"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"
_________________
Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.
Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.
Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?
꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
꧁ঔৣ [Chapter 9] ঔৣ꧂
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...
Suara derit engsel yang samar seketika disusul oleh bunyi ketukan tongkat yang berirama
Langkah itu semakin mendekat, membawa serta kehadiran dua orang yang membuat suasana mansion yang semula tenang berubah menjadi kaku.
Azriel Lezman berjalan paling depan dengan punggung masih tegak meski usia telah menggerogoti tubuhnya.
Jas panjang yang dikenakannya tampak mahal dan rapi, sementara tongkat hitam di tangan kanannya bergerak mengikuti setiap langkah.
Wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun kehangatan seorang kakek yang datang mengunjungi cucunya.
Di belakangnya, An Lui Li menyusul dengan pakaian formal yang begitu sempurna.
Namun bukan penampilannya yang membuat suasana terasa ganjil.
Melainkan tatapannya.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di mansion itu, pandangan Liu Li telah berkeliling mencari satu orang.
Anisa.
Dan ketika akhirnya menemukan wanita itu berdiri di dekat ruang tamu, sorot matanya berubah.
Ada kerinduan.
Ada rasa memiliki.
Dan sesuatu yang jauh lebih sulit disembunyikan.
Obsesi~
Anisa sendiri langsung menyadari kehadiran mereka.
Tubuhnya yang semula santai perlahan menegang. Ia menarik napas pelan sebelum melangkah maju. Meski hatinya tidak nyaman, ia tetap menjaga sikap sebagaimana seorang tuan rumah seharusnya menerima tamu.
Kepalanya menunduk sopan.
"Kakek..."Suara Anisa terdengar lembut.Ia berusaha tersenyum.
"Selamat datang."
Anisa kemudian mengangkat wajahnya dan memandang kedua orang di hadapannya bergantian.
"Mari duduk dulu. Anisa bawakan minuman."Tangannya baru saja bergerak hendak menunjuk ke arah sofa ketika suara Azriel langsung memotong.
"Tidak usah."
Singkat.
Dingin.
Bahkan terlalu cepat untuk sekadar disebut sebagai penolakan terhadap minuman.
Azriel bahkan tidak melihat cucunya itu lagi. Tatapannya justru bergeser melewati bahu Anisa, mencari sosok lain di dalam mansion.
"Aku tidak akan lama."Jari-jari tuanya mengencang pada gagang tongkat.
"Aku datang hanya karena ada urusan dengan suamimu."
Mata Azriel akhirnya berhenti pada Oscar.
Pria itu berdiri beberapa meter dari mereka.
Oscar hanya menatap Azriel beberapa saat, seolah sedang menilai apakah pria tua tersebut benar-benar datang membawa masalah atau sekadar ingin membuat keributan.
Azriel kemudian memperbaiki posisi berdirinya.
"Jika Tuan Muda berkenan..." katanya dengan nada yang dibuat lebih formal, "mungkin kita bisa membicarakan masalah ini secara pribadi."
Namun Oscar hanya memberikan anggukan pendek.
"Silakan."Suaranya datar,Kemudian ia berbalik.
"Ikut saya."
Oscar berjalan menuju tangga tanpa menunggu jawaban.Azriel mendengus kecil, tetapi akhirnya mengikuti.
Sepasang langkah kaki itu perlahan menjauh.Suara tongkat Azriel yang tadi begitu jelas kini semakin samar saat mereka menaiki tangga.
Hingga akhirnya sosok keduanya menghilang di balik sudut lantai atas.
Anisa masih berdiri di tempat.
Entah mengapa, ia merasa udara di dalam mansion tiba-tiba menjadi lebih berat.
Namun sebelum sempat menghela napas lega, ia menyadari bahwa masih ada satu orang yang berdiri di belakangnya.
Liu Li.
Dan pria itu sejak tadi tidak bergerak menuju sofa.
Tatapan mereka bertemu.Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
Liu Li hanya menatapnya.
Kemudian bibir Liu Li perlahan terangkat."An-Anisa..."Suara itu terdengar begitu lembut.
Terlalu akrab.Liu Li melangkah mendekat.
"Kakak sangat merindukanmu."
