NovelToon NovelToon
Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.

Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**

Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.

Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**

Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**

"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."

Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:

*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7: “Kamu Baru Wangi Kalau Kenyang”

“Kenapa kamu tidak makan?”

Lia berdiri begitu cepat sampai kepalanya membentur tepi lemari.

“Ko Sebas?” Telapak tangannya menutup pintu lemari bawah, tetapi sudah terlambat. “Kenapa ada di sini?”

“Aku bertanya lebih dulu.”

Sebastian masuk. Kamar itu mendadak terasa terlalu kecil untuk tubuhnya yang tinggi. Lia mundur sampai pinggulnya menyentuh meja, sementara pandangan pria itu berhenti pada piring yang hampir utuh.

“Saya sudah makan.”

“Dua suap nasi dan acar bukan makan.”

Wajah Lia memucat. Jadi dia sudah berdiri di luar cukup lama untuk menghitung.

“Saya tidak lapar.”

Perutnya berbunyi tepat setelah kebohongan itu keluar.

Sebastian menatapnya tanpa berkedip.

Lia ingin lenyap bersama bayangannya sendiri.

“Kalau ini karena aturan Ci Vanessa, aku akan bicara dengannya.”

“Bukan.”

“Kalau gajimu kurang, katakan pada Mamah.”

“Bukan soal gaji.”

“Lalu apa?”

Lia menunduk. “Saya memang terbiasa makan sedikit.”

“Berhenti menjawab dengan kebohongan.”

Nada Sebastian tidak keras. Justru ketenangan itu membuat pertahanannya terasa lebih sulit ditembus. Pria tersebut mengambil piring dari meja, menumpuk mangkuk sup di atasnya, lalu berbalik menuju pintu.

“Ko Sebas mau bawa ke mana?”

“Dipanaskan.”

“Tidak usah. Saya sungguh tidak...”

Sebastian menoleh. “Duduk.”

Lia terdiam.

Beberapa menit kemudian, Sebastian kembali membawa nampan. Nasi dan lauk mengepulkan uap. Ia bahkan menambahkan telur rebus dari dapur dan segelas susu hangat yang biasanya disediakan untuk Engkong.

“Makan.”

Lia melihat makanan itu seperti melihat perangkap.

“Sudah malam.”

“Aku tahu jam.”

“Kalau saya kenyang, saya sulit tidur.”

“Kamu lebih sulit tidur kalau perutmu sakit.”

Sebastian meletakkan nampan di meja, lalu menarik satu-satunya kursi untuk Lia. Ia sendiri berdiri di depan pintu. Tidak ada celah baginya untuk kabur tanpa melewati pria itu.

Lia duduk perlahan.

“Ko Sebas tidak perlu menunggu.”

“Aku akan menunggu.”

“Ini kamar saya.”

“Dan kamu bisa menutup pintu setelah makan.”

Rasa panas merayap ke telinga Lia. “Orang bisa salah paham kalau melihat Ko Sebas di sini.”

“Seluruh rumah tidur.”

“Itu justru lebih buruk.”

Sebastian diam sejenak. Tatapannya melunak nyaris tak terlihat, seolah ia baru sadar ketakutan Lia bukan hanya soal aroma. Seorang perempuan muda yang tinggal sebagai pekerja di rumah besar harus memikirkan nama baiknya setiap kali seorang pria berdiri terlalu dekat.

Ia mundur setengah langkah dari meja.

“Aku tidak akan menyentuhmu. Makan.”

Janji pendek itu membuat Lia lebih gugup daripada perintahnya.

“Kenapa Ko Sebas peduli saya makan atau tidak?” tanyanya.

Sebastian melihat amplop cokelat yang masih menyembul dari ransel. “Karena aku tidak suka melihat orang kelaparan di rumahku sambil menyimpan uang untuk orang yang mengancamnya.”

Lia segera mendorong ransel ke bawah ranjang dengan kaki. “Itu urusan keluarga saya.”

“Aku tahu.”

“Jadi jangan ikut campur.”

“Makan dulu. Setelah itu kamu boleh menyuruhku keluar.”

Lia menggigit bagian dalam pipinya. Pria itu tidak memaksa bertanya tentang Papa, tetapi juga jelas tidak akan pergi. Cara Sebastian berdiri di sana terasa seperti dinding, dingin, kokoh, dan mustahil digeser.

Ia mengambil sendok. Suapan pertama masuk dengan susah payah. Suapan kedua membuat perutnya menuntut lebih. Setelah suapan ketiga, rasa lapar yang selama ini ditahan mengambil alih. Gerak sendoknya menjadi lebih cepat meski ia berusaha tetap rapi.

Setengah piring habis. Lia menurunkan sendok.

“Sudah.”

Sebastian menggeser telur rebus ke dekatnya. “Belum.”

“Saya bisa sakit kalau terlalu banyak.”

“Kapan terakhir kamu makan satu porsi penuh?”

Lia tidak menjawab.

“Itu bukan pertanyaan sulit.”

“Saya tidak ingat.”

Jawaban itu menghantam Sebastian lebih keras daripada yang ia tunjukkan. Tatapannya turun ke pergelangan tangan Lia. Tubuh perempuan itu memang berisi, tetapi wajahnya mudah pucat dan jari-jarinya dingin saat lapar. Ia telah membuat kelaparan terlihat seperti kebiasaan sampai tak seorang pun mempertanyakannya.

Sebastian mengupas telur, membelahnya, lalu meletakkan setengah di atas nasi. “Pelan-pelan. Tidak ada yang akan mengambil makananmu.”

Lia menatap potongan telur itu. Kalimat sederhana tersebut membuat tenggorokannya terasa sempit. Ia kembali mengangkat sendok.

Sebastian tidak mengalihkan pandang.

Mula-mula hanya warna merah muda muncul di pipi Lia. Kemudian kulit di lehernya terlihat lembap. Bahunya yang semula kaku perlahan turun, tubuhnya menjadi lebih hangat dan lunak karena kenyang.

Lalu wangi itu muncul.

Seutas aroma buah manis mengalir di antara mereka. Tidak tajam seperti parfum. Lebih dekat, lebih hidup, seolah panas dari dalam tubuh Lia mengubah setiap tarikan napas menjadi sesuatu yang memabukkan.

Sebastian meremas jemarinya sendiri di belakang punggung.

“Habiskan susunya.”

Lia mengangkat gelas dengan dua tangan. Cairan hangat menyentuh bibirnya. Wangi di kamar semakin pekat.

Sebastian kini yakin.

Tidak ada satu pun sabun, jamu yang baru diminum, atau bumbu dapur di ruangan itu. Hanya makanan yang masuk ke perut Lia, panas yang naik ke kulitnya, dan aroma yang menguat sedikit demi sedikit di depan matanya.

Lia baru wangi saat kenyang.

Sendok terlepas dari jarinya ketika menyadari cara Sebastian memandang.

“Ko Sebas...”

Pria itu melangkah mendekat. Lia mundur dari kursi, tetapi meja menahan punggungnya. Wangi manis memenuhi setiap sudut, membungkus mereka dalam rahasia yang tak lagi bisa ia bantah.

Sebastian tidak menyentuh Lia. Ia mengulurkan tangan melewati bahunya.

Klik.

Kunci pintu berputar.

Sebastian berbalik. Tatapannya gelap, tajam, dan terlalu sadar akan semua yang baru saja ditemukannya.

Jantung Lia melonjak sampai ke tenggorokan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!