Aku adalah seorang gadis yang pantang menyerah sebelum berperang. Bahkan, saat berperang sebelum pun aku tidak akan mundur sebelum aku benar-benar kalah.
Ini kisahku, aku berusaha mengejar cinta seorang rektor muda yang sangat pintar. Jalan yang aku tempun untuk mendapatkan hati pak rektor tidak lah mudah. Penuh tantangan dan penuh jurang yang sulit untuk aku lewati.
Bisakah aku mendapatkan hati rektor tampan yang aku kejar. Apakah aku berhasil menjadi kekasih rektor tampan atau aku malah kalah dalam perjuanganku kali ini. Ayo ikuti kisahku, agar kalian tahu bagaimana jalan yang aku tempuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rico Candra
Dengan susah payah, akhirnya aku sampai juga dikelas ku. Rasa sakit di pantatku masih kekal dan terasa semakin kuat.
Namun hatiku lega saat aku mencapai pintu masuk kelas. Aku pikir aku sudah telat lebih dari setengah jam. Tapi nyatanya, aku malah tidak telat sama sekali. Dosen yang masuk hari ini mengundurkan jam kuliahnya selama tiga puluh menit. Hasilnya, aku selamat hari ini dikampus.
"Kamu kok gak bilang sama aku sih Bay, kalo jam kuliahnya diundur sama pak dosen," kataku kesal sama Bayu.
"Makanya, kalo punya ponsel itu digunain Nia. Jadinya gak nuduh sembarangan sama aku," kata Bayu tak kalah kesalnya padaku.
"Kau itu harusnya lihat ponsel mu Nia, aku sama Bayu udah kasih kabar padamu. Tapi kamu malah gak baca chat kami," kata Safat.
"Ah, maafkan aku. Kali ini aku yang salah pada kalian, lain kali kalau jam kuliah itu diundurkan, kasih tahu aku dari malam bukan saat aku sedang merasa aku telat. Kalau aku merasa aku telat, otomatiskan aku gak akan baca chat dan angkat telfon kalian."
"Itu ujung-ujungnya kamu nyalahin kami lagi Nia. Kami aja tahunya pagi ini, mana bisa kami kasi tahu kamu tadi malam," kata Bayu.
"Yah, dasar kau Nia. Selalu saja begitu sama kami," kata Safat lagi.
Belum sempat aku menjawab apa yang kedua temanku katakan. Lelaki yang tadi aku tabrak malah masuk kedalam kelas kami. Aku lumayan kaget saat lelaki itu menyapa kami semua yang ada dikelas.
"Selamat pagi teman-teman," kata lelaki itu ramah.
Semuanya menjawab sapaan dari lelaki itu, sedangkan aku salah tingkah. Aku mengambil buku pelajaran yang ada di mejaku dengan cepat. Aku tutup wajah ku dengan buku itu.
"Selamat pagi teman-teman semua."
Suara itu, aku sangat kenal suara itu siapa pemiliknya. Aku buka buku yang aku tutupkan tadi, aku lihat siapa lagi yang menyapa kami dikelas ini.
Tebakkan ku selalu tetap, siapa lagi kalau bukan pak Rama rektor kampus kami. Aku senyum manis saat melihat pak Rama yang berdiri tegap didepan sana.
"Teman-teman, kenalkan ini adalah teman saya. Namanya Rico Candara, ia akan berbagi ilmu dengan kalian untuk sementara waktu. Jangan cemaskan kemampuannya, ia termasuk orang yang sangat berprestasi dikampus," kata pak Rama menjelaskan siapa lelaki yang aku tabrakkan tadi.
Untungnya, dikelas ku tidak ada cewek yang lebay saat melihat lelaki tampan. Kalau ngak, bisa sakit kuping aku saat mereka lihat dua maklum yang sangat tampan itu.
Tapi tunggu sebentar, pak Rama bilang lelaki itu adalah temannya pak Rama. Dan akan berbagi ilmu, itu artinya lelaki itu akan mengajar di kampus kami. Berati yang aku tabrak tadi adalah dosen, dan aku malah tidak memperdulikannya.
Aku kembali menutup wajahku dengan buku, saat ini aku korbankan niatku untuk melihat ketampanan pak rektor. Karna jika aku ditegur sama teman pak Rama, maka semakin hancur namaku didepan pak Rama. Makin sulit aku untuk mendapatkan hatinya pak Rama kalau gini ceritanya.
Beberapa saat setelah memperkenalkan temannya. Pak Rama pun meninggalkan kelasku. Hari ku sedikit merasa lapanga dengan kepergian pak Rama.
Aku berlagak seperti orang yang sedang membaca buku. Padahal aku hanya menutupi wajahku saja.
"Hei, baca buku itu gak dari bawah keatas ya. Bacanya dari atas kebawah, buku kamu kebalik," kata lelaki yang bernama Rico itu sambil membenarkan buku aku.
"Oh, iya maaf. Aku salah," kataku sambil menahan malu.
Aku melihat kiri kananku, teman-teman ku semuanya tersenyum tapi tidak langsung melihat aku.
Aku yang ceroboh kenapa bisa mempermalukan diriku sendiri. Hari ini dua kali aku bikin kesalahan didepan dosen baru ini. Rico hanya senyum saja melihat wajahku yang memerah menahan malu.
"Lain kali hati-hati," kata Rica sambil berjalan meninggalkan tempat dudukku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa, hanya diam seribu bahasa. Untungnya teman-temanku orang yang baik semua. Walaupun mereka merasa tersenyum tapi mereka tidak tunjukkan langsung kalau mereka merasa geli hati dengan apa yang aku lakukan. Mereka hanya senyum sembunyi dan tidak mentertawakan aku. Kalau ngak, mau di taruh mana muka aku.
coba pameran nya orang blasteran belanda indonesia
jd cewek kalem napa,jngn terlalu agresif