Anisa langsung mengerutkan kening."Kak—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimat, Liu Li telah mempercepat langkahnya.Tangannya terangkat seolah hendak menyentuh bahu Anisa.
Refleks, Anisa mundur.
Namun Liu Li tetap berusaha mendekat.
"Ahhk—Kak Liu Li, lepaskan!"Anisa menepis tangan pria itu dengan gerakan cepat.
Tubuhnya mundur beberapa langkah.Wajahnya jelas menunjukkan rasa risih.
Satu tangannya bahkan secara spontan memegang lengan lainnya, seolah ingin memastikan ada jarak yang cukup di antara mereka.
Liu Li berhenti.
Wajahnya sempat memperlihatkan keterkejutan.Mungkin ia tidak menyangka Anisa akan menolaknya sekeras itu.
Beberapa detik kemudian, ia menarik napas dalam.Kaca kacamatanya tampak sedikit berembun akibat napas yang mulai tidak teratur.
"Asalkan kamu tahu..." ujarnya pelan, "aku begitu mengkhawatirkanmu."
Liu Li menatap Anisa dari atas hingga bawah.
Tatapan itu berhenti cukup lama pada wajahnya yang tampak lebih pucat dan tubuhnya yang memang terlihat lebih kurus dibandingkan dahulu.
"Kau terlihat jauh lebih kurus."
Anisa mengalihkan wajah sesaat."Aku baik-baik saja."
"Baik-baik saja?"Nada Liu Li berubah.
Ia menggeleng pelan."Kau menyebut dirimu baik-baik saja setelah menikah dengan pria seperti Oscar?"
Liu Li maju satu langkah.
"Tapi kenapa?"Suara pria itu terdengar lebih berat."Kenapa kamu memilih menikahi dia?"
Anisa diam beberapa saat.
Ia tahu percakapan ini akan mengarah ke tempat yang tidak ingin ia datangi.Namun kali ini ia tidak ingin lari.Anisa merapikan ujung pakaiannya sebelum menjawab.
"Kakak sepertinya lupa dengan batasan kita."
"Batasan?"
"Iya."
Anisa menatapnya lurus."Aku memilih dia tanpa adanya paksaan."
Nada suaranya semakin tegas
"Dan Kakak tidak berhak mengusik pernikahan kami."
Liu Li tertawa kecil.Namun tidak ada sedikit pun kegembiraan dalam tawa tersebut.
"Anisa..."
Ia menggeleng.
"Sampai kapan kamu mau bersandiwara?"
Alis Anisa sedikit berkerut.
"Bersandiwara?"
"Kamu pikir aku tidak mengenalmu?"Liu Li menatap wajah Anisa seolah ingin membongkar sesuatu yang disembunyikannya.
"Aku tahu kapan kamu bahagia. Aku tahu kapan kamu takut. Aku bahkan tahu kapan kamu sedang memaksakan dirimu untuk terlihat kuat."
Ia menghela napas.
"Dan sekarang kamu berdiri di hadapanku, mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja?"
Ada sedikit rasa sakit yang muncul dari perkataan itu.
Bukan karena ia mempercayainya.
Melainkan karena Liu Li masih berbicara seolah-olah dirinya mempunyai hak untuk memahami seluruh perasaan Anisa.
Anisa kemudian mengambil satu langkah mundur,Jemarinya tertaut rapi di depan tubuh.
Gesturnya sengaja dibuat tenang
"Kak Liu Li."Suaranya tidak tinggi.
Namun cukup dingin untuk menghapus sisa kelembutan dari percakapan mereka.
"Jaga sikapmu."
Liu Li terdiam
"Kamu datang ke rumah ini sebagai tamu."Anisa menunjuk perlahan ke arah sofa.
"Aku menyambutmu sebagai tuan rumah."Tatapannya tidak bergeser.
"Jadi tolong jangan membuatku harus mengingatkanmu dua kali."Liu Li justru terkekeh sinis mendengar nya
"Tuan rumah?"Ia menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Kamu benar-benar percaya dirimu adalah tuan rumah?"
Anisa tidak menjawab.
"Kamu cuma dijadikan alat."
Liu Li melangkah perlahan ke samping, seolah sengaja mengitari Anisa untuk membuatnya tertekan.
"Keluarga Carlous tidak benar-benar menginginkanmu."
