NovelToon NovelToon
Menantu Tak Terkalahkan

Menantu Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Action
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pendaratan Sang Tiran di Jalur Neraka

​Suasana romantis di dalam kabin VVIP Gulfstream G650 seketika menguap ketika suara statis dari interkom memecah keheningan. Lampu tanda sabuk pengaman berkedip merah menyala. Di luar jendela, langit Jingcheng yang mulai menggelap tampak seolah menyambut kedatangan sang pewaris sah dengan awan mendung yang berarak rendah.

​"Lapor, Tuan Muda," suara pilot terdengar tegang namun tetap berusaha mempertahankan profesionalismenya. "Menara pengawas Bandara Internasional Jingcheng baru saja mencabut izin pendaratan kita secara sepihak. Mereka mengklaim ada status darurat militer di Landasan Pacu VIP Selatan. Namun, kamera resolusi tinggi di bawah badan pesawat menangkap hal yang berbeda."

​Layar monitor layar datar berukuran empat puluh inci yang tertanam di dinding kabin tiba-tiba menyala, menampilkan umpan video langsung dari kamera perut pesawat. Su Yuhan menahan napas saat melihat gambar di layar tersebut.

​Di landasan pacu yang seharusnya steril, terparkir belasan kendaraan taktis lapis baja tak bermerek yang memblokir seluruh jalur pendaratan. Ratusan pria bersenjata berat menyebar di sepanjang aspal. Yang paling mengerikan, di ujung landasan, terlihat dua buah truk yang membawa senapan anti-pesawat berkaliber besar, moncongnya diarahkan lurus ke langit, siap merobek badan pesawat mana pun yang berani turun.

​"I-itu senjata militer sungguhan..." Yuhan terbata, wajahnya kembali memucat. "Lin Fan, mereka benar-benar ingin menembak jatuh kita! Kita harus berputar arah dan mendarat di kota lain!"

​Lin Fan tidak menjawab. Matanya menatap layar monitor itu dengan pandangan sedingin dasar samudra beku. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memancarkan aura seorang kaisar lalim yang baru saja melihat sekumpulan semut mencoba menghalangi kereta kudanya.

​Ilusi Kendali Ibu Kota

​Terdengar transmisi radio dari menara pengawas bandara yang sengaja disambungkan ke kabin oleh sang pilot.

​"Penerbangan LF-01, ini Menara Kontrol Jingcheng. Landasan Selatan ditutup. Alihkan penerbangan Anda ke Sektor Udara G dan tunggu instruksi militer lebih lanjut. Jika Anda memaksakan penurunan ketinggian, Anda akan dianggap sebagai ancaman udara dan ditembak jatuh. Mengerti?"

​Suara operator menara itu terdengar gemetar, sangat jelas bahwa seseorang sedang menodongkan pistol ke kepalanya di ruang kontrol sana. Lin Ye benar-benar telah menyuap atau menyandera seluruh sistem otoritas bandara demi memastikan sepupunya tidak pernah menginjakkan kaki di tanah ibu kota hidup-hidup.

​Lin Fan menekan tombol komunikasi langsung ke kokpit dan menara pengawas sekaligus.

​"Ini adalah Lin Fan," suara baritonnya menggema melalui saluran radio, membekukan darah siapa pun yang mendengarnya di darat. "Satu-satunya status darurat militer di landasan itu adalah badai kematian yang akan kubawa turun. Jika kalian tidak menyingkir dalam waktu tiga menit, bersiaplah menjadi aspal."

​Lin Fan kemudian memutus transmisi menara dan beralih ke saluran terenkripsi militer Pasukan Bayangan.

​"Yuan," panggil Lin Fan pelan. Komandan Yuan telah diterbangkan lebih dulu beberapa jam yang lalu menggunakan pesawat kargo bersama tim penyerbu elit.

​"Komandan Yuan melapor, Tuan Muda. Kami sudah berada di posisi, mengepung area bandara dari titik buta."

​"Hancurkan unit anti-pesawat mereka. Jangan biarkan satu peluru pun menyentuh badan pesawatku," titah Lin Fan mutlak. "Untuk kendaraan lapis baja yang memblokir jalan? Biarkan saja. Aku ingin ban pesawat ini menggilas tulang punggung mereka."

​Hujan Api di Landasan Pacu

​Di daratan, komandan tentara bayaran sewaan Lin Ye sedang tertawa meremehkan menatap langit. Ia melihat kedipan lampu pesawat jet yang mulai menukik turun.

​"Orang gila itu benar-benar mencoba mendarat!" seru komandan bayaran itu. "Siapkan unit anti-pesawat! Kunci target! Hancurkan pesawat itu berkeping-keping begitu masuk jangkauan!"

