Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.
Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.
Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.
"Maap Om, Al nda senaja."
Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.
"Kamu ... ."
"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."
Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.
Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSP 09
"Ah aku nggak nyangka deh, Kak Kael ngajak aku ke tempat kayak gini. Aku pikir kita cuma mau jalan-jalan ke mall kayak biasanya," ucap Iras dengan wajah yang riang dan penuh semangat.
Bagi wanita muda itu, perkembangan kedekatan dirinya dengan Kael sungguh sangat cepat. Ide Izar untuk terus mendekati Griz, benar-benar membuahkan hasil yang nyata.
Meski Kael masih bersikap datar dan dingin kepadanya, namun bukti bahwa Kael mau mengajak Iras keluar adalah perkembangan yang sangat luar biasa. Ditambah lagi Kael membawanya ke tempat wisata yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Kawasan Bandung yang bukan di wilayah kota, tepatnya di kawasan Ciwidey dan juga Kawah Putih, merupakan tempat wisata yang terkenal dan juga banyak sekali didatangi oleh pelancong. Tak pernah terbayangkan bahwa seorang Kaelus Danurwenda akan membawa wanita ke tempat tersebut, meski dengan dalih perintah sang ibu.
"Jangan berlebihan, aku cuma nurutin kata Mami yang katanya bosen kalau cuma datang ke tempat yang itu-itu aja. Aku mau nyari kopi dulu, kalau kamu mau di sini ya di sini aja. Kalau mau ikut ya ikut,"ucap Kael dengan nada bicara dingin yang khas.
Tentu saja Iras tidak mau ditinggal sendirian. Waktu bersama Kael adalah waktu yang sangat berharga sehingga tak bisa dilewatkan.
Ia pun berlari kecil, menyusul Kael yang sudah berada jauh di depan. Pria itu ternyata memasuki salah satu restoran yang cukup besar diantara yang lainnya. Tampak berkelas dan juga nyaman. Salah seorang waitress menghampiri Iras dan Kael yang duduk di sebelah meja.
"Silakan Bapak dan Ibu menunya," ucap waitress yang tak lain adalah Esih. Dia sebenarnya sangat mengkhawatirkan Rosa yang mendadak pucat dan berkeringat dingin. Ingin sekali Esih menghampiri Rosa untuk memastikan kondisi sang teman. Namun pekerjaan sekarang sungguh sangat tidak bisa ditinggal.
"Aku mau kopi hitam panas tanpa gula. Sudah itu aja," jawab Kael tanpa membuka buku menu yang diberikan oleh Esih.
"Baik, lalu Ibu?"
"Ah aku mau roti kukus dengan isian coklat dan coklat panas."
"Saya ulang ya pesanannya. Satu Kopi hitam panas tanpa gula, satu coklat panas dan satu roti kukus dengan isian coklat. Baik, jika masih ada yang dinginkan Bapak dan Ibu bisa memanggil saya. Mohon ditunggu untuk pesanannya ya. Terimakasih."
Esih berjalan cepat menuju ke dapur untuk memberikan pesanan dari meja Kael. Setelah itu, dia kemudian berlari kecil mencari keberadaan Rosa.
Seperti dugaannya, Rosa berada di ruang istirahat. Melihat wajah Rosa yang sekarang, semakin membuat Esih khawatir. Pasalnya Rosa semakin pucat dan keringat dingin yang mengucur tak kunjung berhenti.
"Ya ampun Kak Ros, kenapa jadi gini? Tadi kalau sakit, Kakak seharunya nggak usah berangkat. Duuuh kumaha ieu teh. Aku anter Kakak pulang aja ya,"ucap Esih khawatir. Dia meraih tisu dan mengusap wajah serta leher Rosa yang basah oleh keringat.
"Aku nggak apa-apa kok Esih. Nanti juga baik-baik aja. Aku akan istirahat di sini sebentar."
"Nggak ya, nggak ada Kak. Kakak jelas-jelas pucet banget gini. Udah aku anterin aja. Aku izin sama Pak Sandro dulu ya. Udah jangan ngeyel atuh Kak, kondisi Kakak sekarang bener-bener nggak baik. Kakak harus pulang dan istirahat."
Rosa ingin menyangkal lagi ucapan Esih dan bersikeras ingin tetap berada di restoran, tapi Esih sudah berlalu cepat dari pandangannya.
