CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yicheng Terkejut Melihat Wajah Itu
Pelukan itu bertahan lama — begitu lama hingga waktu seakan berhenti berputar di sekitar mereka. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak, mereka hanya berdiri di sana, di depan pintu rumah kecil yang sederhana itu, membiarkan kehangatan satu sama lain menyusup ke dalam luka yang selama lima tahun terasa perih dan basah. Yicheng merasakan tubuh Su Wan yang sedikit lebih kurus dari yang ia ingat, bahunya yang lebih ringkih, seakan selama ini ia menanggung beban sendirian di pundaknya yang kecil namun teguh. Dan di antara mereka, Xiaoqi — anak kecil yang menjadi jembatan takdir ini — memeluk erat kedua orang tuanya, seakan takut jika ia melepaskan tangan kecilnya, mereka akan terpisah lagi, hilang kembali ke dalam kesepian masing-masing.
Angin sore berhembus lembut, menggoyangkan daun-daun pohon mangga di halaman depan, membawa aroma bunga melati dari kebun kecil di samping rumah — aroma yang begitu akrab, begitu melekat pada ingatan Yicheng tentang Su Wan, aroma yang dulu selalu menemaninya setiap kali ia pulang ke apartemen tempat mereka tinggal bersama. Sekarang aroma itu ada di sini, di rumah kecil ini, di ruang yang sederhana, dan tiba-tiba Yicheng menyadari — kemewahan apa pun yang ia miliki di gedung tinggi itu tidak bisa menandingi kehangatan yang tercipta di ruang sempit ini, di dekat wanita yang ia cintai dan anak yang baru saja ia temukan.
Su Wan adalah orang yang pertama kali melepaskan pelukan itu, perlahan, seakan enggan, seakan takut kehilangan kehangatan itu begitu ia menarik tubuhnya mundur. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan, mencoba menyusun ekspresi wajahnya menjadi tenang kembali — meskipun matanya masih merah, pipinya masih basah, dan bibirnya masih sedikit bergetar. Ia menatap Yicheng, lalu memindai sekelilingnya, seakan baru menyadari bahwa pria paling berkuasa di kota ini berdiri di halaman rumahnya yang sederhana, di bawah sinar matahari siang yang terik, tanpa bayangan, tanpa perlindungan, tanpa pengawal — hanya dirinya, seorang pria yang terlihat lelah dan rindu, bukan CEO yang dingin dan tak tersentuh.
"Masuklah dulu," ajak Su Wan pelan, suaranya masih lembut namun sudah lebih stabil, bergerak mundur membukakan pintu lebih lebar. "Di luar panas. Xiaoqi pasti lelah setelah berjalan jauh dan naik bus sendiri."
Xiaoqi tersenyum bangga, menatap ayahnya. "Iya, Ayah! Saya naik bus nomor tujuh sendirian! Saya hafal rutenya dari peta! Dan saya tidak tersesat sama sekali!"
Yicheng menunduk menatap putranya, tersenyum penuh kekaguman, mengusap rambut hitam anak itu dengan lembut — gerakan yang kini terasa lebih alami, lebih miliknya, seakan ia sudah melakukannya ribuan kali sebelumnya. "Ayah tahu kamu tidak akan tersesat. Kamu anak yang pintar dan berani. Tapi lain kali jangan pergi sendirian lagi, ya? Kalau Ayah tahu kamu ingin bertemu Ayah, Ayah akan datang menjemputmu ke mana pun kamu berada. Ayah tidak mau kamu berjalan sendirian di jalanan yang ramai."
"Baik, Ayah," Xiaoqi mengangguk patuh, lalu menarik tangan ayahnya masuk ke dalam rumah. "Ayo, Ayah, saya tunjukkan rumah saya! Dan tunjukkan foto-foto saya! Dan buku-buku yang saya baca! Dan mainan yang saya buat sendiri!"
