NovelToon NovelToon
Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Identitas Tersembunyi / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 09

Kirana mulai dikenal di dapur Hotel Wijaya bukan karena ia banyak bicara.

Justru karena ia hampir tidak pernah bicara saat bekerja.

Ia datang tepat waktu, mengganti seragam, mencuci tangan, lalu bergerak dari satu station ke station lain tanpa mengeluh. Ketika disuruh memotong, potongannya rapi. Ketika diminta membantu plating, matanya tajam melihat warna dan tinggi makanan. Ketika chef bertanya rasa, ia menjawab singkat tapi tepat.

Hal itu membuat sebagian staf menyukainya.

Dan membuat sebagian lain semakin tidak nyaman.

Bowo adalah yang paling terlihat.

"Hari ini kamu tidak perlu ikut private dining," katanya ketika Kirana baru selesai menyiapkan bumbu. "Ada pekerjaan lain."

Kirana melihat jadwal di papan. Namanya jelas tertulis di bawah private dining pukul dua belas.

"Chef Arman yang menulis jadwal."

"Saya senior di sini."

"Tapi bukan yang membuat jadwal."

Bowo menatapnya tajam. "Kamu mulai merasa tinggi?"

"Aku hanya membaca papan."

Lala yang lewat membawa tray pastry menunduk cepat agar tidak ikut terseret.

Bowo mendekat dan menurunkan suara. "Kamu pikir karena satu dua tamu memujimu, kamu bisa melangkahi saya?"

Kirana menatapnya. "Aku tidak melangkahi siapa pun. Aku bekerja."

"Kamu lupa siapa yang memasukkanmu ke hotel ini."

"Aku tidak lupa. Tapi yang membuatku bertahan bukan Bapak."

Wajah Bowo memerah.

Sebelum ia membalas, Chef Arman masuk.

"Kirana, kenapa masih di sini? Private dining mulai prep."

Bowo langsung mengubah wajah. "Saya tadi hanya memberi arahan, Chef."

Chef Arman melihat keduanya bergantian. "Arahan yang membuat staf tidak datang ke station?"

"Bukan begitu..."

"Kirana, ke station."

"Baik, Chef."

Kirana pergi tanpa menoleh.

Hari itu tamu private dining adalah rombongan kecil dari Mahendra Group. Bima hadir, tetapi tidak banyak bicara. Ia duduk bersama dua direktur lain, sementara satu kursi di ujung meja kosong.

Kirana tidak tahu kursi itu seharusnya untuk siapa.

Di dapur, ia membantu membuat menu pembuka: sup bening rempah dengan udang, jahe, serai, dan sedikit daun kelor. Resep itu sebenarnya ide yang ia usulkan pada Chef Arman untuk menu pemulihan, bukan menu utama hotel. Chef Arman ingin menguji respons tamu.

Saat sup disajikan, Bima mencicipi satu sendok.

Ia diam sebentar.

"Siapa yang membuat base rempahnya?"

Pak Dimas yang mendampingi service menjawab, "Staf baru kami, Pak. Kirana."

Bima menatap sup itu.

"Panggil dia sebentar."

Di dapur, Bowo mendengar permintaan itu dan wajahnya langsung berubah.

Kirana keluar dengan celemek bersih, berdiri sopan di dekat pintu ruang private.

"Selamat siang, Pak."

Bima mengangguk. "Ini bukan rasa hotel biasa."

Kirana menahan napas. Ia belum tahu itu pujian atau kritik.

"Terlalu kuat?"

"Tidak. Justru hangat. Ada jahe, serai, daun kelor, sedikit pala?"

Kirana terkejut. "Iya, Pak."

"Kamu belajar dari mana?"

"Dari beberapa tempat, Pak. Dulu saya sering membantu membuat menu pemulihan untuk orang yang baru sembuh."

"Menarik. Hotel ini seharusnya punya lini wellness menu."

Pak Dimas langsung mencatat.

Bima melanjutkan, "Kirim proposal sederhana. Tidak perlu panjang. Tiga menu dulu. Kalau masuk akal, kami akan bahas dengan manajemen."

Kirana tidak menyangka. "Saya, Pak?"

"Kamu yang membuat, kan?"

"Iya."

"Maka kamu yang menulis."

Kirana mengangguk. "Baik, Pak."

Setelah ia kembali ke dapur, Bowo berkata sinis, "Baru juga bisa bikin sup, sudah diminta bikin proposal."

Kirana membuka laci, mengambil catatan kecil. "Kalau Bapak mau ikut menulis, boleh."

Bowo terdiam, karena ia tahu tidak bisa.

Malam itu Kirana membawa pulang kertas-kertas bekas dari kantor HR untuk menulis proposal. Di kontrakan, Raka sedang memasang rak plastik kecil yang katanya dibeli murah.

Rak itu miring.

Kirana berdiri di pintu cukup lama.

"Kamu yakin itu rak?"

Raka mundur dua langkah, melihat hasil kerjanya. "Untuk sementara."

"Untuk sementara sampai roboh?"

"Saya akan perbaiki."

Kirana meletakkan tas dan tertawa pelan. "Kamu memang tidak cocok kerja teknis."

"Saya punya kelebihan lain."

"Apa?"

"Membaca laporan keuangan."

Kirana melempar serbet ke arahnya.