Tak berselang lama, Esih datang lagi. Tapi kali ini tak sendirian. Esih datang bersama dengan Sandro.
"Kamu sakit, Ros?" tanya Sandro sambil mengamati wajah salah satu anak buahnya itu.
"Nggak Pak, Esih cuma melebih-lebihkan. Sebentar saja saya pasti udah baikan lagi."
"Nggak Pak San, lihat aja wajahnya. Udah pucet gitu. Dari tadi juga keringat dinginnya nggak udah-udah."
Esih menyahut ucapan Rosa dengan begitu cepat. Dia merasa sedikit kesal karena Rosa masih berkata bahwa dirinya baik-baik saja padahal jelas-jelas sedang tidak dalam konsisi baik.
"Esih, kamu anterin Rosa untuk pulang," ucap Sandro pada akhirnya.
"Siap, Pak."
Esih bergerak cepat. Dia mengambil tas milik Rosa dan bergegas memapah Rosa. Rosa pun juga tidak mengelak, dia menurut dengan Esih. Terlebih Esih benar-benar mengkhawatirkannya.
"Kak, pegangan yang kenceng ya. Apa aku harus ambil kain buat iket Kakak."
"Nggak usah, aku bukan bayi. Aku masih bisa pegangan. Makasih ya Sih, maaf jadi ngrepotin kamu."
Rosa benar-benar merasa sangat menyesal karena kembali merepotkan orang lain atas apa yang dirasakannya. Dia tak menyangka bahwa rasa itu masih saja membelenggunya. Takut, jijik, dan merasa bahwa dirinya begitu kotor. Ingatan malam itu tentang pria yang memaksanya dengan sangat beringas sungguh membuat psikisnya terkoyak.
Butuh waktu lama bagi Rosa untuk berhenti menangis sendirian di tengah malam. Butuh waktu lama baginya itu tidak menggosok dengan keras tubuhnya ketika mandi. Mau bagaimanapun juga, kenangan itu tak bisa hilang dari memorinya.
Dan hari ini, siapa sangka bahwa ia akan melihat pria itu. Pria yang melucuti pakaiannya dengan paksa. Pria yang menciumnya dengan membabi buta, dan pria yang merenggut kesuciannya tanpa menyadari bahwa dirinya sudah menangis dan memohon untuk dilepaskan.
Rosa kembali tergugu, terlebih ketika dia melihat pria itu yang tampak baik-baik saja bersama dengan seorang wanita di sisinya. Di mata Rosa, pria itu hidup baik-baik saja dan tak merasa bersalah. Sungguh berbanding terbalik dengan kehidupan sulit dan buruk yang dijalaninya setelah malam kelam tersebut.
"Kak, apa sakit banget sampai-sampai Kakak menangis?" tanya Esih yang tetap fokus mengendarai motornya.
Rosa tidak menjawab, dimana hal itu membuat Esih semakin cepat melajukan motornya hingga akhirnya sampai di rumah kecil tempat Rosa tinggal.
Esih mencari kunci rumah di tas Rosa, dia membukanya dengan cepat lalu memapah Rosa hingga ke dalam rumah. Tak hanya itu, Esih juga mengambilkan air hangat untuk Rosa dan mencari obat yang bisa ditemukan di kediaman tersebut.
Paracetamol, obat pereda nyeri itu diberikan Esih untuk Rosa. Tanpa menolak, Rosa pun meminumnya.
"Tidurlah Kak, aku akan jemput Al nanti. Kamu nggak usah mikirin apapun,"ucap Esih.
Rosa hanya mengangguk, dia membaringkan tubuhnya dan membelakangi Esih. Ternyata Rosa melanjutkan tangisnya dalam diam. Dia tak ingin Esih tahu bahwa rasa sakit dalam hatinya begitu sangat dalam.
"Kenapa, kenapa harus aku Ya Tuhan. kenapa harus aku yang mengalami hal menjijikkan ini. Tapi aku tidak membenci putra ku. Aku sangat mencintainya dan sampai kapanpun aku akan tetap mencintainya."
Rosa berkata dalam hati. Meskipun dia mengutuk kejadian malam itu, namun untuk urusan Alarik, dia sangat bersyukur karena Tuhan mengiriminya anak yang begitu luar biasa.
TBC
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara