"Tapi tahukah kau, bahwa semua itu adalah tipuan Georges semata. Pernikahan mu hanyalah panggung sandiwara agar dia bisa menikmati tubuhmu tanpa perlawanan." ucap Angela dengan nada menghina.
"Kau bukan wanita pertama baginya. Georges sudah banyak berhubungan dengan bayak wanita dan sebagaimana dia lari dariku, dia akan selalu kembali ke dalam pelukanku. Kau tahu kenapa? karena dia milikku."
"Pergi sebelum Georges mempermalukanmu dan hati mu semakin sakit."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon taurus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Minum teh
Felicia kembali ke kamar dan membaringkan tubuhnya, dia merasa lelah tapi sekaligus bahagia.
Orang - orang baik dan lucu yang mengitari membuatnya bahagia. Dia menggulingkan tubuhnya kesamping dan memejamkan mata, bayangan wajah tuan tampan muncul di pelupuk matanya.
Dia membuka matanya menutupnya kembali, mengerjap ngerjapkan matanya berusaha mengusir bayangan wajah tuan tampan.
"Huss... pergi sana. Jangan ganggu aku." Mengangkat tangannya seraya ingin menghapus bayangan wajah tuan tampan yang hadir ketika mata nya terbuka maupun tertutup.
"Tuan tampan! Kalau tidak pergi nanti aku cubit kau ya." Berkali kali dia berusaha menepis bayangan tuan muda Georges hingga akhirnya Felicia lelah dan terlelap. Tanpa mimpi. Begitu lelapnya dia tertidur ketika hari sudah mulai sore. Jam 15.00 . Felicia segera bangkit dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, dia menuju ke closet baju memilih pakaian yang berukuran cukup dengan dia. Celana pendek yang sedikit kebesaran dapat diatasi dengan memakai sabuk dipadukan blouse merah muda.
*pakaian disini berpotongan sederhana tetapi berbahan mewah, sangat lembut di kulit*.
Kemudian Felicia mengambil beberapa gaun yang akan dia kecilkan lagi. Berjalan keluar melewati ruang tamu dan lorong setengah berjinjit ketika melalui ruang kerja tuan muda Georges.
*R**umah ini terlalu besar untuk dihuni seorang diri*
"Hallo bibi Ruth." Sapa Felicia ketika tiba di dapur.
"Hallo nona Felicia tampak segar rupanya."
"Habis mandi bibi. Mana yang lainnya?" Felicia menoleh ke sekeliling ruangan yang tampak sepi.
"Semua sudah pulang." Jawab bibi Ruth.
"Hmmm... sayang sekali."
"Kalau malam disini tinggal bibi dan paman Juan juga paman Chili."
"Sekarang mereka dimana bibi?"
"Sedang di rumah belakang."
"Ooo..."
"Kalau tuan muda tampaknya ada di taman."
Felicia hanya mengangguk ketika bibi menyebutkan tuan tampan. Sebenarnya dari tadi memang dia penasaran akan keberadaan tuan tampan, tapi terlalu malu untuk bertanya.
"Apakah kau akan makan malam dengan tuan muda Georges?" tanya bibi Ruth.
"Aku rasa tidak bibi. Bolehkan aku mengecilkan beberapa pakaian lagi?" tanya Felicia.
"Bibi rasa tidak masalah. Apakah sebelumnya tuan muda menegurmu?"
"Tidak. Dia bilang lakukan yang aku mau." Jawab Felicia sambil menggelengkan kepala.
"Kalau begitu lakukan yang kau mau." Kata bibi Ruth sambil tersenyum.
"Baiklah bibi. Aku akan pergi ke ruangan menjahit ya."
"Sebentar. Bisakah kau membawa ini untuk tuan muda." Bibi Ruth menyodorkan satu teko kecil teh dengan dua buah cangkir dan sekotak cemilan.
"Baiklah. Apakah dia memiliki tamu?" tanya Felicia penasaran. Bibi Ruth tidak menjawab hanya tersenyum.
Akhirnya Felicia pergi sambil bertanya - tanya di dalam hati, siapakah tamu tuan tampan?
Setibanya di taman, sangatlah mudah menemukan tuan muda Georges. Dengan blousenya yang berwarna cream berkerah dipadukan dengan celana panjang hitam duduk dengan membaca buku diantara hamparan taman bunga, ah... bagaikan melihat serial Goblin. ( sssttt... author nglindur ya ini kan kisah Felicia. Jadi tepatnya bagaikan melihat pangeran tampan ).
"Sore tuan, ini cemilan anda." Sapa Felicia.
Tuan muda Georges hanya melirik sekilas pada nampan yang diletakan Felicia tanpa berkata apa - apa dan kembali melanjutkan membaca.
*tidak seramah yang mereka katakan*.
"Saya permisi dulu tuan." Pamit Felicia ketika dia merasa tuan tampan terganggu dengan kehadirannya.
"Duduklah." Tuan muda Georges membuka suara.
