Noda hitam yang sudah mengotori tak akan bisa di hapus oleh waktu. Menikahi perempuan yang pernah di sakiti tidak menjadikannya terobati. Tapi justru dendam akan menjadi bumbu rumah tangga. Tapi kini ia meminta maaf dengan kedatangan dirinya yang telah bertransformasi menjadi ustadz, apakah akan ada ujung dendam?
Simak kisahnya,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma .R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Noda hitam
Mina berjalan pulang di saat matahari sudah mulai muncul, langit mulai sedikit terang meski masih agak kelabu. Sesekali ia menendangi batu batu kecil di jalan. Langkahnya tak begitu cepat. Namun sedari tadi mulutnya tak berhenti komat kamit.
"Dia bukan berdakwah tapi nyindir aku, sok keren bangat sih, ngapain coba sok Sokan jadi ustadz, buat apa? buat gaya gaya an, biar orang menganggap dia berubah, padahal mah sama aja, tetap aja dia Athar yang jahat, tapi tadi kok suaranya bagus pas jadi imam, ah mungkin itu cuma suara rekaman kali,"
Lelah Mina komat kamit sendiri di jalanan. Tiba-tiba ia melihat kang jual bubur Ayam. Ia dengan santainya singgah untuk sarapan. Karena bagaimanapun juga orang tua Athar akan bertanya jika Mina pulang lebih dulu.
"Bubur ayamnya satu bang," ucap Mina sambil duduk di bangku yang tersedia. Selera sederhananya memang tak bisa ia hilangkan.
"Dua aja bang," ucap Athar yang tiba-tiba muncul di samping Mina.
"Kamu apa apaan sih, ngikut ngikutin aku aja, bukannya masih dakwah tadi?"
"Udah selesai, tadi pas kamu pergi juga udah mau selesai kok, kamu aja yang nggak sabaran, eh ternyata kamu lapar, ya udah aku juga lapar, makanya aku juga pengen makan di sini," jelas Athar dengan santainya duduk di samping Mina sambil menikmati udara pagi yang masih segar.
"Terserah deh," cetus Mina, ia mengambil hp di sakunya dan sibuk memainkannya.
Athar masih menatap Mina, ia ingin mengatakan sesuatu tapi khawatir Mina akan menertawainya.
"Apa lihat lihat," belum apa apa Mina sudah ngotot.
"Astaghfirullah Mina, aku suami kamu loh, harusnya kamu harus menghormati suami,"
"Kalau mau ceramah jangan di sini pak, lagi pula aku akan menghormati suami asalkan suaminya orang baik, tapi sebaliknya jika suami itu adalah penjahat,maka nggak ada alasan untuk aku menghormatinya," jelas Mina panjang lebar.
Awalnya Athar ingin menceritakan mimpinya semalam, namun mendengar Mina yang selalu mengomel, ia pun mengurungkan niatnya.
"Mungkin terlalu banyak noda hitam yang terlanjur aku tuliskan di masa lalu mu, namun kini aku berusaha menghapus semua noda itu, maka izinkan aku membahagiakan mu menebus semua dosaku, Izinkan aku menjadikanmu bidadari surga ku," ucap Athar menatap Mina dengan serius.
Mina tersenyum sinis, ia mengingat seluruh perlakuan Athar padanya dulu. Sungguh sulit untuk dilupakan.
"Jangan bermimpi bahwa waktu dapat melenyapkan sakit hatiku, sadarlah sedikit dari ekspektasi mu yang terlalu tinggi, ikatan pernikahan ini tak menjamin bahwa aku memaafkan mu, dengarlah! Aku bukan bidadari surga mu!" Tegas Mina sedang matanya berkaca-kaca. Ia terbawa emosi saat mengingat masa SMA.
"Aku harap suatu saat Allah melembutkan hati mu, dan aku akan tetap sabar hingga waktu itu tiba," ucap Athar dengan bersungguh-sungguh.
"Lagi pula aku bingung kenapa kamu memilih untuk menerima perjodohan ini, apa kamu nggak bisa cari perempuan lain?"
"Perempuan di dunia ini memang sangat banyak, tapi hanya kamu yang tak bisa hilang dari pikiran ku, setiap hari aku bertaubat untuk mencintai kamu, tapi tak bisa, kamu selalu menjadi pusat pemikiran ku, tapi..percuma saja aku berkata jujur seperti ini, kamu nggak akan percaya kan?"