​Namun, sebelum operator anti-pesawat sempat menekan pelatuk, neraka bocor dari bawah tanah.

​DUAR! DUAR!

​Dua ledakan dahsyat berturut-turut mengguncang landasan pacu. Pasukan Bayangan yang sejak tadi menyusup melalui gorong-gorong drainase bandara telah memasang peledak C4 tepat di bawah truk anti-pesawat tersebut. Truk militer seberat belasan ton itu terlempar ke udara layaknya mainan plastik, meledak menjadi bola api raksasa yang menerangi langit sore Jingcheng.

​Kepanikan meledak di antara pasukan Lin Ye. Sebelum mereka sempat bereaksi, dari menara-menara lampu bandara yang berjarak ratusan meter, kilatan-kilatan kecil terlihat.

​Syuut! Syuut!

​Peluru Anti-Materiel Sniper berkaliber .50 menembus kaca antipeluru kendaraan taktis musuh bak menembus kertas tisu, meledakkan kepala para penembak mesin di darat. Pasukan Bayangan tidak datang untuk bertempur; mereka datang untuk melakukan pembantaian sepihak. Hanya dalam waktu kurang dari enam puluh detik, seluruh ancaman udara telah dieliminasi total.

​Menembus Tirai Baja

​Kembali ke dalam pesawat, gaya gravitasi menekan tubuh Yuhan dengan keras ke kursi saat Gulfstream G650 itu menukik tajam dalam sudut pendaratan yang tidak masuk akal. Ini bukanlah pendaratan komersial; ini adalah dive-bombing—teknik pendaratan tempur untuk menghindari sisa-sisa tembakan musuh.

​Lin Fan menggenggam tangan Yuhan erat-erat, menyalurkan kehangatan di tengah guncangan ekstrem.

​Pesawat raksasa itu menghantam aspal landasan pacu dengan keras. Screeech! Suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal memekakkan telinga, memercikkan bunga api yang menyala terang. Kecepatan pesawat masih berada di angka 250 kilometer per jam.

​Di depan mereka, tiga buah mobil SUV lapis baja milik pasukan Lin Ye masih melintang memblokir jalur pendaratan. Tentara bayaran di baliknya berlarian panik, menyadari bahwa monster terbang berbobot puluhan ton itu tidak berniat menginjak rem.

​BRAAAK!!!

​Roda pendaratan utama dan sayap pesawat yang diperkuat serat karbon menghantam deretan mobil lapis baja itu tanpa ampun. Logam berderak hancur, kaca meledak menjadi debu, dan kendaraan-kendaraan seberat dua ton itu terpelanting berguling-guling ke tepi landasan pacu, digilas oleh momentum tak terbendung dari sang raja langit.

​Guncangan dahsyat terjadi di dalam kabin, namun pesawat itu tetap melaju membelah api dan puing-puing, menembus blokade seolah itu hanyalah tumpukan kardus kosong. Pesawat akhirnya mulai melambat, rem hidroliknya mengerang keras, hingga akhirnya berhenti sempurna tepat di depan gerbang VIP Terminal yang sudah dikepung oleh Pasukan Bayangan.

​Selamat Datang di Jingcheng

​Asap pekat, bau bahan bakar aviasi, dan aroma karet terbakar memenuhi udara luar. Puing-puing kendaraan yang terbakar menerangi senja ibu kota. Ratusan tentara bayaran Lin Ye yang tersisa kini berlutut dengan tangan di belakang kepala, ditodong oleh senapan laras panjang Pasukan Bayangan pimpinan Yuan.

​Di dalam kabin yang kini sunyi senyap, Yuhan bernapas terengah-engah. Jantungnya berdetak liar, tubuhnya gemetar setelah melewati pendaratan paling gila dan mematikan seumur hidupnya.

​Lin Fan melepaskan sabuk pengamannya. Ia berdiri, merapikan debu imajiner dari kerah jas Armani-nya dengan sangat tenang, lalu mengulurkan tangannya pada Su Yuhan. Mata sang tiran memancarkan cahaya kekuasaan yang tak bisa dibendung oleh dewa mana pun.

​"Pendaratan yang sedikit kasar, tapi kita sudah sampai," ucap Lin Fan sambil tersenyum hangat, menuntun istrinya menuju pintu kabin yang mulai terbuka secara hidrolik. "Selamat datang di kotaku, Yuhan."

1
Glastor Roy
update
Driver Muda
Jelek💪💪👍👍👍
Arinto Ario Triharyanto
mantep coy 😎
Ariya Noviandy Khusofi
kok sama alur ceritanya dengan kebangkitan pewaris sakti
Arinto Ario Triharyanto
muantaffff ini ☕😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!