NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Transmigrasi ke Dalam Novel / Dark Romance
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.

Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.

Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.

Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.

Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.

"Sayang, kamu kembali."

Kembali? Kiara baru saja tiba.

Atau... benarkah?

Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.

"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."

Kiara tahu dia harus takut.

Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 009

Dia Milikku

Dua hari setelah pemeriksaan di RS Pondok Indah, Kiara kembali berdiri di bawah lampu ballroom.

Kali ini tempatnya Hotel Mulia. Gala investasi film tahunan itu lebih besar daripada acara SCBD sebelumnya. Layar LED raksasa memutar cuplikan proyek-proyek film yang sedang mencari sponsor, meja bundar disusun dengan taplak putih, dan di setiap sudut ada orang yang tersenyum sambil menghitung manfaat dari hubungan baru.

Ci Lucy sudah memperingatkannya sejak sore.

"Kamu tidak harus datang kalau belum kuat."

Kiara memandang bayangan dirinya di kaca mobil. Riasannya tipis, gaun biru pucatnya menutup perban di pergelangan tangan, dan wajahnya tidak sepucat pagi di rumah sakit.

"Kalau aku terus bersembunyi, mereka akan menulis cerita sesuka hati."

Ci Lucy menghela napas. "Kamu keras kepala juga, ya."

"Aku belajar dari orang-orang yang lebih keras kepala."

Ponselnya bergetar saat itu.

Koko Rayhan: Jangan berdiri lebih dari lima belas menit.

Kiara menatap pesan itu, lalu tanpa sadar tersenyum kecil.

Ci Lucy menangkap senyum itu dari kaca spion. "Itu dari siapa?"

Kiara cepat mematikan layar. "Tidak penting."

"Kalau wajahmu jadi seperti itu, pasti penting."

Kiara pura-pura tidak dengar.

Namun begitu ia masuk ke ballroom, senyum kecil itu segera menghilang.

Orang-orang masih mengingat kejadian lokasi syuting. Bukan sebagai kelalaian kru, melainkan sebagai cerita baru tentang Kiara yang tiba-tiba punya pelindung kuat. Bisik-bisik mengikuti langkahnya. Ada yang penasaran, ada yang iri, ada juga yang terang-terangan menilai seolah ia baru naik kelas dengan cara yang tidak bersih.

"Itu Kiara, kan? Yang katanya diperhatikan Pak Rayhan."

"Aktris kecil tapi bisa bikin asisten sutradara diganti."

"Jangan-jangan memang ada sesuatu."

Ci Lucy berjalan di sampingnya dengan wajah profesional. "Jangan dengar."

"Aku dengar, tapi tidak akan mati karena itu," jawab Kiara pelan.

Kursi Kiara berada di meja tengah, tidak terlalu buruk, tapi jelas bukan area utama. Itu sudah cukup baginya. Ia duduk, menaruh tas kecil di pangkuan, dan menghitung napas seperti yang disarankan dokter.

Lima belas menit.

Jangan berdiri terlalu lama.

Jangan stres.

Jangan memaksa tubuh.

Semua saran itu terdengar masuk akal sampai Wenny datang bersama Hendra.

Wenny memakai gaun merah muda lembut dan menggandeng lengan Hendra dengan manis. Begitu melihat Kiara, ia langsung tersenyum, seolah dua hari terakhir tidak ada apa pun.

"Kiara, kamu datang juga. Aku kira kamu istirahat."

Hendra menatap perban di tangan Kiara.

"Kalau belum sehat, kenapa memaksa datang?"

Kiara memegang gelas air putih. "Karena ini pekerjaanku."

Hendra menurunkan suara, tapi kata-katanya tetap tajam. "Jangan membuat orang berpikir keluarga Tanuwijaya memanfaatkan hubunganmu dengan Purnawan Group."

Kiara menatapnya.

Lucu sekali. Sejak kapan mereka menganggap ia punya sesuatu yang bisa dimanfaatkan keluarga?

"Aku tidak membawa nama keluarga," ucap Kiara.

Wenny segera menyentuh lengan Hendra. "Papa, jangan begitu. Kiara pasti juga tidak enak. Semua orang membicarakannya dengan Pak Rayhan, mungkin dia sendiri tertekan."

Beberapa orang di meja sebelah mulai memasang telinga.

Kiara tahu pola itu. Wenny selalu bicara cukup pelan untuk terdengar seperti rahasia, tapi cukup keras untuk membuat orang lain menangkap inti yang ia mau.

"Wenny," kata Kiara lembut.

Wenny menatapnya dengan wajah polos.