Yicheng mengikuti langkah kecil putranya masuk ke dalam rumah, membiarkan dirinya ditarik masuk ke dalam dunia yang selama ini tersembunyi darinya — dunia kecil milik Su Wan dan Xiaoqi, dunia yang sederhana namun penuh kasih sayang, dunia yang kini terbuka pintunya untuknya. Su Wan menutup pintu di belakang mereka, menyandarkan punggungnya di balik pintu tertutup, menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang — bukan karena takut, tapi karena tidak percaya, karena terlalu bahagia, karena akhirnya… akhirnya mereka tidak sendirian lagi.
Rumah itu sederhana — lantai berkeramik berwarna krem, dinding berwarna putih bersih, perabotan kayu yang tidak terlalu banyak namun tertata rapi dan nyaman. Di sudut ruang tamu ada meja kayu kecil, di atasnya vas bunga segar yang baru saja diganti, aroma melati yang sama tercium lebih kuat di dalam ruangan. Di dinding tergantung beberapa lukisan tangan — lukisan bunga, lukisan pemandangan, dan satu lukisan anak kecil yang sedang tersenyum — Xiaoqi, dilukis oleh ibunya dengan penuh kasih sayang. Di lantai ada karpet empuk, tumpukan buku anak-anak tersusun rapi di rak rendah, dan di dekat jendela ada meja belajar kecil — tempat Xiaoqi menyusun rencananya kemarin.
Yicheng berdiri di tengah ruangan itu, memandang sekelilingnya perlahan, setiap sudut, setiap benda, setiap jejak kehidupan yang ada di sini. Ia membayangkan Su Wan tinggal di sini sendirian selama lima tahun — bangun pagi, merawat Xiaoqi, bekerja di toko bunga, pulang sore, memasak, membersihkan rumah, membacakan dongeng untuk putranya, menidurkannya, lalu sendirian lagi di keheningan malam. Ia membayangkan Xiaoqi tumbuh di ruangan ini — belajar berjalan, belajar berbicara, belajar mengenal dunia, bertanya tentang ayahnya, menatap foto ayahnya sebelum tidur, menyusun rencana untuk menemui ayahnya tanpa memberitahu siapa pun. Dan di sepanjang semua itu — mereka berdua melakukannya sendirian. Tanpa dirinya.
Hati Yicheng terasa sesak, penuh rasa bersalah yang berat — begitu berat hingga ia merasa ingin berlutut dan meminta maaf berulang kali, meminta maaf karena tidak ada di sini, karena tidak melindungi mereka, karena membiarkan mereka berjuang sendirian.
Xiaoqi melepaskan tangannya, berlari ke meja belajarnya, lalu kembali dengan sebuah buku tebal berisi gambar-gambar yang ia buat sendiri. "Ayah, lihat ini! Ini gambar saya dan Ibu! Dan ini gambar keluarga — saya, Ibu, dan Ayah! Saya menggambar Ayah memakai jas hitam, seperti di foto! Dan ini… ini surat yang belum sempat saya kirim ke Ayah!"
Xiaoqi menyerahkan selembar kertas yang dilipat rapi, tulisan tangan anak itu terbaca jelas, sedikit miring namun rapi dan mudah dibaca. Yicheng menerimanya dengan tangan gemetar, membukanya perlahan, membaca setiap kata yang ditulis anaknya dengan tulus dan penuh harapan:
"Untuk Ayah, di Gedung Tertinggi Lantai Paling Atas.
Ayah, hari ini saya melihatmu dari seberang jalan. Saya tahu kamu sibuk, tapi saya ingin kamu tahu bahwa saya ada di sini. Saya pintar matematika, saya suka membaca buku, dan saya bisa merangkai bunga bersama Ibu. Saya harap kamu tidak terlalu lelah bekerja. Saya harap kamu punya waktu untuk makan dan tidur. Ayah, saya ingin bertemu denganmu. Saya ingin kita makan bersama, berjalan bersama, bermain bersama. Saya ingin kamu tahu — saya menunggumu. Saya tidak akan menyerah. Anakmu, Xiaoqi."
