"Kamu sudah tidak lagi menarik untukku. Aku bosan denganmu!"
Sepenggal kisah nyata yang dibubuhi banyak fiksi, seorang istri yang ditinggalkan sebab ia tidak lagi menarik. Gendut, kusam, tidak lagi enak dipandang, merupakan alasan sang suami menikah lagi dengan perempuan berstatus janda muda yang masih terlihat sexy dan cantik. Ia di poligami di saat ia tengah mengandung anak ke empat mereka. Dan pada akhirnya ditinggalkan.
Hingga ia berhasil move on dan kembali membangun rumah tangga bersama seorang dokter kaya dan tampan.
Namun saat ia telah berbahagia dengan sang dokter, ternyata sang mantan suami malah kembali dan memintanya untuk rujuk.
Genre : Romantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandrila Patilima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Sahabat tapi mesra
Udara pagi terasa dingin, tetesan air berkah dari langit belum juga ada tanda-tanda untuk mereda. Genangan demi genangan mulai terbentuk di halaman rumah.
Kubentangkan payung berwarna biru elektrik bermotif daun yang cukup besar. Berjalan sedikit cepat menuju mobil yang terparkir di halaman rumah. Disana sudah menunggu anak-anak dan Mbak Ani yang sedang menggendong baby Zeezee, sedang baby Syaqila kududukkan di Car Seat sebelah Mbak Ani.
Di bawah guyuran hujan, aku lajukan mobil Avanza Veloz berwarna putih. Ditemani lagu islami dari grup nasyid Edcoustik.
Wahai pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dari-Mu
Kupasrahkan semua pada-Mu
Tuhan Kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika Ku harus mati
Pertemukan aku dengan-Mu
Kata-kata cinta Terucap indah
Mengalir berzikir di hidung do'aku
Sakit yang kurasa biar Jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta Air mataku
Teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah Selama ini Ya Ilahi
Muhasabah cintaku.
Lagu demi lagu Edcoustik menemani perjalanan kami. Terdengar anak-anak ikut bernyanyi, sementara kedua baby kembarku terlihat menggerakkan badan seperti sedang bergoyang. Senyum dan tawa mengiringi perjalanan kami pagi ini.
Dua belas menit perjalanan yang kami tempuh untuk sampai di depan sekolah Fatih. Cepat aku membuka pintu mobil dan mengambil payung. Kemudian membuka pintu mobil di belakang kemudi, dan segera menolong Fatih untuk turun.
Sama-sama kami melangkah menuju gerbang sekolah Fatih. Disana sudah menunggu guru perempuan Fatih yang tersenyum hangat menyambut kedatangan kami. Sebelum masuk Fatih mencium punggung tanganku dan kubalas kecupan di kening mungilnya.
Setelah memastikan Fatih benar-benar sudah masuk dalam sekolah, aku bergegas ke mobil. Kulirik arloji di tangan kananku, masih ada waktu dua puluh menit lagi sebelum jam masuk kerja. Kupacu mobilku menuju klinik mas Hafizh. Jaraknya tak terlalu jauh dari sekolah Fatih, jadi aku tak khawatir terlambat.
Hujan deras masih jatuh dengan syahdunya. Hawa dingin menusuk-nusuk kulit hingga menembus tulang. Aku pelankan sedikit laju mobil, karena hujan membuat pandanganku sedikit terganggu. Tepat di perempatan aku dikagetkan dengan kehadiran mobil mewah Porsche macan berwarna silver yang muncul secara tiba-tiba.
Brrruuuuk.
Tabrakan itu tak dapat terelakkan. Karena jika kubanting setir maka mobilku akan masuk ke got yang cukup besar.
"Astagfirullahhaazim, astagfirullahhaazim," gumamku dengan badan sedikit gemetar.
"Mbak Ani dan anak-anak tidak apa-apa kan?" Tanyaku sambil melihat kearah belakang.
"Alhamdulillah tidak apa-apa Mbak," jawab Mbak Ani yang terlihat sedikit tegang.
