. "Mengapa begitu?" bertanya heran.

"Sizhu... Anda tahu, dalam keluarga bangsawan ada sebuah harga diri yang harus dijaga. Siapa saja yang mengotori harga diri tersebut, walau satu titik kesalahan kecil. Dia akan di singkirkan. Seperti itulah resiko menjadi seorang bangsawan. Kami harus senantiasa menjaga harga diri keluarga."

Ashley tampak sedikit murung begitu mengatakan kata bangsawan. Ternyata tidak semua keluarga bangsawan itu hidup nyaman. Malah terdengar lebih banyak susahnya. Aku mengangguk paham. Menghabiskan suapan terakhir.

"Kalau begitu bagaimana jika kita membantu Amon." ucapku, memberi usul.

"Membantu?"

"Iya, kita akan membantunya."

"Tapi ... Bukankah semua orang di sekolah ini tahu Amon adalah anak yang sombong. Siapapun yang menentangnya akan dia hajar. Karena itulah kasus ini Amon menjadi tersangka utama. Apalagi kesaksian seorang murid yang melihatnya berlumuran darah kemarin sore."

Aku berpikir sejenak. Bagaimana caranya membuktikan seorang berandalan tak bersalah? Ini salahnya karena dia punya sifat buruk. Jika diingat-ingat lagi, siang kemarin Reza menyusul mengejar Amon setelah selesai memarahinya di depan kelas. Kenapa dia malah mengejar orang yang memarahinya karena hal sepele? Apa itu bisa menjadi petunjuk?

"Sepertinya kita harus mencari orang yang berkaitan dengan Amon. Kita harus mencari Reza."

"Hm ... Anak berkacamata bulat dari Indonesia itu? Kenapa kita harus mencarinya? Bukankah lebih mudah untuk mencari Amon dan bertanya padanya?"

"Aku pikir mungkin Reza ada kaitannya dengan ini. Jika kita bertanya langsung pada Amon aku yakin dia tidak akan menjawab jujur. Kita harus mencari orang yang dekat dengannya."

"Tapi ... Kenapa harus Reza?"

"Karena terakhir kali aku lihat kemarin siang Reza bersama Amon, hingga sekarang keduanya tidak terlihat ada di kelas."

Ashley mengangguk paham.

"Apa saya boleh bertanya?"

"Ya."

"Mengapa Sizhu sangat ingin membantu Amon? Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Sizhu bukan?"

Aku terdiam sejenak.

"Itu karena aku mengingat kata-kata guruku dulu. Beliau bilang jangan pernah menilai seseorang, tapi mengertilah. Karena setiap orang menjalani hidup yang berbeda."

Ashley tersenyum kagum.

"Guru Sizhu sepertinya orang yang sangat bijak, ya. Baiklah, saya akan ikut membantu. Saya akan mencari Amon untuk bertanya lebih detail padanya. Sizhu bisa mencari Reza yang kemarin bersama Amon. Mungkin kita bisa mendapat petunjuk agar Amon tidak dikeluarkan dari akademi."

Aku mengangguk. "Omong-omong, Ashley. Kenapa gaya bicaramu selalu formal? Bisakah kau berbicara santai denganku?"

"Eh, tidak, saya hanya terbiasa berbicara dengan sopan. Sejak kemarin melihat Sizhu bertarung hebat di Zhàn Dòu, saya jadi menghormati anda." jawabnya malu-malu.

"Tidak apa. Kau bisa berbicara dengan santai padaku. Seperti kau berbicara pada Amon kemarin pagi."

Ashley tampak ragu. "Eh, baiklah. Kalau begitu ... Aku ... Akan ... Berusaha."

Entah mengapa rasanya dia terlihat berat mengucapkannya. Tapi tidak seharusnya gadis bangsawan sepertinya terus menerus berbicara hormat padaku. Itu tampak tidak normal.

"Kalau begitu, aku akan pergi mencari Reza. Terima kasih bekal makan siangnya Ashley. Masakanmu sangat lezat. Aku sangat bersyukur berteman denganmu."

"Eh, tidak, harusnya ... aku yang berterima kasih. Um ... Aku ... Juga pamit. Aku ... Akan mencari Amon. Sampai nanti di kelas Sizhu."

