" Katakan sekali lagi, apa yang kau ucapkan tadi?!" Dirga menatap dengan sorot mata menghunus ke arah wanita di hadapannya.
" A-aku ingin kita putus, a-aku merasa tertekan selama menjadi pacarmu, jadi aku mohon, aku ingin hubungan kita berakhir sampai di sini saja," suara Kirania terdengar lirih.
" Baik ... baiklah, jika itu yang kau mau, mulai saat ini kita putus, aku tidak akan mengganggu. Dan aku menganggap kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya!" tandas Dirga meninggalkan Kirania dengan langkah lebar.
Sejak saat itu Kirania memang tak pernah melihat sosok pria yang sudah membuatnya jatuh hati.
Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian, mereka kembali dipertemukan dalam situasi yang rumit.
Akan kah cinta lama mereka bersemi atau mereka sama-sama mempertahankan gengsi mereka masing-masing demi menghindari rasa sakit hati.
ig : rez_zha29
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Imam
Entah bagaimana Kirania meyakinkan kedua sahabatnya agar percaya jika memang tidak ada hubungan apa-apa antara Dirga dan dirinya. Hanya suatu kebetulan saja yang membuatnya harus berurusan lagi dan lagi dengan pria idola kampus itu.
Namun tiba-tiba sebuah suara dari arah pintu masuk terdengar setengah berteriak ke arah mereka bertiga.
" Ada Kirania, nggak?"
Terlihat seorang pria yang muncul dari arah pintu kelas, yang entah Kirania sendiri tidak mengenal siapa pria yang mencarinya itu dan ada apa tiba-tiba dia dicari? Suatu kejadian yang langka menurutnya, tapi karena nama dia yang dipanggil dengan cepat dia pun menjawab.
" Saya Kirania, ada apa?" Kirania menyahuti.
" Ditunggu Dirga tuh, di parkiran ..."
Deg..
Bukan cuma Kirania saja yang terkesiap tapi juga kedua teman Kirania, saat mendengar pesan yang mungkin lebih tepat disebut pengumuman itu, karena disampaikan dengan setengah berteriak hingga membuat orang lain tahu. Sebenarnya tidak masalah mau disampaikan secara berbisik atau berteriak, tapi karena isi pesannya itu suatu hal yang tidak diinginkan Kirania diketahui orang lain terutama Hasna dan Sabilla, itulah yang menjadi masalah. Apalagi saat ini kedua temannya itu seolah sedang mengintrogasi layaknya seorang terdakwa pelaku kejahatan tentang masalah itu.
Untungnya saja siang ini kelas sudah sepi hanya menyisakan Kirania dan dua temannya. Seandainya saja masih banyak mahasiswa yang berkumpul, sudah tidak bisa dibayangkan akan seperti apa Kirania menjadi pergunjingan.
" Bil, kamu dengar nggak, sih? Belum lima menit lho, dia bilang nggak ada hubungan apa-apa, eh ... ternyata mereka janjian ketemuan." Hasna cepat berkomentar dengan nada menyindir.
" Intinya dia tidak ingin kita tahu masalah dia. Dia ingin menutupi hubungannya dengan Dirga. Oke ... fine, mulai sekarang kita nggak usah ikut campur masalah ini, Has ...!" ketus Sabilla. " Cabut, yuk!" Sabilla hendak melangkah meninggalkan Kirania tapi Kirania terlebih dahulu mencekal lengan Sabilla.
" Bukan seperti itu masalahnya," ucap Kirania.
" Kita sudah nggak perduli mau seperti ini atau seperti itu masalah kamu, Ran!" Dengan nada dingin Hasna menimpali. Dia pun sudah siap-siap meninggalkan Kirania.
" Aku nggak janjian sama dia, dia sendiri yang memaksa aku. Aku janji aku akan cerita semua yang sebenarnya terjadi pada kalian, tapi untuk kali ini aku minta tolong, bantu aku menghindar dari Kak Dirga. Aku nggak mau dia antar pulang. Please bantu aku kabur dari kampus ini tanpa sepengetahuan dia." Kirania memohon.
Sabilla dan Hasna saling tatap sesaat.
" Kamu saja yang bantu dia, aku tiba-tiba ingat disuruh Ibuku pulang cepat," sahut Hasna.
" Aku juga lupa, ada janji sama Aldi mau ke Bekasi. Dia sudah nunggu di depan." Sabilla pun beralasan menolak membantu.
" Kita duluan ya, Ran. Bye ..." Dalam sekejap mata kedua teman Kirania itu menghilang dari kelas, bahkan teriakan Kirania memanggil nama mereka pun tak mereka perdulikan.
" Iiihhh ... kenapa pada pergi, sih?! Katanya sahabat, giliran butuh pertolongan malah ditinggalin." Kirania menggerutu kesal menanggapi kepergian kedua sahabatnya itu.
Drrrtt ddrrrttt ...
Tiba-tiba handphone Kirania dari dalam tasnya bergetar, dengan cepat dia mengambil ponselnya itu. Terlihat olehnya nomer asing tak dikenal yang memanggil. Kirania mengusap layar ponselnya untuk menerima panggilan yang dia sendiri tidak tahu dari siapa.