Ia berhenti.
"Mereka hanya membutuhkanmu untuk memenuhi kesepakatan."
Anisa mengepalkan jemarinya sedikit.
"Kamu bahkan terlihat seperti orang asing di rumah ini."
Liu Li menatap sekeliling mansion yang luas.
"Kau pikir semua kemewahan ini berarti mereka menghargaimu?"
Ia kembali menatap Anisa.
"Dan sekarang kamu pura-pura bahagia menjadi istri pria asing yang bahkan tidak kamu kenal?"
Nada suaranya semakin menusuk.
"Kamu lupa siapa yang selalu ada di sisimu dulu?"
Anisa terdiam.
Untuk sesaat, kalimat itu benar-benar membawa pikirannya kembali ke masa lalu.
Delapan tahun.Delapan tahun yang tidak mungkin dihapus begitu saja.Delapan tahun ketika mereka tumbuh bersama sebagai kakak dan adik angkat.
Ada begitu banyak kenangan yang pernah mereka rajut.Hari-hari sederhana.Percakapan panjang.Tawa.Pertengkaran kecil.
Dan perasaan yang diam-diam pernah tumbuh di hati Anisa.Perasaan yang dahulu ia kira akan bertahan selamanya.
Namun waktu mengajarinya satu hal.
Tidak semua yang pernah dicintai harus dipertahankan.
Terlebih ketika Ananira perlahan masuk ke dalam kehidupan Liu Li dan berusaha merebut tempat yang selama ini Anisa kira adalah miliknya.
Dahulu, hal itu mungkin telah menghancurkannya.
Namun sekarang...Anisa telah memilih pergi.
Bukan untuk membalas.Bukan untuk membuat siapa pun menyesal.Melainkan karena ia hanya ingin hidup dengan tenang.
"Aku tidak pernah lupa."Suara Anisa akhirnya terdengar.
Liu Li menatapnya.Anisa mengangkat wajah.
"Tapi sepertinya..."Ia berhenti sejenak.
"...Kakak yang lupa."Kerutan muncul di dahi Liu Li.
"Lupa soal apa?"
Anisa menarik napas perlahan."Lupa kalau Kakak sudah memiliki istri."
"Ananira adalah istrimu yang sah."Anisa menatapnya tanpa berkedip.
"Sangat tidak pantas seorang pria beristri datang ke rumah orang lain dan bicara seolah-olah dia masih punya hak atas wanita yang sudah bersuami."
Setiap kata diucapkannya dengan tenang.
Justru ketenangan itulah yang membuat kalimat tersebut terasa seperti tamparan.Liu Li mengepalkan tangan.
"Pernikahanku dengan Ananira itu tidak ada artinya, Anisa!"Ia kehilangan kendali atas suaranya.
"Kamu tahu betul siapa yang sebenarnya aku—"
"Cukup, Kak Liu Li."Anisa memotong cepat."Jangan merendahkan dirimu sendiri dan istrimu di rumah ini."lanjut nya
Liu Li terdiam.
Anisa melanjutkan.
"Kalau Kakak tidak bisa menghormati pernikahan Kakak sendiri, setidaknya hormati pernikahan orang lain."
Liu Li menatapnya tajam.
"Kamu jelas hanya tertekan!.Kamu tidak bahagia di sini."
Ia menunjuk samar ke arah lantai atas.
"Kalau tujuan mereka hanya menjadikanmu pajangan atau tawanan untuk merendahkan keluarga Lezman, lebih baik tinggalkan saja dia."
Suara Liu Li berubah lebih mendesak.
"Anisa, dengarkan Kakak."
Ia mendekat lagi, tetapi kali ini berhenti sebelum jarak mereka kembali terlalu dekat.
"Kamu tidak pantas tinggal di tempat dingin seperti ini."
Tatapannya melunak.
"Kakak bisa membawamu pergi."
Ia menelan ludah.
"Aku bisa menanggung hidupmu jauh lebih baik daripada dia."
Anisa menatap pria itu cukup lama.
Kemudian ia menggeleng.
"Tempat terbaik bagiku..."
Suaranya lembut.
Namun keteguhan di dalamnya tidak tergoyahkan.
"...adalah di mana harga diri dan imanku tetap terjaga."
