Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Paling Aman
"Amara, lihat wajahku," ucap Gabriel lembut, nadanya begitu sabar namun tegas dalam memberikan rasa aman.
Mendengar suara bariton yang begitu menenangkan itu, Amara perlahan mengangkat kepalanya. Bulu matanya basah oleh air mata, dan mata indahnya menatap sayu ke arah Gabriel.
Jemarinya masih mencengkeram erat ujung kemeja pria di hadapannya itu, seolah takut jika pelukan ini terlepas, mimpi buruknya akan kembali datang.
Gabriel mengangkat tangannya yang besar dan hangat, lalu dengan sangat pelan mengusap sisa-sisa air mata di pipi Amara menggunakan ibu jarinya.
Tatapan tajam yang biasanya ia tunjukkan pada musuh-musuhnya kini sepenuhnya melebur menjadi kelembutan khusus untuk gadis di hadapannya.
"Kau bukan beban, Amara," bisik Gabriel penuh penekanan, memastikan setiap gerak bibirnya terbaca jelas oleh gadis itu. "Ingat itu baik-baik. Apa yang dilakukan bajingan tadi adalah cerminan dari kehancurannya sendiri, bukan karena dirimu."
Amara tertegun. Kalimat itu menembus langsung ke relung hatinya yang paling dalam, menyembuhkan perlahan serpihan luka yang selama ini dibiarkan bernanah oleh keluarganya sendiri.
Melihat Amara yang mulai tenang, Gabriel menarik napas sejenak sebelum kembali berbicara dengan intonasi yang lebih ringan.
"Sekarang, perjalananku ke kantor terpaksa ditunda," kata Gabriel sambil tersenyum tipis. "Bagaimana kalau hari ini kita menghabiskan waktu di dalam saja? Kau bisa membaca buku, atau menemaniku bekerja di ruang kerja."
Mata Amara mengerjap pelan, mencerna tawaran tersebut. Rasa takut keluar rumah yang tadi sempat mencekam perlahan sirna digantikan kehangatan. Ia mengangguk pelan, menyetujui ajakan Gabriel.
Gabriel tersenyum puas, lalu merangkul bahu rapuh Amara dengan lembut untuk menuntunnya menjauh dari pintu utama menuju ruang keluarga yang jauh lebih hangat dan terlindung dari dunia luar.
Beberapa menit kemudian. Mereka tiba di ruang kerja Gabriel yang luas dan elegan. Belum sempat Amara melangkah lebih jauh untuk mengamati ruangan bernuansa maskulin itu, pintu di belakang mereka diketuk pelan dan Reno muncul dengan langkah tergesa.
"Kamu masuk saja dulu, Amara. Aku ada urusan sebentar dengan Reno," ucap Gabriel lembut sambil menatap gadis itu.
Amara menganggukkan kepalanya pelan, lalu melangkah masuk sendirian ke dalam ruang kerja yang tenang, sementara Gabriel menutup pintu setengah rapat dan berbalik menghadap asistennya di koridor luar.
"Reno," panggil Gabriel dengan suara rendah penuh penegasan. "Aku mau kau mengurus pernikahanku dan Amara."
Reno yang tadinya bersiap melaporkan perkembangan pemutusan kerja sama dengan Valerie Group sontak terkesiap. Mata asisten muda itu membelalak lebar, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari sang bos besar.
"P-pernikahan, Tuan?" ulang Reno terbata-bata, memastikan pendengarannya tidak salah. "Dengan... Nona Amara?"
"Lalu kau pikir aku akan menikah dengan siapa?" bentak Gabriel dengan suara tertahan namun tajam, menatap Reno dengan picingan mata setajam elang.
Reno langsung merinding seketika. Asisten setia itu meneguk ludahnya susah payah, buru-buru menunduk dalam untuk menghindari tatapan mematikan sang bos.
"M-maafkan saya, Tuan. Bukan maksud saya meragukan keputusan Anda," jawab Reno terbata-bata, jemarinya meremas tablet hitam di tangannya dengan gugup. "Hanya saja... ini terjadi begitu cepat. Mengingat kondisi Nona Amara yang masih pemulihan dan trauma mendalam..."
Gabriel menghela napas kasar, mendinginkan nada bicaranya meski rahangnya masih mengeras.
"Justru karena itu. Aku tidak akan membiarkan siapapun, termasuk keluarga bajingan itu, merebut atau menyakitinya lagi. Dengan status resminya sebagai istriku, tidak ada satu hukum pun di negeri ini yang bisa menyeretnya kembali ke neraka itu."
Reno tertegun sejenak. Ia menyadari ada benarnya ucapan Gabriel. Perlahan, raut wajah terkejut di wajah asisten muda itu berubah menjadi anggukan hormat.
