Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.
Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.
Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.
Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diary Yang Menyakitkan 26.
Suasana rumah yang tadi hampir ribut kini sudah kondisif dan hanya terdengar ketukan spidol di atas papan bergaung monoton, beradu dengan gemuruh rendah kipas angin di sudut ruang tamu rumah Livy.
Di atas karpet bulu abu-abu, empat kepala kini tertekuk lesu menghadap tumpukan kertas cakar-cakaran. Tugas kelompok Fisika tentang termodinamika benar-benar menguras sisa energi mereka sepulang sekolah.
"Hukum pertama termodinamika itu intinya energi enggak bisa diciptakan atau dimusnahkan, tapi bisa diubah bentuknya," gumam Rayhan, jemarinya memijat pelipis. "Sama kayak energi saya yang udah berubah total jadi rasa kantuk luar biasa."
Livy tertawa kecil, suara khasnya yang serak terdengar lelah. "Minum dulu makanya. Saya ambil camilan lagi ke dapur ya, sekalian ambil es batu biar mata kalian melek." Gadis itu bangkit, merapikan rok rumahannya yang sedikit kusut sebelum melangkah hilang di balik sekat ruang makan.
Galang tidak menyahut. Cowok itu bersandar pada kaki sofa, memutar-mutar pensil mekanik di jarinya.
Matanya menatap malas ke arah deretan angka dan rumus (Q \= \Delta U + W) di hadapannya. Pikirannya tidak benar-benar di sana. Sejak sejam yang lalu, atmosfer di ruangan ini terasa aneh baginya. Lebih tepatnya, sikap Livy yang semakin terasa asing.
Tidak ada lagi tatapan mata yang intens yang biasa cewek itu layangkan padanya. Tidak ada lagi interupsi berisik Livy yang biasanya sengaja duduk sedekat mungkin dengannya hingga aroma parfum vanilanya mendominasi indra penciuman Galang.
Livy yang sekarang duduk berjarak, berbicara seperlunya, dan hanya menatapnya jika menyangkut pembagian bab laporan.
Livy seperti sudah 'jinak'. Dan anehnya, kekosongan itu justru membuat dada Galang terasa sesak.
"Saya ke toilet bentar," pamit Galang pada Rayhan dan Mayang yang masih berdebat tentang rumus usaha.
Galang bangkit berdiri, meregangkan otot-ototnya yang kaku. Namun, alih-alih berjalan ke toilet, langkah kakinya membawanya mendekati meja nakas kayu di sudut ruangan, tepat di samping bracket LCD TV yang sedang menayangkan presentasi materi termodinamika yang terjeda.
Matanya menangkap sebuah benda yang terasa tidak asing, namun sekaligus salah tempat. Sebuah buku bersampul beludru biru tua dengan ujung-ujung yang mulai sedikit mengelupas. Buku itu tergeletak begitu saja, setengah tertutup oleh lembaran fotokopi materi sekolah. Yang ternyata eksistensi buku itu sengaja Livy letakkan disitu sebelum teman-teman nya datang ke rumah untuk kerja kelompok.
Jantung Galang berdegup satu kali lebih kencang saat membaca tulisan tangan dengan spidol perak di cover depan buku itu,
Menaklukan Hati Galang.
Galang menoleh sekilas ke arah dapur. Suara denting es batu dan tawa tipis Livy samar-samar terdengar. Jemari Galang bergerak ragu, namun rasa penasaran yang teramat sangat mengalahkan akal sehatnya. Dengan gerakan pelan agar tidak menimbulkan suara, dia membuka halaman pertama.
18 November.
Hari ini saya masak bekal Kyacharaben untuk Galang. Bangun jam empat subuh demi nasi kepal menjadi wajah beruang kecil yang lucu banget, pasti dong lengkap sama potongan nori sebagai mata nya dan keju kesukaan Galang. Saya tahu dari postingan lama Twitter-nya. Tapi bekalnya berakhir di tempat sampah. Saya lihat sendiri di balik tembok. Galang bahkan gak buka kotaknya. Saya pulang sekolah langsung ngunci diri di kamar. Maaf ya hatinya Livy, hari ini dipatahin lagi sama Galang. Besok kita coba senyum lagi di depan dia, oke? Jangan kelihatan lemah.
Galang menahan napas. Sudut bibirnya hampir tertarik membentuk senyuman, mengingat betapa menyebalkannya Livy yang dulu tidak tahu urat malu, yang menempelinya seperti perangko dan selalu meledak-ledak.
19 November.
Gila, hari ini Galang ganteng banget pas keringatan habis tanding basket. Saya sengaja buat spanduk khusus terus beli air mineral dingin tiga botol, tapi yang keterima cuma satu, itu pun dia langsung kasih ke temannya yang lain. Nggak apa-apa! Besok saya coba lagi. Pokoknya Galang harus tahu kalau ada manusia bernama Livy yang suka sama dia sampai mau gila!
