Amira Anderkson
Seorang gadis yg sangat mendambakan kasih sayang ayahnya dan menyimpan segala kesedihan di hatinya.
Entah kesalahan apa yg dia lakukan sampai ayahnya tidak mau mengakui kehadirannya. Kesedihan yg dia bawa sampai ajal datang menghampirinya.
Membuat arwahnya mendendam lalu mulai mengganggu kakaknya yg mendapatkan seluruh kasih sayang dari ayahnya.
Jimmy Anderkson
Seorang lelaki tampan pewaris dari sebuah perusahaan bisnis. Dirinya menjadi korban dari sebuah dendam masalalu ayahnya. Dia tidak pernah mengetahui jika dia memiliki seorang adik perempuan yg sangat cantik. Sayangnya dia terlambat mengetahui berita itu karena adiknya telah meninggal dunia.
🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰
" Ayah, kesalahan apa yg telah Amira lakukan sampai ayah tidak mau menemui Amira "??.
" Kehadiranmu yg telah membuat istriku pergi meninggalkanku ".
🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰🐰
Hanya sekedar hasil pemikiran author. Maafkan jika banyak kata yg tidak sejalur. Dan juga author sengaja memasukkan sedikit bahasa jawa meskipun author tau akan banyak para readers yg protes 😅😅😅😅😅😅😅😅
Jangan lupa untuk selalu dukung author yg para readers....
Ditunggu lho comment, like dan vote dari para readers tercinta....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang terluka
Amira tertidur dipangkuan Bu Tati setelah kelelahan menangis. Membuatnya tak menyadari jika mereka sudah sampai kembali ke panti asuhan.
"Amira, bangun nak. Kita sudah sampai "!!panggil Bu Tati perlahan sambil mengusap lembut pipi gadis yg sedang tertidur nyenyak. Tampak sudut matanya masih sedikit basah oleh airmata.
"Euugghhhhhhh.... Awww " ringis Amira saat membuka matanya. Kepalanya berdenyut nyeri akibat menangis terlalu lama.
"Maaf Bu Amira ketiduran " ucap Amira lirih.
Amira menggigit lidah dan bibirnya sekuat mungkin saat matanya kembali ingin menangis.
Dia kembali teringat rasa sakit yg diberikan oleh ayahnya.
Bu Tati terkejut saat melihat sudut bibir Amira mengeluarkan darah.
"Astagfirulloh Amira, istighfar nak jangan seperti ini. Inget sama Alloh nak, jangan melukai diri sendiri seperti ini "!! teriak Bu Tati panik.
Bu Tati menyadari jika Amira sedang berusaha menyakiti dirinya dengan menggigit lidah dari dalam mulutnya.
Pak Iwan yg mendengar teriakan majikannya segera keluar lalu kembali masuk kemobil melalui pintu samping.
Pak Iwan yg juga sama kagetnya melihat bibir Amira yg mengeluarkan darah lalu mencoba menolong Amira.
Tubuh Amira begitu kaku tanpa bisa lagi mengontrol emosinya. Tak adalagi rasa sakit yg bisa dia rasakan selain rasa sakit karena penolakan ayahnya tadi.
Plakkk........!!!!!!.
Amira yg tiba-tiba mendapatkan sebuah tamparan di wajahnya terkejut hingga akhirnya gigitan pada lidahnya terlepas. Nafasnya begitu memburu, dadanya bergerak tak beraturan.
"Astagfirulloh,,, apa yg kalian lakukan pada anakku.
Kenapa kamu memukul anakku "!! teriak Bu Fatimah yg saat itu keluar dari rumah bersamaan dengan tamparan yg di lakukan oleh Pak Iwan.
" Tenang dulu Bu Fatimah, ini tidak seperti yg Ibu fikirkan " ucap Bu Tati berusaha menjelaskan pada Bu Fatimah yg terlihat begitu marah sambil berlari kearah mobil.
"Amira sayang, kamu tidak apa-apa kan nak??? Mana yg sakit sayang, euhmmm "?? tanya Bu Fatimah panik lalu mendorong Pak Iwan yg masih berdiri disamping pintu.
