Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PASANGAN
Pukul 06.45 — Kamar Apartemen Elma dan Maxime.
Disebuah apartemen mewah di pusat ibu kota, sepasang suami istri terlihat sibuk berkemas dan bersiap menuju tempat kerja. Sang suami adalah seorang pimpinan perusahan besar sementara sang istri merupakan seorang pengacara. Selayaknya pasangan pekerja lain, keduanya terlihat sibuk menyiapkan keperluannya masing- masing. Namun yang terlihat sangat sibuk adalah Elma, seorang istri sekaligus wanita karir yang tidak hanya menyiapkan keperluan untuk dirinya sendiri tapi juga untuk suaminya.
Elma adalah istri yang sangat telaten, di sela- sela kesibukkannya yang lumayan padat ia selalu mengusahakan yang terbaik untuk suaminya dan mengurus sang suami dengan tulus. Elma selalu memastikan jika keperluan dan kebutuhan suaminya terpenuhi dengan baik.
Suara pengering rambut memenuhi kamar. Elma berdiri di depan meja rias dengan wajah sedikit kesal, sesekali melirik jam tangannya. Pagi ini ia harus ke pengadilan untuk mendampingi kliennya dan ia tidak boleh terlambat jika tidak ia tidak ingin mendapat murka dari pimpinannya. Setelah selesai merapikan rambutnya, Elma segera mengenakan jam tangan, mengambil tas kerja, lalu memeriksa penampilannya di depan cermin.
Sementara itu, Maxime masih duduk santai di tepi ranjang. Pria itu sudah mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam, tetapi belum menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan kamar.
Elma menatap suaminya sambil berkata: "Maxime, kau tidak berangkat kerja?".
"Kau melihatku masih mengenakan piyama?" Balasnya.
Elma meliriknya melalui cermin "Aku hanya bertanya".
"Dan aku sudah menjawab".
Elma menarik napas panjang. Ia seharusnya sudah terbiasa dengan jawaban menyebalkan suaminya, tetapi entah mengapa, menghadapi Maxime pada pagi hari selalu menguji kesabarannya. Elma mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu.
"Sarapanmu sudah disiapkan di meja makan. Aku harus berangkat sekarang, jadi kau sarapan sendiri, ya?"
Maxime yang semula sedang memeriksa ponselnya langsung mengangkat kepala.
"Kau mau pergi sekarang?"
"Ya. Ada sidang jam delapan nanti".
"Sarapanlah denganku."
Elma berhenti di ambang pintu, kemudian menoleh dengan ekspresi tidak percaya. "Apa?"
"Kau dengar perkataanku."
"Maxime, aku sedang terburu-buru. Aku tidak punya waktu untuk sarapan."
"Lima belas menit" Tawar Maxime.
"Lima belas menit itu cukup untuk membuatku terlambat!"
"Kalau begitu, bangunlah lebih awal besok."
Elma menatapnya tajam "Kau pikir aku bangun sesuka hati? Aku sudah bangun sejak pukul lima!"
Maxime mengangkat sebelah alisnya "Lalu, kenapa masih terburu-buru?"
"Karena aku punya banyak pekerjaan, tidak seperti seseorang yang menghabiskan waktu untuk berdebat dengan istrinya!"
Maxime terdiam sesaat. Kemudian, ia berdiri dan berjalan mendekati Elma.
"Aku tidak sedang berdebat."
"Lalu, ini apa namanya?"
"Meminta istriku sarapan bersamaku."
Elma terdiam selama beberapa detik. Cara Maxime mengucapkan kalimat itu begitu datar, seolah-olah ia sedang membicarakan sesuatu yang biasa. Padahal, sejak mereka menikah, pria itu hampir tidak pernah meminta sesuatu secara langsung kepadanya. Namun saat ini Elma terlalu sibuk untuk memikirkan hal tersebut.
"Kau bisa sarapan sendiri. Kita tinggal di apartemen yang sama, bukan berarti kita harus melakukan semuanya bersama-sama."
Rahang Maxime mengeras sedikit "Aku tahu cara makan sendiri, Elma".
"Bagus. Jadi, masalahnya selesai". Elma kembali hendak membuka pintu, tetapi Maxime lebih dahulu bersuara.
"Aku tidak akan sarapan kalau kau pergi sekarang."
Elma perlahan menoleh. "Maaf?"
"Kau mendengarnya" Maxime kembali bersuara.
"Kau sudah dewasa, Maxime Sinclair. Kau bisa memimpin perusahaan besar, mengambil keputusan bernilai miliaran, dan menghadapi banyak orang setiap hari. Tapi kau tidak bisa sarapan tanpa ditemani istrimu?"
Maxime menatapnya tanpa berkedip. "Ternyata kau cukup mengenal pekerjaanku."
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Elma mulai kesal.
"Kalau begitu, duduklah".
"Tidak!" Jawaban Elma meluncur begitu cepat hingga Maxime sempat terdiam.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling menatap. Elma mengembuskan napas, berusaha menahan emosinya.
