Apa yang paling di inginkan setiap Kultivator didunia ini? Tentu saja kekuatan. Kekuatan adalah segalanya didunia ini, jika kamu tidak cukup kuat maka sesuatu yang menunggu adalah kematian. Oleh karena itu, untuk menjadi kuat semua hal akan dilakukan, meski itu harus membunuh demi sumber daya yang terbatas.
Tetapi terdapat seorang pemuda yang memiliki tujuannya sendiri, yaitu kedamaian. Dia menggunakan kekuatan sebagai alat untuk mencapainya. Setiap ayunan pedangnya akan menghancurkan kegelapan dari sisi kehidupan. Dengan pedangnya, dia akan membunuh segala musuh yang menghalangi langkahnya.
Namanya adalah Li Hui, pemuda berambut putih dengan iris emas yang setiap tatapannya akan menghancurkan mental setiap orang. Dan dengan bakatnya, dia akan memimpin setiap Kultivator melawan musuh yang sudah kelaparan selama ribuan tahun.
"Inikah akhirnya?"
Ucap Li Hui dengan pedang ditangan kirinya, memandang sedih kearah langit malam tanpa bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Levifq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.9 Li Hui Sadar
1 minggu sudah berlalu sejak Shu Juan menemukan Li Hui tetapi sampai sekarang anak berambut putih itu belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
"apakah anak itu belum bangun juga? "
seorang pria yang terlihat seumuran dengan Shu Juan memasuki ruangan tempat dimana Li Hui sedang dirawat, dia adalah Xiu Nan atau yang sering dipanggil dengan tetua Nan.
"belum saudara Nan, bahkan dia sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar dalam waktu dekat ini" balas Shu Juan.
"sebenarnya apa yang terjadi kepada anak ini? Apakah mungkin dia adalah Siluman?! " raut wajah Shu Juan seketika berubah setelah mendengarkan ucapan temannya ini.
"jangan konyol, bukankah kau sudah melihat dengan kedua matamu sendiri jika darah anak ini berwarna merah? Dan juga, saudara Fen sudah mengatakan bahwa anak ini akan sadar meskipun memakan waktu yang lebih lama"
"bisa saja itu hanyalah trik untuk mengelabuhi kita. Coba pakai otakmu dan gunakan untuk berpikir, bagaimana bisa seorang anak yang baru berumur 8 tahun masih hidup setelah memasuki hutan itu seorang diri? "
"Kupikir kau yang harus menggunakan otakmu! Anak ini sudah berada ditingkat kelima, bahkan dia mampu berkeliaran dengan bebas dihutan itu tanpa khawatir akan kehilangan nyawa karena disana hanya terdapat binatang buas." ucap Shu Juan dengan wajah kesal.
"kaulah yan... Eh, kau bilang apa tadi? Dia sudah berada ditingkat kelima? Bagaimana mungkin?" raut wajah Tetua Nan langsung berubah, tetapi dia sama sekali tidak percaya karena tidak mungkin anak yang masih begitu muda sudah bisa mencapai peringkat itu, yang bahkan dirinya membutuhkan waktu 15 tahun.
"kalau kau tidak percaya, lihatlah sendiri maka kau akan melihat seorang jenius yang sebenarnya."
Masih dengan wajah tidak percaya yang membuat Shu Juan ingin sekali meninju wajah itu, Tetua Nan melangkah dengan ringan kearah Li Hui. Lalu dia meletakkan telapak tangannya didada anak itu dan mengalirkan Qi-nya.
10 detik berlalu dan pada detik yang ke-11 Wajah Xu Nan tiba-tiba berubah. Matanya membulat sempurna dan mulutnya juga menganga lebar.
"Ba-bbagaimana mungkin?!...."
"hahaha, lihatlah wajah bodohmu itu."
"kita harus memberitahu hal ini kepada patriak..su... " wajah Xu Nan tiba-tiba berubah menjadi semangat.
"patriak bahkan sudah datang ketempat ini untuk melihat secara langsung, dan itulah alasannya kenapa Spirit Herb yang berusia 100 tahun ini berada ditanganku" Shu Juan mengeluarkan sebuah tangkai tumbuhan beserta akarnya yang berwarna merah dari Spatial Bag-nya.
"ginseng darah berusia 100 tahun!? Bukankah itu adalah harta berharga milik patriak?
"benar, patriak memberikan ini kepadaku untuk membantu mempercepat anak ini sadar."
"lalu kapan kau akan menggunakannya? "
"Sekarang, aku akan merebusnya terlebih dahulu"
"kalau begitu lakukanlah, aku akan menemanimu disini"
Shu Juan segera melakukan apa yang diminta Xu Nan, dia menyalakan api menggunakan kayu yang diatasnya sudah terdapat kuali yang tidak terlalu besar. Proses perebusan ginseng darah berusia 100 tahun tidak membutuhkan waktu yang lama, agar khasiat yang terdapat pada spirit herb tersebut tidak hilang.
Lalu Shu Juan memotong sedikit bagian dari ginseng darah itu dan menaruhnya kedalam mangkuk yang telah berisi air hasil rebusan sebelumnya. Dan selanjutnya, dengan bantuan Xu Nan, Shu Juan memasukkan air rebusan dan potongan ginseng darah itu kedalam mulut Li Hui.
"menurutmu butuh waktu berapa lama lagi supaya anak ini bisa bangun?" ucap Xu Nan setelah Shu Juan menyelesaikan tugasnya.
"aku tidak yakin, tapi menurut Saudara Fen sekitar 5-10 hari, tetapi karena gingseng darah ini kurasa hanya butuh 3-5 hari" balas Shu Nan.
"hm, itu masih sangat lama. Tetapi hal itu lebih baik daripada dia tidak akan pernah bangun lagi."
"kau benar. Kalau begitu ayo kita pergi dari sini, masih banyak pekerjaan yang belum kita selesaikan" ucap Shu Juan sambil mendorong tubuh Xu Nan untuk keluar dari ruangan itu.
Shu Juan dan Xu Nan pun keluar dari ruangan itu, mereka berdua berjalan ditengah banyaknya murid sekte mereka yang berlalu lalang. Dan akhirnya mereka sampai didepan sebuah bangunan yang tidak terlalu besar dan terkesan sederhana, bangunan itu adalah tempat patriak Sekte Bintang Biru tinggal.
Tok tok tok " patriak...." seru Shu Juan.
"masuklah" balas Patriak Qifan yang saat ini berada di Houtian Earth Early-Stage.
"salam patriak.."
"bagaimana kondisi anak itu? Apakah dia sudah ada perkembangan?"
"belum patriak"
"hm, baiklah. Kita tunggu saja beberapa hari ini, jika dia belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman, aku sendiri akan pergi kesekte kelas menengah didekat sini untuk meminta bantuan"
"tapi patriak..." wajah Xu Nan langsung berubah ketika mendengar ucapan patriaknya itu, karena hal itu sama saja akan mempermalukan sekte mereka sendiri.
"bukankah kau sudah melihat bahwa anak itu memiliki latar belakang yang sangat mengerikan? jika Klan anak itu tahu bahwa salah satu anggota mereka berakhir disini, mereka akan datang untuk meratakan tempat ini hanya dengan satu libasan tangan saja." ucap Patriak Qifan.
"kalau begitu kalian bisa pergi sekarang."
"baik patriak" ucap Shu Juan dan Xu Nan bersamaan sebelum mereka menunduk dan berbalik pergi dari ruangan itu.
3 hari berlalu tetapi Li Hui masih saja terbaring lemas diatas tempat tidurnya. Hal itu membuat patriak Qifan ingin segera pergi untuk meminta bantuan, tetapi Shu Juan meminta untuk menunggu sekitar 2 hari lagi.
