NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Waktu terus berjalan, dan matahari perlahan mulai bergeser ke barat, menyiramkan cahaya keemasan yang hangat melalui dinding kaca besar toko roti Sweet Crumb. Di sudut ruangan yang agak tersembunyi di balik tanaman hias palem plastik, Rangga Pratama masih setia pada posisinya. Topi baseball hitam dan kacamata hitam berbingkai besar yang ia kenakan seolah menjadi benteng pertahanan terakhir untuk menjaga identitas aslinya dari kerumunan pengunjung yang lalu-lalang.

​Sudah hampir dua jam penuh pria berdarah dingin itu duduk di kursi kayu keras tersebut. Jika ada orang luar yang melihatnya—atau lebih parah lagi, jika para dewan direksi Pratama Group mendadak mampir dan memergoki CEO mereka sedang membuang-buang waktu berharga demi mengawasi sebuah toko roti kecil—pasti mereka akan mengira Rangga sudah kehilangan akal sehatnya.

​Namun, Rangga tidak peduli. Perhatiannya sepenuhnya terkunci pada sosok wanita yang sejak tadi mondar-mandir tanpa kenal lelah di area konter dan dapur terbuka.

​Rania tampak begitu sibuk. Keringat tipis tampak berkilau di pelipisnya karena suhu hangat dari oven yang terus menyala. Rambutnya yang dicepol menggunakan sumpit kayu sedikit berantakan, beberapa helai anak rambut jatuh membingkai wajahnya yang tegas. Sesekali, wanita itu mendengus kesal saat membaca nota pesanan yang menumpuk, atau memelototi salah satu karyawannya yang salah menata kotak kue.

​Biasanya, ekspresi garang dan omelan cerewet itu akan membuat Rangga mendengus sebal. Namun, entah mengapa, dari sudut pandangnya di balik kacamata hitam sore ini, pemandangan itu justru memberikan efek yang sama sekali berbeda.

​Sudut bibir Rangga perlahan berkedut, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat langka. Tatapan matanya yang biasanya sedingin es kini melunak, dipenuhi oleh kehangatan aneh yang merayap perlahan ke dalam dadanya.

​Dia tidak terlihat garang sama sekali, batin Rangga mengakui dalam hati kecilnya, menatap lurus ke arah Rania. Saat dia fokus bekerja seperti itu... dia justru terlihat... manis. Sangat manis.

​Pikiran-pikiran asing itu terus melintas di kepala Rangga. Pria itu menyadari bahwa di balik cangkang luar Rania yang keras, ketus, dan hobi membentak, tersimpan jiwa pekerja keras yang begitu tulus, mandiri, dan memesona dengan cara yang unik.

​Namun, kedamaian kecil di dalam kepala Rangga seketika hancur berkeping-keping dalam sepersekian detik.

​Pintu kaca toko berbunyi nyaring saat lonceng di atasnya berdering. Seorang pria berpostur tinggi, berpenampilan rapi dengan kemeja biru muda digulung selengan, dan wajah yang sangat tampan melangkah masuk ke dalam toko dengan senyuman lebar. Pria itu membawa buket kecil bunga baby's breath segar di tangannya.

​Para pelanggan wanita di beberapa meja sempat menoleh sekilas mengagumi ketampanan pria pendatang baru tersebut. Namun, pria itu sama sekali tidak mempedulikan sekitarnya. Langkah kakinya langsung terarah mantap menuju area konter tempat Rania sedang berdiri.

​"Sore, Rania!" sapa pria itu dengan suara ramah yang begitu akrab, langsung meletakkan buket bunga di atas meja konter. "Wah, kelihatannya toko hari ini super sibuk ya? Kau bahkan kelihatan kelelahan begitu."

​Rania mendongak dari tumpukan nota pesanannya. Wajahnya yang tadinya tegang seketika melunak, digantikan oleh senyuman cerah yang jarang sekali ia tunjukkan pada suaminya sendiri di penthouse.

​"Eh, Kak Kevin! Datang jam segini tumben banget, bukannya biasanya sore menjelang tutup baru mampir?" balas Rania riang, menyambut kedatangan pria bernama Kevin itu dengan gestur bersahabat.

