NovelToon NovelToon
Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert

Status: tamat
Genre:Obsesi / Nikah Kontrak / Romansa / Tamat
Popularitas:32.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Irma

Kakek Robert memang orang yang senang melucu, saking lucunya sampai membuat surat wasiat yang mensyaratkan musuh bebuyutan, Jenson dan Rachel, harus tinggal dalam satu atap dan mereka harus menikah.

Padahal setiap kali mereka bertemu, kata-kata setajam pisau akan melesat dan menusuk harga diri mereka. Enam bulan bukan waktu yang singkat dan 150 miliar bukan jumlah yang sedikit. Apalagi warisan sebesar itu hanya diturunkan kepada mereka berdua, bukan kepada saudara-saudara kakek Robert.

Bulan pertama merupakan bulan yang terberat di mana mereka harus saling bertoleransi. Di bulan itu pula juga mereka mulai menyadari percikan gairah yang muncul. Tapi tidak semuanya berjalan lancar karena ternyata ada seseorang yang menginginkan kematian mereka berdua dan memperoleh warisan Kakek Robert…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

“Cara berpikirmu itu selalu aneh.” Jenson turut bangkit dan menghampirinya. Rachel harus mengagumi caranya bergerak. Gerakannya kurang angkuh, sebab Jenson tidak berusaha untuk tidak terlihat angkuh. “Kalau kita bermain lagi, apa pun yang kita mainkan, kau tidak akan bisa mencurangiku lagi.”

Rachel tersenyum padanya. “Jenson, kita sudah lama saling mengenal, jadi kau tak bisa mengintimidasi aku.” Ia mengangkat tangan untuk menepuk pipi Jenson dan mendapati pergelangan tangannya dicekal untuk yang kedua kali. Dan untuk kedua kalinya ia melihat dan merasakan sesuatu yang sama, sesuatu yang berbahaya yang tadi dirasakannya di lantai atas.

Kini tak ada lagi Kakek Robert yang biasanya menjadi penengah di antara mereka berdua. Mungkin mereka berdua baru mulai menyadarinya. Apa pun yang ada di antara mereka yang membuat mereka menggeram dan membentak, harus menghadapi waktu enam bulan yang panjang.

Mungkin tak ada satu pun dari mereka yang ingin menghadapinya, tapi keduanya terlalu keras kepala untuk mundur.

“Mungkin kita baru mulai saling mengenal,” gumam Jenson.

Rachel setuju tapi tetap tidak menyukai Jenson meski Jenson bukanlah si bodoh berperawakan besar seperti Yagil ataupun si besar tak berbahaya seperti David. Mungkin ia dan Jenson hanya saudara sepupu, tapi darah di antara mereka selalu saja mendidih. Ada kekerasan dalam diri Jenson, dan terkadang itu tercermin di sorot matanya, di cara ia menahan diri, seolah-olah ia berupaya tidak menghindari suatu bahaya tapi malah menghadapinya.

Rachel mengenalinya karena ia sendiri juga memiliki kekerasan itu. Mungkin itulah mengapa ia selalu merasa terpaksa melempar anak panah ke arah Jenson, cuma untuk melihat berapa banyak yang bisa dikembalikan Jenson padanya.

Mereka terpaku di tempat mereka selama beberapa saat, menaksir kekuatan masing-masing. Hal paling bijaksana untuk dilakukan sekarang adalah dengan menyingkir. Rachel mengangkat dagu Jenson bersiap untuk mendorongnya, namun Jensontak bergerak sebab Jenson memegang tangannya dengan erat. “Kita bertengkar lain kali saja, Jenson. Saat ini aku capek menempuh perjalanan dari Malang. Apa kau setuju kita berdamai untuk sementara ini?”

“Peraturan nomor lima,” ucap Rachel, Jenson belum mau melepaskan tangannya. "Tidak ada ciuman, s*x dan semacamnya. Mau bagaimana pun ini adalah pernikahan sementara jadi aku tidak mau menyerahkan keperaw*nanku padamu. Aku masih berharap bisa bertemu dengan pria yang tepat, kemudian menikah dan hidup bahagia dengannya. Dan ini termasuk tidak mencampuri urusan asmara masing-masing. Kau silahkan berpacaran dengan penari gila itu, dan aku akan mencari pangeran berkuda putihku."

Jenson mengerutkan keningnya. "Sudahku katakan aku tak memiliki hubungan apa-apa dengannya," ia melepaskan lengan Rachel dan menatap tubuh mungil sepupunya itu. "Lagi pula siapa yang mau menidurimu, kau sama sekali bukan tipeku."

Sebelum Rachel berkicau lebih banyak untukmmembalas ucapannya. Jenson lebih dahulu meninggalkannya. "Sampai jumpa saat makan malam, Sepupu."

...****************...

Rachel TERBANGUN sebelum matahari terbit, terjaga, cukup istirahat, dan penuh energi. Entah karena udara sejuk kediaman kakeknya atau enam jam tidur nyenyak, ia sudah siap dengan pernikahannya bersama Jenson.

Meski tak banyak yang ia siapkan untuk hari pernikahannya. Rachel hanya membeli sebuah gaun sederhana tanpa ekor dari butik yang kemarin ia kunjungi di Malang, untuk riasannya pun ia berencana merias dan mencepol rambutnya sendiri seperti yang biasa ia lakukan saat menghadiri sebuah pesta.

Tak perlu mengenakan riasan pengantin sungguhan, pikirnya. Sebab tak akan ada yang datang, termasuk kedua orangtuanya yang tengah sibuk meliput salah satu hutan di Kalimantan, sementara orang tua Jenson sudah sibuk dengan pasangan baru mereka masing-masing. Baik kedua orang tuanya maupun ke dua orang tua Jenson hanya menitipkan doa untuk mereka.

