Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISYARAT LANGIT
Hening sejenak di dalam pondok penempaan itu. Hanya terdengar suara kayu bakar yang berderak di perapian.
Urat di pelipis Sena berkedut. "Benar-benar gila kakek satu ini," makinya dalam hati. "Dia menyuruhku menangkap naga, tapi tempatnya saja dia tidak tahu?! Apa dia pikir ini game online yang ada peta panduannya?"
Sena baru saja menarik napas panjang, bersiap mengomeli sang empu dan memaksa sebuah kompromi rasional, seketika tiba-tiba waktu di sekitarnya terasa berhenti.
Suara gemeretak api menghilang. Hawa panas dari tungku lenyap. Udara di sekelilingnya mendadak terasa sangat berat dan dingin, persis seperti tekanan gaib yang ia rasakan di lereng bukit terlarang beberapa bulan lalu.
Sebuah suara yang sangat berat, dalam, dan bergema langsung menyusup ke dalam rongga kepalanya, menembus batas ruang dan waktu.
"Sena..."
Mata Sena membelalak. Itu bukan suara biasa. Itu adalah telepati batin tingkat tinggi.
"Waktumu bermain-main dengan besi dan siluman rendahan sudah cukup. Pertapaanku telah usai. Langit dan para leluhur telah memberikan jawabannya atas apa yang kau bawa di dalam benakmu."
Suara mpu Ranajaya menggema begitu kuat hingga membuat kepala Sena sedikit berdenyut.
"Kembalilah Temui aku sekarang juga. Takdirmu yang sesungguhnya baru akan dimulai."
Begitu pesan itu berakhir, tekanan udara di pondok kembali normal. Suara perapian Mpu Sura kembali terdengar bergemuruh. Sang empu tua masih sibuk menghindari tatapan Sena, pura-pura memeriksa tumpukan Besi Meteorit Hitam.
Sena membuka matanya perlahan setelah gema guntur suara Mpu Ranajaya perlahan memudar dari rongga kepalanya. Ia menatap Mpu Sura yang masih memegang bongkahan Besi Meteorit Hitam dengan raut kebingungan.
Alih-alih langsung pergi, Sena melangkah maju dan menepuk keras meja tempa hingga Mpu Sura terkesiap.
"Dengar, Mpu," ujar Sena dengan nada dingin yang tak menerima bantahan. "Aku baru saja mendapat panggilan penting. Sesuatu yang tak bisa menunggu."
Sena menunjuk tumpukan bahan material langka hasil jerih payahnya melawan siluman dan jin. "Panaskan tungkumu sekarang. Tempa pedang itu dengan semua bahan yang sudah ada di sini. Selesaikan bentuk fisiknya sesuai dengan cetakan yang kuberikan!"
Mpu Sura terbelalak, memprotes keras. "Tapi... naganya?! Sudah kubilang, tanpa roh naga raksasa untuk mendiaminya, wadah sekuat ini bisa hancur atau justru memakan energi di sekitarnya."
"Naganya akan menyusul nanti." potong Sena tajam, tak ingin membuang waktu. "Buat saja wadah fisiknya sampai sempurna. Urusan memburu dan menyeret naga itu ke dalam pedang biar itu menjadi urusanku nanti setelah aku kembali."
Mpu Sura menelan ludah. Hawa membunuh dan tekanan batin yang menguar dari Sena membuatnya tak berani membantah lebih jauh. Sang empu tua itu akhirnya mengangguk kaku. "B-baik. Aku akan segera menempanya, Tapi risikonya"
"Tidak ada risiko jika kau menempanya dengan benar," sela Sena, menatap tepat ke mata Mpu Sura."
Tanpa menunggu jawaban balasan, Sena berbalik seketika. Ia memusatkan seluruh energi batinnya ke titik pusat tubuh, merapal "Ajian Saipi Angin" ke kedua kakinya.
Dalam sekejap mata, tubuh Sena berkelebat lenyap dari pondok Lulumbang, meninggalkan embusan angin kencang yang menyapu debu dan membuat api di perapian Mpu Sura berkobar hebat seketika.
Melintasi pepohonan yang tampak buram karena kecepatannya yang luar biasa, Sena membelah hutan demi hutan. Arahnya kini lurus dan pasti: kembali ke tempat terlarang, menemui Mpu Ranajaya untuk menjemput jawaban atas takdir dan ambisinya.
