NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Dengung kipas gantung di langit-langit mendadak terasa begitu bising. Suasana hening menancap kaku, membekukan pergerakan tiga orang di dalam ruangan.

Bima membelalak menatap gantungan kunci gembok perak di atas meja. Matanya berganti arah—dari benda kecil itu ke Kirei, lalu berlabuh pada Arka yang santai memamerkan senyum miringnya.

"S-semalam?" Bima terbata, nadanya meninggi. "Kirei... apa maksud cowok ini?"

Jantung Kirei berdegup kencang menghantam dada. Ujung jarinya mendadak dingin. Bayangan goresan tinta merah semalam seolah menari-nari mengejeknya—Jangan sampai ada yang curiga.

Kirei menyilangkan tangan, berusaha keras menyembunyikan getaran di sudut bibir. Dipaksakannya menatap Arka dengan sorot mata paling dingin yang ia punya.

"Arka, lo ngomong sembarangan apa lagi, sih?" potong Kirei tegas, walau tenggorokannya mendadak kering. "Maksud lo 'tempat lo' itu kafetaria depan komplek, kan? Tempat anak-anak kumpul semalam pas gue antar berkas?"

Arka menaikkan sebelah alis. Tak langsung menjawab, ia melangkah maju mendekati meja. Pijakan sepatunya di atas lantai kayu menebar ketegangan. Begitu rapat dengan meja, ia membungkuk, menopang kedua tangan di tepi kayu hingga wajahnya sejajar dengan Kirei.

Aroma sabun citrus bercampur sisa udara hujan menyergap indra penciuman Kirei. Manik cokelat gelap Arka begitu pekat, seakan sedang menikmati rasa panik yang mati-matian Kirei sembunyikan.

"Kafetaria?" Arka terkekeh pelan. "Oh... jadi lo bilangnya gitu ke Bima?"

"Arka! Jaga batasan lo!" bentak Bima sambil maju mendorong bahu Arka.

Arka cuma bergeming sedikit. Ia memutar kepala, melirik Bima merendahkan. Ada kilat intim dan posesif yang berbahaya di sana—sesuatu yang tak pernah ia tunjukkan di depan umum.

"Jangan pegang-pegang gue, Bim," ucap Arka pelan, sarat ancaman dingin. "Gue cuma mengembalikan barang yang jatuh di mobil. Semalam hujan deras dan Kirei enggak bawa payung, jadi gue tumpangi. Itu aja. Kenapa lo yang panik?"

Bima mengepalkan tangan di samping paha, menahan emosi yang memuncak. "Tindakan lo ini memicu fitnah! Lo sengaja pakai kata ambigu biar nama Kirei jelek!"

"Fitnah?" Arka menatap Bima tajam. "Gue cuma nyebut kenyataan. Gantungan kunci ini punya Kirei, kan? Dan dia memang ada di mobil gue semalam."

Kirei menarik napas panjang, menyambar gantungan kunci perak itu sebelum situasi makin kacau. "Cukup!" serunya memotong ketegangan.

Kedua cowok itu menoleh serentak.

"Arka, makasih udah mengembalikan gantungan kunci gue," kata Kirei sehalus mungkin, meski matanya menyulut kilat mematikan. "Sekarang lo bisa keluar. Kita lagi ada rapat internal."

Arka menegakkan badan. Disisirnya rambut basahnya ke belakang pakai jari, memperlihatkan dahi dan garis rahang yang tegas.

"Oke, Bu Ketua," balas Arka santai. Sebelum berbalik, ia memajukan wajahnya sedikit ke arah Kirei lalu berbisik, "Jangan lupa... aturan nomor dua puluh satu. Lo udah ngomong lebih dari lima kata ke gue hari ini."

Kirei menggigit dalam pipinya, menahan jengkel yang meluap.

Tanpa sepatah kata lagi, Arka menyambar bola basket di meja lalu melangkah keluar. Tiap pantulan bola di koridor terdengar seperti ketukan bom waktu yang siap meledak.

Begitu sosok Arka menghilang di tikungan, Bima mencengkeram tepi meja Kirei. "Rei, lo beneran naik mobil sama dia semalam? Sejak kapan lo dekat sama cowok kekanak-kanakan kayak Arka?"

Kirei menghela napas panjang, berpura-pura sibuk merapikan tumpukan berkas yang terkena debu bola. "Gue enggak dekat sama dia, Bima. Semalam itu murni kebetulan. Gue kemalaman dan hujan deras, dia lewat pakai mobil Om-nya lalu nawarin tumpangan. Gue terpaksa ikut karena enggak ada taksi."