Air mata jatuh ke atas kertas itu, membasahi tinta sedikit, dan Yicheng buru-buru menyekanya, takut merusak tulisan tangan putranya. Ia membaca surat itu berulang kali, setiap kata, setiap kalimat, merasakan ketulusan yang begitu murni dari hati anak yang belum pernah ia temui namun sudah begitu mencintainya. Ia merasakan betapa besar rindu yang dipendam anak ini, betapa kuat harapannya, betapa teguh keyakinannya bahwa ayahnya pasti mau menerimanya. Dan di sisi lain, ia membayangkan Su Wan — melihat tulisan ini, melihat harapan putranya, dan tetap diam, tetap menyembunyikan kebenaran, karena ia pikir itu yang terbaik untuk semua orang.
Yicheng berbalik perlahan, menatap Su Wan yang berdiri di dekat pintu, menatapnya dengan mata berkaca-kaca, penuh ketakutan dan harapan yang bercampur menjadi satu. Di bawah cahaya lampu ruang tamu yang lembut, ia melihat wajah itu dengan jelas — wajah yang selama ini ia rindukan, wajah yang muncul di setiap mimpinya, wajah yang ia simpan di dalam dompetnya selama lima tahun tanpa pernah pudar. Tapi sekarang, melihatnya secara langsung, di ruangan tempat ia tinggal, di tempat yang menjadi pelariannya — Yicheng terkejut. Bukan karena perubahannya, tapi karena melihat kelelahan yang tersembunyi di balik senyumnya, melihat garis halus di sudut matanya yang dulu tidak ada, melihat tatapannya yang dulu penuh keberanian kini penuh kehati-hatian dan ketakutan. Ia melihat betapa berat beban yang dipikul wanita ini sendirian, betapa banyak air mata yang ia tumpahkan saat tidak ada orang yang melihatnya, betapa sering ia harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak mereka.
Wajah itu — wajah yang ia cintai — kini menceritakan kisah lima tahun perjuangan yang tidak pernah ia ketahui, kisah kesepian, kerja keras, dan pengorbanan yang tak terhitung jumlahnya. Dan melihatnya sekarang, berdiri di hadapannya dengan segala keraguan di matanya, Yicheng menyadari satu hal — ia bukan hanya kehilangan waktu bersama putranya, ia juga kehilangan kesempatan untuk menemani wanita yang ia cintai di masa-masa tersulit dalam hidupnya. Ia tidak ada di sana saat Xiaoqi sakit, tidak ada di sana saat Su Wan lelah bekerja, tidak ada di sana saat mereka butuh seseorang untuk bersandar. Ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, terlalu buta melihat kebenaran, terlalu terjebak dalam aturan dan tekanan, hingga hampir kehilangan kedua orang yang paling berharga dalam hidupnya.
"Su Wan…" panggil Yicheng pelan, suaranya penuh penyesalan yang mendalam, melangkah mendekat ke arah wanita itu, berhenti di hadapannya, cukup dekat untuk melihat bayangan cokelat di bawah matanya, tanda bahwa ia sering terjaga di malam hari. "Lihatlah aku… lihat wajahku dan katakan padaku — kau benar-benar berpikir aku akan lebih bahagia tanpa kalian? Kau benar-benar berpikir pergi adalah cara terbaik untuk melindungiku? Lihatlah wajahmu… lihat betapa lelahnya kau, betapa banyak hal yang kau tanggung sendirian. Dan aku… aku hidup di gedung tinggi yang megah, dikelilingi orang-orang, tapi tidak ada yang benar-benar peduli apakah aku makan atau tidak, tidur atau tidak, bahagia atau tidak. Aku hidup seperti bayangan, Su Wan — ada, tapi tidak nyata. Dan kau… kau membuatku nyata lagi. Kau dan Xiaoqi."