"Saya mengerti, Tuan," ujar Reno dengan nada profesional yang kembali terkendali. "Jika itu keputusan Anda, saya akan segera mengurus seluruh dokumen administrasi pernikahan secepat kilat. Apakah Anda ingin pernikahan ini diadakan secara tertutup atau privat di mansion?"
"Privat. Hanya kita, Bik Sum, dan saksi tepercaya," tegas Gabriel tanpa berpikir panjang. "Jangan sebarkan berita ini ke media dulu. Fokus utamakan kenyamanan Amara."
"Baik, Tuan. Saya akan segera menghubungi pihak catatan sipil dan menyiapkan semua berkasnya hari ini juga," sahut Reno sambil mencatat cepat di tabletnya.
"Satu lagi," tambah Gabriel dengan mata menyipit dingin. "Pastikan berkas kebangkrutan perusahaan Hendra Valerie berjalan beriringan dengan pengurusan ini. Aku ingin dia melihat sendiri bagaimana orang yang ia anggap 'pembawa sial' kini menjadi istri dari pemilik sah seluruh aset yang ia impikan."
"Baik, Tuan. Akan saya urus sekarang." Reno membungkuk hormat, lalu berbalik dan melangkah pergi terburu-buru meninggalkan koridor.
Gabriel merapikan kerah jasnya sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan sisa emosinya, sebelum akhirnya mendorong pintu ruang kerja dan melangkah masuk untuk menemui Amara.
Gabriel membuka pintu ruang kerjanya dengan pelan agar tidak mengejutkan gadis itu. Namun, langkahnya terhenti begitu ia melihat Amara yang sedang berdiri di dekat meja kerjanya, memegang selembar kertas dan pensil arang yang biasa ia gunakan untuk mencatat.
Gabriel mendekat tanpa bersuara. Saat tiba di belakang Amara, matanya membelalak lebar melihat goresan tangan di atas kertas tersebut.
Di atas kertas itu tergambar sosok mawar hitam yang merambat di leher—sangat detail, indah, dan persis seperti tato sungguhan yang ia miliki.
Di sampingnya, tergambar siluet seorang pria berbadan tegap yang berdiri melindungi sosok gadis kecil rapuh di bawah payung besar.
"Kamu bisa menggambar?" tanya Gabriel kepada Amara dengan nada takjub, suaranya meluncur lembut begitu dekat dengan telinga gadis itu.
Amara tersentak kecil. Ia buru-buru menurunkan kertasnya dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu berbalik menghadap Gabriel dengan wajah memerah malu.
"Kenapa disembunyikan?" tanya Gabriel lagi, tersenyum kecil sambil mengangkat dagu Amara dengan lembut agar gadis itu berani menatap matanya. "Gambar itu... sungguh luar biasa, Amara."
Amara menggelengkan kepalanya pelan, lalu buru-buru meraih buku catatan kecilnya untuk menuliskan sesuatu.
‘Bukannya disembunyikan... aku hanya takut jelek,’ tulis Amara cepat, lalu menyodorkannya pada Gabriel dengan mata mengerjap ragu.
Gabriel membaca tulisan itu, lalu terkekeh pelan—sebuah tawa maskulin yang terdengar begitu hangat dan langka.
"Jelek dari mananya? Ini sangat bagus, Amara. Kau punya bakat luar biasa."
Amara kembali menunduk, pipinya merona merah mendengar pujian tulus itu.
"Sejak kapan kamu suka menggambar?" tanya Gabriel penasaran, kembali menarik kursi kerjanya dan duduk di hadapan Amara, menyamakan posisi agar gadis itu merasa nyaman.
Amara terdiam sejenak, lalu menulis lagi di buku catatannya.
‘Sejak kecil... saat aku tidak bisa mendengar dan tidak boleh keluar kamar, menggambar adalah satu-satunya cara duniaku tidak terasa sepi,’ tulis Amara dengan goresan yang perlahan melambat.
Membaca kalimat itu, senyum di wajah Gabriel perlahan memudar, berganti dengan kilatan rasa iba dan kemarahan baru yang tersimpan untuk keluarga Valerie. Namun, ia segera menepisnya, tidak ingin merusak momen berharga ini.
"Mulai sekarang," ucap Gabriel tegas namun penuh kelembutan, meraih tangan Amara yang memegang pensil. "Kamu bisa menggambar apa saja di sini. Semua fasilitas terbaik akan ku sediakan untukmu. Kau tidak perlu merasa terkurung lagi."
Amara menatap lekat manik mata hitam Gabriel. Air mata haru kembali menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini ia membalasnya dengan sebuah senyuman tipis yang amat manis—senyuman pertama yang tulus terpancar dari wajahnya.
"Terima kasih," ucap Amara terbata, melatih pita suaranya yang jarang terpakai.
Gabriel terpaku sejenak mendengarkan suara serak namun indah itu. Ia balas tersenyum hangat, lalu meremas jemari Amara erat.
"Sama-sama, istriku."