dihianati suami dan adiknya, dan menjadi tameng bagi kebebrokan perilaku kedua orang terdekatnya. Afifah memutuskan untuk bercerai.
dah, gitu aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10 - mengambil tindakan
Bab 10
Afifah membuka mata dan bergegas bangkit dari ranjang. Wanita itu hanya mendapatkan tidur nyenyak selama beberapa menit. Sisanya, istirahat Afifah dikacaukan oleh suara mengganggu dari kamar sebelah.
Afifah memijat kepalanya yang pening. Ia segera mandi dan bersiap untuk meninggalkan rumah. "Lebih baik aku segera pergi!" gumam Afifah.
Tepat setelah Afifah selesai mandi, Arga tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Afifah langsung membuang muka dan berpura-pura tak melihat Arga yang kembali ke kamar tidur mereka.
"Kamu sudah siap berangkat kerja?" tanya Arga pada Afifah.
Afifah hanya diam. Sama seperti Arga yang tak menghargai keberadaan Afifah, Afifah juga akan melakukan hal yang sama pada Arga.
"Afifah, kamu tidak dengar?" omel Arga mulai kesal.
Afifah mengambil tasnya dan keluar begitu saja dari rumah tanpa menghiraukan Arga. Tanpa berpamitan, tanpa menyiapkan sarapan dan mengurus rumah yang berantakan, Afifah berlalu meninggalkan rumah sang suami.
"Afifah! Kamu berani mengabaikanku?" omel Arga.
Afifah berjalan beberapa langkah setelah keluar dari rumah, kemudian berlari kecil mencari tempat untuk bersembunyi. Ya, nampaknya wanita itu hanya berpura-pura hendak berangkat kerja. Sebenarnya Afifah mempunyai urusan lain yang harus ia kerjakan di rumah setelah Putri dan Arga pergi nantinya.
"Baru jam tujuh," gumam Afifah sembari melirik arloji yang melingkar di tangannya. "Sebentar lagi Mas Arga dan Putri pasti akan pergi, kan?"
"Putri!" panggil Arga pada Putri yang masih terlelap di ranjang. Karena tak dapat memerintah Afifah, Arga pun beralih pada selingkuhannya.
"Putri, bangun! Sudah siang! Kamu tidak berangkat ke kampus?" omel Arga pada Putri. Pria itu tanpa sadar melampiaskan kekesalannya pada Putri yang masih menikmati waktu istirahat.
"Ada apa, Mas? Aku masih mengantuk!" omel Putri.
"Ini sudah siang! Kamu mau tidur sampai jam berapa?" sungut Arga.
Putri menggerutu sembari bangkit dari ranjang. Dengan rambut acak-acakan dan tubuh polosan, wanita itu menatap Arga dengan wajah cemberut. "Aku lelah semalaman melayani kamu, Mas! Apa salahnya aku beristirahat lebih lama?"
"Ini sudah jam berapa? Memangnya kamu tidak bersiap-siap pergi ke kampus? Mas juga harus pergi bekerja! Lihat, pakaian Mas belum dicuci! Piring kotor juga menumpuk!" cetus Arga.
"Lalu kenapa? Kenapa Mas marah padaku? Memangnya mencuci piring dan mencuci pakaian itu tugasku?" timpal Putri.
"Kalau bukan kamu, lalu siapa lagi? Aku sudah lelah mencari uang. Tentu saja kamu yang harus membereskan rumah!" titah Arga.
Putri menatap Arga dengan sorot mata tajam. "Aku bukan babu!"
Putri segera bersiap untuk berangkat ke kampus, begitu pula dengan Arga yang harus berangkat bekerja. Masih sambil menggerutu, pasangan laknat itu pun akhirnya keluar dari rumah.
Afifah segera kembali masuk ke dalam rumah setelah ia memastikan Putri dan Arga pergi. Wanita itu mulai berkeliling rumah dan mencari tempat-tempat strategis untuk memasang kamera pengintai.
Ya, Afifah sudah membulatkan tekad untuk mengumpulkan bukti perselingkuhan sang suami. Sesuai dengan saran Yuyun, pria itu akan memasang kamera CCTV di setiap rumah untuk mengawasi gerak-gerik Putri dan Arga di dalam rumah.
Nantinya, rekaman CCTV itu yang akan ia jadikan sebagai bukti. Entah bukti untuk diberikan pada mertua atau bukti untuk menggugat cerai, yang jelas Afifah harus mempunyai senjata untuk memperkuat argumen saat ia membongkar hubungan Putri dan Arga nanti.
"Aku pasang di mana, ya?" gumam Afifah celingukan mencari tempat yang pas.
