Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Bisik-bisik dan suara tawa tertahan dari para tamu undangan langsung berdengung di sekeliling Iris Montgomery. Wajah sang aktris papan atas yang tadinya dipenuhi rasa percaya diri kini berubah pucat pasi, nyaris menyerupai mayat hidup. Tangannya yang mencengkeram tangkai gelas champagne bergetar hebat hingga cairan keemasan di dalamnya hampir tumpah.
Ia baru saja dipermalukan di hadapan seluruh petinggi elit Manhattan bukan oleh seorang rival bisnis yang kejam, melainkan oleh seorang wanita mungil bergaun merah yang selama ini sengaja disembunyikan dari sorotan publik.
"Kau baik-baik saja, Nona Montgomery?" sapa seorang produser film terkenal dengan nada sinis, sengaja melemparkan tatapan mengejek sebelum membuang muka dan berjalan meninggalkan Iris seorang diri di tengah kerumunan.
Iris menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah. Matanya yang memerah menatap tajam ke arah punggung Percy yang kini sudah bergabung dengan kelompok sosialita elit di sisi lain ballroom. Ada kebencian yang membakar ubun-ubunnya rasa iri yang berubah menjadi racun mematikan. Ia tidak akan tinggal diam. Jika menjatuhkan Percy lewat rumor murahan tidak berhasil, maka ia harus mencari cara lain yang lebih menghancurkan.
Namun, di balik pilar besar marmer hitam di sudut ruangan yang minim cahaya, sepasang mata kelabu sedingin es mengawasi setiap detik drama yang baru saja terjadi.
Hades Sterling berdiri tegak dengan setelan jas tailor made berwarna gelap. Tidak ada satu pun orang di ballroom tersebut yang menyadari kehadiran sang miliarder, karena aura dominasi dan ancaman kematian yang menguar dari tubuhnya membuat siapa pun memilih untuk menjauh dari area sudut tersebut.
Dionisos Volkov berdiri setengah langkah di belakang sang bos, memperhatikan bagaimana bibir Hades terangkat membentuk senyuman tipis yang mematikan.
"Apakah Anda ingin saya membereskan aktris itu sekarang, Tuan?" bisik Dionisos datar.
Hades menyesap bourbon di gelasnya perlahan. Matanya masih terpaku pada sosok sang istri yang tengah tertawa lepas bersama Tyche Vance, tampak begitu memukau dan berbahaya dengan caranya sendiri.
"Biarkan dia bermain-main sebentar lagi, Dionisos," jawab Hades dengan suara baritonnya yang rendah dan dingin. "Istriku sedang menikmati pertunjukannya. Jangan merusak kesenangannya."
Hades tahu persis kemampuan Percy. Burung kecilnya tidak memerlukan perlindungan fisik untuk meremukkan musuh-musuhnya Percy memiliki lidah yang tajam, pesona bangsawan, dan status mutlak sebagai Nyonya Sterling yang mampu menghancurkan karier seseorang tanpa harus mengotori tangannya sendiri.
Namun, sorot mata Hades kembali menajam saat ia melihat seorang pria berpostur tegap dengan setelan jas putih tulang mulai melangkah mendekati Percy dari arah berlawanan, pria yang paling dibenci dan diwaspadainya di dunia bisnis maupun pribadi.
Hefaistos Alistair.
Di sisi lain ballroom, Percy baru saja menepis rasa jenuhnya ketika sebuah suara bariton yang amat familier menyapa indra pendengarannya.
"Wah... sebuah pemandangan yang langka. Sang ratu malam ini tampak jauh lebih memukau daripada rumor yang beredar."
Percy menoleh. Di hadapannya berdiri Hefaistos Alistair, tersenyum menyeringai dengan tatapan penuh pesona yang disengaja. Pria itu menenggak segelas champagne, lalu melangkah lebih dekat, terlalu dekat hingga melanggar batas jarak aman yang seharusnya dijaga di hadapan seorang istri konglomerat terkemuka.
Tyche Vance langsung menyipitkan mata, bersiap melontarkan teguran tajam, namun Hefaistos dengan cepat mengangkat sebelah tangannya, mengabaikan Tyche.
"Lama tidak berjumpa, Nyonya Sterling," bisik Hefaistos dengan nada rendah, sengaja menekankan kata Sterling seolah ingin memancing reaksi. "Suamimu sepertinya terlalu sibuk bersembunyi di balik dinding mansion nya, membiarkan permata berharganya berkeliaran sendirian di tengah singa-singa lapar."
Percy mendengus pelan, menatap Hefaistos dengan sepasang mata amber yang menyipit tajam. Lesung pipinya tidak tampak sama sekali yang ada hanyalah ekspresi jijik yang terang-terangan. "Kudengar kebangkrutan perusahaan logistikmu di Eropa bulan lalu belum cukup membuatmu jera mencari masalah, Hefaistos. Atau kau memang sengaja datang ke sini untuk mencari kematian?"
Hefaistos tertawa renyah, meskipun rahangnya mengeras mendengar sindiran telak tersebut. "Kau selalu tahu bagaimana cara membuatku terpesona, Percy. Dingin, tajam, dan mematikan. Jauh lebih menarik daripada pria dingin itu."