Su Wan menatapnya, air mata mengalir kembali di pipinya, tidak mampu menahan perasaan yang selama ini ia pendam dalam diam. "Aku takut, Yicheng… aku takut keluargamu tidak akan menerima kami. Aku takut Xiaoqi akan dibenci karena ibunya bukan siapa-siapa. Aku takut ayahmu akan menekanmu, akan menyakitimu, akan merusak masa depanmu. Aku pikir… kalau aku pergi, kau bisa hidup tenang, bisa menikah dengan wanita yang pantas, bisa memiliki keluarga yang diterima semua orang. Aku tidak tahu… aku tidak tahu kau akan menderita seperti ini juga."
"Kau tidak tahu karena kau tidak memberi aku kesempatan untuk tahu," jawab Yicheng lembut namun tegas, mengangkat tangannya, menyentuh pipi Su Wan dengan lembut, menyeka air matanya dengan ibu jari — sentuhan yang begitu akrab, begitu penuh cinta, seakan lima tahun perpisahan tidak pernah terjadi. "Kau memutuskan semuanya sendiri — kapan pergi, kapan kembali, kapan aku boleh tahu. Kau pikir kau melindungiku, tapi kau justru memutuskan bagian terpenting dari hidupku tanpa memberi aku pilihan. Dan Xiaoqi… ia tumbuh tanpa ayah, bertanya-tanya setiap hari mengapa ayahnya tidak bersamanya, mencari jawaban di foto lama, menyusun rencana untuk menemui ayahnya sendiri karena ibunya tidak berani melakukannya. Apakah itu perlindungan, Su Wan? Atau itu ketakutan yang membuat kita berdua kehilangan waktu yang tidak akan pernah bisa kita kembalikan?"
Su Wan terisak pelan, menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya berguncang karena tangis yang tertahan terlalu lama. "Aku salah… aku tahu aku salah… tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku sendirian, Yicheng. Aku takut. Aku tidak punya siapa-siapa. Dan Xiaoqi… dia seluruh hidupku. Aku tidak ingin dia terluka. Aku tidak ingin dia menanggung beban menjadi anak pewaris yang ibunya tidak diterima keluarga."
Yicheng menariknya ke dalam pelukannya lagi, membiarkannya menangis di dadanya, membiarkannya melepaskan semua ketakutan dan kesepian yang selama ini ia simpan sendirian. Ia mengusap punggungnya dengan lembut, berbisik berulang kali — "Kau tidak sendirian lagi, Su Wan. Kau tidak sendirian lagi. Maafkan aku… maafkan aku karena tidak datang lebih cepat. Maafkan aku karena tidak mencari lebih keras. Maafkan aku karena membiarkanmu merasa sendirian."
Xiaoqi berdiri di dekat mereka, melihat ibunya menangis di pelukan ayahnya, dan ia tidak menangis — ia justru tersenyum, karena ia tahu air mata ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata kelegaan. Ia berjalan mendekat, memeluk kaki ibunya, lalu kaki ayahnya, berdiri di antara mereka, menjadi ikatan yang menyatukan mereka kembali.
"Ibu jangan menangis," ucap Xiaoqi lembut, menatap wajah ibunya dari bawah. "Ayah tidak marah. Ayah sayang kita. Dan Ayah akan melindungi kita. Seperti yang Ayah janjikan tadi."
Su Wan menunduk, melihat putranya, lalu memeluk anak itu juga, menariknya masuk ke dalam pelukan bersama Yicheng, sehingga mereka bertiga saling berpelukan, menyatu, merasakan kehangatan satu sama lain. "Ibu tahu, Xiaoqi… Ibu tahu…" bisik Su Wan di atas kepala putranya, air matanya jatuh lebih deras, tapi kali ini disertai senyum yang tulus. "Ibu hanya… Ibu hanya tidak percaya. Ibu tidak percaya Ayah benar-benar ada di sini."