"Kalau kamu benar-benar takut aku tertekan, jangan sebut nama Pak Rayhan di meja yang penuh orang."

Senyum Wenny berhenti.

Hendra mengerutkan kening. "Kiara."

"Aku hanya meminta batas yang wajar, Pa."

Di panggung, pembawa acara mulai menyambut tamu kehormatan. Suara musik mengalun, lampu mengarah ke pintu utama. Kiara mengira itu akan menjadi momen untuk bernapas, tetapi justru saat semua orang menoleh ke panggung, seorang investor paruh baya dari meja sebelah mendekat.

Ia tidak memperkenalkan diri. Tatapannya jatuh pada wajah Kiara, lalu ke perban di tangannya.

"Nona Kiara, saya dengar Anda sedang dekat dengan Pak Rayhan. Boleh titip satu perkenalan?"

Ci Lucy langsung berdiri. "Maaf, Kiara sedang tidak menerima pembicaraan bisnis pribadi."

Pria itu tertawa pendek. "Saya hanya bercanda. Jangan tegang begitu. Kalau memang tidak ada hubungan, kenapa takut?"

Kiara meletakkan gelas.

"Karena saya tidak suka nama orang lain dipakai untuk menekan saya."

Wajah pria itu berubah sedikit.

"Wah, galak juga. Pantas banyak cerita."

Ia mengulurkan tangan, seperti hendak menepuk bahu Kiara dengan akrab. Kiara mundur, tapi ruang di belakang kursinya sempit. Jari pria itu malah menyentuh pergelangan tangannya yang terluka.

Rasa nyeri menyambar.

Kiara meringis.

Sebelum ia sempat menarik tangan, sebuah suara rendah memotong udara.

"Lepaskan."

Satu kata.

Musik di ballroom seperti ikut mengecil.

Pria itu menoleh. Wajahnya langsung memucat.

Rayhan Purnawan berdiri beberapa langkah dari mereka.

Malam itu ia tidak datang dari pintu utama dengan pengumuman pembawa acara. Entah sejak kapan ia berada di sana. Setelan hitamnya rapi, jam di pergelangan tangannya sederhana, dan matanya begitu dingin sampai Kiara hampir tidak mengenali pria yang dua malam lalu memeluknya dengan hati-hati.

Pria itu segera melepas tangan Kiara.

"Pak Rayhan, saya hanya..."

"Saya tidak bertanya."

Suara Rayhan tidak naik.

Justru karena itu, orang-orang di sekitar mereka semakin diam.

Adi muncul di belakangnya, wajah tanpa ekspresi. Di sisi lain ballroom, beberapa panitia mendadak bergerak cepat. Wartawan yang semula fokus pada panggung mulai menoleh, kamera mengarah perlahan.

Rayhan berjalan ke sisi Kiara.

"Tanganmu sakit?"

Kiara masih memegang pergelangan tangannya. Semua mata menempel pada mereka. Jika ia berkata sakit, pria di depannya mungkin akan membuat situasi semakin besar. Jika ia berkata tidak, ia sedang berbohong.

Akhirnya ia menjawab pelan, "Sedikit."

Wajah Rayhan makin dingin.

Ia menoleh pada Adi. "Catat namanya."

Pria itu hampir tersandung. "Pak Rayhan, ini salah paham. Saya tidak tahu tangannya cedera."

"Kalau tidak cedera pun, kamu tidak berhak menyentuhnya."

Kalimat itu jatuh bersih di tengah ballroom.

Tidak ada yang berani tertawa.

Tidak ada yang berani pura-pura tidak mendengar.

Hendra berdiri, mencoba menyelamatkan suasana. "Pak Rayhan, Kiara ini anak saya. Mungkin ada kesalahpahaman kecil. Tidak perlu sampai..."

Rayhan menatap Hendra.

Untuk pertama kalinya sejak mengenal pria itu, Kiara melihat bagaimana rasanya jika kelembutan Rayhan benar-benar hilang.

"Kalau dia anak Anda," ucap Rayhan pelan, "perlakukan dia seperti anak."

Wajah Hendra membeku.

Lina yang baru tiba bersama beberapa sosialita berhenti di belakang Wenny. Wenny sendiri tampak kehilangan warna wajahnya.

Rayhan tidak berhenti.

Ia mengambil gelas air putih dari meja, menyerahkannya pada Kiara, lalu berkata dengan suara yang cukup terdengar oleh orang di sekitar.

"Duduk. Jangan berdiri terlalu lama."

Kiara menerima gelas itu dengan jari kaku.

