Gladis 24 tahu harus menerima kenyataan bahwa masa depannya berada di tangan kedua orang tuanya. Ia dijodohkan dengan anak rekan bisnis papanya untuk memperkuat perusahaan orang tuanya di kancah Internasional.
Gadis yang mempunyai kekasih bernama Fadli seorang dokter kandungan harus rela putus karena kedua orang tua Gladis tidak pernah merestui hubungan keduanya.
David calon suami Gladis adalah seorang pengusaha muda yang terkesan dingin, ketus, pemarah, tempramen. Akankah pernikahan mereka berlansung bahagia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isi Hati.
Gladis berlari kecil sambil menangis menunduk setelah keluar dari ruangan David, ia menuju lift sambil berusaha menyembunyikan wajahnya agar orang-orang sekitarnya tidak melihat kondisinya.
Ting....suara lift terbuka untung saja lift itu kosong jadi ia tidak perlu bersembunyi jika ada orang yang melihatnya, di dalam lift ia terus mengingat perkataan David.
*M**emang benar apa kata David*, semua akan terjadi apa pun alasannya, perjodohan ini tidak bisa di cegah. Tapi kenapa David terlihat diam saja? Kenapa dia tidak begitu khawatir ia bilang dia tidak setuju dengan perjodohan ini tapi kenapa dia terlihat santai.
Ting..pintu lift sampai ke lantai utama. Gladis keluar menuju lobi kantor David belum sempat Gladis keluar kantor itu seorang security menghampiri Gladis yang berjalan menuju keluar kantor.
"Maaf Nona, Pak David menyuruh agar Anda jangan dulu pergi," seorang security itu berdiri di hadapan Gladis menghalangi langkahnya.
Gladis terdiam ia kaget apa yang di lakukan oleh David, tadi David bilang sibuk, sekarang ia melarang Gladis pergi.
"Apa! Tapi aku mau pergi, Pak," kata Gladis tidak memperdulikan ucapannya.
"Maaf Nona, And tidak bisa pergi ini pesan dari Pak David. Setidaknya Anda harus menunggu Pak David turun terlebih dahulu."
*A**pa-apaan sih dia, maunya apa sih? Seenaknya* **membuat** peraturan melarang orang untuk pergi.
Tiba-tiba sebuah suara menghampiri mereka ya itu David yang baru keluar dari lift dan berjalan mendekat ke arah Gladis.
"Biarkan Pak," kata David menghampirinya dan berdiri di samping Gladis.
"Baik Pak, permisi," kata security itu meninggalkan David dan Gladis.
David menatap ke arah Gladis ia melihat wajah Gadis itu agak lusuh karena habis menangis. Gladis menatap David tapi tidak lama dia membuang muka.
"Mau apa lagi? Kenapa aku mau pergi tidak boleh," tanya Gladis tidak mengerti.
"Memangnya aku menyuruh kamu untuk pergi!"
"Tadi kamu bilang sibuk, dan kamu bilang membuang waktu jika membahas perjodohan ini dan aku pergi kamu mencegahku!" kata Gladis dengan nada sedikit meninggi.
Gladis dan David sadar sedari tadi mereka menjadi pusat perhatian orang sekitarnya. Gladis sesekali menunduk menyembunyikan wajahnya sementara David sesekali memejamkan matanya dan menarik nafas panjang.
"Ok, jadi kamu mau membahas soal perjodohan kita lagi?" kata David bertanya kepada Gladis.
Tanpa menunggu persetujuan Gladis, David menarik pelan tangan Gladis dan membawanya ke sebuah ruangan di samping meja resepsionis, ternyata itu adalah ruangan khusus meeting resepsionis. Gladis kaget dengan perbuatan David yang tiba-tiba menariknya.
"Mau kemana?" tanya Gladis ketika David masih menariknya.
"Jangan bawel," balas David singkat sambil terus berjalan.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan itu, David melepaskan tangannya Gladis dan ia mengunci ruangan itu. Gladis kaget ia takut akan yang David lakukan! David berbalik menuju ke arah Gladis yang masih berdiri.
"Mengapa di kunci, mau apa kamu?" tanya Gladis ketakutan.
"Kenapa memangnya jika aku mengunci ruangan ini, kamu takut?" tanya David kepada Gladis.
"Aku mau keluar," Gladis berjalan menuju pintu itu tapi sial David menahannya dan meraih tangan Gladis.
"Urusan kita belum selesai, Nona!" David masih memegang tangan Gladis dengan erat sambil menatap tajam.
"Lepaskan aku!" Gladis melepaskan tangannya dari genggaman David.
"Sekarang mau mulai dari mana?"
"Apa maksud kamu?" Gladis tidak mengerti akan pertanyaan David.
David tersenyum ringan dan menggelengkan kepalanya.
"Bukannya tadi kamu bilang kamu mau membicarakan soal perjodohan kita sekarang aku bertanya sama kamu, kamu mau mulai dari mana?" David memperjelas sambil menatap Gladis.
Gladis kembali membalas tatapan David, kini ia menjadi bingung sendiri entah harus bicara apa.