"Syamil, tidak apa-apa kan?" Tanyaku lagi pada Syamil yang duduk di sebelahku. Beruntung tadi aku tak lupa memakaikan sabuk pengaman padanya.
"Amdulilah, aku aik ummi," lirih bocah berusia hampir dua tahun itu.
Alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Mobil mewah tadi belum juga beranjak dari depan mobilku. Nampak sang pemilik mobil membuka pintu mobil dengan tujuan untuk keluar. Payung hitam pekat menutupi tubuh pria berpakaian rapi khas orang kantoran.
Kulepas sabuk pengaman yang terpasang pada tubuhku. Hendak turun dari mobil untuk meminta maaf pada pria yang kini sedang melihat-lihat depan mobil mewahnya yang sepertinya lecet.
"Maaf pak, saya nggak sengaja. Saya kaget karena mobil bapak muncul tiba-tiba dari arah kiri perempatan," sahutku pada lelaki yang masih membelakangiku.
"Oh iya, nggak apa-apa mbak, ini juga kesalahan saya karena tidak membunyikan klakson dulu," cercah pria itu sambil meluruskan badannya.
Perlahan pria tersebut menghadap kearahku. Sejenak netra kami bertemu. Saling melempar pandang. Mengingat-ngingat memori berpuluh tahun silam.
"Rianti?" Sapa pria yang berada di hadapanku.
"Dafa? Dafa Raihan?" Jawabku dengan guratan wajah sedikit bahagia.
Dafa Raihan, lelaki berkulit kuning Langsat, berhidung mancung, berlesung pipi, dengan senyuman khasnya yang membuat banyak wanita di sekolah dulu tergila-gila.
Dafa Raihan, lelaki yang pandai menggombal hingga sang wanita luluh lantak padanya.
Dafa Raihan, mantan ketua OSIS-ku dari zaman Sekolah Menengah Pertama sampai zaman Sekolah Menengah ke Atas.
Dafa Raihan, sahabat laki-laki terbaikku sedari kelas satu SMP. Sainganku dalam hal juara kelas. Sainganku dalam pemilihan ketua kelas. Dan sainganku di bidang akademik sewaktu masa SMP.
Dafa Raihan, tempat pertama hatiku berlabuh. Bukan sebagai pacar melainkan sebagai sahabat dekat, sangat dekat. Kedekatan yang membuat banyak wanita cemburu kepadaku. Yah cemburu, karena lelaki itu tak pernah tunduk pada wanita lain selain kepadaku.
Dafa, tak pernah berkata tidak dengan kemauanku. Baginya diriku tetap yang utama di bandingkan pacar-pacarnya. Jangan kaget saat ku bilang pacar-pacarnya, Sahabatku ini Playboy kelas kakap. Adik kelas sampai kakak kelas merupakan sasaran gombalannya. Namun dia tetap menganggap dirinya lelaki yang setia alias setiap tikungan ada pacarnya. Hehehe...
"Apa kabarmu Riri?" Tanyanya dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu bahagia.
"Alhamdulillah baik da.... da," jawabku dengan sedikit canggung memanggil namanya dengan sebutan sayang ala persahabatan kami.
Riri dan dada, begitulah panggilan sayang ala persahabatan kami dulu.
"Kok canggung begitu sih Riri, nggak kangen yah kamu sama Dadamu ini," celoteh Dafa yang kutahu itu hanya candaan.
"Apa'an sih Da, udah tua oii, ingat umur," sahutku padanya.
"Ahh umur boleh tua, tapi jiwa harus tetap muda Riri."
Dafa, memang tak pernah berubah, sikapnya masih lucu seperti dulu. Kecuali perlakuannya padaku yang berubah drastis. Jika dulu bertemu denganku dia akan langsung menggandeng lenganku, atau mengusap rambutku yang dulu tidak tertutup hijab.
"Oh iya, mas Galih suamimu mana Ri?" Pertanyaan Dafa membuat senyumku memudar. Nama itu masih menyakitkan untukku.