Aku melambaikan tangan, berjalan ke arah ruang Guru besar. Ada yang ingin aku tanyakan.

***

"Amon, apa benar kau yang membunuh sepuluh murid itu." Mei Mei bertanya pada Amon di lorong kelas. Sepi. Murid-murid sedang berada di kantin atau kembali ke asrama. Amon baru saja keluar dari ruang guru besar. Ada Reza di sampingnya.

"Ini hanya salah paham, Amon–"

"Ya, itu benar. Lalu kenapa? Kau ingin meledekku pembunuh, anak kecil? Pergi menghilang dari hadapanku." Lantas Amon kembali berjalan mengabaikan Mei Mei.

"Amon, tunggu." Reza mengikutinya. Membungkuk minta maaf dengan cepat pada Mei Mei.

Mei Mei mendengus kesal dipanggil anak kecil. Padahal umurnya sudah masuk kepala dua.

BlueFireDragon: Mei Mei? Sedang apa kau di sini?

Suara handphone terdengar berbicara.

Mei Mei menoleh. Itu Kai yang berbicara. Dia menggunakan ketikan handphonenya ketika berkomunikasi. Mengeluarkan suara setelah selesai mengetik.

"Kenapa? Apa aku tidak boleh jalan-jalan di sekitar sekolah, Kai Zen."

Kai mengangkat bahu.

"Kau mau apa ke ruang guru besar?"

BlueFireDragon: Apa aku harus memberi tahunya padamu?

Kai membalas ucapan Mei Mei tadi. Membuatnya sebal.

"Ughhhhhh ... Hari ini semua orang sangat mengesalkan. Apa kau ingin menanyakan masalah mereka pada ayahmu?"

Kai diam tidak menjawab.

"Sepertinya kau juga sama denganku. Semoga beruntung."

Mei Mei pergi berjalan lawan arah dengan Amon. Membiarkan Kai masuk ke dalam kantor guru besar.

***

"Eh, Amon dan Reza? Kebetulan saya baru ingin mencari kalian." ucap Ashley. Mereka tidak sengaja berpapasan di lorong kelas.

Amon berdecak kesal. "Mau apa kau mencari kami? Bertanya tentang sepuluh murid itu? Ya, itu benar. Aku yang membunuh mereka. Sekarang bisakah kau minggir dari hadapanku sebelum kubunuh kau juga, Ashley."

Ashley masih mencoba menghalangi mereka. Menggeleng. "Bukan itu yang ingin kutanyakan."

Amon mendelik tajam. "Lalu apa, hah!? Ini bukan urusanmu sama sekali. Sekarang minggir." Amon mendorong paksa Ashley ke samping. Reza di belakangnya membungkuk minta maaf dengan cepat.

"Amon, kau tidak boleh seperti itu pada semua orang." bisik Reza, mengingatkan.

"Berisik!"

"Apa ayahmu sudah tahu hal ini?"

Pertanyaan itu berhasil membuat Amon berhenti melangkah. Dia menoleh ke belakang.

"Lalu apa? Kau mengancamku, HAH!?"

Ashley menggeleng. "Aku ingin membantumu. Aku tahu kau bukan orang jahat yang seperti itu. Kita sudah saling kenal sejak kecil. Dan aku yakin kau tidak akan membunuh orang tanpa alasan, Amon. Kau sudah bersumpah pada pamanmu, di depan pusara itu."

Amon berbalik badan, menarik kerah seragam Ashley. "Tapi ini kenyataannya bodoh. Kau tidak akan bisa membantuku. Hentikan niat munafikmu itu. Kau tak berhak bersimpati pada orang, Ashley Windsor." Amon mendorong Ashley keras hingga terjatuh.

Reza segera cepat menolong Ashley. "Amon! Ini sudah berlebihan. Kau tidak harus mendorongnya seperti itu pada seorang gadis yang berniat membantu mu."

Amon mendengus dingin. "Aku tak peduli. Berhenti mengikuti ku Reza. Mulai besok kita tidak akan pernah bertemu."

"Amon!"

Yang dipanggil terus berjalan tidak peduli.

"Apa kau baik-baik saja Ashley?" Reza membantu Ashley bangkit berdiri. Ashley mengangguk kecil.

"Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih banyak sudah menolong. Omong-omong apa hubungan mu dengan Amon. Sepertinya kamu bukan bawahannya."

Reza menggeleng kecil. "Sebaiknya kita mencari tempat lebih baik untuk meluruskan ke salah pahaman ini. Bagaimana dengan kantin? Aku belum mengambil jatah makan siang ku."

Ashley mengangguk setuju. Berjalan bersama menuju kantin.

***

"Sizhu? Kamu mau pergi kemana?"

Tanya Mei Mei yang tidak sengaja berpapasan. Aduh, kenapa anak kecil ini ada di sini. Dia manusia paling merepotkan.

"Kantor guru besar." jawabku tak acuh.

"Ada urusan apa kamu harus ke kantor guru besar. Dia orang yang menakutkan, loh." ucapnya dengan nada menakut-nakuti.

"Ugh, aku bukan anak kecil sepertimu, Mei Mei."

"Aku juga bukan anak kecil, hmph! Aku akan ikut! Biar kubuktikan aku berani menghadapi ayah Kai tanpa takut."

Tuh kan, sudah kubilang dia anak kecil paling merepotkan se-dunia. Sekarang dia malah menempel di sampingku, memaksaku jalan cepat.

Kai baru saja keluar dari kantor itu. Aku tidak sengaja menatapnya. Dia menatap balik. Lantas pergi tanpa bertanya.

Aku langsung masuk ke ruang kantor Guru besar, membuka pintu. Pria paruh baya, dengan rambut merah muda panjang dan matanya biru gelap menatapku tajam. Di atas mejanya, dia menangkupkan kedua tangan. Perawakannya tegas dan kekar. Seperti seorang jendral yang penuh pengalaman. Jubahnya yang lebar juga menunjukkan betapa berwibawanya seorang guru besar. Namanya adalah Lang Zen.

"Sedang apa kau di sini, murid Lao Tzu?"

***

1
Story
Kok jadi POV 1🤔
Story
yang benar harusnya bergeming. 🤔
Ayanagi Souma: bergeming = tidak bergetar atau bergerak kecil

tak bergeming = bergerak atau bergetar kecil

source dari gugel
total 1 replies
🇮  🇸 💕_𝓓𝓯𝓮ྀ࿐
gak nyangka baca sampai sini😅
Ayanagi Souma: terima kasih sudah membaca, semoga terhibur~
total 1 replies
Filan
udah jasad masih bisa mati juga hehe
Filan
jangan2 ga ada yg baca pesan dia wkwkwk...
Filan
emang bawa2 HP terus semua orang? Ada waktu ngetik daripada ngomong?
Ayanagi Souma: ponsel si Kai punya fitur voice changer, jadi ketikan dia bisa bersuara
total 1 replies
erlis nia★🎀
bagus bang..jngn lupa mampir yeah
Ceritera ini mirip-mirip sama inuyasa, ya gak sih?
✐⃝ ♞𝓛𝓾𝓴𝓪 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪❤️⃟Wᵃf
apakah serigala nya kuat
✐⃝ ♞𝓛𝓾𝓴𝓪 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪❤️⃟Wᵃf
kayak tulisan jepang bagus/Facepalm/
✐⃝ ♞𝓛𝓾𝓴𝓪 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪❤️⃟Wᵃf
hadir bang.bagus novel nya
✐⃝ ♞𝓛𝓾𝓴𝓪 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪❤️⃟Wᵃf
bahasa Korea ya/Doubt/
✐⃝ ♞𝓛𝓾𝓴𝓪 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪❤️⃟Wᵃf
ngeri nya
Ayanagi Souma
Sizhu kan orang tampan dan pendiam😁👍
Filan
Dan bagaimana bisa dia terlihat ga kesakitan?
Filan: iya sih
total 2 replies
Filan
Dalam keadaan seperti itu bagaimana bisa ttp datar? /Sweat/
leasiee~。
hai kak aku mampir... yukk mampir juga di novel' ku jika berkenan 😊
Dian
Lanjut thor semangat 💪🏻
off
jadi apa yang dimaksudnya Aamon?
off
wkwkwkw kayak merasa deg deg degan lagi
/Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!