Liu Li terdiam.
Anisa melanjutkan dengan tatapan lurus.
"Dan suamiku tidak pernah merusak hal itu."
Ketenangan tersebut justru membuat emosi Liu Li semakin membara.Ia ingin percaya bahwa Anisa hanya sedang berpura-pura.
Bahwa wanita itu sebenarnya takut.
Bahwa suatu saat nanti Anisa akan kembali kepadanya.Namun semakin lama ia menatap wajah wanita itu, semakin jelas kenyataan yang tidak ingin ia terima.
Anisa benar-benar telah berubah.
"Anisa..."
Suara Liu Li kembali melemah.
"Kakak mohon mengertilah."
Ia berusaha tersenyum.
"Dia pasti bukan pria baik."Tangannya kembali mengepal."Jadi sudah semestinya kamu meninggalkannya."
Ia menatap Anisa penuh harap.
"Anisa... Kakak janji akan menjagamu."
Anisa memejamkan mata sesaat.Kemudian membukanya kembali.Kali ini tidak ada keraguan sedikit pun.
"Aku berdiri di sini sebagai istri sah Oscar Carlous."
Liu Li membeku.
"Apapun alasan di balik pernikahan ini..."
Anisa meletakkan tangan di dada.
"...imanku mengajarkan aku untuk menjaga kehormatan suami dan rumah tanggaku."
Tatapannya menajam.
"Jadi berhenti memanggil namaku seolah-olah kita masih memiliki ikatan."
Hening.
Liu Li tidak menjawab.
Kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih
Ketenangan Anisa jauh lebih menyakitkan daripada makian.
Ia tidak diberi kesempatan untuk berdebat.
Tidak diberi celah untuk merayu.Tidak pula diberi kesempatan untuk memutarbalikkan keadaan.
Untuk pertama kalinya, Liu Li menyadari sesuatu yang begitu menyakitkan.Anisa bukan lagi gadis yang dahulu dapat ia dekati kapan saja.
Wanita itu telah membangun batas.
Dan dirinya...sudah tidak memiliki kunci untuk membukanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, beberapa lantai di atas mereka...
Situasi di dalam ruang kerja Oscar tidak kalah tegang.
Ruangan itu luas, tetapi tertata sederhana. Rak-rak kayu memenuhi salah satu sisi dinding, sementara jendela besar di belakang meja kerja memperlihatkan pemandangan kota yang mulai diselimuti warna senja.
Oscar berdiri di belakang meja.
Kedua tangannya bertumpu pada permukaan meja.
Di hadapannya, Azriel duduk dengan tubuh sedikit bersandar pada kursi.
Pria tua itu sejak tadi memperhatikan Oscar seperti seorang pedagang yang sedang menilai barang.
Tatapan itu akhirnya membuat Oscar mengangkat alis.
"Sudah selesai menilai saya?"
Azriel tersenyum tipis.
"Kau hanya mendapatkan wanita yang tidak diinginkan oleh siapa pun."
Oscar diam.
"Dan jika kau berniat mengembalikannya,kami bahkan tidak sudi menerimanya lagi."
Tatapan Oscar masih sama.
Datar.Tidak terguncang.
Azriel sedikit menyipitkan mata."Anisa bukan cucu kandungku."Kali ini ia mengucapkannya dengan sengaja"Dia hanya anak dari silsilah yang tidak jelas."
Azriel bersandar lebih nyaman.
"Keluarga kami bahkan sudah lama membuangnya,dan Kebetulan saja aku terpaksa membesarkannya.Ia tersenyum dingin.
Oscar mengangkat wajah sedikit.
Namun tidak berkata apa-apa.
"Lagi pula..."
Azriel mengarahkan pandangannya kepada Oscar.
"Kalian berdua sama-sama anak adopsi di keluarga masing-masing, Oscar."
Ujung bibirnya terangkat.
"Anisa bukan darah daging Lezman."
Ia berhenti sejenak
"Dan kau bukan darah daging Carlous."
Azriel sengaja membiarkan kalimat itu menggantung.
"Secara moral dan hukum, tidak ada alasan bagimu untuk terikat pada perjanjian kuno orang-orang yang sudah meninggal."
Ia mencondongkan tubuh.