Tentu Mina tak akan percaya, ia menganggap perkataan Athar hanyalah omong kosong yang sengaja di ucapkan untuk membuat Mina terkesan.
"Sudah lah, bubur ayam nya udah datang, hentikan omong kosong itu, makanlah!" suruh Mina.
Liana tak sengaja lewat dari tempat yang sama dengan tempat dimana Athar dan Mina makan bersama. Liana tak berani menyapa, ia khawatir itu hanya akan menambah sakit di hatinya.
Namun percuma, kini Athar telah melihat Liana yang berdiri di jalan. "Lia," panggil Athar.
Liana pun terpaksa menemui Athar dan Mina. "Ada apa pak ustadz," tanya Lia.
"Duduklah, mari sarapan bersama," suruh Athar seraya mempersilahkan Liana.
"Saya nggak enak pak, nanti malah mengganggu lagi,"
"Udah nggak pa pa Lia,duduk aja," ucap Mina yang juga menyambut Liana dengan ramah.
"Ya udah deh," Liana pun mencoba duduk, meski kini ia sedikit canggung. Athar memesan bubur untuk Liana.
"Liana ini salah satu pengurus panti termuda, dia sudah akrab dengan anak anak panti," ucap Athar seraya mengenalkan Liana pada Mina.
"Oh iya pantas aja kemarin aku lihat kamu sangat senang pas main sama anak anak," tutur Mina tersenyum ramah.
Ketiganya tampak mengobrol akrab. Mina sesekali melirik ke arah Liana. ia sejak dulu sangat pandai membaca ekspresi wajah seseorang. Begitupun tatapan Liana pada Athar. Tatapan Liana pada Athar memang sedikit berbeda, menurut Mina tatapan itu bukanlah tatapan biasa, melainkan ada rasa tertentu di baliknya.
Tiba-tiba mina mendapat chat dari tantenya Maya,
"Jangan terlalu banyak membuang waktu, rencana selanjutnya harus kita lakukan,"
Melihat chat itu Mina bermaksud untuk menelpon langsung.
"Bentar ya, aku nelpon Tante dulu," kata Mina pada Athar dan Liana, ia pun bersembunyi di balik pohon untuk menelpon tantenya.
"Halo Tan, rencana apa yang Tante inginkan," tanya Mina di telpon.
"Tante sudah siapkan, tapi sebelum itu, Tante mau tau, apa rencana semalam berhasil?"
"Boro-boro berhasil Tan, baru aja semalam dia diare, masa tadi subuh udah sehat aja sih, aku juga bingung, mungkin tubuhnya udah kebal sama racun Tan," jelas Mina.
"Ya sudah begini saja, kapan kalian akan pindah ke rumah baru itu?" tanya Tante Maya,
"Belum tau Tan, mungkin hari ini atau besok kali," ucap Mina asal tebak.
"Kalau begitu Baguslah, karena kalau kalian tetap tinggal bersama orang tua Athar, maka akan sulit untuk melakukan rencana kita,"
"Rencana apa Tan,"
"Kali ini rencananya sangat berpeluang besar membuat Athar tersiksa, kamu harus membuatnya jatuh dari tangga,"
"Itu terlalu dramatis kali tan, udah kayak sinetron aja,"
"Udah..ikutin aja apa kata Tante,"
"Iya iya..ya udah aku tutup dulu telponnya ya Tan, Assalamualaikum," ucap Mina menutup telpon.
Tak lama kemudian ia mendapat telpon dari Tante Nurul. Terpaksa ia mengangkat telpon itu dulu.
"Assalamualaikum Mina," sapa Tante Nurul di telpon.
"Waalaikumussalam, iya ada apa Tante,"
"Jujur sama Tante, apa yang kamu rencanakan dengan Maya?"
"Rencana apa sih, nggak ada Tan," elak Mina, kini Mina takut untuk membohongi Tante Nurul, tapi demi ambisinya ia harus melakukan itu.
"Mina..tante tau bagaimana sikap keras Maya, Tante berharap jika sewaktu-waktu dia menyuruhmu melakukan suatu hal yang bertentangan dengan ajaran agama kita, Tante mohon jangan lakukan!" pinta Nurul.
"Iya Tante, Mina akan ingat pesan tante," ucap Mina dan langsung mematikan telepon. Ia benar-benar bingung dengan kedua tantenya yang memiliki kepribadian berbeda.
Makasih Thor..
aku tunggu karyamu yang lain..