Menjalankan sebuah pernikahan rahasia dan dengan terpaksa pula, tidak pernah ada dalam bayangan Aura Aneshka. Ia hanya memimpikan untuk membina
rumah tangga yang sederhana dengan seorang lelaki yang sholih dan bertanggung jawab. Tapi semua impian yang sudah tampak di depan mata itu hancur berantakan ketika pemilik kekuasaan di tempatnya bekerja masuk begitu saja dalam kehidupannya dan mengacaukan hari-harinya.
Damaresh Willyam, penguasa tertinggi PRAMUDYA CORP. Tak pernah tau kalau akibat perbuatannya mengikat Aura Aneshka dalam pernikahan yang hanya di maksudkan untuk menunjukkan kekuasaannya pada bawahannya yang di anggapnya terlalu pembangkang itu, justru membawanya pada masalah baru yang tak pernah ingin di temuinya selama ini. Yaitu cinta.
Dapatkah sebuah ikatan yang awalnya hanya di maksudkan untuk permainan itu, menjadi sebuah ikatan yang sebenarnya.
Bagaiamana jika pada akhirnya, Damaresh harus memilih antara cintanya atau tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Arti sebuah pernikahan
Seorang petinggi ada main dengan sekertarisnya, itu bukan hal baru. Sudah marak cerita seperti itu yang ditayangkan di layar kaca, ataupun dalam cerita novel, tapi melihatnya sendiri secara langsung, baru kali ini bagi Aura, dan itu membuatnya cukup shock dan masih
memikirkannya. Gadis itu terpekur sambil terus menunduk berjalan di belakang Damaresh yang
menuju ke parkiran. Hingga
Dukk,
Aww, Aura mengaduh kecil. Kepalanya membentur punggung Damaresh yang tiba-tiba menghentikan langkah di depannya.
"Kau tidak melihatku yang sebesar ini?" Damaresh menegurnya tajam.
"Maaf pak," Aura mengusap-usap jidatnya sambil bermonolog dalam hati. Kupikir aku membentur beton,
ternyata itu punggung pak Damaresh, keras sekali.
Apa beberapa bagian dari tubuh pak Damaresh memang terbuat dari elemen besi dan baja, pantas dia kaku dan datar banget, gak punya senyum lagi.
kayak robot. Ahh istilah baru ya, yang di sematkan Aura pada bos tampannya.
"Apa yang kau pikir?" tanya Damaresh ketika mereka telah berada dalam mobil untuk menjemput Kaivan di butiknya Maureen. Demi dilihatnya Aura tercenung dari tadi.
"Itu pak Edgard,"
"Kenapa Edgard?"
"Dia sudah punya istri kan?"
"Kau tau?"
"Ia. Istrinya pernah datang ke L&D dulu bersama Nyonya Cristine." Istri Edgard adalah wanita yang sangat cantik dan berkelas. Begitu penilaian Aura.
"Lalu?"
"Pak Edgard bermain di belakang istrinya dengan wanita lain." Aura mengungkap penilaiannya.
"Aneh?" Pertanyaan Damaresh ini seolah mengisyaratkan kalau itu bukan sesuatu hal yang perlu di pertanyakan.
"Apa menurut bapak itu hal yang biasa?"
"Apa kau pikir, dengan terikat dalam sebuah pernikahan akan membuat seseorang itu menjadi malaikat?" Seperti biasa, jawaban Damaresh berupa sebuah pertanyaan.
"Maksudnya?"
"Akan saling menjaga satu sama lain?"
"Yah harusnya seperti itu pak," sahut Aura.
Damaresh terlihat mencibir dengan jawaban Aura.
"Mereka mengikat diri dalam satu pernikahan hanya untuk sebuah hubungan yang saling menguntungkan,
atau untuk melegalkan suatu tindakan penguasaan dari satu pribadi atas pribadi yang lainnya.
Karnanya aku tidak pernah percaya dengan sebuah pernikahan." ucap Damaresh dengan tajam. Sebegitu mirisnya pandangannya terhadap sebuah pernikahan.
Adakah kehidupan pernikahan yang telah melukai jiwanya selama ini. Hingga ia mengambil kesimpulan untuk tak akan percaya lagi.
Aura sempat ternganga mendengarnya. Apa aku tak salah dengar ya, dia bilang tak percaya dengan sebuah pernikahan, tapi tadi dengan mudahnya dia mengatakan kalau aku harus menemaninya ke penghulu.
Untung saja aku tidak baper, karna hatiku sudah terpatri pada Kak Akhtar seorang. Batin Aura
"Saya tidak setuju dengan pendapat bapak," Aura mengatakan pendapatnya tanpa di minta. Karna dia merasa harus tampil meluruskan pandangan miring Damaresh Willyam tentang sebuah pernikahan.
"Menurut saya, pernikahan itu adalah satu ikatan untuk menyatukan dua pribadi dalam satu visi-misi yang sama, untuk saling berpartner dalam kasih sayang, dan
partner dalam ibadah, guna mencapai sebuah kehidupan yang ideal yaitu bahagia di dunia dan di akhirat." Aura menyampaikan pandangannya selama ini tentang sebuah pernikahan yang jelas sangat bertolak belakang dengan Damaresh.
"Pernikahan itu sakral, bukan hanya ikrar di antara dua orang yang bersangkutan, tapi juga ikrar dengan tuhan. Menghianati sebuah pernikahan, sama artinya menghianati tuhan." lanjut Aura lagi dengan semangat membara. Salah, lebih tepatnya lagi semangat empat lima. Semangat kemerdekaan Indonesia Raya.
Bukannya takjub dengan pandangan Aura tentang pernikahan yang nyaris paripurna, Damaresh malah justru berkata lain.
"Aku akan mendaftarkanmu jadi dosen di salah satu Universitas milik L&D Foundation. Agar kau bisa memberikan ceramahmu itu pada mahasiswamu, bukan padaku." ucap Damaresh dengan tajam
setajam tatapannya yang menatap Aura lekat di sertai expresi yang jelas terbaca kalau ia tak suka dengan pembicaraan itu.
"iya pak, maaf," Aura berucap lirih sambil menggerutu dalam hati. Kenapa dia harus marah, aku kan cuma menyampaikan pandanganku pribadi. Karna pandangannya tentang pernikahan itu jelas salah.
Tapi Damaresh barusan menyebut kata "mereka",
pasti karna ada beberapa gambaran pernikahan yang di lihatnya dalam hidupnya hanya seperti apa yang di ungkapkannya barusan, salah satunya mungkin pernikahan Edgard, sehingga dia tidak percaya pada sebuah pernikahan. Aura menganalisa dalam hati dan itu membuatnya Jadi penasaran seperti apa sih kehidupan keluarga Damaresh Willyam yang sebenarnya.
Ingatkan Aura agar jangan terlalu penasaran pada kehidupan pribadi Damaresh Willyam, karna itu akan membuatnya terseret dalam kehidupan lelaki itu dan akan sulit untuk melepaskan.
"Saya tunggu pak," ucap Aura kemudian.
"Apa?"
"Saya di daftarkan jadi dosen," Jawab Aura. Lebih baik jadi dosen dari pada jadi Asisten Damaresh, pikir Aura.
"Nanti, jika aku sudah menemukan alasan untuk mendepakmu," sahut Damaresh. Ihh sadis.
"Di cari saja alasannya mulai sekarang pak," Aura merasa harus membela harga dirinya yang di rendahkan oleh Damaresh dengan ucapannya barusan.
"Aku masih suka berdebat denganmu, jika kau ku usir pergi, aku tidak punya rival lagi."
Sebuah jawaban yang sukses membuat Aura mengunci mulutnya rapat.
Lagi-lagi Damaresh yang menang.
*****
Aura melemparkan tubuhnya ke atas kasur dalam kamar kontrakannya. Rasa lelah dan juga lega di rasakannya dalam dirinya, lelah setelah perjalanan jauh dan lega karna tiba kembali dengan selamat. Gadis itu memutuskan untuk segera beristirahat setelah sholat isya agar mendapatkan tubuh yang segar dan semangat yang baru untuk memulai kerja lagi esok hari.
Tapi Baru juga ia pejamkan mata, terdengar ketukan di pintu depan. Aura perlahan membuka mata dan melangkah dengan malas ke arah pintu yang di ketuk berkali-kali.
Terlupa untuk melihat lebih dulu siapa yang bertamu di waktu malam begini, Aura langsung membuka pintunya
"Pak Kaivan," sepasang mata Aura yang sudah mengantuk langsung terbuka lebar melihat siapa yang datang.
Kaivan tersenyum tipis dan menyerahkan sebuah tas ke arah Aura. "Ini tasmu tertinggal di dalam mobil,"
Subhanallah..Aura berdesis kaget, karna terlalu lelah dia bahkan sudah tak ingat pada salah satu barang berharga miliknya itu. Bahkan ia sempat ketiduran tadi dalam mobil, kalau bukan karna Kaivan yang membangunkannya.
"dan ponselmu rame dari tadi, mungkin calon suamimu yang menghubungimu," Tutur Kaivan lagi.
Aura segera mengambil ponselnya dalam tas itu dan memeriksanya, ternyata benar ada belasan panggilan tak terjawab atas nama calon imam. Aura tercekat.
"Tadinya aku ingin menjawabnya biar dia tak kawatir, tapi tak boleh sama Damaresh, karna itu privasimu katanya, dan dia benar juga sih," Kaivan mengedikkan bahunya sambil tersenyum kecil.
"Jadi pak Damarezh juga tau?"
"Dia yang menyuruhku mengantarkan ini padamu sekarang." Padahal terlihat jelas kalau Kaivan sudah sangat kelelahan.
"Ahh iya terima kasih pak Kai, maaf sudah merepotkan,"
Aura terlihat tak enak hati.
Kaivan hanya mengangguk dan tersenyum tipis lalu segera berpamit pergi.
Aura menghela nafasnya teringatkan seorang Damaresh Willyam, di balik sifatnya yang menyebalkan ada juga kan sisi kebaikannya.