Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Suasana dapur pagi ini nampak tenang, sinar matahari masuk melalui celah jendela di area dapur. Pagi ini seorang istri sekaligus menantu tengah memasak untuk ibu mertuanya, yang sedang di rawat di rumah sakit.
"Semoga mama mau makan, soalnya kemarin Dokter Hassan bilang mama harus banyak makan sayur." Raisa bergumam dalam hatinya.
Raisa mengenakan gaun satin berwarna coklat Tortila, dengan rambutnya di biarkan tergerai membingkai wajahnya yang pucat karena kurang tidur. Tangannya tampak sibuk menyiapkan makanan di dalam rantang kuning. Rantang berwarna kuning keemasan itu berisi bubur dan lauk untuk di bawa ke rumah sakit, untuk dirinya dan ibu mertuanya.
"Mau kemana kamu?!" ucap Dion dengan suara bass yang membuat Raisa menoleh ke belakang.
Dion berdiri bersandar pada meja marmer menatap istrinya yang membawa makanan dengan rantang. Tubuhnya memakai kaos lengan pendek polo berwarna biru tua, dan celana pendek santai berwarna hitam.
"Mas...ada apa?" tanya Raisa menoleh ke arah sang suami dengan wajah yang was-was.
Raisa nampak heran dengan tatapan mata sang suami, yang sepertinya amat marah pagi ini. Matanya merah tak menunjukkan simpati pada ibunya, melainkan api cemburu yang tak disadarinya.
"Makanan udah aku siapkan di meja, kamu tinggal sarapan aja," jawab Raisa mau berlalu.
Tiba-tiba saat mau berjalan, tangannya di tahan oleh Dion tangan besar dan kuat mencengkram pergelangan tangan kirinya dengan kasar. Ingatan Dion terlintas bagaimana tangan Dokter Hassan yang menepuk halus bahu Raisa---Istrinya.
"Saya tanya sekali lagi mau kemana kamu?!" bentaknya.
Ingatan pria itu masih terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak, pemandangan itu seolah menjatuhkan marwahnya karena istrinya berani bermesraan dengan Dokter.
"Aku harus ke rumah sakit buat gantiin Bi Lis," ucap Raisa yang bicara sembari meringis kesakitan.
Seketika Raisa tersentak dan rantang yang di genggamannya hampir terlepas.
"Mas. Lepasin sakit, " rintih Raisa yang kesakitan.
Meski ada rasa takut yang nyata disana, Raisa berusaha tegar hanya demi meladeni suaminya pagi ini. Dion malah menarik tangan Raisa lebih dekat, membuat dada Raisa bersentuhan dengan tubuh Dion.
"Mas...aku harus ke rumah sakit buat gantiin Bi Lis," lanjut Raisa dengan berusaha melepaskan tangannya yang di cengkram oleh suaminya.
Mata keduanya saling menatap satu sama lain, Dion memaksa istrinya menatap matanya yang penuh intimidasi.
"Hubungan apa kamu ama Dokter kemarin?" tanya Dion.
Sontak pertanyaan itu membuat kedua mata Raisa menjadi membulat, dan keningnya berkerut.
"Apa maksud kamu, Mas?" tanya Raisa dengan nada heran.
Dion hanya terkekeh sinis, lalu matanya kembali menatap tajam istrinya.
"Kamu mau ke rumah sakit untuk bertemu Dokter yang wajahnya Arab itu 'kan!?" bentak Dion.
Deg.
Raisa yang tak mengerti maksud suaminya, berpikir jika sang suami marah karena mungkin Dokter Hassan mengatakan sesuatu.
"Iya Mas, untuk pemeriksaan mama," jawabnya polos.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Raisa, membuat wajahnya ke samping kanan. Beruntung rantang yang di genggaman tangannya tak jatuh dan tumpah.
"Dasar Sundal?!" hina Dion yang sudah melepaskan cengkeramannya.
"Saya liat cara dia menatap kamu kemarin?! Menangis di depannya supaya dikasih perhatian lebih?!" teriaknya.
Raisa menggelengkan kepalanya, berusaha menepis semua tuduhan suaminya.
