"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur
Jarum jam di sudut ruangan telah melewati angka satu dini hari ketika mobil Rolls-Royce Phantom milik Damara memasuki gerbang besi raksasa kediaman utama keluarga Veldens di kawasan elite Jakarta Pusat.
Pesta pertunangan megah itu akhirnya usai. Orang tua Kayna, Erick dan Liliana, telah kembali ke kediaman mereka dengan hati yang tenang dan penuh rasa syukur, mengira putri mereka kini berada di tangan pria paling sempurna di dunia. Atas saran Johanna—ibu Mara—yang terdengar seperti permohonan hangat namun tak bisa ditolak, Kayna diizinkan untuk menginap di mansion Veldens selama beberapa hari dengan alasan agar kedua calon mempelai bisa "saling mengenal lebih dekat."
Johanna dan Nollan sendiri masih berada di hotel bintang lima tempat acara berlangsung, menghadiri pertemuan eksklusif lanjutan dengan para kolega bisnis internasional dari Eropa. Alhasil, malam itu, mansion megah berarsitektur kolonial modern tersebut terasa sangat sunyi, hanya menyisakan beberapa pelayan di paviliun belakang dan kesunyian yang mencekam.
Tik... tik... tik...
Rintik hujan yang awalnya samar perlahan berubah menjadi gempuran air yang deras, menghantam kaca-kaca jendela raksasa mansion. Seolah-olah langit malam Jakarta ikut merasakan firasat buruk yang sejak tadi mengalir di dalam darah Kayna.
Kayna melangkah masuk ke dalam lobi utama yang berlantai marmer hitam, memegangi ujung gaunnya yang terasa sangat berat. Tubuhnya lelah secara fisik, namun batinnya jauh lebih menderita.
Sepanjang jalan dari hotel, ia tidak mengucapkan satu patah kata pun. Ia hanya ingin segera mengunci diri di dalam kamar tamu dan menangis hingga tertidur.
"Mau ke mana, kelinci kecil?"
Suara bariton Damara yang rendah berkumandang di koridor sepi, menghentikan langkah Kayna tepat di depan sebuah kamar yang tadi sempat di beritahu oleh Johana. Kayna membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Mara yang sedang melepas kancing tuksedo hitamnya satu per satu, menampilkan aura dominan yang sangat mengintimidasi.
"Aku lelah, Damara. Aku ingin istirahat di kamar tamu," jawab Kayna, suaranya sedingin es, matanya menolak untuk menatap wajah tampan pria itu.
Mara terkekeh rendah. Langkah kakinya yang berat dan teratur terdengar begitu menakutkan di atas lantai marmer. Ia berjalan mendekati Kayna, mempersempit jarak di antara mereka hingga Kayna bisa mencium aroma alkohol mahal dan parfum maskulin yang menguar kuat dari tubuh Mara.
"Kamar tamu?" Mara menaikkan sebelah alisnya, sepasang mata abu-abunya berkilat penuh kegilaan yang selama ini ia sembunyikan di depan media. "Kau lupa statusmu malam ini, Kayna? Kau adalah tunanganku. Calon istriku. Kamarmu... ada di lantai atas, bersamaku."
Jantung Kayna berdegup kencang, rasa takut yang luar biasa mulai merayap di dadanya. "Kontrak kita hanya menyatakan bahwa aku harus menjadi tunangan pajanganmu di depan publik dan ibumu! Tidak ada yang mengatakan aku harus tidur di kamarmu sebelum kita resmi menikah! Bahkan setelah menikah pun aku tidak akan pernah sudi sekamar denganmu!"
"Perbujangan dengan mafia tidak pernah seformal itu, sayang," desis Mara.
Sebelum Kayna sempat menghindar, tangan kekar Mara bergerak secepat kilat, mencengkeram pinggang ramping Kayna dan menariknya dengan paksa hingga tubuh mereka bertabrakan tanpa celah. Mara menundukkan kepalanya, menyurukkan wajahnya di ceruk leher Kayna, menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu yang selalu membuatnya gila sejak pertemuan pertama mereka.
"Lepaskan aku, Damara! Kau gila! Lepas!" Kayna menjerit, kedua tangannya memukul dada bidang Mara dengan histeris. Tubuhnya gemetar hebat, merasa terhina oleh sentuhan posesif yang begitu kasar.
Namun, penolakan keras kepala Kayna justru meledakkan sisa-sisa kewarasan Mara yang sudah terkikis oleh alkohol. Obsesinya yang gelap membakar habis kendali dirinya. Mara segera mendorong tubuh Kayna hingga punggung perempuan itu menempel pintu kamar tamu. Lalu Mara kembali mencengkeram kedua pergelangan tangan Kayna, menguncinya di atas kepala gadis itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya meraba ritsleting di bagian belakang gaun Kayna.
"Kau menolakku lagi? Setelah semua yang kulakukan untuk keluargamu?" suara Mara meninggi, sarat akan amarah yang bergemuruh. "Aku mengembalikan kejayaan restoran ayahmu dalam semalam! Aku menyelamatkan butik ibumu dari kebangkrutan! Dan kau masih berani menatapku seolah aku adalah kotoran, Kayna?!"