"Kamu mau aku mengundur pertunangan kita sampai kamu memberitahu pacar kamu, iya? Itu yang mau kamu?" tebak David menatap tajam ke arah Gladis dengan gayanya kedua tangan di masukan ke dalam kedua saku celananya.
Lagi-lagi Gladis hanya terdiam mendengar ucapan David, ia tidak tahu harus bicara apa pikirannya kacau tidak karuan.
"Apa kamu tidak egois, mementingkan diri kamu sendiri," tambah laki-laki itu.
Kini Gladis menatap tajam ke arah David bibir yang tadinya kelu kini berani untuk bicara.
"Aku egois! Kamu bilang aku egois?" kata Gladis ketus menatap tajam ke arah David.
"Iya, kamu egois!" David memperjelas perkataannya.
Gladis hanya tersenyum sinis mendengar ucapan David. Mungkin ini waktu yang tepat bagi Gladis meluapkan apa yang ada di isi hatinya.
"Aku aneh sama kamu, kamu bilang kamu tidak menyukai perjodohan ini tapi kenapa sekarang kamu diam saja terlihat baik-baik saja!" kata Gladis dengan nada sinis menatap David.
David tertawa kecil mendengar ucapan Gladis sambil menggelengkan kepalanya. Lalu ia mendekati Gladis sambil memegang kedua pundaknya dan menyandarkan tubuh Gladis ke tembok.
"Apa kamu bilang, aku terlihat baik-baik saja?" David menyandarkan Gladis ke tembok.
Jarak mereka sangat dekat mungkin satu jengkal, David masih menatap Gladis dengan sinis.
"Terus kamu pikir aku harus bagaimana! Aku harus marah-marah sepeti kamu! Aku sudah bilang bagaimana pun perjodohan ini akan tetap terjadi, sekarang kamu bilang mengapa aku terlihat baik-baik saja, apa kamu tahu bagaimana perasaan aku!" nada David mulai meninggi amarahnya mulai meluap seakan beban yang selama ini ia simpan di hatinya ingin di lampiaskan kepada Gladis.
"Apa kamu tahu gara-gara perjodohan ini aku stress, pikiranku kacau tidak karuan! Aku frustasi, kepalaku rasanya mau pecah, hatiku hancur, perasaanku berantakan, otak aku beku tidak bisa berfikir. Jadi bagaimana bisa kamu bilang aku baik-baik saja karena aku tidak menunjukan itu semua di depan orang lain termasuk kamu!" bentak David sambil berteriak.
Deg.....Hati Gladis sakit mendengar bentakan David, untuk kesekian kalinya ia di bentak oleh David. Matanya yang tadi sudah kering kini berkaca-kacar lagi setetes air mata jatuh di ujung mata indahnya.
"Kamu tahu setiap hari aku harus memikirkan bagai mana hidupku setelah menikah nanti. Menikah dengan wanita yang tidak aku cintai, yang tidak aku kenal, yang bukan kriteria menjadi ibu dari anak-anakku. Setiap malam aku berfikir bagaimana hari-hari aku, apakah aku bisa bahagia dengan wanita yang berbeda prinsip dan pikiran denganku! Otak aku terus berfikir apakah pernikahanku akan bahagia? Demi orang tua aku mengorbankan semuanya. Jadi bagaimana bisa kamu berfikir aku akan baik-baik saja hanya aku terlihat diam mengikuti kemauan mereka! Kamu jangan berfikir hanya kamu saja yang menderita, aku juga sama seperti kamu, demi orang tua aku merelakan semuanya!" lanjut David dengan amarah yang meluap.
Gladis menangis mendengar itu semua air matanya tumpah tidak tertahankan, sepertinya perasaan David sama dengan dirinya.
"Sekarang kamu minta aku untuk membantu kamu menunda pertunangan kita hanya untuk menjelaskan kepada pacarmu! Apa kamu tidak berfikir bagaimana perasaan aku? Aku sudah cukup tersiksa Gladis dengan perjodohan ini, aku sudah cukup pusing memikirkan semuanya, perusahaan aku, perusahaan Papa, keluargaku, dan perjodohan ini. Jadi stop berfikir jika hanya kamu yang tersakiti," lanjut David dengan sedikit nada pelan.
David melepaskan tangannya yang sedari tadi memegang pundak Gladis. Ia tahu mungkin gadis itu kesakitan karena ia memegangnya terlalu kuat. Gladis masih tersandar di tembok sambil menunduk dan menangis.
"Rasanya kepalaku mau pecah jika membahas masalah ini, otak aku beku, aku minta kepadamu jangan merengek seolah kau terluka dengan ini semua, aku sama Gladis, aku mohon kepadamu mengertilah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku sudah cukup kehilangan dengan perjodohan ini Gladis, jangan tambah bebanku."
David menjauh dari Gladis dan mendekati meja tidak jauh dari dirinya. Meja panjang untuk meeting ia menyandarkan kedua tangannya ke meja itu sambil tubuhnya bertumpu pada kedua tangannya menunduk lesu.
