Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Lin yang sedang sibuk membalut luka ayahnya dengan kain kotor terbelalak kaget setengah mati melihat keajaiban instan itu.
"Air suci di dalam kristal panjang itu... muncul dari udara kosong di tangan beliau," gumam Lin takjub tanpa berkedip sedikit pun.
Raka membuka tutup botol air plastik itu lalu menyerahkannya langsung pada Karta.
"Minumlah air bersih ini untuk memulihkan tenagamu, jangan minum air sungai mentah terus karena banyak penyakitnya," tawar Raka menyodorkan botol itu.
Karta menerima botol plastik bening itu dengan kedua tangan gemetar hebat seolah ia sedang memegang pusaka paling rapuh di dunia.
Ia meminum air mineral itu seteguk demi seteguk dan matanya langsung berbinar sangat terang menyala.
"Air ini segar sekali luar biasa! Air suci ini menyapu bersih semua rasa lelah dan sakit di tubuh hamba seketika!" seru Karta sangat takjub.
Raka hanya tersenyum maklum menahan tawa, itu cuma air mineral biasa tapi mungkin bagi lidah mereka rasanya luar biasa bersih dan menyegarkan.
"Dengar baik-baik Karta, aku datang kembali menyelamatkan kalian bukan tanpa alasan," ucap Raka mulai masuk ke tujuan bisnis utamanya.
"Hamba sudah tahu, Tuan Dewa. Anda pasti datang ke mari untuk menagih janji atas pusaka botol kaca ini," balas Karta merendah sambil menepuk tas kain di pinggangnya yang berisi botol bir.
"Bukan urusan botol itu. Aku datang ke mari karena ingin mengajak kalian berdua berbisnis denganku," jelas Raka terus terang mengejutkan keduanya.
Raka kembali mengakses sistem gaibnya lalu memanggil satu bungkus garam halus dan satu bungkus micin dari ruang penyimpanannya.
Wush.
Dua bungkus plastik putih mengkilap itu muncul berbarengan di tangan Raka membuat Karta dan Lin kembali menahan nafas karena syok.
"Ini adalah Kristal Rasa pusaka asli dari alam dewaku bertahta," karang Raka mulai mengeluarkan jurus bualan tingkat tingginya.
Raka merobek sedikit ujung plastik kemasan garam bermerek itu lalu menyuruh Karta menjulurkan tangannya yang kotor.
Ia menaburkan sejumput kecil garam putih halus tepat di tengah telapak tangan Karta.
"Coba kau cicipi sedikit saja, jilat pakai ujung lidahmu," perintah Raka dengan nada otoriter.
Karta patuh tanpa banyak tanya dan langsung menjilat bubuk putih itu perlahan dengan penuh hormat.
Seketika bola mata pria tua itu melebar maksimal dan tubuhnya kaku tegang seperti baru saja disambar petir dari langit.
"Rasa asinnya sangat murni dan tajam! Tidak ada rasa pahit atau bau tanah sama sekali seperti garam dari pedagang ibu kota!" teriak Karta histeris kegirangan.
Di desa terpencil mereka, garam laut adalah barang super mewah yang sangat langka dan biasanya berwarna kecokelatan serta berasa pahit akibat kualitas buruk.
Garam yang seputih salju dan sebersih ini hanya pantas dihidangkan di piring emas meja kaisar penguasa benua.
"Kristal Rasa putih ini jauh lebih berharga dari sekadar botol kaca pusaka itu, Tuan Dewa," ucap Karta menatap bungkusan garam di tangan Raka dengan pandangan penuh damba dan lapar.
"Tebakanmu benar. Dan aku punya sekantung penuh kristal penyedap ajaib ini di kerajaanku," pancing Raka tersenyum misterius penuh rahasia.
"A-apa yang Tuan Dewa inginkan sebagai bayarannya? Hamba akan mencarikannya sampai ujung dunia meski nyawa hamba taruhannya!" janji Karta bersungguh-sungguh sambil memukul dadanya.