"Sudah di culik maling perempuan Da," jawabku dengan desahan nafas yang berat.
Dafa yang melihat guratan kesedihan di wajahku kini tak banyak bertanya lagi. Ia pasti mengerti dengan perkataanku barusan.
"Tania, bagaimana kabarnya Da?" Cecarku, mencoba mengalihkan pembicaraan agar tak terlalu larut dalam pembahasan mas Galih lagi.
"Tania, Tania," jawabnya terbata-bata.
"Kenapa Tania Da?" Tanyaku penasaran.
Ting.
Ting.
Alarm kerjaku berbunyi. Pertanda sepuluh menit lagi waktu masuk kerja. Aku memang sengaja membuat alarm kerja agar tidak terlambat.
"Astagfirullahhaazim," gumamku dengan melirik alarm di gawaiku yang berada di saku gamis kerjaku.
"Maaf Da, aku harus segera pergi," kataku sambil berbalik arah menuju mobilku.
Sebelum pintu mobil terbuka. Dafa menyusulku untuk meminta nomor teleponku. Dengan gerakan cepat aku masuk ke mobil dan mengambil kartu namaku. Setelah itu aku berlalu meninggalkan Dafa.
Tepat pukul 07.50 WIB aku sampai di tempat parkir mobil khusus karyawan depan klinik mas Hafizh yang kini sedang di tambah gedung. Hujan sudah mulai mereda. Tanpa menggunakan payung aku bergegas menuju tempat biasa karyawan absen. Beruntung aku belum terlambat.
Setelah menekan tombol absen kehadiran, aku pamit sebentar pada Susan, teman kerjaku yang sama-sama menjaga apotik, untuk mengantar anak-anak ke rumah mas Hafizh yang terletak di samping klinik.
Segera aku berlari kecil menuju mobil. Kupeluk tubuh kecil Syaqilla yang tertidur lelap. Disusul Syamil dan Syafiq yang mengekor di belakangku sambil memegang ujung jilbab segiempatku. Kami berjalan beriringan menuju rumah mewah berukuran sedang dengan nuansa klasik nan indah.
Kubuka pelan pintu utama rumah agar tak membangunkan Syaqilla. Syamil dan Syafiq langsung berhambur masuk ke dalam menuju ruang bermain yang sengaja disediakan oleh mas Hafizh.
Krreek.
Pintu kamar yang biasa kupakai untuk menidurkan anak-anak terbuka. Aku berjalan masuk diikuti Mbak Ani. Kami rebahkan tubuh kecil si kembar yang tengah berlayar dalam mimpi indah di kasur empuk.
Setelah mencium kening keduanya, aku pamit kepada Mbak Ani yang juga sudah merebahkan diri di samping si kembar.
Perlahan aku keluar kamar dan menutup pintu kamar. Dengan gerakan cepat aku berbalik arah.
Blaaak.
Aku tak sengaja menabrak mas Hafizh yang hendak lewat menuju depan. Sesaat netra kami saling beradu, hingga mas Hafizh melempar pandang kearah yang lain. Dan berlalu pergi meninggalkan aku tanpa sepatah kata. Akupun mengekornya tanpa kata.
Bersambung...
dan sangat betul...buah dari kesabaran adalah sesuatu yg manis...
karena memang sabar sejatinya adalah ujian yg amat sangat berat...maka Alloh pun akan menyiapkan hadiah yg ISTIMEWA....
banyak pelajaran. hidup yg bisadipetik dari novel ini...bagaimana sabar dan ikhlas seorang hamba ketika mendapatkan ujian Nya...bagaimana kasih sayang dan ketulusan ditanamkan...dan bagaimana kewajiban sebagai umat dijalankan...
keren thorr sayaaanngg novel ini...ceritanya lugas..layaknya kehidupan real..alurnya gak bertele-tele dan yg paling keren..pesan moralnya sampek dgn mudah ke pembaca...
lluuvv authoorr sayaaanngg...💝💝💝💝💝
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