Empat tahun lamanya Arunika mengalah dan hidup sebagai istri pajangan, demi menghormati amanah almarhum ayahnya. Namun, segalanya hancur saat ia mendengar rencana kejam Saka. Pria itu berniat menikah lagi dengan kekasihnya, namun menolak menceraikan Arunika hanya karena butuh statusnya demi warisan keluarga Daniswara. Saka mengira Arunika wanita lemah yang akan pasrah dipoligami.
Kekecewaan mendalam itu justru membangkitkan sisi cerdas yang selama ini Arunika sembunyikan. Tanpa labrakan histeris, Arunika menyusun skenario skakmat dalam senyap. Tepat di hari pernikahan megah Saka, ia melangkah pergi membawa dokumen cerai dan menayangkan video perselingkuhan suaminya di gedung pesta. Sebuah langkah sunyi yang tidak hanya menyelamatkan harga dirinya, tetapi juga menjadi awal runtuhnya seluruh takhta palsu yang Saka banggakan.
Ingin tahu kisah selengkapnya? Yuk ikuti cerita Langkah Sunyi Arunika hanya di NovelToon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Sidang Pertama
Kepergian Arunika membuat hari-hari Saka di Jakarta berubah menjadi berat. Saka frustrasi dan rasa itu seperti membakar kewarasannya. Kota yang dulu menjadi arena kekuasaannya sebagai CEO muda yang berprestasi dan dikagumi, kini terasa mencekam. Detektif swasta dengan tarif selangit yang dia sewa terus-menerus angkat tangan. Jejak Arunika terputus total sejak malam hujan badai itu. Istrinya seolah lenyap bak ditelan bumi Jakarta, tidak meninggalkan satu pun rekam jejak digital atau penarikan tunai yang bisa dilacak oleh timnya.
Di tengah kepalanya yang mau pecah mencari keberadaan Arunika, rumah mewah di kawasan elite itu tidak lagi memberikan ketenangan. Setiap sudut ruangan yang dulu sunyi dan hangat, kini justru dipenuhi lengkingan kemarahan Valerie yang menuntut pemulihan nama baik dan hak finansialnya.
"Saka! Kamu mengabaikan aku lagi?! Kita baru menikah dua minggu dan kamu memperlakukan aku seperti hantu di rumah ini!" jerit Valerie, membanting vas bunga porselen ke lantai ruang tengah hingga hancur berkeping-keping. Wajahnya yang biasa dipoles riasan mahal kini tampak kusut dan kuyu akibat stres berlapis menghadapi hujatan netizen yang tidak kunjung mereda di media sosial.
Saka diam. Baru dua minggu dia mengabaikan Valerie karena fokus mencari Arunika, tapi wanita itu sudah berani meninggikan suaranya, bahkan menghancurkan vas bunga mahal yang dia belikan khusus untuk Arunika yang suka dengan tanaman. Dalam diam itu, Saka secara tidak sengaja kembali membandingkan sikap Valerie dan Arunika. Istri pertamanya itu tidak pernah menuntut apa pun, meskipun bertahun-tahun lamanya mendapatkan pengabaian darinya.
"Semua orang di lingkaran arisan sosialitaku menertawakan aku! Mereka menyebutku wanita murahan perusak rumah tangga! Dan kamu... kamu malah sibuk menyuruh orang mencari si anak asisten itu?!"
"Diam, Valerie! Aku mencari Arunika karena wasiat Papa! Kamu tahu sendiri, jika dia pergi karena hubungan kami berakhir, Papa mengancam posisiku di Daniswara Group!" bentak Saka, menyuarakan alasan materi yang sama berulang kali untuk menutupi rasa sesak di dadanya yang kian hari kian menyiksa. Rasa kehilangan Arunika.
Saka boleh menyangkal perasaannya terhadap Arunika. Meyakini bahwa, ketakutan terbesarnya saat ini adalah terancamnya kekuasaan mutlak atas seluruh aset Daniswara Group yang ia yakini akan jatuh sepenuhnya ke tangannya selama dia tetap menikahi Arunika. Namun Saka sama sekali tidak menyadari, bahwa ada hal yang lebih besar dari semua itu. Kepergian Arunika, bukan hanya mengancam kekuasaannya atas aset Daniswara, tapi juga membuka rahasia yang dibawa Raditya Daniswara hingga akhir hayatnya.
Sementara sifat asli Valerie yang egois, temperamental, dan gila hormat kini benar-benar mengikis sisa rasa ketertarikan Saka yang dulu menggebu-gebu pada wanita itu. Hubungan mereka setelah menikah terasa hambar dan meracuni pikirannya. Saka bahkan belum menyentuh Valerie untuk menikmati malam pertama mereka. Padahal saat masih menjadi selingkuhannya, hubungan mereka sudah sangat jauh layaknya pasangan yang sudah menikah.
Pertengkaran hebat mereka sore itu terputus ketika kepala pelayan masuk ke dalam ruang kerja dengan wajah tegang. Di tangannya, terdapat sebuah amplop putih panjang berlogo resmi Pengadilan Agama Jakarta Pusat. Saka menyambar amplop itu dengan jantung yang mendadak berdegup kencang. Begitu matanya membaca baris demi baris tulisan di dalamnya, rahangnya langsung mengeras.
Surat panggilan sidang perceraian perdana.
"Sialan!" umpat Saka, urat-urat di lehernya menegang.
Saka teringat malam kepergian Arunika. Dokumen gugatan cerai yang ditinggalkan istrinya di atas meja rias memang sudah dia robek menjadi serpihan kecil karena amarah lelakinya yang terluka. Saka mengira, dengan menghancurkan kertas itu, dia bisa membatalkan niat Arunika, menghentikan langkah hukumnya, dan mempertahankan status pernikahan yang menjadi tameng posisinya di perusahaan.