"Ayah ada di sini, Su Wan," Yicheng mencium puncak kepala wanita itu, suaranya penuh ketegasan dan kasih sayang. "Dan Ayah tidak akan pergi lagi. Tidak peduli apa yang terjadi. Tidak peduli siapa yang bilang apa. Kalian adalah keluargaku. Dan aku akan berjuang untuk kalian, melawan siapa pun, termasuk ayahku sendiri. Xiaoqi berhak tahu siapa ayahnya. Kau berhak diakui sebagai orang yang paling berharga bagiku. Dan tidak ada yang berhak menyangkal hal itu."
Mereka duduk bersama di ruang tamu — Yicheng dan Su Wan di sofa, Xiaoqi duduk di antara mereka, sesekali menyandarkan kepalanya ke bahu ayahnya, lalu ke bahu ibunya, seakan memastikan bahwa mereka berdua benar-benar ada di sana, nyata, tidak akan hilang. Yicheng menceritakan semuanya — bagaimana ia mencari Su Wan selama lima tahun, bagaimana ia bertanya ke semua kenalan, menyewa penyelidik swasta, bagaimana ia hidup dalam kebingungan dan kesedihan, bagaimana ia bekerja tanpa henti karena tidak ada lagi alasan untuk pulang lebih awal. Su Wan juga bercerita — tentang kepergiannya ke kota lain, tentang kelahiran Xiaoqi, tentang hari-hari sulit saat ia sendirian merawat bayi, tentang kepulangan mereka ke kota ini beberapa minggu lalu, tentang ketakutannya menghadapi masa lalu, tentang kerinduannya yang tak pernah berhenti, meskipun ia tidak berani menunjukkannya.
Xiaoqi mendengarkan dengan tenang, memegang tangan ayahnya dengan tangan kanan dan tangan ibunya dengan tangan kiri, sesekali menyela dengan cerita tentang sekolahnya, tentang rencananya untuk mencari ayah, tentang bagaimana ia menghafal rute bus dan menghitung lantai gedung Grup Lin. Setiap kali Xiaoqi berbicara, Yicheng menatapnya dengan kekaguman — anak ini begitu cerdas, begitu berani, begitu teguh, dan ia mewarisi semua sifat terbaik dari dirinya dan Su Wan. Ia memiliki ketajaman dan tekad dari ayahnya, serta kebaikan hati dan ketulusan dari ibunya.
Sore berubah menjadi malam. Su Wan menyiapkan makan malam sederhana — nasi hangat, sayur bening, ikan goreng, dan telur dadar — makanan sederhana yang dulu sering mereka makan bersama saat masih tinggal di apartemen. Yicheng duduk di meja makan kecil bersama mereka, melihat Xiaoqi makan dengan lahap, melihat Su Wan tersenyum lembut pada putranya, dan tiba-tiba ia menyadari — inilah kebahagiaan yang selama ini ia cari namun tidak pernah temukan di gedung tinggi mana pun, di pertemuan bisnis mana pun, di pesta mewah mana pun. Kebahagiaan bukan tentang seberapa tinggi gedung yang kau miliki, tapi tentang siapa yang menunggumu pulang. Bukan tentang seberapa banyak uang di rekeningmu, tapi tentang suara tawa yang mengisi ruangan di rumahmu. Bukan tentang seberapa banyak orang mengenal namamu, tapi tentang dua orang yang mencintaimu apa adanya — seorang wanita yang telah menunggumu selama lima tahun, dan seorang anak yang berani melintasi kota sendirian hanya untuk bertemu denganmu.
Setelah makan malam, Xiaoqi mengajak ayahnya ke kamarnya — ruangan kecil dengan tempat tidur tunggal, rak buku penuh buku, dan dinding yang dipenuhi gambar-gambar yang ia buat sendiri. Yicheng duduk di tepi tempat tidur, mendengarkan putranya bercerita tentang setiap gambar, setiap buku, setiap mainan. Xiaoqi menunjukkan foto ayahnya yang ia simpan di bawah bantal — foto yang sudah mulai menguning dan sedikit lecek karena sering dibawa ke mana-mana, sering disentuh, sering dipeluk saat ia rindu.
