"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."
Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?
💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA: Deru Badai (Bagian 4)
“Inget nggak sih zaman kita masih SD, kamu kan pasti ngajak aku bertengkar. Itu kenapa coba?” kutatap Ario yang tidak menatapku. Dia terlalu fokus melihat ke arah bola basket yang ingin direbutnya dari tanganku.
“Well, karena kupikir kamu satu-satunya anak songong yang butuh didisiplinkan,” bukannya mengendur, posisi defend Ario malah makin rapat. Aku melengos.
“Terus kenapa sekarang kamu malah jadi temen deketnya si anak songong itu?” aku memutar, mencari celah yang bisa kumasuki untuk membuat poin. Sialnya, Ario tetap saja menjagaku.
“Entahlah. Takdir?”
“Ario!” aku menghentikan dribbleku seketika.
“What? That’s serious answer, man!” Ario terbahak. Aku pasti akan merindukan tawa itu di Bandung nanti.
“Hey guys, come on! Jangan pacaran di lapangan!” Alan meneriaki kami dari bagian lapangan yang lain. Belum sempat aku melanjutkan dribbleku, aku merasa ada mata yang mengawasiku. Kuedarkan pandangan ke sekitar lapangan. Ara. Kutatap dia dengan pandangan bertanya. Ara, yang tidak menyangka akan mendapat tatapanku, justru gelagapan. Dia menggeleng. Ario, yang tahu fokusku teralihkan tentu tidak tinggal diam. Dia merebut bola coklat itu dari tanganku dan memaksa timku untuk defend. Dan aku, yang seharusnya berlari panik malah masih fokus saja pada Ara yang menatapku bingung.
“Karena aku tahu kita bakal bisa deket melebihi saudara. Dan aku tahu kalau pacarmu bakal baik-baik aja meskipun kamu jauh. Ada aku, yang bisa kamu andalin buat jaga dia,” Ario menepuk punggungku, menjawab pertanyaanku beberapa menit lalu. Kulihat dia melambai pada Ara yang melambai balik sebelum kembali masuk ke kelasnya. Kualihkan pandanganku ke punggung Ario yang basah karena keringat.
Ario, dia tampan dan baik hati. Dan kau pasti tahu sifat apalagi yang ada jika sudah ada dua kriteria tadi. Ya, playboy. Dia mungkin satu-satunya laki-laki yang ketika menolak wanita bukannya disumpah serapah, tapi malah makin dipuja. Atau satu-satunya laki-laki yang berganti pacar seperti berganti buku pelajaran. Tapi entah apa yang ada di dalam diri laki-laki ini. Setiap perkataan yang dia lontarkan kepadaku, pasti kudengarkan dengan baik. Setiap ceritanya pasti kupercaya. Aku tidak pernah berani mengabaikannya, menolak permintaan konyolnya pun tidak. Dia tahu segala hal tentangku, tentang keluargaku, tentang keuanganku, semuanya. Bahkan mimpi basah pertamaku pun, dia yang tahu. Mungkin karena dia adalah anak pertama yang mengajakku berbicara di hari kepindahanku ke sekolah baru. Satu-satunya anak yang tidak menganggapku asing karena berseragam berbeda. Yah, meskipun dia memang lebih sering mengajakku berkelahi daripada duduk makan bersama waktu itu. Tapi toh, kami dekat juga sampai sekarang. Selalu berdua sebelum akhirnya kami bertemu Indra, Alan, dan Farel di SMA. Dia memang bukan lagi teman. Dia saudara.
“Makan, yuk!” Ario melingkarkan tangannya di bahuku. Aku sedikit terkejut mendapat rengkuhan itu. Jelas saja, aku melamun tentang Ario. Semoga saja dia tidak tahu. Bisa-bisa aku diolok tujuh turunan olehnya.
“Eh, oke,” jawabku sambil menjajari langkahnya. Kutundukkan wajahku ke arah sepatu kami berdua. Melihat betapa usangnya sepatu sekolah kami. Menyadari betapa lamanya aku mengenal laki-laki ini. Sekaligus berusaha menyembunyikan kesedihanku yang tiap hari kian menggunung, mengingat bahwa aku harus mau meninggalkan semua hal indah yang kupunya di kota dingin ini.
...***...
Ujian kenaikan kelas semakin dekat. Menyita hampir semua waktu dan konsentrasiku hanya untuk belajar. Tak jarang aku tak mengacuhkan Ara, yang semakin berani menunjukkan sikap bahwa dia pacarku. Kuberikan dua jempol untuk hal itu. Tapi aku juga heran. Meskipun kami berdua sudah go public seperti itu, tetap saja ada wanita yang menyatakan cinta padaku. Padahal seluruh dunia juga tahu, bahwa aku bukan satu-satunya laki-laki yang hidup di dunia. Pun aku tak lagi single. Seperti yang terjadi hari ini. Aku baru saja akan menjemput Ara di kelasnya saat tiba-tiba ada gadis seangkatan Ara yang menghadangku.
“Mas, boleh minta waktunya sebentar?” tanyanya. Aku diam saja membatu sambil memandangnya.
“Ini! Aku pingin jadi pacar Mas Izang,” Dia menyodorkan sebuah kotak jam tangan yang tanpa perlu kutahu detail harganya pasti sangat mahal. Aku menghembuskan napasku keras-keras.