"Hatiku tidak pernah menerima ini semua, setiap bertemu dengan orangtuaku, bertemu kamu aku ingin meluap kan amarahku, aku ingin mereka mengerti jika aku juga berhak menentukan kebahagiaanku sama seperti dirimu," kata David lagi.
Gladis masih saja menangis, rasanya tidak bisa berkata apa-apa, memang benar yang di ucapkan David mereka hanyalah korban begitulah bisa di bilang.
"Jika kau punya niat untuk membatalkan perjodohan ini terserah kamu, tapi jangan bawa-bawa aku, sudah cukup banyak masalah di otakku."
"Aku harap kau menyelesaikan masalahmu sendiri, aku tidak akan menghindar dari perjodohan ini Gladis, papaku akan membunuhku jika aku membatalkannya lagi, jadi lebih baik mulai sekarang kamu harus menerima semua ini dan mungkin kamu harus terbiasa dengan kedekatan kita."
"Kita menikah bukan karena cinta jadi kamu tidak usah khawatir aku tidak akan menuntut apa-apa darimu, aku tidak akan menuntut hak aku atas dirimu sebagai seorang istri, aku tidak akan menyentuhmu dan begitu juga dengan dirimu. Tapi aku akan memberikan nafkah hidup untukmu, aku harap tidak ada yang tahu. Kamu bisa berhubungan dengan pacarmu jika kamu mau aku tidak akan melarangnya," lanjut David terus bicara kepada Gladis yang hanya terdiam.
Gladis masih terdiam menangis menatap David yang sedari tadi tidak berubah posisinya. Gladis belum berani untuk bicara ia takut David tambah marah jika Gladis ikut bicara.
"Aku tidak tahu pernikahan kita akan bertahan berapa lama! Tapi aku mohon kepadamu untuk saat ini ikutilah alur yang ada, aku tidak mau membuat masalah lagi. Jika pernikahan kita sudah 2 tahun kamu boleh meminta cerai dariku."
"Bersabarlah Gladis, aku mohon jangan membuat masala lagi aku capek, kepalaku pusing Gladis," kata David mencoba menangkan Gladis.
Lalu David berdiri tegap menoleh ke arah Gladis dan ia mendekati gadis itu.
"Bisakah kau mengikuti perintahku!"
"Akan aku coba," Gladis mulai berhenti menangis dan menatap David.
"Kau harus mengikuti perintahku, jika tidak!" David menggantungkan ucapannya.
"Jika tidak apa?"
"Aku akan berbuat kasar kepadamu, jangan sampai ada gosip tentang kamu dan pacarmu di luar sana."
"Bagaimana denganmu? Bukannya kamu sering jadi bahan perbincangan di surat kabar dan media masa."
"Itu bukan urusanmu, aku bisa mengurusnya," kata David lagi.
*Li**cik sekali kau David Airlangga Putranto, kau menyuruhku untuk tidak membuat masalah, tapi kau sendiri seenaknya saja*.
"Aku harap pembicaraan kita selesai sampai sini, dan aku harap kamu mengerti akan semuanya, dan aku minta kepadamu, jangan pernah membahas soal ini lagi."
Belum sempat Gladis menjawab tiba-tiba telepon David pun berbunyi, lalu ia mengangkatnya terlihat di layarnya tulisan mama.
"Mama," kata David sambil mengangkat telepon itu.
"Halo Ma, ada apa?"
"David apa kamu sibuk?" suara mamanya itu di ujung telepon sana.
"Ada apa, Ma."
"Mama mau kamu makan siang di rumah bisa?" tanya Ny Teresa kepada David.
"Apa ada hal penting, Ma?" David balik bertanya.
"Mama mau memperlihatkan cincin pertunangan kamu, yang Mama pesan dari Tante Lorens di Belanda, apa kamu bisa kemari bersama Gladis?"
David berpikir sejenak, lalu ia menoleh ke arah Gladis yang sedang mengusap matanya kini Gladis sudah tidak menangis lagi.
"Iya Ma, nanti David datang sampai ketemu di sana ya Ma," David memutuskan saluran telepon itu.
Lalu ia menuju Gladis yang masih di tempat semula. Gladis menatap David ketika tahu laki-laki itu ada di hadapannya.
"Mama mau bertemu kamu sekarang."
"Mau apa ?" tanya Gladis dengan suara parau.
"Mau menunjukan cincin pertunangan kita yang di pesan di Belanda, apa kamu bisa ikut bersamaku?"
"Iya aku ikut! " Gladis menjawab tanpa berpikir lama.
"Rapihkan makeup mu, aku tidak mau Mama melihat kondisi kamu begini, aku tunggu di mobil," kata terakhir David sambil pergi duluan meninggalkan ruangan itu.
Lalu Gladis pergi ke toilet untuk membersihkan makeup nya yang berantakan, sedangkan David menunggunya di lobi.
kemudian, berarti dia tdk menerima kalau bayi nya terlahir cacat.
🙏🙏 kalau sy slh paham