NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 SATU BARISAN

Maya mendekatinya. Bukan di sisinya, bukan pula di hadapannya. Ia berlutut di lantai, tepat di samping kursi itu, lalu menatap bara api. Kehangatan dari perapian membelai wajahnya.

"Apa kamu bisa tidur?" tanyanya. "Setelah... setelah apa yang kamu lakukan. Apa kamu bisa memejamkan mata dan beristirahat?"

Bara lama tak menjawab. Begitu lama sampai Maya mengira ia tak akan menjawab sama sekali.

"Tidak," katanya akhirnya, dan suaranya terdengar berbeda. Lebih muda. Lebih manusiawi. "Aku tidak bisa. Karena itulah aku di sini. Karena itulah aku minum. Karena itulah aku tak pernah memadamkan lampu."

Maya menoleh ke arahnya. Sisi wajah Bara, diterangi cahaya bara, tampak bagai pahatan dari perunggu. Tetapi ada sesuatu di matanya, pada cara ia mengerjap, yang mengkhianati keletihan yang tak berujung.

"Ceritakan padaku," kata Maya. "Ceritakan kenapa kamu jadi begini."

Bara menatapnya. Kedua matanya yang kelabu dan dingin menelitinya, seolah menimbang apakah Maya layak menerima keterbukaannya. Akhirnya, ia mengembuskan napas.

"Aku besar di panti asuhan," katanya dengan suara datar, tanpa emosi. "Bukan panti yang baik, tempat anak-anak punya mainan dan kasih sayang. Panti yang buruk. Tempat para pengasuh memukulmu begitu saja, karena mereka bisa, karena tak ada yang akan menegur mereka. Aku pindah dari satu ke lainnya, tiga panti. Di yang pertama, dua jariku di tangan kiri dipatahkan. Di yang kedua, aku dikurung di ruang bawah tanah kalau berbuat salah. Di yang ketiga... di yang ketiga, pengasuhnya menyentuhku."

Maya merasakan bulu kuduknya meremang, dan itu tak ada hubungannya dengan hawa dingin.

"Kamu tidak harus melanjutkan," bisiknya.

"Aku mau," kata Bara, dan untuk pertama kalinya, suaranya bergetar retak. "Bertahun-tahun aku tak pernah menceritakannya. Pada siapa pun. Tidak pada anak buahku, tidak pada rekan-rekanku, tidak pada perempuan-perempuan yang pernah singgah di ranjangku. Tetapi kamu... kamu istriku. Meski kamu tak mencintaiku. Meski ini hanya perjanjian. Kamu satu-satunya orang yang pernah tidur di bawah atapku tanpa meminta apa pun dariku. Tanpa menginginkan apa pun dariku. Hanya... ada."

Mata Maya terasa basah. Ia mengerjap untuk menahan air matanya.

"Apa yang terjadi dengan pengasuh itu?" tanyanya.

Bara tersenyum. Sebuah senyum getir, miring, senyum seorang lelaki yang berhenti menjadi anak-anak jauh sebelum waktunya.

"Aku membunuhnya. Umurku empat belas tahun. Suatu malam aku menunggunya dengan sebilah pisau dapur. Aku tak tahu cara memakainya. Kutikam dia sebelas kali. Dia tidak langsung mati. Dia merangkak ke arah pintu, meninggalkan jejak darah. Aku tetap duduk di ranjangnya, menyaksikannya, sampai dia berhenti bergerak."

Sunyi total. Bahkan bara api pun seakan ikut membisu.

Maya tak tahu harus berkata apa. Tak ada kata-kata untuk hal seperti itu. Tak ada penghiburan untuk hal seperti itu.

Alih-alih berbicara, ia melakukan sesuatu yang bahkan tak ia duga sendiri.

Ia bangkit dari lantai, duduk di sandaran lengan kursi Bara, dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.