" Assalamualaikum ..." Kirania menyapa si penelpon.
" Waalaikumsalam, lama banget, sih. Kamu nggak lagi cari cara buat kabur, kan?"
Kirania langsung menjauhkan benda pipih itu dari telinganya demi mendengar suara yang muncul dari ponselnya itu. Dia juga langsung mematikan panggilan telepon itu.
" Dari mana dia tahu nomer teleponku?" gumam Kirania bingung saat mengetahui Dirga-lah yang menelponnya.
Tapi tak berapa lama ponselnya kembali bergetar, masih dari nomer telepon yang sama. Dengan cepat Kirania me-reject panggilan masuk itu, dan langsung memblokirnya.
" Mau dia apa, sih? Kenapa juga mesti dekati aku terus? Kekurangan stok wanita yang bisa didekati, apa?!" umpat Kirania memasukkan ponsel ke dalam tasnya dan melangkah meninggalkan ruang kelas, tapi tentu saja bukan halaman parkir yang ditujunya.
***
Setengah jam Kirania bersembunyi di toilet wanita. Dia sengaja menyembunyikan diri di sana. Setengah jam berlalu tidak ada tanda-tanda Dirga mencarinya. Kirania merasa sudah aman, dia menduga Dirga sudah pulang. Memangnya dia itu siapa sampai harus membuat seorang Dirgantara menunggu lama. Untung saja toilet di kampusnya ini selalu terjaga dan bersih, aroma pengharum ruangan elektrik bervariant green fantasy yang dipakai juga sangat menyegarkan sehingga tidak sampai membuatnya tak nyaman ada di ruangan itu.
Setelah menunggu setengah jam akhirnya Kirania memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
" Sudah sembunyinya?"
Kirania tersentak saat sosok tinggi menjulang sudah berdiri tepat di depan toilet khusus wanita. Dia sampai menjatuhkan beberapa buku yang dipegangnya karena benar-benar merasa kaget.
" Kenapa harus sembunyi, sih?" tanya Dirga membantu merapihkan buku Kirania yang berserakan.
" Kamu kenapa mengagetkan aku?" tanya Kirania gugup, sebenarnya bukan hanya gugup tapi karena kaget juga. Detak jantungnya saja berdegup masih terasa sangat kencang.
" Sorry kalau bikin kamu kaget. Lagian kenapa kamu mesti sembunyi segala? Kalau nggak mau diantar pulang itu bilang, nggak mesti sembunyi menghindar seperti ini. Bikin orang nunggu lama, nggak ada kabar."
Kirania langsung mendongakkan kepala ke arah Dirga yang sedang memandangnya. Sekian detik mereka saling beradu pandang. Kirania menatap manik warna kecoklatan milik Dirga. Sorot mata yang selama ini mampu menghipnotis lawan jenisnya untuk takluk kepada pesonanya. Sebelum akhirnya dia memutuskan pandangan seraya melempar pandangan ke sembarang arah. Dia merasa tidak nyaman harus lama beradu pandang dengan pria itu. Kirania kembali mengingat perkataan Dirga yang baru didengarnya, yang intinya kenapa harus menghindar? Kenapa tidak bilang kalau tidak ingin diantar? Seketika hatinya berubah kesal.
" Memangnya kamu kasih opsi itu? Kalau pakai acara mengancam jangan sampai kabur, artinya perintah kamu mutlak! Aku nggak punya pilihan lain selain menuruti apa yang kamu perintahkan," ketus Kirania kemudian melirik ke arah Dirga yang terdengar terkekeh mendengar ucapannya.
" Oh gitu, ya? Ya sudah anggap saja kamu sedang belajar dari sekarang menuruti calon imam kamu ini." Dirga memainkan alis matanya dengan gerakan turun naik dengan seulas senyum yang menurut Kirania menyebalkan.
" Siapa juga yang mau jadi makmum kamu!" sergah Kirania memutar bola matanya.
" Kamu nggak mau jadi makmumku? Kamu meragukan aku? Biar bandel-bandel gini, jadi imam aku masih sanggup. Bahkan kalau aku yang memimpin, banyak mahasiswi yang berbondong ikut jadi makmumku." Dirga menempatkan wajahnya ke arah pandang Kirania hingga wajah tampan Dirga-lah yang mengisi penuh pandangan Kirania saat ini. " Makanya sekali-sekali ikut sholat Dzuhur berjamaah di masjid kampus, dong," ucap Dirga seraya mengulas senyum lebar.
Blaasshh...
Sontak ucapan Dirga langsung membuat wajah Kirania yang berjarak kurang dari dua puluh sentimeter dari wajah Dirga itu berubah pias dan memucat seketika. Tak terbayang rasa malunya saat ini saat menyadari dia salah mengartikan perkataan Dirga, yang sebenarnya tanpa dia sadari jika Dirga memang sengaja mempermainkan kata hingga membuat Kirania mati kutu seperti ini.
*
*
*
Bersambung....
Happy Reading😘