Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Lagi
Di dalam lingkungan istana yang megah, Putri Celestia dikenal bukan hanya karena kecantikan dan statusnya sebagai anak kesayangan sang raja, melainkan juga karena kecerdasannya yang luar biasa. Ia memiliki kemampuan daya ingat yang sangat tajam dan cepat. Cukup sekali saja ia melihat sebuah peta atau menyusuri suatu rute, jalur itu akan terpatri sempurna di dalam ingatannya.
Maka dari itu, ketika Raja David kembali memberikan izin dengan syarat batas waktu pukul tiga sore yang sama, Celestia tidak lagi membuang waktu untuk tersesat atau berputar-putar tanpa arah. Dari gerbang istana, langkah kakinya bergerak sangat lincah dan pasti. Ia menyusuri jalanan kota, melewati area pemukiman warga, hingga akhirnya sampai tepat di depan gubuk tua penempa pedang di ujung kerajaan.
Kring! Kring!
Zass, yang sedang khusyuk menguji ketajaman sebuah belati di atas meja kerjanya, seketika terperanjat saat pintu kayu gubuknya terdorong terbuka tanpa ketukan. Matanya melotot tak percaya ketika melihat sosok gadis cantik bergaun indah berdiri di ambang pintu seraya melambaikan tangan dengan senyum lebar.
"Kau... Celestia?!" seru Zass kaget, hampir saja menjatuhkan belati di tangannya. "Bagaimana bisa kau menemukan tempat ini lagi secepat ini? Hutan dan jalanan pinggiran kerajaan ini sangat rumit!"
Celestia tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti denting lonceng yang jernih di dalam ruangan tempa yang kusam itu. Ia melangkah masuk dengan anggun namun santai. "Kau meremehkanku, Zass. Di istana, aku dikenal punya ingatan yang sangat cepat. Rute perjalanan kemarin sudah terekam sempurna di kepalaku."
Zass menggeleng-gelengkan kepala, terkesima sekaligus takjub. Kedatangan Celestia yang tiba-tiba itu membuat suasana gubuk tua yang biasanya dingin dan hening mendadak terasa begitu hangat dan hidup.
Sejak hari yang mengejutkan itu, sebuah rutinitas baru yang manis mulai terbentuk. Setiap kali Celestia mendapatkan izin untuk keluar istana, gubuk tempa Zass adalah satu-satunya tujuan utama sang putri. Hari demi hari mereka lalui bersama, merangkai tawa dan petualangan kecil di luar dinding istana yang kaku.
Zass yang terbiasa hidup sendiri kini memiliki teman berbagi cerita, sementara Celestia menemukan kebebasan sejati yang selama ini selalu ia impikan. Mereka menyusuri padang rumput, duduk di tepi tebing menyaksikan matahari merambat naik, hingga berbagi bekal sederhana yang dibawakan Celestia dari dapur istana.
Suatu sore, saat mereka sedang berada di pinggiran hutan, Zass memutuskan untuk mengajari Celestia beberapa kemampuan bertahan hidup. Sebagai seorang pemuda yang hidup sebatang kara, Zass terlatih untuk berburu dan menggunakan berbagai jenis senjata.
"Kehidupan di luar istana butuh keberanian dan keterampilan," ujar Zass seraya menyerahkan sebuah busur panah kecil dari kayu busur yang telah ia sesuaikan untuk ukuran tangan Celestia. "Aku akan mengajarimu cara memanah, berburu, dan menghadapi hewan buas jika suatu saat kau terdesak."
Celestia menerima busur itu dengan antusiasme tinggi. Matanya berbinar. "Benarkah? Wah, para ksatria istana pasti terkejut jika tahu aku bisa memanah!"
Namun, teori ternyata jauh berbeda dengan praktik.
Zass memandu Celestia dengan penuh kesabaran. Ia berdiri di samping Celestia, menunjukkan cara memegang busur, menarik tali sasaran, dan mengarahkan anak panah ke sasaran papan kayu yang dipasang di pohon. Celestia mencoba dengan sungguh-sungguh. Ia menarik tali busur, memicingkan sebelah matanya, lalu melepaskannya.
Srettt... Bukk!
Anak panah itu bukannya menancap di papan sasaran, melainkan melayang jauh melintasi pohon dan jatuh menancap di tumpukan jerami belasan meter di sampingnya.
"Ah! Kenapa panahnya malah terbang ke sana?" keluh Celestia seraya mengerucutkan bibirnya gemas.
