Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 : AYAH SIAGA
Penunjuk waktu tepat di angka 12, baik jarum panjang maupun jarum pendeknya. Artinya sungguh tengah malam, dan Angkasa sudah tidak di sisi Bintang. Angkasa ngebut menuju RSUD yang diinfokan Bumi.
Jalanan sepi, tapi pikirannya ramai.
Damar terbaring lemah di ranjang pasien. Ruang IGD lumayan ramai malam itu, sungguh orang sakit tak mengenal waktu.
Bumi terlihat duduk di kursi plastik di ujung kaki Damar. Rambutnya berantakan, matanya bengkak sembab kebanyakan nangis. Ia sungguh takut kehilangan Damar.
Lukanya kehilangan suami belum benar-benar sembuh. Traumanya berada di rumah sakit masih sangat kental.
"Umi..." bisik Angkasa pelan di dekat telinga Bumi.
Bumi kaget, lalu langsung berdiri. "Langit, aku takut." Ingin rasanya ia menyandarkan kepalanya ke dada bidang Angkasa, tapi ia tahan. Ia cukup tahu diri siapa dirinya.
"Maaf, aku tidak sempat jenguk Damar siang tadi. Kerjaan sedang banyak," bohong Angkasa. Bukannya sejak siang dia sudah sibuk mengurus Jingga yang baru kabur dari Heru.
"Aku ngerti Langit sibuk. Tapi maaf, aku gak punya tempat lain untuk minta tolong," sedu Bumi. Sungguh bukan ini maunya, merepotkan Angkasa tengah malam.
"Umi, gak apa-apa. Maaf Langit tidak bisa diandalkan," ucap Angkasa menepuk punggung Bumi, menenangkan.
"Permisi, maaf ini IGD, penunggu pasien hanya boleh satu orang," ada satu perawat menyibak gorden pembatas di ruangan yang memang sedang penuh itu."
Oh, iya maaf. Saya akan keluar. Tapi sampai kapan anak kami di ruangan ini?" respon Angkasa cepat.
Kata "anak kami" meluncur begitu saja, membuat Bumi tertegun.
"Waktu observasi maksimal 2 jam. Silahkan bapak urus administrasi dan memilih ruang rawat inap anaknya," lanjut perawat itu pada Angkasa.
"Umi, aku ke sana dulu," sempat saja Angkasa meremas tangan Bumi. Bukan meremas, tetapi melepas pelan genggaman Bumi yang sangat erat sejak tadi, yang tidak mau dilepas karena takut.
Bumi mengangguk pasrah. Rasa takut, malu dan panik berlarian di kepala Bumi. Ia ingin jadi wanita mandiri, tetapi biaya pengobatan penyakit kanker otak Samudra ayah Damar, tahun lalu sungguh menghabiskan seluruh tabungannya. Bahkan malam ini, hanya ada selembar uang merah tersimpan di dompetnya. Cukup apa? Hanya kepada Langitnya ia bisa meminta tolong.
Lewat pukul 2 dini hari, akhirnya Damar dipindahkan ke ruang rawat inap. Ruang VIP yang Angkasa pilih untuk anak Bumi.
"Langit... kenapa di ruangan ini?" Bumi merasa tidak nyaman dengan ruang yang dipilih Angkasa. Terlalu mewah untuknya.
"Ruang rawat khusus anak penuh, Umi.""Tapi kenapa harus di ruang VIP ini?" Bumi tahu ini mahal, ia tidak mau jadi beban.
"Yang penting Damar cepat sembuh," potong Angkasa.
"Ayah... ayah..." antara bangun dan tidur suara Damar kecil terdengar lirih. Angkasa langsung menggendong Damar, lalu mengusap punggung anak yang belum genap 3 tahun itu.
Ajaib.
Damar yang rewel seharian langsung diam.Damar terkulai pulas di bahu Angkasa. Ada rasa nyaman, tenang di raut polos itu. Seperti menemukan sosok yang ia cari.
Cekrek
Bumi tidak tahan. Ia memotret momen itu. Angkasa yang hampir terlelap di kursi sambil memangku Damar yang tidur di dadanya.
"Langit yang selalu siaga untukku dan Damar. Padahal kami bukan tanggung jawabnya," begitu caption yang Bumi tulis pada keterangan foto, dengan hati penuh haru.
Klik send.
"Umi kirim apa di grup keluarga Kusuma?" tanya Angkasa merasa HPnya mendapat notif di tengah malam buta itu.
"Hah?" Bumi terperangah. Bukankah foto tadi akan ia kirim untuk Surya, kakak Angkasa yang di LN,tentu di sana masih sore.
"Umi, aku nolong kalian tulus. Gak usah diunggah ke publik gitu," kata Angkasa, tidak marah, hanya takut disalahpahami.
Bumi buru-buru melihat HPnya.
"Ya ampun. Maaf salah kirim! Aku tadi mau kirim ke... ke Surya," jelasnya panik, siap menghapus kirimannya.
Tetapi terlambat.
Di sebuah kamar tidur mewah di sisi lain kota, ada seorang istri yang sejak tadi tidak bisa memejamkan matanya sedetik pun. Akibat kepergian suaminya secara diam-diam. Padahal aktivitas terakhirnya adalah menina bobokan nya dengan mengelus rambut.
Bintang sejak tadi memandang HPnya, membuka semua aplikasi yang mungkin bisa menghiburnya. Membaca buku juga sudah ia lakukan. Tetap saja, jemarinya sibuk scroll. Hingga netranya terpuaskan saat melihat postingan Bumi yang ada di dalam grup Keluarga Kusuma.
Foto suaminya sedang tertidur memeluk anak orang lain. Bintang langsung paham Angkasa pergi ke mana. Bukan ke perempuan yang ia temui di bandara, tetapi ke janda satu anak yang entah apa jasanya, sehingga nomor kontak Bumi bisa tertaut dalam grup keluarga suaminya.
Emang iya, saingannya adalah seorang janda?
Bersambung...
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......
siapa tahu.....mah kamu awal kehamilan.....bulan depan ga datang tuh tamu bulanan mu......