" Bunda "!!????? panggil Amira lalu kembali menangis.
Amira tak lagi mempedulikan wajah kaget bundanya yg syok melihat mulutnya penuh darah.
Dia sangat butuh pelukannya saat ini.
" Ya Alloh Amira, apa yg terjadi padamu sayang "?? tanya Bu Fatimah ikut menangis.
" Kenapa bisa sampai seperti ini Bu, apa yg sebenarnya terjadi.
Kenapa mulut Amira bisa sampai berdarah-darah seperti ini "???.
" Sebaiknya kita bicara di dalam saja Bu. Kasihan Amira " ucap Pak Iwan.
Bu Fatimah segera membawa Amira yg masih menangis kedalam rumah. Kemudian disusul Bu Tati dan Pak Iwan.
Setelah sampai diruang tamu, semua masih diam menunggu Amira yg masih terus menangis. Beberapa anak panti tampak mengintip di balik pintu. Meskipun hari sudah malam, masih ada beberapa anak yg belum tidur.
"Kenapa bapak memukul Amira "??!! tanya Bu Fatimah kesal pada Pak Iwan.
Dengan lembut Bu Fatimah mengusap bekas tamparan diwajah Amira yg kini sudah kembali terlelap.
Pakaian Bu Fatimah tampak kotor terkena noda darah dari bibir Amira.
" Maafkan saya Bu, saya terpaksa melakukan itu untuk menyelamatkan Amira " jelas Pak Iwan.
"Apa maksud Bapak "?? tanya Bu Fatimah tidak paham dengan ucapan Pak Iwan.
Pak Iwan menarik nafas dalam. Matanya menatap sedih gadis yg sedang terlelap dengan bibir yg penuh darah. Hatinya sungguh sakit. Sebagai seorang ayah, dia sangat tidak tega melihat keadaan gadis itu.
" Kenapa diam Pak, apa yg terjadi. Bu Tati, tolong jelaskan ada apa "?? tanya Bu Fatimah lagi.
" Pak Iwan harus menyadarkan Amira secepatnya tadi Bu. Jalan satu-satunya hanya dengan menampar Amira seperti tadi " jelas Bu Tati.
"Tapi kenapa Bu. Sejak kecil saya sangat menyayangi Amira. Sekalipun saya tidak pernah tega untuk menyakitinya. Tapi tadi....
Pak Iwan memotong perkataan Bu Fatimah. Wajar jika Bu Fatimah begitu marah padanya.
" Sekali lagi maaf Bu. Jika saya tidak segera menyadarkan Amira, dia bisa saja meninggal karena terus menggigit lidahnya.
Amira sedang terluka sekarang, dia melampiaskan rasa sakitnya dengan menyakiti dirinya sendiri Bu. Sekali lagi saya mohon maaf pada Ibu Fatimah ".
Bu Fatimah seketika syok mendengar penjelasan Pak Iwan. Bibirnya tidak bisa berkata apa-apa. Bu Tati yg melihat Bu Fatimah begitu terkejut segera berpindah tempat duduk. Bu Tati mengusap pelan tubuhnya.
" Istighfar Bu Fatimah, istighfar " ucap Bu Tati disamping telinga Bu Fatimah.
"Astaghfirullohaladzimmmm....
Astaghfirullohaladziimmmm.....
Ya Alloh.... Ya Alloh........!!!.
Bu Fatimah menatap kearah Amira. Airmata mengalir deras dikedua matanya. Dia tak menyangka, gadis yg begitu sabar, begitu baik yg selama ini bersamanya tega menyakiti dirinya sendiri sampai seperti ini.
Sesakit apakah hatinya..... batin Bu Fatimah.
"Ya Alloh.... Astaghfirulloh... Amira "!!!.
Hallo para reader's tercinta..
Jangan lupa untuk vote, like dan comment ya di novelku ini.
Saran dan kritik dari kalian sangat berarti bagi author.
Jangan lupa juga untuk follow akun medsos author bagi yg berkenan.
Ig: nini-rifani
Fb: Nini Lup'ss
Wa: 0857-5844-6308