SALAHKAN AKU MENCINTAIMU
Sinopsis
Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.
Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: BAYANG-BAYANG YANG MERAYAP DI BISA SENJA
Sore itu, langit di atas SMA Garuda diliputi warna jingga keemasan yang bergradasi keunguan. Angin sore berembus dingin, membawa keharuman tanah kering yang tersiram gerimis tipis beberapa jam lalu. Di dalam gedung sekolah, suasana perlahan mulai sepi. Sebagian besar siswa sudah berhamburan pulang ke rumah masing-masing, tersisa hanya beberapa anggota ekstrakuriluker yang masih merapikan peralatan di lapangan basket atau sekretariat OSIS.
Aluna duduk sendirian di bangku semen di bawah pohon rindang dekat gerbang belakang sekolah. Di pangkuannya, sebuah buku catatan bergaris terbuka, tetapi jarinya tidak lagi menggerakkan pulpen. Matanya menatap kosong ke arah deretan daun gugur yang berserakan di tanah.
Pikirannya melayang pada percakapan singkat dengan Maya siang tadi di kantin.
"Eh, Na," kata Maya sambil mengunyah keripik kentangnya. "Kamu tahu nggak, kemarin ibuku cerita kalau ibunya Kak Devan tuh... maksudku, mantan istri Om Danu yang dulu, masih sering datang ke rumah lama mereka? Katanya sih, masalah hak asuh dan harta gono-gini belum benar-benar selesai."
Aluna tersedak minumannya saat itu. "M-masa sih, May? Kak Devan nggak pernah cerita apa-apa."
"Ya iyalah dia nggak cerita! Kak Devan kan tipe cowok yang menutup rapat masalah pribadinya. Tapi kasihan juga ya Om Danu sama Tante Rina—ibumu. Baru juga nikah, nanti kalau ada drama dari masa lalu kan kasihan keluarga kalian."
Kata-kata Maya terus berputar di kepala Aluna seperti kaset rusak. Rasa cemas yang sempat meredam kini merayap naik kembali, menggerogoti ketenangan yang baru saja ia rasakan selama beberapa hari terakhir.
Apakah keluarga baru mereka sekeropos itu? Dan jika masalah dari masa lalu orang tua mereka kembali mencuat, di mana posisi Aluna dan Devan nantinya?
"Ngapain melamun di sini sendirian?"
Suara berat yang sangat ia kenali memecah lamunan Aluna. Aluna mendongak, menemukan Devan berdiri di depannya. Pria itu masih mengenakan kemeja putih sekolah yang dua kancing atasnya terbuka, memperlihatkan kaus dalam hitam yang pas di dadanya. Tas ransel hitamnya disampirkan di satu bahu. Rambutnya sedikit acak-acakan terkena angin sore, memberikan kesan ketampanan yang terkesan sangat alami dan tanpa usaha.
"Kak Devan..." gumam Aluna pelan. Ia buru-buru menutup buku catatannya. "Udah selesai rapat OSIS-nya?"
"Udah," Devan mengambil tempat duduk di samping Aluna. Jarak mereka di bangku semen itu sangat dekat, hingga bahu mereka hampir bersentuhan. Devan memperhatikan raut wajah Aluna yang tampak mendung. "Kenapa mukanya ditekuk gitu? Ada masalah sama teman-teman sekelas?"
Aluna menggeleng pelan. Ia menunduk, memainkan ujung almamater sekolahnya. "Nggak ada, Kak. Cuma agak capek aja."
Devan tidak langsung percaya. Ia mengenal Aluna cukup baik untuk tahu kapan gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu. Tangan kanan Devan terulur, jemarinya yang hangat dan kokoh menyusup ke bawah dagu Aluna, mengangkat wajah gadis itu perlahan hingga mata mereka saling mengunci.
"Jangan bohong sama aku, Na," kata Devan lembut namun tegas. "Mata kamu nggak bisa bohong. Cerita ada apa."