Zass tertawa geli melihat ekspresi sang putri. "Kau menarik talinya terlalu kencang dan sudut siku tanganmu terlalu tinggi. Coba lagi."
Mereka mencoba berkali-kali. Zass mengajarinya cara memegang pedang kayu, teknik dasar menangkis serangan hewan buas, hingga cara membidik sasaran diam. Namun, sehebat apa pun kecerdasan ingatan Celestia, tubuh dan jemari lenturnya yang terbiasa memegang pena bulu dan cangkir teh kerajaan sama sekali tidak berbakat dalam urusan senjata. Setiap panah yang dilepaskan Celestia selalu melenceng jauh, dan setiap kali memegang pedang kayu, ia hampir selalu menjatuhkannya karena terlalu berat.
"Aduh! Tanganku pegal sekali," pangkas Celestia akhirnya seraya menjatuhkan pedang kayunya ke atas rumput dan terduduk pasrah. "Sepertinya aku memang tidak berbakat menjadi ksatria, Zass."
Zass terkekeh pelan seraya menyodorkan kantung air minum pada Celestia. "Tidak apa-apa. Tidak semua orang harus menjadi ksatria. Tugas seorang putri adalah dilindungi, bukan bertarung."
Celestia menerima kantung air itu, lalu menatap Zass yang sedang duduk berjongkok di sampingnya. Ada satu hal yang menyakitkan hatinya setiap kali mereka berbincang: panggilan kaku yang selalu Zass gunakan.
"Zass," panggil Celestia pelan.
"Ya, Putri?"
Celestia mendesah kecil. "Tolong, berhenti memanggilku 'Putri'. Panggil saja namaku... Celestia. Ketika kau memanggilku 'Putri', rasanya ada jarak yang sangat jauh di antara kita. Aku ingin kau memanggilku seperti teman biasa."
Zass ragu sejenak. Menyebut nama seorang bangsawan tinggi tanpa gelar adalah sebuah pelanggaran tata krama di kerajaan. Namun, menatap mata jernih Celestia yang penuh dengan kesungguhan, Zass akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah... Celestia," tutur Zass lirih.
Mendengar namanya disebut langsung dari bibir pemuda itu, jantung Celestia tiba-tiba berdetak kencang secara tidak wajar. Sebuah sensasi hangat menjalar dari dadanya hingga memunculkan rona merah tipis di kedua pipinya. Celestia dengan cepat menundukkan kepala, memegang dadanya yang berdegup makin cepat.
Perasaan apa ini? Mengapa setiap kali aku berada di dekat Zass, dadaku terasa berdebar aneh seperti ini? Rasa nyaman dan hangat ini... belum pernah kurasakan pada siapa pun sebelumnya, bisik Celestia dalam hatinya dengan bingung.
Di sisi lain, Zass yang duduk di sampingnya sebenarnya merasakan hal yang sama—bahkan jauh lebih dahsyat. Setiap kali Celestia tersenyum padanya, setiap kali aroma harum bunga dari rambut sang putri terhempas angin dan mengusap wajahnya, dada Zass serasa bergemuruh hebat. Rasa kagum dan kasih sayang yang mendalam telah tumbuh tanpa ia sadari di dalam hatinya.
Namun, Zass segera memalingkan pandangannya ke arah kemegahan benteng istana yang menjulang tinggi di kejauhan. Kenyataan pahit menghantam kesadarannya bagaikan air dingin.
Zass menghela napas berat dalam hati, memeras jemarinya yang kasar dan penuh luka bekas tempaan besi. Siapakah dirinya? Hanya seorang anak yatim piatu kusam, tinggal di gubuk reot, dan berprofesi sebagai penempa pedang rakyat biasa. Sementara Celestia adalah seorang putri raja yang mulia, putri bungsu kesayangan penguasa Kerajaan Imperial, yang suatu hari nanti pasti akan dijodohkan dengan pangeran atau bangsawan terpandang.
Status sosial kita ibaratkan langit dan bumi yang mustahil untuk bersatu, batin Zass dengan kepedihan yang tersembunyi di balik senyum tipisnya. Aku harus sadar diri. Berada di sampingnya dan melihatnya tersenyum seperti ini saja sudah merupakan keajaiban yang tak ternilai bagiku.
Meski bayangan perbedaan takdir itu membayangi pikiran mereka, kehangatan sore itu tetap menjadi momen indah yang tersimpan rapat di dalam hati Celestia dan Zass—sebuah benih perasaan murni yang mulai tumbuh di tengah takdir kerajaan yang rumit.