Reva, datang ke Taiwan dengan niat bersungguh-sungguh untuk kuliah dan lulus dengan nilai terbaik.
Steven, pemilik apartemen yang ditinggali Reva dan tinggal di gedung sebelah. Menganggap Reva anak bawang tapi juga mengagumi kecantikan Reva yang mirip dengan Tia, penyanyi sekaligus istri bossnya.
Sosok yang menjadi standarnya saat mencari pendamping hidup.
Sandy, yang dianggap sebagai Om oleh Reva, selalu memberinya dukungan dan pertolongan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru.
Kisah cinta Sandy membuat Reva terpaksa membantunya dan membuatnya terjebak dalam kerumitan hubungan diantara mereka bertiga.
Hubungan Mereka bertiga, pacar Sandy dan pengagum Steven.
Siapa yang akan dipilih Reva?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EnderGamer 1256, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja
"Revaa.." panggil Tia.
Reva menghampiri.
"Iya Tante.."
"Yuk..ikut Tante sama Tante Bili."
"Sama Jason ?"
"Enggak.
Jason sama Papinya."
"Oke Tante.." sahut Reva. Lalu meninggalkan Tia masuk ke kamar Jason.
Tia tersenyum sendiri.
Michael menghampiri.
"Gimana ?"
"Sip. Udah aku siapin Mas." kedip Tia.
"Enggak salah emang aku milih bini." senyum Michael mencium leher Tia.
"Ehmm...Mas..
Mas !!" Tia melepaskan dirinya dari pelukan Michael. Nafasnya terengah.
"Aku jadi kepingin." bisik Michael.
Matanya menatap tahi lalat di leher Tia.
"Ehm..tapi gak pake ya ?"
"Pake ah..
Aku masih trauma di ruang bersalin."
Tia tertawa.
"Jason udah besar Mas,
Gak pingin ngasih adik?"
"Bikin aja, Tapi gak mau jadi." tolak Michael.
"Yuk Ti... bentar aja.." tarik Michael ke kamar.
Tia tertawa, membiarkan dirinya ditarik ke kamar.
Dia merasakan hal yang sama.
Selalu merindukan sentuhan Michael.
Dua puluh menit kemudian, Tia sudah rapi keluar dari rumah bersama dengan Reva.
Mereka pergi ke butik.
Bertemu dengan Biliyan disana.
Tadi di mobil dalam perjalanan kembali ke Taipei, Robert memaparkan dugaan nya pada Michael.
"Jadi..menurut lu, Sandy tertarik sama Reva ?"
"Iya.
Gue berani taruhan deh."
"Terus..kenapa kita harus ikut campur Bet ?
Itu urusan dia.
Lagian..Reva...." Michael diam.
"Kel..
Reva keluarga Tia.
Tia bini lu.
Bili..bini gue, cici lu.
Kenapa gak kita buat persahabatan kita dan..yaah..kepemilikan company kita menjadi bentuk yang lebih kuat.
jadi keluarga.
Keluarga beneran!" kata Robert memberi dasar pada alasannya mendekatkan Sandy dengan Reva.
Michael diam.
"Lagipula..
Lu mau si Sandy dapet bini kayak Cindy ?
Gue sih..enggak !
Enggak rela gue liat temen gue diperlakukan kayak gitu.
Sandy harus dibuka matanya.
Ditunjukin kalo ada perempuan lain yang jauh..jauh lebih berkualitas dibanding Cindy."
"Tia belum tentu setuju Bet !" bantah Michael.
"Lu tunjukin dong keuntungannya sama dia.
Dia kan yang pegang company bagian lu.
Apa dia mau, diantara kita bertiga, salah satu bini bikin suaminya gak konsen kerja.
Kebanyakan bertingkah.
Company bisa kolaps.
Padahal peran Sandy di company kita besar."
"Iya sih..
Sekarang aja udah sering keluar tuh anak.
Dipanggil mulu di jam kantor.
Tia yang lebih beken aja gak segitunya.
Dulu juga enggak." renung Michael.
"Nah...lu nangkep kan maksud gue ?" kata Robert.
"Ya udah..ntar gue bilang Tia deh."
Dan...
sekarang Reva bersama Tia masuk ke salah satu butik ekslusif.
"Tante mau beli baju ya ?" tanya Reva.
"Iya." senyum Tia.
"Duduk Va.."
Tia lalu berbicara pada pemilik butik.
Menjelaskan keinginannya dengan spesifik.
Pemilik butik menatap Reva dengan pandangan menilai lalu mengangguk.
"Va...kamu nyoba baju ya ?
Soalnya nanti kan kita makan malamnya di restoran yang formal.
Bajunya harus formal juga.
Ya ?" bujuk Tia.
"Eh..tapi Tante.." Reva ragu.
Uang di ATM nya tidak banyak.
Jelas tidak cukup untuk membeli sebuah gaun di butik seekslusif ini.
"Reva..
Ini hadiah dari Tante. Kamu anggap Tante orang tua kamu ya?
Mama kamu kan nitipin kamu sama Tante.
Jadi..Kamu sekarang tanggung jawab Tante.
Oke ?" senyum Tia.
Reva menatap Tia.
Matanya berkaca-kaca.
Dia rindu orang tuanya.
"Oalah...anakku..." peluk Tia erat pada Reva.
