NovelToon NovelToon
Pengantin Tertukar Sang Mafia

Pengantin Tertukar Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:9
Nilai: 5
Nama Author: Silvia

Sejak kematian ibunya, hidup Kayla berubah menjadi neraka. Diambil oleh keluarga paman yang serakah demi warisan yang menjadi haknya, gadis kecil itu tumbuh bukan sebagai keponakan, melainkan sebagai budak, samsak tinju, dan sasaran hinaan selama bertahun-tahun. Dunianya hanyalah ruang bawah tanah yang gelap dan lembap.

Lalu takdir mengetuk lewat cara yang paling kejam. Untuk menyelamatkan diri, keluarga itu menukar Kayla sebagai pengantin—menyerahkannya kepada Arkan Pratama, bos mafia paling ditakuti di kota, sebagai pengganti putri kandung mereka yang sesungguhnya. Malam pertama mereka mengungkap sebuah kebenaran yang mengubah segalanya: gadis rapuh penuh luka ini bukanlah perempuan yang Arkan kira.

Lelaki yang datang untuk membalas dendam justru menemukan sesuatu yang tak pernah ia cari—seseorang yang ingin ia lindungi dengan segenap kegelapannya. Sementara Kayla perlahan belajar mengeja dunia, tertawa, dan mencintai, roda pembalasan mulai berputar. Dan mereka yang pernah memadamkan cahayanya… akan segera menuai ganjaran setimpal.

Bisakah cinta menyembuhkan jiwa yang telah remuk? Dan seberapa jauh seorang mafia rela melangkah demi perempuan yang menangis air mata jiwa untuk sampai kepadanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyelidikan

"Tuan, pukul saja aku!" Bu Marni memohon saat melihat Kayla diseret pergi.

"Pelayan sialan, berani-beraninya kau mengambil keputusan yang bukan urusanmu?" bentak lelaki itu penuh amarah.

"Dan tentu saja kau juga akan kutagih, dasar tak tahu diri." Ia melayangkan pukulan keras hingga bibir Bu Marni pecah. Tapi bagi perempuan itu, luka itu tak seberapa. Yang benar-benar mencemaskannya adalah apa yang akan mereka lakukan pada Kayla kecil.

Keesokan harinya, rumah itu sunyi senyap. Bu Marni diikat di kandang kuda; ia pingsan setelah dipukul oleh salah satu anak buah lelaki itu.

Tiba-tiba ia teringat pada si kecil, cemas kalau-kalau gadis itu dilukai lebih parah dari yang sudah-sudah.

Ia tak lagi melihat Kayla dalam waktu yang lama. Gadis itu dibawa jauh dari rumah besar itu, ke sebuah tempat yang ia kenali sebagai kasino, untuk mengepel lantai, membersihkan toilet, dan segala kotoran yang ditinggalkan para pengunjung. Kayla tak bisa kabur atau meminta tolong. Lelaki itu telah memasang sebuah kalung di lehernya—jika ia menjauh lebih dari 100 meter dari kasino, kepalanya akan meledak berkeping-keping.

LIMA TAHUN KEMUDIAN

"Aku yakin pemilik kasino itu punya bisnis gelap," kata Sena Pratama, seorang mayor berpangkat tinggi yang baru saja dipindahtugaskan oleh badan negara. Selain itu, kakak kandungnya, Arkan, punya kediaman yang tak jauh dari kota ini.

"Tak lama lagi kita akan membongkar semua ulahnya," jawab Niko, rekan yang selalu bersamanya di setiap misi.

Seseorang telah memberi tahu mereka tentang bisnis yang dijalankan di kasino-kasino milik lelaki bernama Ferdinand Sanjaya itu.

"Sebelum menerima kasus ini, aku mau menemui kakakku dulu," ujar Sena sambil melirik arlojinya.

"Kau memang belum mengundangku, tapi aku harus berkenalan dengan kakak yang begitu sering kausebut itu."

Sena tersenyum mengenang. Kedua bersaudara itu terpisah sejak orang tua mereka mengalami kecelakaan, lalu menempuh jalan hidup masing-masing, meski keduanya bersumpah takkan mencampuri kehidupan satu sama lain. Sena tak pernah setuju dengan betapa berbahayanya menjadi seorang lelaki mafia.

Tapi kakaknya mengingatkannya pada sumpah itu.

"Aku harus bicara dengannya lebih dulu, memberitahunya bahwa kau akan ikut mengendus-endus bersamaku."

"Memangnya apa yang disembunyikan kakakmu yang hebat itu?"

"Sudah kubilang, sebelum aku membuka mulut, aku butuh izinnya dulu."

"Banyak sekali rahasianya," Niko menggeleng.

Seminggu kemudian Arkan menyetujuinya. Namun ia memberi peringatan yang sama—siapa pun, sekalipun mereka penegak hukum, tak boleh menyodok-nyodokkan hidung ke urusan yang ia kelola.

"Jadi kakakmu itu mafia terkenal yang membuat peredaran narkoba kalang kabut?" tanya Niko antusias. Ia sudah lama mendengar soal itu dan sejak dulu ingin bertemu langsung. Meski bertentangan dengan prinsip hukum, Arkan tetaplah sosok yang disegani.