Sebelum Hefaistos sempat merentangkan tangannya untuk menyentuh bahu Percy, udara di sekitar mereka mendadak membeku secara drastis. Suhu di dalam sudut ballroom itu seolah turun hingga titik nol dalam hitungan detik.
Musik orkestra tiba-tiba berhenti. Seluruh percakapan di sekitar area tersebut mendadak terhenti total, digantikan oleh keheningan mutlak yang mencekam.
Dari balik kerumunan tamu yang buru-buru menyingkir ketakutan, sesosok pria berpostur tinggi tegap melangkah mendekat dengan langkah berat yang mematikan.
Hades Sterling telah keluar dari bayang-bayang.
Langkah kaki Hades Sterling terdengar begitu mantap di atas lantai marmer, menghantam keheningan ballroom bagai dentang lonceng kematian. Setiap mata di ruangan itu langsung menunduk, tidak ada satu pun tamu undangan yang berani menatap langsung ke arah sang miliarder. Aura dominasi, kekuasaan mutlak, dan kemunculan singa yang terusik menguar begitu pekat hingga membuat udara terasa sesak.
Hefaistos Alistair, yang tadinya berdiri dengan senyuman penuh percaya diri di dekat Percy, merasakan tenggorokannya mendadak kering. Ia perlahan menarik tangannya yang tadi terulur, lalu menolehkan kepala mendapati sosok Hades kini sudah berdiri tepat di sampingnya jarak mereka begitu dekat hingga Hefaistos bisa merasakan dinginnya amarah yang terpancar dari tubuh pria berdarah Yunani-Italia itu.
"Hefaistos," panggil Hades. Suara bariton itu terdengar sangat rendah, lembut, namun mematikan hingga mampu membuat bulu kuduk siapa pun meremang.
Hefaistos mencoba mempertahankan seringai tipis di bibirnya, meskipun keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. "Hades... sebuah kejutan melihatmu sudi menampakkan diri di tengah kerumunan rendahan ini. Kupikir kau hanya..."
Bugh!
Tanpa aba-aba, sebuah hantaman kepalan tangan yang begitu keras telak menghantam rahang Hefaistos. Pria itu terpental ke belakang, menabrak meja bufet kristal hingga hancur berkeping-keping dengan suara dentingan gelas yang memekakkan telinga.
Seluruh tamu undangan terkesiap ngeri. Beberapa wanita menutup mulut mereka dengan tangan, sementara para pengawal pribadi bergerak siaga tanpa ada yang berani maju melerai.
Hefaistos meringis kesakitan di lantai, darah segar mengalir deras dari sudut bibirnya yang robek. Ia mendongak, menatap tajam ke arah Hades yang kini berdiri menjulang di atasnya dengan tatapan kelabu setajam belati.
"Sentuh ia sekali lagi dengan tangan kotor itu," ucap Hades pelan, melangkah mendekat dengan tatapan yang menjanjikan kehancuran total, "dan aku tidak hanya akan menghancurkan perusahaanmu, Hefaistos. Aku akan memastikan nama keluargamu lenyap dari sejarah Wall Street."
Hefaistos tertawa kecil penuh darah di sela ringisannya, tahu betul bahwa ia telah kalah telak dalam permainan psikologis ini, namun ia tidak memiliki nyali sedikit pun untuk melawan balik singa yang sedang mengamuk tersebut.
Di tengah kekacauan dan ketegangan mutlak yang mencengkeram ballroom, Hades merasakan sebuah sentuhan lembut menarik ujung jas mahalnya.
Hades menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke bawah.
Percy berdiri di sisinya. Wanita mungil itu menatapnya dengan sepasang mata amber yang berkilau di bawah temaram lampu kristal. Lesung pipinya terlihat samar, dan bibir kecil ranumnya sedikit terbuka. Alih-alih merasa takut melihat sisi kejam dan brutal suaminya yang baru saja memukul orang di hadapan ratusan orang penting, Percy justru menghela napas pasrah.
"Sudah, Hades," bisik Percy lembut, jemari mungilnya meremas lengan jas suaminya erat-erat. "Jangan buang tenagamu untuk sampah seperti dia. Ayo pulang... aku sudah lelah."
Mendengar suara lembut sang istri dan panggilan untuk pulang, badai kemarahan di mata kelabu Hades seketika mereda dalam sekejap. Pria itu menunduk, menatap wanita yang menjadi pusat dari seluruh dunianya. Tanpa menghiraukan Hefaistos yang masih terduduk di lantai atau para tamu undangan yang terpesona sekaligus ketakutan, Hades melingkarkan tangan besarnya di pinggang ramping Percy.
"Baiklah, Ma chérie," bisik Hades parau, suaranya berubah melembut seratus delapan puluh derajat. "Kita pulang."
Hades merangkul erat tubuh mungil Percy, membimbingnya melangkah pergi meninggalkan ballroom mewah tersebut di bawah kawalan ketat Dionisos dan para pengawal. Di belakang mereka, malam di Manhattan kembali berbisik dalam ketakutan, sementara sang ratu dan sang singa kembali ke dalam singgasana gelap mereka, terisolasi dari dunia luar, di mana cinta dan obsesi melebur menjadi satu kekuasaan mutlak.