“Aku yang nggak berminat,” kuambil kotak mahal itu dan kulemparkan ke tong sampah terdekat. Aku mendengar gadis itu terkesiap, mungkin belum tahu kalau aku akan menolaknya dengan sangat jahat. Aku melenggang saja tanpa menoleh ke belakang. Dan tiba-tiba saja Ara sudah ada di depan pintu kelasnya sambil menyilangkan tangan. Shit! Dia pasti tahu apa yang kulakukan barusan.
“Tidak bisakah kamu menolak dengan lebih halus, Chan? Dia itu cewek. Kamu nggak takut bakal kena karma dari sumpah serapah mereka yang kamu tolak?” alih-alih risi karena pacarnya ditembak gadis lain, Ara malah memarahiku. Aku benar-benar memacari gadis terunik di dunia.
“Aku nolak jahat aja masih banyak yang nembak aku kok. Apalagi kalau aku nolak baik-baik? Bisa-bisa tiap menit ada yang nembak pacarmu ini,” aku mendudukkan diri di bangku depan kelas Ara. Ara langsung mendekat ke arahku dan menjitakku dengan sangat keras. Ya, SANGAT KERAS!
“Chan!!!”
“Itu buat cewek tadi,” Ara menyusul duduk di sebelahku. Aku bersungut-sungut sambil mengelus kepalaku sendiri.
“Tumben ada waktu ke sini? Bimbingannya udah selesai?”
“Udah dari setengah jam yang lalu, udah kelar presensi juga. Jadi, ya cabut aja ke sini. Kamu masih ada ekskul?” tanyaku sambil mengamatinya lamat-lamat. Entah kenapa mataku menjadi lebih jeli dalam menangkap semu di pipi Ara yang kecoklatan. Samar, tapi sudah cukup jelas buatku.
“Nggak kok, udah kelar juga. Mau pulang sekarang?” aku mengangguk cepat. Ara pun beranjak memasuki kelasnya. Ada seloroh ‘cie cie’ yang mengiringinya. Dan aku selalu tersenyum sendiri seperti orang gila saat mendengar seloroh itu. Meskipun aku tahu seloroh itu untuk Ara yang pasti sudah mencak-mencak karena tidak tahan digoda, tapi ada kepuasan tersendiri saat tahu penyebab seloroh itu adalah aku.
“Yuk!” Ara cepat-cepat menggandeng tanganku ke arah parkiran. Kutatap wajahnya yang sudah merah padam karena malu. Aku tertawa.
“Segitu bahagianya lihat aku diejek?” Ara bertanya dengan ketus. Tawaku makin keras.
“Itu bukan ejekan, kan. Itu penghargaan karena kamu pacaran dengan orang paling tampan di sekolah.”
“Apa sih!” Ara makin jengkel. Aku masih meneruskan tawaku sebelum akhirnya kulingkarkan tangan Ara di lenganku.
“Nikmatin aja! Kalau aku udah di Bandung juga nggak bakal ada yang cie-ciein kamu lagi,” tuturku lembut. Tatapanku menerawang, membayangkan tidak enaknya berjauhan dari gadis keras kepala satu ini.
“Tetep aja nggak terbiasa. Masih nggak percaya aja gitu aku jadi pacarmu. I’m a nobody.”
“You are somebody for me. Udah, jangan mulai minder-minder nggak jelas lagi! Berhenti banding-bandingin kamu sama cewek-cewek yang nembak aku. Kamu yang jadi pacarku, bukan mereka,” sahutku sambil menepuk tangan Ara di lenganku.
“Tapi emang faktanya gitu. Kamu bisa dapet yang lebih, Chan. Lebih cantik, lebih sabar, lebih feminin, lebih segalanya. Di Bandung kan ceweknya cantik-cantik tuh. Nanti cari aja satu buat penggantiku. Aku ikhlas kok,” aku menghentikan langkahku. Sebegitu tidak percaya dirinyakah Ara ketika berdampingan denganku? Sampai-sampai dia mengusulkan sesuatu yang sinting seperti yang dia ucapkan barusan.
“Chan...”
“Aku nggak mau ngekang kamu dengan hubungan ini. Kita sama-sama dalam proses buat cari yang terbaik. Kalau emang di sana kamu bisa dapet yang lebih, jujur aja ke aku. Aku nggak bakal marah karena itu. Karena aku tahu kamu emang pantes mendapat yang lebih.” Ara menatapku dalam-dalam.
“Tapi aku yang nggak mau nyari penggantimu. Kamu udah cukup.”
“Kamu belum tahu keadaan yang akan datang, Chan. Jangan memberiku janji yang muluk-muluk! Berjanjilah untuk jujur, apa pun yang terjadi nanti. Oke?” Ara tersenyum memohon. Aku menengadah, memejamkan mata.
Kenapa sulit sekali membuatmu percaya bahwa aku sudah tidak bisa jatuh hati pada gadis lain? Kenapa sesusah ini sih mencintai kamu, Ra...?
“Oke?” Ara mengulangi pertanyaannya. Aku mendengus pelan.
“Okay, fine!”
“Gitu dong! Yuk, pulang! Mampir ke Pak Ali dulu ya, beli es campur,” Ara menggandengku lagi dengan semangatnya. Seperti anak kecil yang dijanjikan akan dibelikan es krim. Seperti tidak sadar bahwa dia sudah menjatuhkan bom atom di hati dan pikiranku. Membuatku semakin kalut, semakin malas untuk pindah ke Bandung, semakin enggan untuk meninggalkannya di sini. Sendiri.
...***...