"Astagfirullah, Mas! Kamu kok bisa berpikir begitu?!" ucap Raisa dengan suara meninggi, berusaha menepis semua tuduhan suaminya.
"Ya karena liat sendiri bagaimana Dokter itu natap kamu! Kamu istri saya! Masih milik saya! Istri yang G*blok di tambah selingkuh!" hina Dion dengan tuduhan tak berdasar.
Raisa seketika terpaku, jantungnya serasa berhenti berdetak mendengar tuduhan dan hinaan keji dari suaminya.
"Mas! Demi allah! Aku nggak ada apapun ama Dokter Hassan!" sanggah Raisa.
"Jangan sebut nama pria itu dengan nada seolah kamu sudah sangat akrab!" Dion mempererat cengkeramannya, membuat Raisa meringis kesakitan.
Raisa meringis dan matanya sudah berkaca-kaca.
"Mas...mama lagi sakit berjuang hidup dan mati, dan kamu malah nuduh aku macam-macam ama Dokter Hassan...Di mana hati nurani kamu, Mas?" tanya Raisa dengan isak tangis.
Tangan Raisa masih memegang pipinya yang di tampar oleh suaminya tadi.
"Nurani? kamu amnesia apa yang kamu lakukan sewaktu kecil?" cecar Dion.
Raisa menggelengkan kepalanya dengan air mata, dan Dion akan melakukan sesuatu pada Raisa.
"Sini kamu!" teriak Dion menarik paksa tangan Raisa.
"Mas...Mas..." ucap Raisa berusaha melepaskan cengkraman tangan Dion.
Rantang itu di taruh di meja makan, dan Dion menarik kasar tangan Raisa. Menyeretnya ke lantai atas menuju kamar.
Di dalam kamar.
Dion dengan kejam mengikat tangan Raisa, lalu mengeluarkan gesper yang biasa di kenakan di pinggangnya.
"Mas...jangan kamu mau ngapain?" tanya Raisa dengan ketakutan.
Dion mengikat kedua tangan Raisa dengan tali di ikat pada tiang kasur, dan dengan kasar mengangkat gaunnya.
Cring!
"Argh!!" jerit Raisa saat sabetan gesper itu, mengenai kulit punggungnya.
Cring!
"Argh!!" jerit Raisa saat sabetan kedua gesper itu, mengenai kulit punggungnya.
"Argh...Mas sakit ampun," ucap Raisa meringis kesakitan.
Namun, selayaknya tuli---Dion tetap melakukan sabetan berulang kali pada istrinya.
"Ingat Raisa Adiratna, kamu istri saya! Jangan sekali-kali kamu berani main gila di belakang saya, apalagi dengan dokter yang baru kamu kenal itu. Kamu itu milik saya!" titahnya.
"Ampun Mas...sakit," ucap Raisa.
Raisa pasrah saat sabetan di punggungnya terus di layangkan, seolah sudah ada memar di belakang punggungnya.
Sabetan yang di layangkan Dion seolah kepuasan tersendiri, karena masa kecilnya bisa di balaskan sekarang.
Setelah sepuluh kali sabetan, Dion melepaskan ikatan itu----posisi Raisa sudah lemas dengan wajah merah.
Raisa setengah sadar, dan beruntung Dion menangkap tubuhnya. Napasnya tersengal, Dion melihat bagaimana Raisa sudah setengah sadar.
"Cih dasar lemah," desisnya menatap istrinya.
Dion langsung membopong tubuh Raisa ke sofa, demi menyadarkan istrinya. Jujur saja Dion sudah sangat birahi melihat punggung istrinya, kini punggung itu tak lagi mulus akibat luka sabetan Dion.
Dion segera melepas gaun yang di kenakan istrinya hanya demi mengobati---punggungnya. Tubuh Raisa hanya menyisakan underwear warna coklat, dan Dion hanya mengigit bibirnya.
"Mas...sakit ampun...jangan siksa aku lagi," ucap Raisa lirih.
Dion memejamkan mata, dirinya malah teringat akan masa kecilnya yang pernah di rendahkan Raisa saat sabetan itu terbalas. Kini, dirinya harus susah payah menahan hasrat melihat tubuh istrinya---wanita yang tak pernah di anggap istrinya ini.
*
*
*
*