"Maka batalkan saja pernikahan ini."
Tatapannya tajam.
"Jangan biarkan dirimu dimanfaatkan keluargamu sendiri hanya demi menampung wanita buangan."
Ruangan kembali sunyi.
Oscar menatap Azriel.
Lalu...
Tawa kecil keluar dari bibirnya.
"Hm."
Azriel mengerutkan kening.
Oscar menggeleng pelan."Saya tidak peduli soal silsilah."
Ia berdiri lebih tegak.
"Atau urusan masa lalu."
Nada suaranya tetap datar.
"Kalau begitu, silakan Kakek bicara langsung dengan Kakak saya."
Oscar mengangkat tangannya dan menunjuk ringan ke arah meja."Beliau yang memegang semua dokumen hukum dan rincian utang keluarga kalian."
Azriel diam.
"Saya di sini hanya menjalankan bagian saya."
Oscar mengangkat satu jari."Menikah selama satu tahun."Kemudian ia mengangkat bahu."Kalau Kakak saya bilang besok cerai, saya cerai."
Senyumnya muncul tipis.
"Tapi kalau Kakak saya bilang lanjut..."
Ia menatap Azriel.
"...ya lanjut."
Oscar menyandarkan tubuhnya pada meja.
"Simpel, bukan?"
Wajah Azriel mengeras.
Ia datang dengan keyakinan bahwa status Anisa sebagai anak adopsi dapat digunakan untuk mengguncang Oscar.
Namun pemuda itu bahkan tidak terlihat terganggu.Seolah status darah dan nama keluarga bukan sesuatu yang layak diperdebatkan.
"Saya hanya menjalankan apa yang disepakati Kakak saya."
Oscar mengangkat kedua tangannya.
"Kalau Kakek merasa ada yang tidak adil, bicarakan langsung dengan beliau."
Senyumnya tenang.
Terlalu tenang.
Dan justru ketenangan itu membuat Azriel merasa sedang dipermainkan.
Pria tua itu menggenggam tongkatnya lebih erat.
"Jadi kau sama sekali tidak peduli?"
Oscar menatapnya."Peduli terhadap apa?"
"Terhadap siapa Anisa sebenarnya."
Untuk pertama kalinya, Oscar tidak langsung menjawab.Tatapannya berubah sedikit.
Namun hanya sesaat.
"Siapa silsilahnya..."
Oscar melangkah keluar dari balik meja.
Langkahnya perlahan membawa dirinya semakin dekat dengan Azriel.
"...atau seberapa keras kalian membuangnya..."Ia berhenti beberapa langkah di depan pria tua itu.
Tatapan Oscar menjadi tajam.
"Aku tidak peduli."
Azriel terdiam.
Oscar mencondongkan wajah sedikit.
"Karena yang menentukan siapa yang pantas berdiri di sisiku..."
Ia memberi jeda.
"...bukan kalian."
Suara rendahnya memenuhi ruangan.
"Tapi aku."
Hening.
Azriel tidak segera menjawab Ia menatap Oscar dengan wajah yang perlahan mengeras.
Pemuda ini...
bukan hanya tidak terpengaruh...Ia bahkan tidak memberinya ruang untuk menang.
Oscar kemudian kembali bersikap santai seolah percakapan barusan tidak pernah terjadi.
"Baiklah."
Ia berjalan menuju pintu.
"Saya rasa cukup sampai di sini.dan mungkin saya bisa buatkan jadwal pertemuan anda dengan Kaka saya?, bagaimana?"Oscar tidak memaksa pria tersebut hanya saja ia kembali mengarahkan dengan benar pintu keluar kantor kecil milik nya
Dengan sopan dan dengan sangat ramah nya membungkukkan tubuhnya yang kekar itu 90 Drajat ke arah depan.
"Cih sangat tidak sabaran!."dengus kesal Azriel terdengar,tak percaya anak muda di hadapannya itu benar benar ingin ia cepat keluar
"Saya lebih suka mendengar nya,salam perpisahan untuk anda,tuan Azriel Lezman?"Oscar berseru tatapan dan senyuman nya penuh arti
Sunguh sangat menyesalkan, apakah begini cara anggota keluarga Carlous memperlakukan tamu yang lebih tua?, sunguh tidak sopan!
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...