"Saya selalu memeluk foto ini sebelum tidur," ucap Xiaoqi pelan, menyerahkan foto itu kepada ayahnya. "Saya berbicara dengan Ayah di foto. Saya bilang saya sayang Ayah. Saya bilang saya berharap Ayah juga sayang saya."
Yicheng menerima foto itu, jari-jarinya menyentuh wajahnya sendiri di atas kertas yang sudah mulai memudar, dan hatinya terasa penuh hingga hampir meluap. Ia memeluk putranya erat, mencium keningnya, matanya berkaca-kaca. "Ayah juga sayang kamu, Xiaoqi. Lebih dari apa pun di dunia ini. Dan mulai sekarang, Ayah akan berbicara denganmu secara langsung, bukan melalui foto. Ayah akan mendengarkan ceritamu setiap malam sebelum tidur. Ayah berjanji."
Xiaoqi tersenyum, melingkarkan tangannya di leher ayahnya. "Benarkah, Ayah? Setiap malam?"
"Setiap malam," jawab Yicheng tegas, tanpa ragu. "Ayah tidak akan pernah melupakan janji ini."
Malam semakin larut. Xiaoqi akhirnya tertidur di pelukan ayahnya, matanya terpejam dengan senyum di bibir, napasnya teratur dan tenang — tidur paling tenang yang pernah ia alami, karena malam ini ia tahu bahwa ayahnya nyata, bahwa ayahnya ada di sisinya, bahwa ia tidak lagi harus menunggu dari kejauhan. Yicheng meletakkan putranya perlahan di atas tempat tidur, menyelimutinya dengan hati-hati, lalu menatap wajah anak itu cukup lama — wajah yang begitu mirip dengannya, wajah yang menjadi bukti cinta mereka, wajah yang menjadi alasan baru untuk hidup dan berjuang. Ia mencium kening Xiaoqi sekali lagi, lembut, penuh kasih sayang, lalu berjalan keluar dari kamar anak itu, menutup pintu perlahan agar tidak membangunkannya.
Su Wan berdiri di ruang tamu, menunggu di dekat jendela, menatap bulan yang bersinar terang di langit malam. Ia berbalik saat mendengar langkah kaki Yicheng, menatapnya dengan tatapan yang lebih tenang, lebih damai, meskipun masih ada sedikit keraguan yang tersisa di kedalaman matanya.
"Dia tertidur," bisik Yicheng pelan, berjalan mendekat ke arah Su Wan, berdiri di sampingnya, menatap bulan yang sama di langit. "Dia tidur dengan senyum. Sepertinya dia merasa aman sekarang."
"Dia selalu bertanya tentangmu," jawab Su Wan lembut, suaranya hampir berbisik. "Setiap malam sebelum tidur, setiap pagi saat bangun, setiap kali kita melihat gedungmu dari kejauhan. Dia bilang dia tahu kau orang baik. Dia bilang kau pasti akan datang. Dia tidak pernah menyerah, bahkan saat aku menyuruhnya bersabar. Dia… dia lebih berani dariku, Yicheng."
"Dia mewarisi keberanian itu dari ibunya," jawab Yicheng lembut, memegang tangan Su Wan, merasakan kehangatan kulitnya, merasakan detak nadi di pergelangan tangannya — hidup, nyata, di sini. "Kau berani pergi, berani membesarkannya sendirian, berani bertahan selama lima tahun tanpa menyerah. Keberaniannya berasal darimu. Dan ketegasan dan tekadnya — itu dariku. Dia adalah gabungan bagian terbaik dari kita berdua."
Su Wan menatapnya, ada senyum tipis di bibirnya — senyum yang dulu begitu sering ia lihat, senyum yang membuatnya jatuh cinta lima tahun lalu. "Tapi keluargamu… ayahmu… dia tidak akan menerima kami. Dan aku tidak ingin kau bertengkar dengan keluargamu karena kami."