Felicia menghentikan langkahnya dan menoleh kearah tuan tampan sambil berpikir apakah dia tidak salah pendengaran.
"Kau tidak dengar?" kembali tuan muda Georges membuka suara kali ini dengan melipat buku yang dibaca dan memandang Felicia.
"Eh, iya.iya tuan." Felicia tergagap dan segera duduk di sisi seberang meja.
"Tuangkan teh untukku." Perintah tuan tampan sambil kembali membaca buku di tangannya.
"iya tuan." Felicia segera menuangkan teh ke cangkir dan memberikan pada tuan tampan.
"Tuangkan teh untuk mu juga." kembali tuan tampan memberikan perintah. Dengan setengah bingung Felicia menuangkan teh di cangkir satunya dan meletakan dekat dengan dirinya.
"Kenapa kau tidak suka teh?" tanya tuan tampan.
"Suka. Suka tuan." Jawab Felicia dengan cepat.
"Lalu kau tidak suka minum teh bersamaku?" tanyanya lagi.
"Suka. Suka tuan." Felicia menjawab dengan cepat tanpa berpikir kemudian menutup mulutnya karena merasa terkejut dengan jawabannya yang spontan.
*bagaimana mungkin dia bertanya tanpa menoleh sedikitpun. Apakah mimik wajahku terlihat jelas dari buku*.
"Minumlah." Tuan muda Georges meminum teh yang telah di tuangkan dan Felicia mengikuti gerakan tuan tampan.
"Ah..." tanpa sadar dia mendesah setelah menikmati dan mencium aroma teh di tangannya.
"Kau menyukainya?" Suara tuan tampan kembali terdengar menyadarkan Felicia.
"Iya tuan, aromanya luar biasa apalagi rasanya. Teh ini tampak pekat tapi tidak terlalu getir." Felicia mendeskripsikan rasa yang dia kecap.
"Teh ini memang dari daun teh pilihan dan hanya untuk export."
"Hanya untuk export?" tanya Felicia sambil memikirkan sesuatu.
"Iya.Kenapa?"
"Hmm... Tidak. Aku hanya berpikir sayang sekali teh senikmat ini tidak dapat dirasakan oleh penduduk lokal." Jawab Felicia sambil menghirup aroma harum dan segar dari teh yang dia minum.
Tuan Muda Georges mengalihkan pandangannya ke arah Felicia dan menutup bukunya.
"Menurutmu kalau teh ini hanya untuk dalam negeri, bagaimana dunia luar tahu kehebatan negeri ini?" tanya tuan tampan dengan serius.
"Kenapa kita harus memaksakan dunia mengenal teh ini, tetapi penduduk lokal pun tidak tahu rasa dan bahaimana membanggakan teh ini."
Tuan muda Georges terdiam dengan perkataan Felicia. Dia tidak menyangka gadis muda yang tampak malu - malu dan takut dihadapannya bisa mengeluarkan pendapat yang berbeda.
"Export dimaksudkan untuk menunjang perekonomian." Tuan muda Georges membuka pembicaraan lagi.
"Kalau itu saya tidak paham tuan." Felicia tersenyum kecil.
"Apakah kau pernah mendalami ilmu ekonomi?"
*Ilmu Ekonomi ku ya sederhana tuan, asal bisa mengisi perut dan membantu teman \- teman di panti asuhan*.
"Saya rasa tidak tuan."
"Apa yang kau pelajari?"
"Seingat saya. Saya hanya bersekolah sampai SMP dan itu pun sambil bekerja. Setelah menyelesaikan SMP saya bekerja di Garmen kecil disana saya belajar menjahit. Kemudian ibu asrama memindahkan saya bekerja dengan seseorang..."
Felicia memukul keningnya dan menggelengkan kepalanya berulang kali. Dan sesekali memukul dada Dia tiba - tiba merasa pusing dan sesak didada ketika berusaha mengingat tempat dia bekerja terakhir kalinya.
"Kau tidak apa-apa ?" tanya tuan muda Georges dengan khawatir.
"Tidak apa - apa tuan. Saya hanya merasa pusing dan sesak didada ketika berusaha mengingat terkahir kali saya bekerja."
"Sudah lupakan. Kau tidak perlu mengingat hal yang tidak ingin kau ingat." Suara tuan muda Georges terdengar begitu bijaksana dan menenangkan.
"Terimakasih tuan." Kembali Felicia menegak teh yang tinggal sedikit di cangkirnya.
Beberapa saat kemudian.
"Tuan, bisakah saya meninggalkan anda sendiri?" tanya Felicia dengan ragu.
Tuan muda Georges memandangnya sekilas dan menganggukan kepala.
Felicia segera pergi dan menuju ruang menjahit. Meninggalkan Tuan muda Georges sendiri yang menutup buka dan memandang kepergiannya.
Tapi langsung ambyar ketika relate sama makanan Thor .ini Eropa apa asia?😁