Ia ingin berkata bahwa ia tidak selemah itu, tapi tatapan Rayhan menahannya. Bukan memaksa. Lebih seperti mengingatkan janji di mobil rumah sakit.

Kalau sakit, bilang.

Ia duduk.

Gerakan sederhana itu membuat bisik-bisik meledak pelan di seluruh ruangan.

Pembawa acara di panggung kehilangan ritme. Panitia utama datang mendekat dengan wajah pucat, ingin menyapa Rayhan, tetapi pria itu mengangkat tangan sedikit.

"Sampaikan pengumuman saya sekarang."

Panitia itu terdiam. "Pengumuman, Pak?"

Adi menyerahkan tablet.

Rayhan melihat layar sebentar, lalu menatap ballroom.

"Mulai malam ini, Purnawan Group membuka dana investasi untuk proyek film nasional bernilai lima ratus miliar rupiah."

Dalam satu detik, seluruh ballroom berubah.

Mereka yang tadi menonton drama dengan mata gosip mendadak berdiri lebih tegak. Lima ratus miliar bukan angka yang bisa diabaikan. Bagi produser, sutradara, agensi, dan aktor, itu berarti proyek baru, kontrak baru, hidup baru.

Rayhan melanjutkan, suaranya tetap tenang.

"Tapi dana itu tidak akan menyentuh perusahaan, rumah produksi, agensi, atau individu yang menyebarkan fitnah, membeli buzzer, menekan aktor muda, atau memperlakukan lokasi syuting seperti tempat perundungan."

Kiara menatapnya.

Ia tahu kalimat itu untuk dirinya.

Semua orang juga tahu.

Beberapa wajah langsung berubah. Ada yang menunduk, ada yang saling pandang, ada yang tiba-tiba sibuk dengan ponsel.

Rayhan berdiri di samping kursi Kiara. Ia tidak menyentuh bahunya. Tidak menggenggam tangannya. Tapi posisinya cukup jelas untuk membuat seluruh ruangan memahami ke mana arah perlindungannya.

"Dan satu hal lagi."

Tidak ada suara.

"Jangan sentuh Kiara Tanuwijaya."

Napas Kiara berhenti.

Wenny tampak seperti ditampar tanpa tangan.

Hendra membuka mulut, tapi tidak ada kata keluar.

Rayhan melihat seisi ballroom, mata gelapnya menyapu satu per satu wajah yang tadi berani menilai Kiara.

"Siapa pun yang membuatnya terluka, akan berurusan dengan saya."

Kalimat itu tidak panjang.

Tidak ada ancaman kasar.

Tidak perlu.

Semua orang di Jakarta tahu arti berurusan dengan Rayhan Purnawan.

Ci Lucy berdiri di samping Kiara dengan bibir sedikit terbuka, seperti sedang melihat nilai kontrak hidupnya berubah di depan mata. Santi yang baru tiba dari pintu samping hampir menjatuhkan tas kecil yang dibawanya.

Kiara sendiri hanya bisa menatap gelas air putih di tangannya.

Tangannya gemetar.

Bukan karena takut pada orang-orang itu lagi.

Karena pria di sampingnya baru saja menarik garis di tengah dunia, lalu menempatkannya di sisi yang ia lindungi.

Rayhan menunduk sedikit, suaranya berubah sangat pelan sehingga hanya Kiara yang mendengar.

"Kamu boleh marah nanti."

Kiara menoleh padanya.

"Kamu tahu aku akan marah?"

"Kamu tidak suka diputuskan."

"Lalu kenapa tetap melakukannya?"

Tatapan Rayhan turun ke pergelangan tangannya yang memerah.

"Karena hari ini mereka menyentuhmu."

Sederhana.

Gila.

Dan terlalu hangat.

Kiara ingin mengatakan banyak hal. Bahwa ia bukan miliknya. Bahwa ia bisa melindungi diri. Bahwa ia tidak mau dijadikan pusat pertunjukan.

Tetapi ketika ia melihat Wenny yang pucat, Hendra yang kehilangan suara, investor yang tadi menyentuhnya kini hampir membungkuk meminta maaf, serta seluruh ballroom yang tiba-tiba belajar mengeja namanya dengan hati-hati, Kiara tidak bisa menyangkal satu hal.

Untuk pertama kalinya, dunia ini takut menyakitinya.

Rayhan berdiri di sampingnya, tenang dan berbahaya.

Ia tidak pernah mengucapkan kata milikku.

Tapi malam itu, tanpa perlu satu kata pun, semua orang mengerti bahwa Kiara Tanuwijaya berada dalam perlindungan Rayhan Purnawan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!