[SEASON 3]
"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)
"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)
"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)
"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)
Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.
Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.
Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Si Sulung Jonas
"Mereka semua... benar-benar bukan manusia fana! Tempat terkutuk dan gila apalagi yang sedang kudatangi kali ini?! batin Elisa menjerit panik, jantung manusianya kembali berdegup dengan ritme yang gila.
Elisa melangkah mundur beberapa langkah dengan tubuh yang gemetar hebat dilingkupi rasa ngeri. Namun, tepat di saat ia hendak berbalik untuk melarikan diri kembali ke arah hutan, sebuah teriakan bariton yang teramat keras mendadak bergaung hebat memecah keheningan keramaian pasar dari arah kejauhan.
Pasukan prajurit Elf yang mengejarnya dari perbatasan rupanya telah berhasil sampai di titik tersebut.
"Jangan pernah biarkan manusia asing itu lolos dari kepungan kita! Ringkus dia sekarang juga!" teriak sang pemimpin pasukan penjaga perbatasan dengan nada suara yang menggelegar.
Sepasang mata cokelat gelap Elisa seketika membelalak sempurna dilingkupi rasa horor yang teramat sangat, saat melihat puluhan prajurit bertubuh tegap itu serentak melompat turun dari atas atap bangunan pasar, mengangkat busur perak mereka tinggi-tinggi, dan mengarahkan ratusan ujung anak panah tajam secara serempak tepat ke arah dadanya.
Sialan! Cobaan gila apalagi yang harus kuhadapi kali ini?! Batinnya menjerit histeris penuh keputusasaan.
Tanpa membuang waktu untuk berpikir panjang lagi, didorong oleh kepanikan yang memuncak, Elisa memutar tubuh manusianya. Ia berbalik arah dan berlari sekencang mungkin menggunakan sisa tenaga terakhirnya.
Ia menyusuri labirin jalanan beraspal kota Alfheim yang rumit, meliuk-liuk menghindari kerumunan penduduk Elf Hutan yang mulai riuh dan menatapnya penuh selidik.
Di tengah pelariannya, sepasang matanya mendadak tertuju pada sebuah kereta kuda bergaya gotik mewah yang sedang melaju pelan tak jauh dari posisinya.
Masa bodoh dengan sopan santun fana ataupun tata krama, Elisa melompat nekat, menerobos tirai beludru dan masuk ke dalam kompartemen kereta itu demi menyelamatkan nyawa manusianya. Ia harus bersembunyi. Ia tidak boleh sampai tertangkap oleh jajaran panah prajurit Elf.
Di dalam kabin kereta yang bernuansa remang-remang dan sejuk, Elisa baru menyadari bahwa ia tidak sendirian. Ada penumpang lain di dalam sana. Sosok itu tampak sedang duduk bersandar, tertidur lelap dengan sebuah topi bulat hitam yang sengaja diturunkan untuk menutupi seluruh permukaan wajahnya.
Elisa menahan napasnya sedalam mungkin, lekas-lekas membekap mulutnya sendiri menggunakan kedua telapak tangan agar suara deru napasnya yang memburu liar tidak memicu kecurigaan.
Dengan gerakan tergesa, ia melepas cepolan rambut cokelat bergelombangnya, membiarkan helaian rambut tebalnya terurai bebas menutupi sebagian wajah sebagai samaran instan jika pria di depannya mendadak terbangun.
Di tengah keheningan kabin yang mencekam, Elisa mencoba menenangkan diri dan mencerna jenis makhluk supranatural apa lagi yang baru saja ia temui di area pasar tadi.
Namun, konsentrasi berpikirnya mendadak buyar seketika saat indra penciumannya yang kian sensitif menangkap sebaris aroma familiar yang merayap di udara.
Sebuah aroma laut lepas yang tipis, berpadu dengan bauran bau besi tajam yang maskulin. Aroma yang sangat ia kenali secara absolut, sekaligus aroma yang teramat ia benci saat ini. Aroma milik pemuda brengsek yang hampir mencelakainya tadi pagi.
Elisa menolehkan kepalanya secara perlahan dengan gerakan kaku layaknya engsel pintu yang berkarat. Ia memperhatikan postur tubuh pemuda yang mengenakan kemeja hitam melekat dan celana jeans robek di sampingnya itu dengan durasi yang cukup lama.
Penampilan modern pria itu terasa sangat kontras dan ganjil dengan pakaian jubah elegan yang dikenakan oleh mayoritas penduduk asli Alfheim di luar sana.
Jantung manusia Elisa seolah dipaksa berhenti berdetak seketika. Dari barisan tiga pemuda kembar keluarga Salvatore, siapakah sosok yang saat ini sedang duduk satu kotak bersamanya?