Agaknya kedua orang tua mereka, juga berpikir jika ia dan Jenson menikah hanya karena harta warisan Kakek Robert, seperti yang ada di pikiran saudara-saudara mereka yang lainnya yang kemarin turut hadir dalam pembacaan harta warisan Kakek Robert.

Setelah mandi sebelum make up dan mengenakan gaun pengantinya, Rachel memutuskan untuk mencari sarapan. Rumah itu sungguh tenang dan masih remang-remang ketika ia menuruni tangga. Para pelayan masih tidur satu atau dua jam lagi, pikirnya seraya melongok ke dapur dan memilih sepotong muffin.

Mereka berhasil melalui makan malam tanpa ribut-ribut. Mungkin mereka saling bersikap ramah karena Nyoman dan Jesica, atau mungkin karena sama-sama terlalu letih untuk saling mengecam. Rachel tak begitu yakin.

Mereka makan malam di bawah cahaya temaram dari sebuah tempat lilin besar dan bercakap-cakap tentang, rencana pernikahan hari ini, cuaca dan makanan.

Pukul sembilan mereka mencari kesibukan masing-masing, di kamar mereka masing-masing. Rachel membaca sampai matanya tertutup dan Jenson bekerja di ruang kerjanya.

Selesai menghabiskan sepotong muffin dan segelas teh hangat, Rachel kembali ke kamarnya, bersiap untuk merias wajahnya. Meski terlihat simple, nyatanya Rachel menghabisakan waktu hampir tiga jam untuk merias wajah dan menata rambutnya.

Nyoman datang menjemput Rachel ketika Rachel telah siap. Jesika memuji kecantikan Rachel seraya memberikan buket bunga anggek yang di petik dari taman kediaman kakek Robert.

"Apa pendeta dan Mrs. Zephaniah sudah hadir?" tanya Rachel.

"Semua sudah menunggu anda turun," Nyoman menyodorkan lengannya, siap menggandeng Rachel menuju taman, tempat di langsungkannya pemberkatan.

Entah siapa dan kapan di sulapnya taman di samping kediaman Kakek Robert, menjadi altar pernikahan yang cantik, yang di kelilingi oleh bunga-bunga segar. Jenson terlihat berbeda dari biasanya, ia nampak rapih dengan stelan jas berwarna putihnya, tak bisa Rachel pungkiri, jika dia terlihat tampan hari ini. Dia tersenyum, berdiri di hadapan pendeta, menyambut kedatangan Rachel.

Rachel sempat menitikan air mata harunya, saat Jenson mengucapkan janji pernikahan, namun dengan cepat ia memalingkan wajahnya dan menghapus air mata yang menggenang. Rasanya ia terlihat bodoh, merasa haru terhadap sesuatu yang hanya akan berlangsung enam bulan.

Tanpa Rachel ketahui, air mata Jenson pun sempat mengenang di sudut matanya, ketika Rachel mengucapkan janji pernikahan. Pemberkatan berlangsung singkat, Rachel melotot ke arah Jenson ketika pendeta mempersilahkan Jenson untuk mencium istrinya.

Astaga bibirku yang selama ini aku jaga hanya untuk suamiku kelak, ternoda oleh Jenson, batin Rachel. Ia memejamkan matanya erat-erat ketika Jenson mendekatkan wajahnya ke arahnya. Astaga bagaimana ini?

Cup..

Jenson mendaratkan kecupannya di kening Rachel, dan Rachel menghembuskan napas leganya. Selesai acara, mereka semua menikmati hidangan yang telah di siapkan oleh Jesica. Jenson dan Rachel baru menandatangani kontrak persetujuan persyaratan warisan Kakek Robert, setelah pendeta dan pemain piano yang mengiringi pemberkatan mereka telah meninggalkan kediaman Kakek Robet.

"Aku akan selalu mengawasi kalian berdua," ucap Mrs. Zephaniah.

1
Christ Mlg
👍🏻
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Wahh Rachel punya bodyguard sekarang siapa yang mengganggu Rachel akan berhadapan dengan Bruno si anjing jelek dan kejam 😊
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
Happy ending, cerita nya menarik. di mana mana yg nama harta warisan pasti di perebutkan. ku alami sendiri dalam keluarga suamiku, itu harta sedikit, apalagi kalau harta nya banyak. kalau berurusan dgn harta warisan orang pun pasti menginginkan nya. meributkan.

selamat kk irma, sukses selalu 🥰🥰🥰
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
jebakan nya langsung mengena, good
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
aku membayangkan kalung dan anting nya Rachel, aku yg pakai cantik kali ya🤭🤭🤭🤭
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
mereka bersekongkol & saling membongkar. tapi pemenangnya tetap jenson & Rachel. keren kakIR
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
gempar, gaduh. tapi pembunuh belum ditemukan
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
moment luar biasa. mengundang pembunuh ke rumah.
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
pasti Rachel panik akan bertemu para saudara
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
jangan pernah mikir cerai Rachel. itu cinta ❤
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
semua di sketsa itu bersekongkol.
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
kalian harus semakin waspada. pondok yg dulu belum lagi diperiksa
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
para lawan semakin brutal. semoga mereka bisa bertahan
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
pelan2 harapan jessica & nyoman berjalan lancar
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
jaga2 dengan bor. pinter Rachel.. 😁😁
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
mungkin dgn mengundang mereka, siapa tau akan terbongkar semua misteri selama ini
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
demi harta orang melakukan berbagai hal utk mendapatkan nya, apa lagi harta warisan yg mudah di dapat tampa bekerja
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
jenson dan Rachel pasangan anehh
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
Rachel wanita kuat, hebat dan keras kepala 🤭
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
mana ada orang siap mau mati🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!