Sesaat Bara mengaku. Tubuhnya, yang terbiasa dengan kekerasan, kecurigaan, serangan, tak tahu bagaimana menanggapi sebuah gerak kelembutan. Tetapi sedikit demi sedikit, ia melemas. Ia mengangkat satu lengan dan melingkarkannya di bahu Maya.

"Aku bukan orang baik," katanya lirih, nyaris berbisik. "Aku telah melakukan hal-hal mengerikan. Hal-hal yang tak bisa kutarik kembali. Hal-hal yang tak ingin kuingat. Tetapi bersamamu... bersamamu aku ingin menjadi lebih baik. Aku tak tahu kenapa. Aku tak tahu apakah aku bisa. Tetapi aku ingin mencobanya."

Maya memejamkan mata.

"Kita semua punya monster di dalam diri, Bara," katanya. "Monstermu lebih besar daripada punyaku, tetapi tetap saja monster. Dan monster tidak untuk dibunuh. Kita belajar menjinakkannya."

Bara tak menjawab. Tetapi lengannya mendekap Maya sedikit lebih erat, dan Maya merasa, untuk pertama kalinya sejak Minggu terkutuk itu, ia tidak sendirian.

Api padam sepenuhnya. Bara tak lagi menyala. Perpustakaan itu tenggelam dalam gelap.

Tetapi mereka tetap di sana, berpelukan, sampai matahari mengintip dari balik jendela.

* * *

Pagi setelah serangan itu, mansion Prakoso terjaga dalam ketenangan yang ganjil. Anak buah Bara telah bekerja sepanjang malam. Tubuh itu telah lenyap.

Darah telah digosok bersih. Para penyusup yang tertangkap telah dipindahkan ke tempat yang tak seorang pun menyebutnya. Satu-satunya jejak dari peristiwa itu adalah pintu kamar Maya, yang masih membekas oleh ketukan-ketukan tadi malam, serta keheningan tegang yang mengambang di udara bagai hantu.

Maya turun untuk sarapan lebih pagi dari biasanya. Ia tak tidur nyenyak, meski telah menghabiskan jam-jam terakhir dini hari dalam dekapan Bara di perpustakaan.

Ia tertidur di bahu lelaki itu, dan Bara menggendongnya ke kamar, membaringkannya di ranjang dengan kelembutan yang tak sepadan dengan kedua tangannya yang berlumur darah.

Ketika ia terbangun, Bara sudah tak ada. Hanya ada selimut yang menutupi tubuhnya dan sebuah catatan di meja samping ranjang: "Istirahatlah. Kamu aman."

Tulisannya tegas, huruf kapital, nyaris seperti tulisan seorang tentara.

Maya menyimpan catatan itu di saku jubahnya, tanpa benar-benar tahu alasannya.

Di ruang makan, meja telah tertata untuk tiga orang. Bu Marta, dengan memar keunguan di pipi yang tak sanggup ditutupi riasan apa pun, menuangkan kopi dengan efisiensi seperti biasa.

"Tuan Prakoso ada di perpustakaan bersama ayah Nyonya," katanya, menjawab pertanyaan yang belum Maya ucapkan. "Sudah lebih dari sejam mereka bicara."

Maya mengangkat sebelah alis.

"Ayahku? Di perpustakaan? Dengan Bara?"

"Benar, Nyonya. Dan sepertinya mereka tidak sedang saling membentak."

Itu candaan yang paling mendekati lelucon yang pernah Bu Marta lontarkan. Maya nyaris tersenyum.

Ia menyisihkan kopinya dan berjalan ke perpustakaan. Pintunya tertutup, tetapi tak sepenuhnya rapat. Dari lorong, ia bisa menangkap suara kedua lelaki itu. Nadanya tidak bermusuhan. Suaranya berat, tenang, suara dua ahli siasat yang tengah membahas rencana pertempuran.

Maya mendorong pintu perlahan, lalu masuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!