Wanita itu juga segera memesan kamera pengintai kecil yang bisa ia pasang di tempat yang tersembunyi. Tak lama kemudian, kamera pesanannya pun datang dan ia segera memilih lokasi yang pas.
"Ini bisa dihubungkan ke ponsel, kan?" tanya Afifah pada pengirim barang dari toko tempat ia membeli kamera.
"Bisa, Bu! Saya bisa bantu mengaturnya agar terhubung ke ponsel!"
Afifah berkeliling di area ruang tamu, dapur, dan juga kamar Putri. Wanita itu sudah mempertimbangkan baik-baik lokasi penempatan kamera, dan Afifah yakin Arga dan Putri tidak akan menemukan kamera yang ia pasang.
"Kegiatan Putri dan Mas Arga bisa terpantau jelas dari kamera ini, kan?" gumam Afifah.
Wanita itu mulai cemas membayangkan adegan apa saja yang akan ia lihat nantinya. Afifah harus benar-benar mempersiapkan mental untuk melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain.
"Aku pasti bisa, kan? Aku pasti sanggup melihatnya, kan?" gumam Afifah merasa tak siap.
Wanita itu juga memasang kamera di kamar Putri, yang artinya sudah jelas Afifah pasti akan disuguhi pemandangan pasangan laknat itu saat mereka bersetubuh. Tak hanya mendengarkan suara saja, dengan kamera ini, Putri juga akan melihat langsung perbuatan tidak senonoh yang akan dilakukan oleh suaminya.
"Ayo, Afifah! Kamu harus mengungkapkan kebenaran!" tegas Afifah.
Selesai mengurus kamera pengintai, Afifah pun berencana untuk meninggalkan Kota Semarang setelah sempat tak pulang semalaman untuk memberi waktu dua pasangan laknat itu melakukan aksi bejat nya, juga agar bukti itu dia dapatkan. Dengan berbekalkan rekaman CCTV yang akan ia jadikan bukti, Afifah bersiap untuk bertolak ke Kota Jember demi menemui sang ibu mertua.
Cklek! Afifah mengunci kembali rumah suaminya. Wanita itu berangkat menuju terminal dan akan menuju Kota Jember dengan menaiki bus.
Wanita itu merogoh ponsel di tasnya dan menghubungi Bu Siti dalam perjalanannya menuju terminal. "Halo, Bunda? Ini Afifah!" sapa Afifah pada sang ibu mertua.
"Halo, Afifah? Ada apa? Tumben kamu menghubungi Bunda," balas Bu Siti.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Aku hanya ingin mendengar suara Bunda saja. Bagaimana kabar Bunda?" tanya Afifah.
"Baik, Afifah. Bagaimana kabar kamu dan Arga di sana?" tanya Bu Siti.
Afifah bungkam. Wanita itu tak ingin berbohong, tapi tak mungkin jika ia membicarakannya di telepon.
"Baik, Bun."
"Putri bagaimana? Putri tidak merepotkan di sana, kan?" tanya Bu Siti.
Afifah kembali terdiam. Rasanya kesal sekali saat ia mendengar nama Putri dan Arga.
"Kami semua baik, Bun."
"Kapan kalian pulang? Sudah lama kalian tidak menghubungi Bunda," cetus Bu Siti.
"Kebetulan Afifah punya urusan di Jember, Bun. Afifah akan mampir ke rumah. Boleh, kan?" tanya Afifah.
Bu Siti pun menyambut niat sang menantu dengan girang. "Kamu mau pulang? Kenapa baru bilang sekarang?" omel Bu Siti. "Tentu saja kamu boleh pulang ke sini, Afifah!"
"Maaf kalau mendadak, Bun. Terima kasih banyak!" ucap Afifah.
"Pulang sama siapa, Afifah? Sama Arga, kan?" tanya Bu Siti.
"Sendiri, Bun. Afifah tidak pulang bersama Mas Arga," ungkap Afifah.
"Kapan kamu berangkat? Bunda harus beres-beres rumah dulu!" celetuk Bu Siti.
Afifah tertawa kecil. Afifah mulai tak tega pada sang ibu mertua, jika ia pulang hanya untuk memberikan kabar buruk pada wanita paruh baya itu.
"Tidak perlu repot, Bun. Afifah akan berangkat hari ini," cetus Afifah.
"Tunggu Afifah ya, Bun!" sambung wanita itu.
Afifah menutup sambungan telepon, kemudian menaiki bus yang akan membawa dirinya menuju Kota Jember. "Ayo, Afifah! Kamu harus ungkap semuanya pada Bunda!"
****
terimakasih author
bahwa kehadirannya sungguh berharga.,. wkwkkkk