"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN DI BALIK KABUT
Satu minggu berlalu sejak insiden di koridor kampus.
Hidup Queen kini terasa seperti berada di dalam sangkar emas yang dijaga ketat.
Apartemennya dipenuhi dengan sistem keamanan tercanggih, dan setiap langkahnya selalu dipantau oleh para pengawal yang disewa Arga.
Meskipun awalnya Queen merasa terkekang, ia mulai memahami bahwa paranoia Arga bukanlah tanpa alasan.
Keysha adalah predator yang terluka, dan predator yang terluka selalu menjadi yang paling berbahaya.
Namun, di tengah pengawasan ketat itu, sebuah kejanggalan mulai muncul.
---
Pagi itu, Arga sedang berada di universitas untuk pertemuan senat yang cukup alot.
Queen, yang bosan karena harus berdiam diri di unit apartemen, memutuskan untuk memesan pesanan daring dari toko roti favoritnya.
Karena sistem keamanan yang super ketat, pengawal pribadi Queen harus turun ke lobby utama untuk mengambil paket tersebut.
Saat pengawal itu pergi, intercom di unit apartemen Queen berbunyi.
"Paket untuk penghuni unit 1204," suara seorang pria terdengar dari speaker.
Queen, yang saat itu sedang berada di ruang tamu, menatap layar monitor CCTV di dinding.
Di layar, seorang kurir dengan topi tertunduk rendah berdiri di depan pintu.
Queen merasa aneh.
Prosedur keamanan mereka mengharuskan semua kurir meninggalkan paket di meja resepsionis lobby, bukan di depan pintu unit.
"Tinggalkan saja di bawah, Mas.
Nanti pengawal saya yang ambil," sahut Queen melalui speaker.
Pria di depan pintu itu terdiam sejenak.
Ia tidak beranjak.
Sebaliknya, ia menempelkan sesuatu ke lubang intip pintu.
Queen yang merasa ada yang tidak beres segera menjauh dari pintu dan meraih ponselnya untuk menghubungi Arga.
'Klik.'
Pintu apartemen Queen yang seharusnya terkunci rapat oleh sistem smart lock tingkat tinggi mendadak terbuka dengan paksa.
Bukan karena kuncinya jebol, melainkan karena seseorang berhasil meretas sistem keamanan digitalnya.
Dua orang berpakaian serba hitam masuk ke dalam.
Mereka bukan Keysha, bukan pula orang suruhan biasa.
Mereka bergerak dengan teknik militer yang presisi.
Queen menjerit, namun dengan cepat salah satu dari mereka membekap mulutnya.
"Jangan bergerak kalau mau anakmu selamat!"
ancam salah satu pria itu dengan suara berat yang disamarkan.
Jantung Queen seolah berhenti berdetak.
Ancaman itu begitu nyata.
Ia tidak lagi memikirkan dirinya sendiri; insting keibuannya langsung menguasai.
Ia berhenti meronta, membiarkan mereka menggiringnya menuju pintu keluar darurat yang sudah disiapkan.
---
Di kantor rektorat, Arga mendadak merasakan firasat buruk yang luar biasa.
Ponselnya yang terhubung dengan sistem keamanan apartemen menunjukkan notifikasi 'System Breach'.
Darahnya mendesak naik ke kepala.
Ia tidak menunggu rapat senat selesai.
Ia langsung berdiri, membalikkan meja rapatnya hingga kacau, dan berlari menuju mobilnya.
"Sialan!" umpat Arga.
Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, mengabaikan lampu merah di sepanjang jalan menuju apartemen.
Ia menghubungi Alya.
"Alya! Ke apartemen Queen sekarang! Sistem keamanannya ditembus!"
"Apa?! Mas, aku lagi di jalan menuju ke sana!" sahut Alya panik dari seberang telepon.
Arga tiba di apartemen dalam waktu sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh tahun.
Ia melompat keluar dari mobil, berlari masuk ke lobby tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Ia menaiki tangga darurat, menghantam pintu unitnya yang sudah terbuka lebar.
Apartemen itu kosong.
Namun, di lantai, ia menemukan sesuatu yang membuatnya hampir kehilangan kewarasan.
Sebuah pin kecil berbentuk bunga kamboja—simbol yang dulu sering dipakai Keysha sebagai aksesori rambut.
"Keysha..." desis Arga, rahangnya mengetat hingga terdengar suara retakan.
Ia tidak membuang waktu.