"Karena kau memang monster, Damara!" teriak Kayna tepat di depan wajah Mara, air mata kemarahan akhirnya tumpah membasahi pipinya yang pucat. "Kau pikir aku bodoh?! Semua badai yang menimpa keluargaku... itu ulahmu?! Kau yang menghancurkan mereka, lalu kau datang berlagak menjadi pahlawan! Kau pria paling menjijikkan, manipulatif, dan biadab yang pernah ada di dunia ini!"
PLAK!
Dalam puncak histerianya, Kayna berhasil menyentakkan satu tangannya yang terlepas dari cengkeraman Mara dan melayangkan tamparan keras tepat di pipi kiri sang Capo Mafia.
Suara tamparan itu menggema keras di lobi mansion, menghentikan badai emosi Mara selama satu detik. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara deru hujan deras di luar. Mara memiringkan wajahnya perlahan. Seringai mengerikan terukir di wajahnya yang kini memerah akibat tamparan Kayna. Matanya menggelap sempurna, memancarkan aura membunuh yang biasa ia gunakan di dunia bawah tanah.
"Kau... baru saja menamparku?" desis Mara, suaranya begitu rendah hingga terdengar seperti bisikan iblis. "Kau benar-benar menantang maut, kelinci kecil."
Mara kembali merangsek maju dengan nekat, hendak merobek gaun Kayna dan mengklaim haknya secara paksa malam itu juga. Rasa hormatnya telah hilang sepenuhnya; yang tersisa hanyalah hasrat purba untuk menundukkan wanita pembangkang ini.
Kayna, yang didorong oleh insting bertahan hidup yang luar biasa, tidak tinggal diam. Saat tubuh kekar Mara mengimpitnya ke dinding marmer, lutut Kayna bergerak cepat, menendang selangkangan Mara dengan seluruh kekuatan yang tersisa.
"Argh!" Mara mengerang kesakitan, cengkeramannya pada tubuh Kayna terlepas seketika saat pria itu terhuyung mundur, memegangi bagian pusat tubuhnya yang kesakitan dengan wajah yang mengeras menahan amarah yang luar biasa.
"Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu, Damara sialan!" jerit Kayna dengan napas memburu.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kayna berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju meja di dekat pintu utama. Dengan tangan yang bergetar hebat karena ketakutan, ia menyambar kunci mobil milik Damara yang tergeletak.
"KAYNA! KEMBALI KAU!" raung Mara dari dalam lobi, langkah kakinya mulai mengejar gadis itu meskipun masih menahan rasa sakit.
Kayna mendorong pintu kayu jati raksasa mansion dengan sekuat tenaga. Angin malam yang dingin dan derasnya guyuran hujan langsung menerpa tubuhnya, membasahi gaun satin indahnya dalam sekejap. Air mata dan air hujan menyatu di wajahnya yang pias. Ia berlari membelah kegelapan halaman mansion, mengabaikan rasa perih di kakinya akibat sepatu hak tinggi. Dengan cepat ia melepas sepatu hak tinggi nya dan melemparkannya ke rumput.
Ia menekan tombol remote kunci, membuka pintu mobil milik Mara, dan langsung melompat masuk ke dalam. Dengan panik, ia mengunci seluruh pintu dari dalam, tepat saat sosok Damara berlari keluar dari teras mansion dengan pakaian yang berantakan dan rambut yang basah kuyup oleh hujan.
TOK! TOK! TOK!
"Buka pintunya, Kayna! Jangan bertindak bodoh atau aku akan menghancurkan keluargamu sampai ke akarnya!" Mara memukul kaca jendela mobil Kayna dengan kepalan tangannya yang kokoh, wajahnya tampak sangat murka di balik sapuan hujan deras dan kilatan petir.
Kayna tidak mendengarkan lagi. Isak tangisnya pecah di dalam kabin mobil yang kedap suara. Pandangannya buram oleh air mata yang terus mengalir deras. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas sedalam-dalamnya, dan memutar kemudi dengan kasar.
Mobil Rolls-Royce Phantom itu melesat membelah badai, bannya mencicit keras di atas aspal basah, menerobos gerbang mansion Veldens yang terbuka otomatis, meninggalkan sosok Damara yang berdiri mematung di tengah hujan deras dengan sorot mata penuh amarah campur panik yang mengerikan.
Kayna menyetir dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan ibu kota yang sepi dan gelap di bawah amukan badai. Dadanya sesak, jantungnya berdegup tak keruan, dan pikirannya dipenuhi oleh rasa benci serta ketakutan. Air mata terus-menerus mengaburkan pandangannya, membuat lampu-lampu jalanan tampak pudar dan buram di balik kaca depan yang terus diguyur air hujan deras. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari monster bernama Damara Lexander Veldens, tanpa menyadari bahwa takdir yang jauh lebih kejam sedang menunggunya di persimpangan jalan di depan sana.
...●Bersambung●...