KEDIAMAN SANJAYA

"Sudah kubilang, istriku, kasino-kasino berjalan mulus," Ferdinand mengulang perkataannya sambil mengisap cerutu yang mengepul. "Tapi polisi kacangan itu mulai terlalu dalam mengorek-ngorek."

"Bukankah kau bilang dia mayor penyelidik berpangkat tinggi?"

"Itu memang persis yang kukatakan," Ferdinand memutar bola mata.

"Ada investasi baru di depan mata," ucapnya membanggakan diri, "dan aku tak mau bocah keparat itu merusaknya."

"Kau punya cara-caramu sendiri," Vera mendukung. "Ngomong-ngomong, tadi malam kau kelewatan pada si yatim itu. Lengannya terkilir, dan dia demam. Kita tak mau dia mati." Ia mengatakannya meski sebenarnya tak peduli. "Aku sampai harus keluar memanggil dokter tua itu. Dia tak boleh mati di sini," lanjutnya tanpa berkedip.

Mereka telah berhasil menghancurkannya. Gadis itu berjalan bagai hantu, kain-kain lusuh menutupi tubuh kurusnya. Ia tak lagi menjerit karena pukulan; air matanya mengalir diam-diam, menuturkan penderitaannya. Mereka telah meremukkannya sampai tak bersisa. Ia tak mengenal siapa pun, tak diizinkan keluar, dan bila ada tamu, satu-satunya yang boleh terlihat hanyalah dirinya sebagai pelayan.

Ia adalah samsak tinju Ferdinand.

Ia adalah tukang pijat Vera.

Sasha sudah tak berminat lagi mengusiknya; ia hanya memandang Kayla sebagai alat kerja—ambilkan ini, ambilkan itu, berikan itu, bahkan ketika benda itu ada dalam jangkauan tangannya sendiri.

Mereka telah menjadikannya sekadar pelayan.

Kayla lebih memilih menjadi pelayan dan membisu daripada menerima pukulan yang begitu menyakitkan.

Sejak hari ia mencoba kabur, ia tak pernah lagi berusaha melarikan diri; bahkan memikirkannya pun tidak. Ia tak tahu apa yang terjadi pada Bu Marni, tapi ada yang meyakinkannya bahwa lelaki itu telah membunuhnya. Hatinya sangat terluka, dan ia menyalahkan diri sendiri karena telah menyeret Bu Marni.

KEDIAMAN PRATAMA

Bagi Arkan, adiknya adalah kebanggaan terbesarnya. Ia akan selalu ada saat dibutuhkan. Meski Sena pemberani dan selalu meraih prestasi dengan usahanya sendiri, Arkan diam-diam selalu mengawasinya—tentu saja tanpa sepengetahuan Sena. Di setiap misi, Arkan hadir tanpa nama, tapi tak pernah campur tangan; ia hanya ingin memastikan adiknya selamat.

Dan kini Sena akan berada di kota yang sama. Arkan menyambutnya dengan penuh sukacita.

Sena menceritakan alasan mereka dipindahtugaskan. Arkan sebenarnya sudah lebih dulu menyelidikinya.

"Aku pernah dengar soal lelaki itu, tapi tak pernah tertarik," ujar Arkan acuh tak acuh.

"Banyak yang harus digali di sana," jawab Sena, tersenyum karena teringat sesuatu.

"Apa yang membuatmu geli?" tanya sang kakak.

"Katanya dia punya seorang putri, benar-benar biang onar. Baru lima belas tahun, dan aku dengar dia melontarkan kata-kata yang mengerikan, sama sekali tak pantas."

Bagi Arkan, tak ada yang penting selain hal-hal yang menyangkut adiknya. Selebihnya hanya urusan sepele.

"Hati-hati dengan orang itu," Arkan memperingatkan. Ia sudah mendengar bahwa Ferdinand kerap melanggar hukum dan menyuap sejumlah polisi demi bisnis kotornya.

Dan tak satu pun kabar itu keliru.

KANTOR KASINO BINTANG

"Siapa bajingan yang berani menyodokkan hidung ke tempat yang bukan urusannya?" seru Ferdinand di luar kendali. Ia baru saja menerima surat perintah penggeledahan.

"Katanya dia baru saja datang," ujar orang kepercayaannya. "Dan dia salah satu yang terbaik."

"Kalau begitu kau sudah tahu apa yang harus kita lakukan," Ferdinand menyeringai. "Aku tak dilahirkan untuk menyenangkan siapa pun."

SEMENTARA ITU

"Sena, ini janggal sekali," Niko mengaku, mencurigai ada yang tak beres. "Kenapa mereka baru memanggilku sekarang?"

"Mungkin cuma kesalahan," Sena menimbang.

"Ada stempel resminya, ini dari badan negara."

"Aku harus pergi sendiri, jangan khawatir," kata Sena tanpa merasa ada masalah. "Pergilah, selesaikan urusan itu. Semua akan berjalan sesuai rencana."

Tapi Niko masih belum yakin.

"Kalau begitu tunggu—jangan berangkat sampai aku tiba, biar kita masuk ke kasus ini bersama-sama."

Ada sesuatu yang tak beres. Ia punya firasat buruk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!