Ia tahu Keysha tidak bekerja sendiri.
Ia mengeluarkan ponselnya, menghubungi detektif swasta yang selama ini ia sewa untuk mengawasi pergerakan mantan istrinya.
"Lacak keberadaan Keysha sekarang juga!
Gunakan semua sumber daya yang kita punya!"
perintah Arga dengan suara yang menakutkan.
---
Sementara itu, Queen disekap di sebuah gudang tua di pinggiran Jakarta yang lembap.
Ia diikat di sebuah kursi kayu, mulutnya ditutup lakban.
Di hadapannya, Keysha duduk di atas sofa rusak dengan segelas anggur di tangannya.
Penampilan Keysha kini sangat kacau, tampak seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya.
"Lucu sekali," ujar Keysha, berjalan mendekat dan menyentuh perut Queen dengan ujung jarinya.
"Kamu pikir kamu bisa memenangkan Arga?
Kamu pikir kamu bisa memiliki keluarga bahagia sementara aku hancur?"
Keysha mendekatkan wajahnya ke telinga Queen.
"Aku tidak akan membunuhmu, Queen.
Itu terlalu mudah. Aku akan membuat Arga melihat bagaimana kamu dan anak itu menderita perlahan-lahan. Aku akan merekam semuanya dan mengirimkannya kepada Arga."
Queen meronta hebat, air matanya mengalir deras.
Ia tidak takut mati, tapi ia takut kehilangan anaknya.
"Oh, jangan menangis,"
Keysha menyeringai, lalu mengeluarkan ponselnya untuk mulai merekam.
"Ayo, katakan selamat tinggal pada masa depanmu."
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari pintu gudang.
'Brak!'
Pintu kayu itu hancur berkeping-keping akibat tendangan kuat.
Di sana, Arga berdiri dengan mata yang dipenuhi oleh api kemarahan yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya.
Di belakangnya, Alya dan beberapa pengawal bersenjata sudah bersiap.
"Lepaskan dia, Keysha!"
teriak Arga, suaranya menggetarkan seisi gudang.
Keysha tertawa lepas, ia menarik pisau lipat dari sakunya dan menempelkannya ke leher Queen.
"Jangan mendekat, Arga!
Atau aku akan mengiris leher mahasiswi kesayanganmu ini sekarang juga!"
Arga berhenti.
Napasnya memburu.
Ia tahu, satu langkah salah bisa berakibat fatal bagi Queen dan bayinya.
"Keysha, dengarkan aku,"
Arga mencoba menenangkan situasi, suaranya kini melunak, penuh tipu daya.
"Kamu ingin harta? Aku akan berikan semuanya.
Kamu ingin aku kembali? Kita bisa bicarakan ini.
Asalkan kamu lepaskan Queen sekarang."
"Kamu bohong!"
teriak Keysha, tangannya gemetar karena panik.
"Kamu cuma peduli pada wanita ini!"
"Tidak,"
Arga melangkah maju pelan, fokusnya terbagi antara pisau di leher Queen dan posisi Alya yang sedang bergerak dari sisi kanan.
"Aku peduli pada nyawa ,nyawa kamu, nyawaku, dan nyawa mereka, keysha, sudah cukup, kamu sudah kalah. Jangan buat dirimu semakin dalam terjerumus ke jurang kehancuran."
Di saat perhatian Keysha teralihkan oleh kata-kata Arga, Alya memberikan kode pada pengawal.
Dalam sepersekian detik, sebuah tembakan bius mengenai bahu Keysha.
Wanita itu terhuyung, pisaunya terlepas dan melukai lengan Queen sedikit, sebelum akhirnya tubuhnya ambruk ke lantai.
Arga berlari secepat kilat, menyambar Queen dan memutus ikatan di tubuhnya.
Ia mendekap Queen dengan erat, memastikan bahwa gadis itu masih bernapas.
"Aku di sini... aku di sini, sayang," bisik Arga, air mata pertamanya menetes di bahu Queen.
Queen menangis histeris di pelukan Arga, merasa seluruh dunianya baru saja runtuh dan dibangun kembali dalam satu malam.
Malam itu, di dalam gudang yang dingin, mereka menyadari bahwa meski musuh mereka sudah tumbang, trauma yang mereka alami akan membekas jauh lebih lama.
Dan mereka tahu, satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan tidak pernah melepaskan satu sama lain.
recom lah pokoknyaa