"Aku hanya ingin kau mencarikan lebih banyak akar ginseng liar seperti yang kalian berikan padaku," jawab Raka menyebutkan target utama bisnisnya.
"Carikan ginseng yang cincin urat kepalanya sangat banyak dan kulitnya berkeriput parah. Semakin jelek bentuk akarnya, semakin aku menyukainya."
Karta dan Lin saling berpandangan dengan wajah penuh kebingungan yang sangat kentara.
Mereka benar-benar tidak paham sama sekali kenapa dewa agung yang bisa mengeluarkan api dan makanan ini sangat menyukai rumput liar pahit yang tidak berharga itu.
"Itu permintaan yang sangat mudah, Tuan Dewa! Hamba tahu persis beberapa lembah rahasia di kedalaman gunung ini di mana ginseng tua seperti itu tumbuh liar seperti ilalang biasa," jawab Karta penuh semangat menyanggupi.
"Bagus kalau begitu. Kalau kau berhasil mengumpulkan seratus batang ginseng tua itu, aku akan memberikan semua kristal rasa ini secara cuma-cuma padamu."
Raka menyerahkan bungkusan garam yang sudah terbuka ujungnya itu ke pelukan Karta sebagai tanda jadi kerja sama dwi dunia mereka.
"Gunakan sedikit garam suci ini untuk bekal makanan kalian selama mencarinya di hutan. Aku akan kembali menemuimu di goa ini tepat tiga hari lagi dari sekarang," pesan Raka bersiap untuk kembali pulang.
Karta memeluk bungkusan garam murah itu erat-erat di dadanya seolah itu adalah benda pusaka turun-temurun keluarganya yang tak ternilai.
"Hamba bersumpah atas nama roh leluhur akan mengumpulkan ginseng itu sebelum Tuan Dewa kembali turun ke mari!" janji Karta penuh tekad membara.
Lin yang sedari tadi diam saja kini berdiri menatap Raka dengan tatapan kagum yang sangat dalam memuja.
"Hati-hati di jalan pulang, Tuan Dewa Raka," bisik gadis polos itu memberanikan diri menyebut nama Raka dengan wajah merona.
Raka tersenyum tipis membalas tatapan Lin lalu menganggukkan kepalanya pelan merespon ucapan manis gadis tersebut.
"Kalian juga jaga diri baik-baik di sini. Jangan sampai ketahuan oleh pemburu desa gila itu lagi," balas Raka hangat.
Raka melangkah mantap keluar dari goa berbatu itu dan berjalan cepat menjauh masuk ke dalam rimbunnya semak hutan.
Setelah merasa jaraknya cukup aman dan memastikan tidak ada mata yang mengintip, Raka merogoh saku dan mengeluarkan gagang pintu naganya.
"Buka gerbang dunia."
Sring.
Celah cahaya keemasan yang menyilaukan kembali terbuka merobek udara secara vertikal tepat di depannya.
Raka melangkah masuk tanpa ragu dan kembali muncul di tengah ruang tamu apartemen mewahnya yang nyaman di Jakarta Pusat.
Wush.
Gerbang cahaya itu tertutup rapat menyisakan hembusan angin dari pendingin ruangan apartemen yang terasa sejuk di kulit Raka.
Raka menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk di ruang tamunya lalu meregangkan otot-ototnya yang sedikit tegang.
"Langkah awal bisnis stabil di dunia kuno sudah beres, sekarang gue tinggal leyeh-leyeh nunggu bapak tua itu panen ginseng."
Raka mengambil ponsel canggih terbarunya yang ia beli bersamaan dengan baju di mall tadi dari atas meja.
Ia berencana mencari informasi tentang harga rumah besar atau gudang sepi yang bisa ia beli jadikan markas permanen ke depannya karena apartemen ini masih rawan ketahuan.