Aluna menatap iris mata Devan yang cokelat gelap. Di dalam mata itu, ia bisa melihat kecemasan dan rasa peduli yang begitu tulus. Perasaan bersalah kembali menghantam dada Aluna.
"Kak..." bisik Aluna dengan suara bergetar. "Tadi Maya cerita sesuatu. Tentang... tentang mantan istri Ayah Danu."
Gerakan tangan Devan mendadak terhenti. Matanya berkilat sebentar, meredup oleh bayangan dingin yang jarang ia perlihatkan di depan Aluna. Pria itu menarik tangannya kembali, lalu menghela napas panjang.
"Apa yang Maya bilang?" tanya Devan, suaranya berubah menjadi sedikit lebih berat dan tertahan.
"Katanya... beliau masih sering datang dan ada masalah yang belum selesai sama Ayah," Aluna menatap Devan penuh harap, mencari kebenaran dari mata pria itu. "Benar ya, Kak? Apa rumah tangga Ayah sama Ibu bakal kena masalah karena itu?"
Devan membuang pandangannya ke arah lapangan basket yang kosong di depan mereka. Jemarinya mengepal di atas lututnya sendiri. Ada ketegangan yang mendadak melingkupi atmosfer di antara mereka.
"Itu urusan orang tua, Aluna," ujar Devan akhirnya dengan nada datar. "Kamu nggak perlu mikirin hal-hal kayak gitu."
"Tapi aku takut, Kak!" potong Aluna, suaranya meninggi sedikit. "Aku takut kalau ada masalah besar, keluarga kita hancur lagi. Ibu udah cukup menderita pas cerai sama Ayah kandungku dulu. Aku nggak mau lihat Ibu sedih lagi. Dan... dan aku juga takut gimana nasib kita kalau semuanya berantakan!"
Devan berbalik menatap Aluna. Melihat mata gadis itu yang mulai berkaca-kaca, pertahanan dingin Devan seketika runtuh. Ia tidak bisa melihat Aluna panik dan bersedih seperti ini.
Devan menggeser duduknya makin merapat. Tanpa memedulikan kemungkinan ada siswa lain yang melihat dari kejauhan, ia merengkuh kedua bahu Aluna, menatap gadis itu lurus-lurus.
"Dengar, Aluna. Dengar aku baik-baik," bisik Devan dengan nada suara yang begitu intens dan memukau. "Apapun yang terjadi sama urusan orang tua kita di luar sana, itu nggak akan merubah apapun di antara kita berdua. Kamu paham?"
"Tapi Kak—"
"Nggak ada 'tapi'," potong Devan tajam namun protektif. "Aku nggak akan biarin siapapun menyakiti kamu atau Ibu. Dan kalaupun ada badai yang datang ke keluarga ini... aku yang bakal berdiri paling depan buat melindungi kamu. Kamu cuma perlu percaya sama aku."
Air mata Aluna menetes juga. Rasa hangat dan terlindungi yang dipancarkan oleh Devan selalu berhasil meredam seluruh ketakutannya. Devan merengkuh tubuh mungil Aluna ke dalam pelukannya di bawah naungan pohon rindang itu. Didekapnya gadis itu erat-erat, membiarkan Aluna menyembunyikan tangisnya di dada kemeja sekolah Devan.
"Jangan pernah takut, Na," bisik Devan serak di puncak kepala Aluna, sembari mengecup rambut harum gadis itu dengan kehangatan yang amat dalam. "Selama aku masih ada di samping kamu, kamu bakal aman. Salahkan aku untuk apapun yang terjadi, tapi jangan pernah ragukan aku."
Di balik keremangan senja yang makin pekat, bayang-bayang masalah masa lalu orang tua mereka mungkin mulai membayangi. Namun di dalam pelukan Devan, Aluna merasa seolah-olah seluruh dunia tidak lagi penting—selama pria itu berada di sampingnya.