Namun, Saka lupa satu hal. Arunika adalah wanita cerdas sarjana berotak encer. Dokumen yang ditinggalkannya di kamar hanyalah salinan resmi untuk menggertak egonya. Di balik layar, pengacara papan atas yang disewa Arunika diam-diam sudah mendaftarkan gugatan asli ke pengadilan sejak satu bulan lalu, lengkap dengan semua berkas pendukung yang sah. Rencana itu berjalan dengan presisi yang menakjubkan tanpa celah bagi Saka untuk berkelit.
Dua minggu kemudian, ruang sidang utama Pengadilan Agama Jakarta Pusat dipenuhi atmosfer yang berat dan menekan. Saka datang dengan setelan jas abu-abu terbaiknya, didampingi oleh tim pengacara korporat Daniswara Group yang siap membangun narasi hukum.
Tatapan mata Saka bergerak liar menyapu seisi ruangan, berharap melihat sosok Arunika duduk di kursi penggugat dengan jilbab segi empat polos yang sering dikenakan istrinya. Namun, kursi itu kosong. Arunika memilih untuk tetap berada di persembunyiannya yang aman, diwakili sepenuhnya oleh kuasa hukumnya.
Saat persidangan dimulai, Saka berdiri dengan tegas di hadapan majelis hakim. Suaranya terdengar berat dan bergetar menahan luapan emosi yang berkecamuk di dadanya. "Yang Mulia, saya menolak dengan mutlak gugatan cerai ini. Saya berkeras tidak ingin bercerai dengan istri saya, Arunika. Pernikahan kami sah dan saya masih ingin mempertahankan rumah tangga kami. Kepergian istri saya hanyalah tindakan impulsif sepihak yang menelantarkan kewajibannya di rumah."
Pengacara Saka segera maju, mencoba meyakinkan hakim bahwa Arunika pergi tanpa alasan yang jelas dan memutus komunikasi secara sepihak untuk menghindari kewajiban pernikahan.
Mendengar argumen tersebut, pengacara pribadi Arunika hanya tersenyum tenang, sama sekali tidak menunjukkan kegugupan. Tanpa banyak bicara, dia melangkah maju ke depan meja majelis hakim dan menyerahkan sebuah berkas tebal bersampul hitam serta sebuah gawai tablet.
"Yang Mulia Hakim yang bijaksana, klien kami, Ibu Arunika, tetap pada pendiriannya yang mutlak untuk bercerai," ujar pengacara Arunika dengan suara lantang yang menggema di ruang sidang.
"Kami menolak seluruh argumen tergugat yang menyatakan ingin mempertahankan pernikahan demi kebaikan rumah tangga. Keinginan tergugat murni didasari atas motif manipulasi finansial terkait ketakutannya kehilangan posisi di perusahaan akibat ancaman wasiat almarhum ayahnya jika hubungan pernikahan ini berakhir."
Pengacara itu mengetuk layar tablet, mengaktifkan bukti-bukti digital yang langsung membuat tim hukum Saka bungkam seribu bahasa.
"Kami menyerahkan rekaman audio percakapan asli antara tergugat dengan ibunya mengenai rencana poligami paksa demi mempertahankan posisi warisan, salinan manifes pesiar mewah tergugat bersama wanita bernama Valerie selama dua tahun terakhir, serta seluruh mutasi rekening aliran dana miliaran rupiah yang digunakan tergugat untuk membiayai selingkuhannya saat masih berstatus suami sah klien kami. Bukti perselingkuhan ini valid, autentik, dan tidak terbantahkan."
Hakim ketua mengerutkan kening dalam-dalam, membaca berkas kompilasi perselingkuhan Saka yang ditata dengan sangat rapi dan sistematis. Bukti-bukti digital itu memperlihatkan betapa cerdas dan dinginnya Arunika dalam mengumpulkan senjata hukum di minggu-minggu terakhir sebelum dia melangkah pergi dari rumah mewah milik Saka di Menteng.
Saka membeku di tempatnya berdiri. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, membasahi kerah kemejanya yang mahal. Dada pria itu terasa sesak luar biasa. Pembelaannya di ruang sidang ini dipatahkan secara brutal bahkan sebelum dia sempat menyusun argumen lanjutan.
Di Jakarta, di dalam ruang sidang yang dingin itu, Saka menyadari bahwa dia telah masuk ke dalam perangkap hukum yang mematikan. Dia masih buta akan isi wasiat yang sebenarnya, mengira posisinya hanya terancam goyah. Saka tidak menyadari bahwa di tempat persembunyiannya yang sunyi di Yogyakarta, Arunika bersama jalinan takdir sedang memegang kendali penuh untuk meledakkan bom fakta terbesar yang akan menghancurkan seluruh silsilah darah palsu dan sisa takhta yang selama ini dia banggakan di ibu kota.
yang pastinya mau balikan agar bisa jadi orang kaya lagi 🤣🤣🤣🤣
d kira gmpng gt buat ktmu sm nika.....🙄🙄🙄
stlh mnyesal krna udh mnykti arunika,sbntr lg bkln d ksih kjutan yg lain dr istri trcnta.....🙄🙄🙄
senengnya kalo arunika tetap di kelilingi org2 baik ,,
gx perlu km ketemu lgi dg saka ,, biar laa dy hdup yg telah di pilih ny ,,
slain kluarga,ada jg mas mahen yg diam2 prhtian....mnimal yg onoh ga bkln brani ngusik lg....
Lanjut thor👍👍