Dan tepat pada hari berikutnya, kesadaran Li Hui secara perlahan mulai kembali dan matanya telah terbuka sempurna menunjukkan pupil emasnya yang sedikit bersinar.
"kau akhirnya bangun juga nak," ucap Shu Juan yang membuat Li Hui mengalihkan perhatiannya kearah pria paruh baya itu.
"dimana ini paman," tanya Li Hui.
"saat ini kau berada di Sekte Bintang Biru, aku menemukanmu sekitar 10 hari yang lalu di perbatasan Hutan Rumput Merah."
Mendengar hal itu, Li Hui segera terduduk karena tiba-tiba kepalanya mengingat sesuatu.
"kau mau kemana?..." Li Hui bangkit berdiri dan bersiap untuk keluar ruangan itu, tetapi Shu Juan berhasil menahannya.
"aku ingin kembali ke desa ku paman, ayah dan ibuku sedang menghadapi masalah saat ini"
"hei, tenangkan dirimu dulu. Dimana desamu? Biar kuantarkan kau kesana, karena diluar sana terlalu berbahaya untuk anak kecil sepertimu."
"desaku berada didekat hutan Wuda paman"
"Hutan Wuda? Sepertinya aku pernah mendengar nama tempat itu..." Ucap Shu Juan sembari menggaruk pelipisnya.
"Apakah paman tidak tahu dimana Hutan Wuda? Atau paman pernah mendengar Desa Daun?" Tanya Li Hui.
"Desa Daun?" Shu Juan semakin bingung setelah mendengar Li Hui.
Tetapi sebelum Li Hui ingin bertanya lagi, Shu Juan tiba-tiba berkata
"Tunggu disini dan jangan kemana-mana, aku akan memanggil seseorang yang mungkin mengetahui tempat-tempat itu"
Lalu Shu Juan membalikkan tubuhnya dan berlari secepat yang dia bisa kearah tempat tinggal Patrian Qifan.
Beberapa saat kemudian, Shu Juan bersama Patriak Qifan yang sudah mendengar pertanyaan dan kegelisahan Li Hui memasuki ruangan anak muda tersebut.
"Senang bertemu dengan mu anak muda, kau bisa memanggilku Patriak Qifan..." Ucap Patriak Qifan setelah memasuki ruangan.
Sebelum Li Hui berbicara, Patriak Qifan kembali berbicara.
"Aku sudah mendengar kegelisahanmu dari Tetua Juan, Tetapi untuk pergi ke Area Hutan Wuda sangatlah tidak mungkin untuk saat ini..."
"Apa maksud kakek? Dan enapa tidak mungkin? Aku ingin menemui orang tua ku... Mereka pasti mencari ku sekarang" Ucap Li Hui.
"Hmm... Saat ini kita berada di ujung selatan Hutan Rumput Merah dan jika kau ingin menuju area Hutan Wuda paling dekat, dibutuhkan waktu setidaknya 1 bulan. Dan asal kau tahu, Hutan Wuda cukup luas dan aku belum pernah mendengar Desa Daun sebelumnya" Ucap Patriak Qifan.
"tidak masalah kakek, kakek tinggal menunjukkan arahnya saja... Aku akan pergi sendiri."
Awalnya Li Hui sangat terkejut saat mendengar waktu yang dibutuhkan dari tempat ini menuju Hutan Wuda, tetapi keinginannya untuk menemui orangtua nya membutakan pikirannya.
"Tolong pikirkan baik-baik nak, perjalanan kesana sangatlah berbahaya"
"aku tidak peduli!! Aku hanya ingin bersama ayah dan ibuku!"