​Kevin tertawa kecil. Pria itu mengulurkan tangannya tanpa ragu sedikit pun. Di hadapan seluruh karyawan dan pengunjung toko, Kevin mengeluarkan sehelai tisu putih dari sakunya, lalu dengan sangat telaten dan lembut mengelap butiran keringat yang menetes di pelipis Rania.

​"Mana sempat aku nunggu sore kalau dari pagi aku sudah mikirin roti buatanmu, Rania," ucap Kevin lembut sambil tersenyum hangat, menatap mata Rania lekat-lekat dengan pandangan yang menyiratkan kedekatan khusus. "Kau ini kalau kerja selalu lupa waktu. Keringatmu sampai bercucuran begini. Kalau jatuh sakit, nanti siapa yang ngurusin toko?"

​Rania terkekeh kecil, sedikit menepis malu namun membiarkan tangan Kevin merapikan anak rambut di dahinya. "Ah, Kak Kevin bisa saja. Aku kan perempuan perkasa, tidak gampang sakit!"

​Di sudut ruangan yang tersembunyi di balik tanaman hias, suhu di sekitar meja Rangga Pratama mendadak drop drastis hingga mencapai titik didih kemarahan tertinggi.

​Rangga duduk terpaku di kursinya. Di tangan kanannya, sebuah cangkir keramik berisi sisa kopi hitam digenggam begitu erat hingga buku-buku jemarinya memutih, menegang, dan berderik kuat menahan tekanan otot lengan bawahnya yang menonjol keluar.

​Kriet... kriet...

​Bunyi gesekan tekanan yang luar biasa besar membuat porselen cangkir kopi itu hampir retak di tangan Rangga. Urat-urat di pelipis dan leher pria itu menonjol keluar. Matanya di balik kacamata hitam memancarkan tatapan membunuh yang tajam setajam belati, tertuju lurus pada tangan pria bernama Kevin yang masih berani menyentuh pelipis istrinya.

​'Sialan! Siapa pria keparat itu!?' batin Rangga meraung murka di dalam kepalanya.'Beraninya dia menyentuh istriku di tempat umum! Di hadapanku sendiri! Senyum senyum tidak jelas lagi! Mau cari mati, Hah?!'

​Darah Rangga mendidih hebat. Sensasi terbakar akibat rasa cemburu yang teramat sangat menyelimuti sekujur tubuhnya. Seluruh alasan konyol tentang

hanya ingin memastikan toko tidak bangkrut yang ia rangkai tadi pagi seketika menguap, digantikan oleh dorongan primitif yang sangat kuat untuk bangkit dari kursi, melangkah ke konter, dan menghantam wajah pria ramah berwajah tampan itu hingga tersungkur ke lantai.

​Ia adalah suami sah Rania. Di atas kertas maupun di dunia nyata, wanita itu menyandang marga Pratama. Melihat pria lain dengan santainya mengelap keringat dan menatap istrinya dengan tatapan penuh pemujaan adalah sebuah penghinaan telak bagi harga diri seorang Rangga Pratama.

​Namun, di tengah amarah yang membara di dada, akal sehat dan gengsi tingkat tingginya masih menarik rem darurat secara paksa.

​Tahan, Rangga... tahan! suara logika di kepalanya berteriak memperingatkan. Kau sedang menyamar di tempat umum! Kalau kau mengamuk sekarang dan menghajar pria itu di toko istrinya sendiri, besok pagi seluruh berita utama gosip nasional akan menulis bahwa CEO Pratama Group ngamuk cemburu buta di toko roti! Di mana harga dirimu?! Di mana gengsimu sebagai pria paling berkuasa dan tidak peduli?!

​Rangga menarik napas panjang dengan kasar, menahan napasnya yang memburu, lalu merilekskan cengkeramannya pada cangkir kopi tersebut secara perlahan. Cangkir itu selamat dari kehancuran, namun isi kopi di dalamnya bergelombang hebat akibat getaran tangannya yang menahan emosi.

​Di balik kacamata hitamnya, Rangga terus mengawasi setiap gerak-gerik keakraban antara Rania dan Kevin di konter sana dengan tatapan penuh dendam kesumat, bersiap merencanakan perhitungan rahasia yang mengerikan bagi pria asing tersebut begitu jam operasional toko ini berakhir.

1
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!