Hanya butuh waktu singkat bagi Sena, yang melesat menggunakan "Ajian Saipi Angin", untuk kembali menginjakkan kakinya di kawasan bukit terlarang. Kabut tebal masih menyelimuti wilayah itu, namun kali ini terasa tidak seberat sebelumnya seolah hawa gaib di sana telah mengenali hawa keberadaan Sena.
Di puncak punden batu hitam yang dikelilingi ribuan tengkorak, Mpu Ranajaya duduk bersila. Matanya yang tertutup rapat, namun auranya memancar tenang menyatu dengan alam.
Sena melangkah mendekat, lalu merendahkan tubuhnya dan merangkapkan kedua tangan di depan dada, memberikan salam hormat yang dalam.
"Aku telah kembali, Ki Mpu," ucap Sena tegas memecah keheningan kabut.
Mpu Ranajaya perlahan membuka matanya. Tatapannya menembus langsung ke dalam sanubari Sena. Resi sepuh itu terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang, seakan baru saja melepaskan sebuah beban gaib yang sangat besar.
"Selama kau pergi, aku memisahkan jiwaku dari raga, menembus alam kelanggengan untuk meminta petunjuk dari para leluhur dan penguasa takdir," tutur Mpu Ranajaya dengan suara beratnya yang bergema. "Penglihatan dari benakmu terlalu asing, terlalu mustahil bagi nalar zaman ini. Awalnya, aku ragu apakah kau adalah manusia, atau iblis perusak tatanan."
Mpu Ranajaya bangkit berdiri, menatap hamparan kabut di bawah punden.
"Namun... langit memberikan sebuah isyarat singkat. Sangat singkat, namun mutlak," lanjut sang Resi sambil menoleh kembali menatap Sena. "Kau adalah anomali yang memang ditakdirkan untuk menginjak tanah ini. Para leluhur mengizinkanku untuk menurunkan ilmu warisan Mpu Bharada kepadamu."
Sena menunduk takzim, wajahnya terlihat penuh rasa syukur dan kesungguhan yang mendalam. Namun, di dalam kepalanya, suara batinnya berteriak dengan nada yang jauh berbeda:
"Iyalah, orang gue dikirim ke sini dari masa depan. Yakali ngga dapat plot armor," batin Sena sambil menyeringai tipis yang tak terlihat oleh sang Resi.
Mpu Ranajaya mengibaskan lengan jubahnya, dan seketika api biru menyala di empat sudut punden batu, menandakan dibukanya gerbang keilmuan yang selama ini tersegel rapat.
"Bersihkan hatimu dan siapkan ragamu, Sena!" seru Mpu Ranajaya, suaranya kini menggelegar penuh wibawa seorang guru besar. "Mulai detik ini, kau bukan lagi sekadar murid Panawijen. Kau adalah pewaris Sasatragraha Aku akan mengajarimu cara menata takhta, membelah kerajaan, dan mengendalikan pikiran manusia."
Sena mendongak, matanya berkilat memantulkan cahaya api biru di sekitarnya.
Mulai hari itu, Sena resmi menimba ilmu dengan Mpu Ranajaya.
Di atas bukit yang dilupakan zaman itu, fase paling krusial dari rencana besarnya dimulai. Sena tidak hanya diajarkan ilmu kanuragan atau kebatinan biasa, melainkan cetak biru dari kekuasaan mutlak ilmu yang kelak akan ia menulis sejarah sendiri.
Setelah itu mpu Ranajaya menyuruh Sena untuk istirahat sebentar, tapi alih-alih istirahat Sena malah berjalan mencari-cari tempat untuk dia diami nantinya. setelah mencari cukup lama tidak ada bangunan apapun disekitar sana, akhirnya ia meminta izin untuk membangun sebuah gubuk yang akan digunakan untuk istirahat selama masa menimba ilmu disana, setelah mendapatkan izin, Sena langsung bergegas mencari kayu dan menyusunnya lalu membuat sebuah gubuk sederhana, dibawah tilam dari dedaunan dan bantal dari kayu yang sudah dirapikan Sena merebahkan dirinya didalam sana.