"coba pikirkan baik-baik apa alasanmu bisa sampai ketempat ini, jika kau bilang ayah dan ibumu sedang dalam bahaya maka mereka mengirimmu ketempat sejauh ini agar kau bisa terhindar dari masalah yang sedang mereka hadapi nak. Lagi pula ini juga sudah terlambat, sudah 10 hari berlalu, maka kau hanya harus menunggu disini supaya ayah dan ibumu datang untuk menjemputmu"
Li Hui hanya bisa diam mendengarnya, kepalanya menunduk dan terus memikirkan kemungkinan besar yang sedang menimpa ayah dan ibunya, tapi hatinya selalu menolak pikiran itu dan mengatakan sebaliknya. Hingga tidak terasa beberapa tetes air mata jatuh dari sudut matanya.
"aku akan meninggalkan mu disini untuk menenangkan pikiranmu. Kau tidak perlu merasa terbebani karena inilah kehidupan kultivator." ucap Patriak Qifan sembari meninggalkan Li Hui seorang diri diruangan itu.
Li Hui menatap sebuah cinicin yang tersemat dijari tangan kanannya, lalu air mata kembali menetes dari sudut matanya. Kali ini bukan hanya air mata saja tetapi disertai dengan tangisan kepedihan yang membuat semua orang yang mendengarnya akan ikut menangis.
"apakah benar semuanya sudah berakhir ayah ibu? Hikss, aapakah be..nar kalian telah meninggal..kan ku seorang diri? Hiks hiks" sepanjang hari itu Li Hui hanya menangis hingga dia jatuh terlelap karena lelah.
**
Keesokan harinya, Patriak Qifan, Shu Juan, Xu Nan, dan seorang pria paruh baya datang keruangan yang ditempati Li Hui. Dan mereka cukup terkejut ketika melihat anak berambut putih itu sedang duduk bersila dengan mata tertutup, hal ini berbeda dengan apa yang mereka harapkan.
Shu Juan mengatakan bahwa sebelum dia benar-benar pergi dari ruangan ini, dia bisa mendengar dengan jelas bahwa Li Hui menangis semalaman.
Memang benar, Li Hui telah menangis semalaman. Tetapi ketika dia secara tidak sengaja membuka cincin yang dia ketahui adalah milik ibunya, pemuda berambut putih itu menemukan sebuah bola giok kecil yang ternyata berisikan pesan dari sang ibu.
Hatinya begitu terpukul ketika melihat pesan tersebut, tetapi perasaan itu hanya sebentar sebelum dia memantapkan tekadnya untuk mencari siapa dalang dibalik semua ini.
"apa yang terjadi kepadanya Saudara Juan?..." Xu Nan berbisik disamping Shu Juan.
"aku juga tidak tahu, tapi sepertinya ini bukan hal yang buruk.." balas Shu Juan.
"hm, sebaiknya kalian bertiga menunggu diluar biarkan aku yang bicara dengan anak ini" suruh Patriak Qifan dengan kekuatan batinnya sehingga hanya mereka berempat yang bisa mendengarnya. Shu Juan dan yang lainnya tidak membantah sama sekali dan langsung melenggang keluar.
"nak... Apa kau bisa mendengarku?" ucap Patriak Qifan yang membuat Li Hui membuka matanya.
"salam kakek.." ucap Li Hui.
Dengan menggunakan kedua matanya, dia bisa melihat dengan jelas aura pria tua didepannya ini jauh lebih pekat dan kuat dari pada Shu Juan.
"hm, kita sudah bertemu kemarin, tetapi aku belum tahu harus memanggilmu siapa..."
"nama ku adalah Li Hui kek"
"maka aku akan memanggilmu Hui'er, kau tidak keberatan kan?"
"sama sekali tidak"
meskipun Li Hui menjawab dengan nada biasa, patriak Qifan bisa melihat dengan jelas kesedihan yang sangat dalam dibalik pupil emasnya.
"berhenti memanggilku kakek, kau bisa memanggilku dengan patriak Qifan." ucap patriak Qifan
*
ayo author semangat.