Bima menatap Kirei lama, meneliti kebohongan di mata cewek itu. Tapi Kirei sudah kelewat lihai menyembunyikan emosi—pengalamannya sebagai ketua OSIS membuatnya terbiasa bersikap tenang di bawah tekanan.

"Lain kali jangan mau, Rei," ujar Bima pelan dengan nada khawatir. "Arka itu pembuat masalah. Gue enggak mau reputasi lo rusak cuma gara-gara dia. Apalagi minggu depan ada peninjauan dari dinas."

"Iya, Bim. Gue paham," sahut Kirei singkat. "Bisa kita mulai bahas proposalnya?"

Bel pulang sekolah berdering nyaring pukul 15.30 WIB. Gerimis yang mengguyur sejak pagi mulai reda, menyisakan genangan di halaman yang memantulkan langit sore keunguan.

Kirei berjalan menyusuri koridor lantai dua yang sepi. Sebagian besar murid sudah pulang atau menuju area ekstrakurikuler. Langkahnya mendadak terhenti saat melewati tangga darurat di belakang perpustakaan.

Sebuah tangan kekar berurat tiba-tiba muncul dari balik remang tangga, merengkuh pergelangan tangannya dan menariknya masuk sebelum Kirei sempat menjerit.

Brak!

Pintu kayu tua tertutup rapat. Punggung Kirei terhentak di dinding semen yang dingin.

Sebelum Kirei bisa protes, tubuh tinggi Arka sudah menguncinya. Kedua tangan cowok itu menumpu di tembok, tepat di kiri dan kanan kepala Kirei, mengurungnya rapat.

"Arka! Lo gila?!" bisik Kirei marah. "Kalau ada yang lihat gimana?!"

Arka tak menjawab. Ia menunduk, membiarkan bayangan wajahnya menutupi ekspresi Kirei. Di kegelapan tangga darurat yang sepi, hembusan napas Arka terasa hangat menerpa dahi.

"Maksud lo apa tadi pagi di ruang OSIS?" cecar Kirei, menatap lurus iris mata Arka. "Lo sengaja mau membongkar rahasia kita ke Bima?"

"Gue enggak suka cara dia megang bahu lo," jawab Arka singkat dengan suara berat dan serak.

Kirei terkekeh tak percaya. "Apa? Lo cemburu?"

Arka memajukan wajahnya sampai jarak hidung mereka cuma tersisa sekian senti. Kehangatan yang memancar dari tubuh cowok itu merayap naik. Jantung Kirei berdegup gila-gilaan, tapi ia menolak mundur.

"Cemburu?" Arka tersenyum miring—senyuman berbahaya yang bikin bulu kuduk Kirei berdiri. "Jangan keperdaya sama perasaan lo sendiri, Kirei. Gue cuma enggak suka barang milik gue diusik orang lain."

"Gue bukan barang milik lo!" desis Kirei sambil menusuk dada Arka dengan telunjuknya. "Kita cuma terikat kontrak gila karena Kakek! Jangan berlagak punya hak atas hidup gue!"

"Punya hak?" Arka menangkap jemari Kirei yang menempel di dadanya, menggenggamnya erat tanpa menyakiti. Ia makin menunduk, menyapukan bibirnya begitu dekat dengan telinga Kirei hingga cewek itu merinding hebat.

"Tinta merah di kertas perjanjian itu bilang gue suami lo, Kirei," bisik Arka penuh dominasi. "Di mata hukum dan Kakek, lo punya gue. Jadi kalau Bima berani nyentuh lo sekali lagi... gue enggak cuma bakal lempar bola basket ke mejanya."

Darah Kirei mendidih bercampur desir aneh yang tak sanggup ia jelaskan. "Lo kekanak-kanakan, Arka!"

"Terserah lo mau bilang apa," jawab Arka santai. Ia melepaskan kuncian tangannya, melangkah mundur selangkah, lalu merapikan jaket hitamnya.

Arka memegang gagang pintu, menoleh sekilas. "Nanti malam enggak usah masak. Gue beliin makanan di luar."

"Gue bisa masak sendiri!" tolak Kirei cepat.

Arka tak peduli. Ia membuka pintu sedikit, memantau koridor yang sepi, lalu melangkah keluar tanpa berbalik lagi.

Kirei menyandarkan kepalanya ke dinding dingin, meraup udara sebanyak-banyaknya seolah baru lolos dari cengkeraman yang menyesakkan. Tangannya meremas dada yang masih berdegup tak beraturan.

Ancaman Arka jelas bukan gertakan main-main. Tapi yang paling menakutkan bagi Kirei bukanlah fakta rahasia mereka bisa bocor sewaktu-waktu... melainkan kenyataan bahwa hatinya mulai terbiasa dengan kehadiran cowok pemberontak itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!