Namun, senyum itu perlahan memudar saat dia membalik ke halaman-halaman berikutnya dan berikutnya. Tulisan tangan di sana mulai berubah, tidak lagi rapi dengan hiasan stiker lucu, melainkan goresan-goresan pena yang cepat dan terkesan getir.
22 November.
Saya tahu saya berisik. Saya tahu temen-temen Galang sering ngejadiin saya bahan taruhan atau becandaan karena saya ngejar dia kayak orang gak punya harga diri. Hari ini ada murid baru dan Galang bentak saya di kantin. Galang bilang saya murahan dan terus ganggu hidup dia, padahal saya mau nolong dia karena anak baru itu punya niat jahat. Sakit banget, sumpah. Dada saya rasanya sesak sampai susah napas. Tapi pas saya lihat muka dia dari jauh pas pulang sekolah... kenapa saya tetep gak bisa benci ya? Tolong dong, kasih tahu cara berhenti suka sama Galang. Saya capek nangis tiap malam.
Kalimat-kalimat itu menghantam dada Galang seperti godam tak kasat mata. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis, persis seperti ruang hampa udara dalam teori fisika yang baru saja mereka pelajari. Kepalanya mendadak pening. Memori tentang bagaimana dia memperlakukan Livy berputar balik di otaknya dengan kejam.
Dia ingat bagaimana dia memutar bola mata malas setiap kali Livy menyapanya. Dia ingat bagaimana dia dengan sengaja meninggikan suara agar cewek itu menjauh di depan teman-temannya. Dia ingat rasa risih yang dulu selalu mendominasi hatinya. Tapi dia tidak pernah tahu—atau lebih tepatnya, menolak untuk peduli—bahwa di balik sikap menyebalkan dan obsesif Livy, ada ketulusan sedalam samudera yang terkoyak berulang kali karena dirinya.
Galang membalik ke halaman paling akhir yang terisi. Tanggalnya tertera tiga minggu lalu.
02 Desember.
Ini halaman terakhir, dan kayaknya ini juga batas akhir saya. Saya nyerah, Lang. Kata-kata kamu di hari ulang tahunmu buat diri saya hancur di bawah hujan deras. Saya mau pulang ke diri saya yang dulu, sebelum saya kenal kamu dan kehilangan harga diri saya. Makasih ya udah jadi bagian dari mimpi buruk paling indah di masa SMA saya. Mulai besok, saya gak akan ganggu kamu lagi. Saya akan turutin keinginan kamu.
Tangan Galang gemetar. Lembaran kertas di pegangannya terasa begitu berat. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi oleh sebuah rasa baru yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, penyesalan terhebat yang terlambat. Rasa bersalah itu merayap, mencekik tenggorokannya hingga terasa panas.
Selama ini dia menganggap Livy hanyalah sebuah gangguan. Namun, saat gangguan itu benar-benar hilang—saat cewek itu menepati janjinya untuk tidak lagi mengganggunya—Galang justru merasa kehilangan arah.
Tatapan dingin Livy selama kerja kelompok ini bukan lagi taktik untuk menarik perhatiannya, melainkan cerminan dari hati yang sudah mati rasa.
"Galang? Kamu ngapain di situ?"
Suara Livy memecah keheningan. Galang terlonjak, dengan cepat menutup buku beludru itu dan meletakkannya kembali ke atas nakas, mencoba bersikap senormal mungkin meskipun detak jantungnya berpacu liar.
Livy berdiri beberapa langkah darinya, membawa nampan berisi segelas besar es sirup dan sepiring camilan.
Matanya sempat melirik ke arah buku harian di atas nakas, lalu beralih menatap wajah Galang yang tampak pucat. Tidak ada kepanikan di wajah Livy, tidak ada juga binar pemujaan yang dulu selalu ada. Hanya ada tatapan datar, tenang, dan teramat asing.
"Enggak... ini, tadi cuma ngelihat LCD-nya agak blur," dusta Galang, suaranya terdengar serak di telinganya sendiri. Matanya menatap Livy, mencari sisa-sisa kehangatan yang dulu selalu cewek itu tumpahkan padanya. Namun, dia tidak menemukan apa-apa selain kekosongan.
Livy hanya mengangguk pelan, seulas senyum sopan—senyum yang biasa diberikan pada orang asing atau teman biasa—terukir di bibirnya. "Oh. Ya udah, yuk lanjutin lagi. Tinggal dikit lagi selesai kok bagian kesimpulannya."
Livy berbalik berjalan menuju karpet, bergabung kembali dengan Rayhan dan Mayang.
Sementara Galang masih terpaku di tempatnya berdiri. Dia menatap punggung Livy yang kini terasa berjarak ribuan kilometer darinya, meskipun mereka berada di ruangan yang sama.
Galang mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Rasa sesak di dadanya makin meradang.
......................
...****************...
Tbc,