Yicheng mengangkat tangan Su Wan, mencium punggung tangannya dengan penuh penghormatan dan cinta, menatap matanya dengan ketegasan yang tak tergoyahkan. "Su Wan, dengarkan aku. Keluarga adalah tentang cinta dan kesetiaan, bukan tentang darah dan status. Ayahku mungkin tidak mengerti itu, tapi aku mengerti. Keluargaku ada di sini — di rumah ini, di depan mataku. Kau dan Xiaoqi adalah keluargaku. Dan tidak ada yang berhak memisahkan kita, tidak ada yang berhak memisahkan kita, tidak peduli siapa mereka, tidak peduli seberapa kuat mereka. Aku akan menghadapi ayahku. Aku akan memberitahunya tentang Xiaoqi. Aku akan menjelaskan semuanya. Dan jika ia tetap tidak menerima kalian… maka aku akan memilih kalian. Karena tanpa kalian, Grup Lin, kekayaan, nama keluarga — semuanya tidak berarti apa-apa. Kalian adalah harta terbesarku. Dan aku tidak akan pernah menyerah pada kalian."
Kata-kata itu meruntuhkan tembok pertahanan terakhir di hati Su Wan. Ia menatap Yicheng, melihat ketulusan di matanya, melihat tekad yang kuat, melihat cinta yang tidak pernah pudar meskipun waktu berlalu begitu lama. Ia menyandarkan kepalanya di dada Yicheng, mendengarkan detak jantungnya yang berdetak tenang dan kuat, merasakan kehangatan pelukannya yang melindunginya dari dunia luar. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia merasa aman. Ia merasa dilindungi. Ia merasa pulang.
"Aku takut, Yicheng…" bisiknya pelan, tapi suaranya sudah tidak lagi penuh ketakutan, melainkan penuh harapan. "Aku takut semuanya akan berubah. Aku takut kita tidak akan bisa bahagia seperti keluarga lain."
"Kita akan bahagia, Su Wan," jawab Yicheng lembut, memeluknya erat, mencium puncak kepalanya. "Kita akan bahagia karena kita bersama. Kita akan bahagia karena kita tidak lagi menyembunyikan perasaan, tidak lagi menyembunyikan kebenaran, tidak lagi menyembunyikan cinta. Kita akan menghadapi semuanya bersama — masalah, tantangan, masa depan — semuanya bersama. Kita adalah keluarga. Dan keluarga tidak pernah berjalan sendirian."
Malam itu, di rumah kecil yang hangat itu, di bawah cahaya bulan yang bersinar terang di langit, mereka berdiri berpelukan — dua hati yang terpisah terlalu lama, akhirnya bersatu kembali, siap menghadapi apa pun yang akan datang. Mereka tahu perjalanan ini tidak akan mudah — ada tantangan, ada hambatan, ada orang-orang yang mungkin tidak setuju — tapi mereka tidak lagi sendirian. Mereka memiliki satu sama lain. Dan mereka memiliki Xiaoqi — sinar matahari kecil yang membawa mereka kembali bersama, anak yang menjadi bukti bahwa cinta sejati tidak pernah benar-benar hilang, bahkan ketika terpisah oleh waktu dan jarak.
Di kamar tidur, Xiaoqi tidur nyenyak, bermimpi indah — bermimpi tentang rumah besar tempat mereka tinggal bersama, bermimpi tentang berjalan-jalan bersama ayah dan ibunya, bermimpi tentang masa depan yang cerah di mana mereka tidak akan pernah terpisah lagi. Dan di ruang tamu, di bawah cahaya lembut lampu malam, Yicheng dan Su Wan berdiri berpelukan, merencanakan masa depan, berjanji untuk saling menjaga, saling melindungi, saling mencintai — tidak peduli apa pun yang terjadi.