Sialan. Dia... pria pengendara motor sport brengsek itu! mata Elisa berkilat frustrasi.
Dia... Jon... Jon... ah, kutukan! Aku benar-benar lupa siapa nama aslinya! Yang pasti, dia adalah sosok yang wajah tampannya paling minta dilempar sandal di antara kedua saudaranya! batin Elisa merutuk habis-habisan dalam hati.
Rasanya saat ini Elisa ingin memilih menguap saja menjadi butiran debu jalanan atau menyublim menjadi awan hitam saat itu juga demi menghindari realita gila ini.
Ia tidak habis pikir dengan logika semesta, dari jutaan koordinat tempat di dunia fana, kenapa garis takdirnya harus selalu berakhir di dalam satu kotak kecil yang sama bersama makhluk mengerikan ini lagi?
Alam semesta seolah-olah sedang menjadikannya sebagai objek prank yang teramat lucu.
Sekuat tenaga, Elisa menahan aliran napasnya hingga dadanya terasa sesak mau meledak, berusaha mati-matian untuk tidak menimbulkan getaran suara sekecil apa pun. Namun, di sisi lain, ia juga sadar betul bahwa berdiam diri di dalam kereta ini sama saja dengan mengantarkan leher manusianya pada malaikat maut.
Menggunakan gerakan yang setenang dan sehalus seorang pencuri kelas kakap yang sedang melancarkan aksi penjarahan, Elisa mulai menggeser posisi bokongnya pelan-pelan menuju ke arah tepi pintu kereta. Ia bersiap mengambil posisi untuk melompat kembali ke tengah aspal jalanan pasar.
"Mau ke mana lagi kau, Gadis Kecil?"
Sebuah suara bariton yang teramat berat, dingin, dan berwibawa tiba-tiba membelah keheningan kabin kereta. Elisa seketika membeku di tempatnya berpijak, mempertahankan posisi tubuh manusianya yang canggung dan kaku.
Pemuda kemeja hitam itu menurunkan topi bulatnya secara perlahan menggunakan jemari pucatnya, menampakkan seulas wajah rupawan yang pahatannya tampak sedatar tembok marmer, namun dibekali oleh sepasang manik mata berwarna hitam pekat yang menatap lurus, tajam, dan menusuk ke dalam kornea mata Elisa.
Dia adalah Jonas Salvatore. Si Sulung dari tiga bersaudara yang kebetulan saat ini memang sedang berada di dimensi Alfheim untuk mendampingi sang ayah dalam agenda rapat rahasia para petinggi ras Immortal.
Sebenarnya, sejak awal Jonas sama sekali tidak sedang tertidur fana. Semenjak tubuh Elisa masih berada dalam radius jarak satu kilometer dari posisinya, indra penciuman supernatural miliknya yang tajam sudah menangkap dengan sangat pekat aroma manis bunga lili murni yang menguar dari pori-pori kulit gadis itu.
Ia sengaja berpura-pura memejamkan mata di balik topi hanya untuk menikmati pertunjukan aksi pelarian konyol sang gadis dari balik persembunyiannya.
Deg.
Elisa memutar leher manusianya perlahan dengan raut wajah yang menampilkan sebuah ekspresi yang teramat sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata—sebuah perpaduan sempurna antara rasa syok yang hebat, malu setengah mati, dan amarah yang meluap-luap di dada.
Tiba-tiba saja, Elisa mengulas sebuah cengiran lebar tanpa dosa yang terkesan sangat dipaksakan.
"Aduh... duh, Tuan, mendadak kepalaku terasa sangat pusing dan berkunang-kunang. Mohon maaf yang sebesar-besarnya, aku sepertinya memiliki penyakit berjalan sambil tidur dan... entah bagaimana tiba-tiba tubuhku bisa salah terdampar masuk ke dalam kereta kuda Anda yang sangat mewah ini. Maaf sekali atas ketidaksopananku, permisi ya, aku mau turun!"
Elisa berpura-pura menderita amnesia instan, menaruh harapan bodoh bahwa Jonas akan cukup lugu untuk memercayai bualannya bahwa ia telah melupakan total insiden beberapa jam lalu, saat pria Demon ini mengangkut tubuhnya secara kasar di bahu layaknya sekarung beras.
"Kau sedang mencoba berpikir bahwa aku adalah makhluk yang bodoh, hm?"
Jonas bertanya dengan nada suara yang teramat dingin, sama sekali tidak mengubah ekspresi wajah marmernya sedikit pun.
"Duduk di tempatmu. Tetap diam di situ dan jangan berani bergeser satu senti pun. Jangan pernah berharap kau bisa lolos dari jangkuanku dengan menggunakan akting murahanmu itu kali ini, Elisa."