"Dengar, Maxime. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kau inginkan. Kalau kau ingin sarapan bersamaku, katakan saja sejak awal. Jangan malah mengancam tidak makan hanya karena aku harus pergi bekerja".
"Aku sudah mengatakannya" Sahut Maxime.
"Dan aku sudah menjelaskan alasanku!" Balas Elma
"Aku tidak melarangmu bekerja."
"Lalu kenapa kau mempersulitku?"
Maxime terdiam. Ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa meja makan terasa berbeda ketika Elma tidak berada di sana. Bahwa beberapa minggu terakhir, ia mulai terbiasa mendengar suara perempuan itu pada pagi hari, meskipun sebagian besar percakapan mereka berakhir dengan pertengkaran kecil. Ia juga tidak mengerti mengapa hal sesederhana sarapan bersama tiba-tiba terasa penting baginya. Namun, tentu saja, Maxime tidak akan mengatakan semua itu.
"Karena aku ingin sarapan denganmu. Apa itu masalah?"
Elma sedikit terkejut mendengarnya. Bukan karena kalimat itu terdengar romantis, melainkan karena Maxime mengatakannya tanpa alasan tambahan atau sindiran.
Elma melirik jam tangannya lagi. "Lima menit. Aku hanya bisa menemanimu selama lima menit."
"Sepuluh menit." Tawar Maxime lagi.
"Lima menit, Maxime."
"Delapan." Maxime tetap tidak ingin mengalah.
"Kau sedang menawar waktu sarapan denganku?"
"Kau yang memulainya."
Elma menutup mata sejenak. "Baik! Lima menit. Dan setelah itu aku pergi, tidak peduli kau sudah selesai makan atau belum."
Maxime mengangguk. "Baik."
Elma berjalan melewatinya sambil menggerutu. "Benar-benar tidak masuk akal. Seharusnya aku menikah dengan seseorang yang lebih mudah diajak berkomunikasi."
Maxime mengikuti langkahnya. "Kau menyesal menikah denganku?"
Elma berhenti. Pertanyaan itu terdengar biasa saja, tetapi ada sesuatu dalam nada suara Maxime yang membuatnya menoleh. Pria itu menatapnya dengan wajah datar. Tidak ada kemarahan yang jelas, tidak pula kesedihan. Hanya tatapan gelap yang sulit diterjemahkan.
Elma menghela napas. "Aku tidak mengatakan itu."
"Tapi kau memikirkannya?"
"Maxime, kita menikah karena perjodohan keluarga. Kau tahu aku tidak pernah meminta pernikahan ini."
Keheningan menyelimuti mereka.
Elma segera menyadari bahwa ucapannya mungkin terdengar terlalu tajam. Namun, ia tidak menarik kembali perkataannya. Menyadari ucapan yang kurang pantas, Elma berusaha menjelaskan
"Aku tidak membencimu. Aku hanya masih berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan ini. Jadi, tolong jangan membuat semuanya semakin sulit."
Maxime mengalihkan pandangannya sejenak. "Aku mengerti."
"Bagus. Sekarang, ayo sarapan. Aku benar-benar tidak punya banyak waktu."
Mereka berjalan menuju meja makan. Elma duduk di hadapan Maxime, lalu melihat jam tangannya untuk kesekian kali. Sementara itu, Maxime mulai menyantap sarapannya dengan tenang. Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Ketika Elma hendak berdiri, Maxime tiba-tiba meletakkan garpunya.
"Besok, sarapanlah denganku sebelum berangkat."
Elma menatapnya lelah. "Kita lihat besok."
"Aku tidak suka jawaban itu."
"Dan aku tidak suka diperintah setiap saat."
Maxime menatapnya, kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Pukul tujuh. Aku akan menunggumu."
Elma meraih tasnya. "Kau benar-benar tidak bisa menerima penolakan, ya?"
"Aku bisa." Maxime diam sesaat.
"Baik. Kau boleh pergi sekarang."
Elma mengerjap, sedikit tidak percaya karena Maxime akhirnya mengalah. "Terima kasih. Ternyata kau bisa diajak bicara juga."
Ia segera berdiri dan berjalan menuju pintu apartemen. Namun, tepat sebelum pintu tertutup, suara Maxime kembali terdengar.
"Elma."
Perempuan itu menoleh. "Apa lagi?"
"Jangan lupa makan siang."
Elma memandang suaminya beberapa saat, lalu mengangguk singkat.
"Baik, Tuan Sinclair."
Pintu pun tertutup. Maxime tetap berdiri di tempatnya selama beberapa detik sebelum kembali duduk. Ia menatap kursi kosong yang tadi ditempati Elma. Lalu, dengan ekspresi dingin yang sama, ia melanjutkan sarapannya.
Anehnya, untuk pertama kalinya, ia merasa sarapan pagi itu terlalu singkat.
Maxime mulai menginginkan kebersamaan dengan Elma, tetapi ia belum memahami perasaannya sendiri. Sementara itu, Elma masih menganggap permintaan Maxime sebagai bentuk keras kepala, bukan perhatian. Inilah yang membuat hubungan mereka perlahan berkembang di tengah pernikahan yang awalnya tidak mereka inginkan.
☆