"Makasih Tante.."
"Sana... cobain dulu." dorong Tia ke arah pemilik butik.
Reva masuk mengikuti pemilik butik.
Pintu terbuka.
Biliyan masuk.
"Gimana ?" bisiknya.
"Oke..." senyum Tia.
"Lu yakin Ti ?" tanya Biliyan.
"Hmm ..yang dibilang sama Ko Robert bener juga Ci.
Kita semua nih kan gak ada yang nyaman sama pacarnya.
Dan hubungan mereka sudah sampai tahap mengganggu operasional kantor." kerut Tia.
"Terus...
Lu ngumpanin si Reva ?" kejar Biliyan.
"Kalo emang bisa berjodoh, kenapa enggak Ci ?
Supaya kita semua terikat dalam satu persaudaraan." jawab Tia.
"Semuanya demi kebaikan bersama.." sambungnya.
Biliyan diam.
"Lu sayang Reva Ti ?" tanya Biliyan beberapa saat kemudian.
Tia mengangguk.
"Iya.
Dan gue pingin yang terbaik buat dia.
Waktu Mas Michael cerita tentang ide Ko Robert, yang dalam pikiran gue bukan cuma masalah company, Ci.
Ko Sandy laki-laki baik.
Gue suka sama dia.
Dia juga bertanggung jawab.
Gue tau..kalo Reva jadi sama dia, Reva bisa bahagia." jawab Tia.
"Gue tau Sandy baik dan bertanggung jawab.
Tapi cinta gak bisa dipaksakan Ti." jawab Biliyan.
"Dikondisikan supaya tumbuh, Ci." jawab Tia.
Biliyan hendak menanggapi saat tirai terbuka dan Reva masuk dengan malu-malu.
"Tante !" katanya.
Senyum Tia terkembang.
Mata Biliyan membulat.
Reva terlihat anggun dengan gaun selutut.
Lengan gaunnya langsung dari kain gaun. Tanpa jahitan.
Menambah ekslusif penampakannya.
Gaunnya berwarna ungu lembut.
Menambah warna pada kecantikan wajah Reva.
"Berputar Va.." kata Tia.
Reva berputar.
"Hmm.. bagus.
Tinggal nyari selopnya." kata Tia.
"Saya punya selop yang serasi." jawab Mrs Yang, pemilik butik.
"Oke..saya ambil.
Coba yang lainnya Va..
Tante mau ajak kamu ke pesta tiga hari lagi."
"Hah ?!" Reva terkejut.
"Dah sana.
Mrs Yang udah nyiapin tuh." kata Tia melambaikan tangannya.
"Tante !
Tante mau jual Reva ke om-om ya?!" jawab Reva mendelik.
Tia cekikikan.
Biliyan tersenyum lebar.
Candaan Reva tidak sepenuhnya salah.
"Iya.
Emang kenapa ?" tantangnya.
Reva menepuk jidatnya.
Lalu berbalik ke tirai.
Tia menoleh.
"Gimana ?"
"Gila...cantik banget.
Tinggal kita dandanin rambutnya.
makeup tipis." kata Biliyan menatap tirai.
"Gak kalah kan sama Cindy ?"
"Cantikan Reva Ti.
Karna ditambah sama mata yang cerdas dan kelakuan plus." jawab Biliyan.
"Jadi..lu setuju kan Ci ?"
Biliyan menatap Tia.
"Sandy nya gimana ?"
"Ko Robert belum cerita ?"
Biliyan menggeleng.
"Gak sempet."
"Tadi...kayaknya Sandy cemburu sama Steven." Tia lalu menceritakan peristiwa tadi pagi pada Biliyan.
Mereka berdua berbisik-bisik.
Biliyan tersenyum lebar.
"Bagus !
Gue kok jadi semangat nih."
Tia tertawa kecil.
Tirai ditarik, Reva kembali keluar.
Kali ini dengan gaun panjang berwarna hijau lembut. Lengannya tiga perempat tapi terbelah hingga pangkal lengan.
Tia bangkit.
Memutari Reva.
Biliyan ikut bangkit.
"Mrs Yang..ada gaun yang lebih menonjolkan kemudaannya?
Muda, cantik, cerdas.
Bukan cuma cantik aja." kata Biliyan.
Mrs Yang ikut mengamati.
Dia mengernyitkan dahinya.
Lalu mengangguk.
"Ayo..kita coba gaun yang satu ini." ajaknya
Reva menghembuskan nafas nya.
Dia lalu mengikuti Mrs Yang.
Sepanjang sore, mereka bertiga menghabiskan waktu di butik Mrs Yang.
Reva bolak balik masuk ke tirai hingga kakinya lelah.
Sementara Tia dan Biliyan tertawa-tawa menikmati menjadi mak comblang.
Reva memandang cemas melihat gantungan baju yang semakin bertambah ke kanan. Baju-baju yang dibeli Tante Tia untuknya.
Juga jaket, atasan, sweater, celana panjang.
Semuanya mahal dan berkelas.
Reva nyaris tidak percaya kalau itu dirinya saat memakai gaun-gaun itu.
Tia lalu menelpon, memanggil tim periasnya ke rumah.
kerennnnn
jangannbilang terjadi huru hara saat pesta lho kak author
baca novel ini....... !@#$^&*%!!
cheers 🥰🥰🥰