Mereka makan nasi, telur dadar, dan sambal kemasan. Setelah itu Kirana mulai menulis proposal menu wellness. Raka duduk di depannya, pura-pura membaca sesuatu, padahal matanya berkali-kali jatuh ke catatan Kirana.

"Kamu mau bantu atau mau mengawasi?"

"Boleh bantu?"

"Kamu tahu soal menu hotel?"

"Sedikit."

"Semua hal kamu tahu sedikit."

"Lebih baik daripada tidak tahu sama sekali."

Kirana mendorong kertas. "Baik. Baca."

Raka membaca catatan itu. Tulisan Kirana rapi. Ia membagi menu menjadi tiga: sup rempah pemulihan, nasi tim herbal modern, dan minuman kunyit asam sparkling untuk tamu spa.

"Ini bagus," kata Raka.

"Jangan asal memuji."

"Aku tidak asal."

"Apa yang bagus?"

Raka menunjuk bagian target tamu. "Kamu tidak menjualnya sebagai obat. Kamu menjual pengalaman sehat yang tetap aman untuk hotel. Itu tepat."

Kirana terdiam.

Komentarnya terlalu profesional.

"Kamu yakin cuma sedikit tahu?"

Raka mengembalikan kertas. "Saya sering mendengar orang kantor membahas produk."

"Bima lagi?"

"Iya."

Kirana menyandarkan punggung. "Temanmu itu seperti sumber semua jawaban."

"Dia memang banyak fungsi."

"Kasihan Bima."

Raka tersenyum.

Ponsel Kirana berdering. Kali ini dari Pak Hendra.

Ia menatap layar cukup lama sebelum mengangkat.

"Halo."

Suara Pak Hendra terdengar kaku. "Besok malam kamu datang ke rumah."

"Untuk apa?"

"Ada makan keluarga. Nadira juga ada. Kita perlu membicarakan kelanjutan hubunganmu dengan Raka."

Kirana memejamkan mata. "Aku kerja."

"Minta izin."

"Tidak bisa semudah itu."

"Kirana, jangan membuat Papa..."

Kirana membuka mata. "Jangan panggil dirimu Papa kalau hanya butuh aku datang saat ada kepentingan."

Di ujung sana hening.

Raka mengangkat wajah.

Pak Hendra menahan suara. "Kamu masih marah."

"Aku sedang hidup."

"Datanglah. Ini penting."

"Penting untuk siapa?"

Pak Hendra tidak menjawab langsung. "Ada orang dari keluarga Mahendra yang mungkin hadir."

Kirana menatap Raka.

Raka juga menatapnya.

"Keluarga Mahendra?" ulang Kirana.

"Ya. Urusan bisnis dan... mungkin urusan Raka."

Panggilan berakhir setelah Pak Hendra memberi waktu dan lokasi.

Kirana menaruh ponsel pelan.

"Raka."

"Hm?"

"Kamu tahu sesuatu tentang keluarga Mahendra?"

Raka diam sebentar. "Kenapa?"

"Pak Hendra bilang mereka mungkin membicarakan urusanmu."

"Urusanku?"

"Jangan pura-pura lebih bingung daripada aku."

Raka menatap rak plastik miring di sudut ruangan seolah benda itu bisa menyelamatkannya.

"Saya memang pernah punya hubungan dengan beberapa orang di sana."

"Hubungan seperti apa?"

"Kerja."

"Raka."

Ia menghela napas. "Kirana, kalau besok kamu datang, mereka mungkin akan mencoba membuatmu merasa kecil."

"Itu bukan hal baru."

"Jangan percaya semua yang mereka katakan."

"Tentang kamu?"

"Tentang apa pun."

Kirana menatapnya. "Kamu membuatku semakin curiga."

"Bagus. Curiga membuatmu hati-hati."

"Aku ingin percaya."

Kalimat itu keluar pelan, hampir seperti keluhan.

Raka terdiam.

Kirana menunduk ke proposalnya lagi, tapi tulisan di kertas mendadak kabur. Ia tidak tahu karena lelah atau karena rasa takut yang diam-diam tumbuh.

Raka menyembunyikan sesuatu.

Nadira sedang mencari sesuatu.

Pak Hendra tiba-tiba ingin membicarakan Raka dengan keluarga Mahendra.

Semua benang itu bergerak ke arah yang sama.

Dan Kirana, entah kenapa, mulai merasa laki-laki yang tidur di ruang depan kontrakannya mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat.

Di rumah Hendra, Nadira berdiri di depan cermin sambil mencoba anting berlian. Bu Ratna masuk dan menutup pintu.

"Besok kamu harus tenang."

"Aku selalu tenang."

"Tidak. Kalau nama Mahendra disebut, kamu tidak boleh terlihat terlalu bersemangat."

Nadira menatap ibunya dari cermin. "Mama sungguh percaya Raka punya hubungan dengan mereka?"

"Bima terlalu sering muncul di sekitar Kirana."

"Mungkin dia tertarik pada Kirana."

Bu Ratna mengerutkan kening. "Jangan bicara sembarangan."

Nadira tertawa hambar. "Kenapa tidak? Semua laki-laki sekarang seperti buta."

"Kalau Raka memang punya nilai, kamu harus mengambilnya kembali sebelum terlambat."

Nadira menyentuh anting di telinganya.

Dulu ia jijik membayangkan menikahi Raka.

Sekarang satu pertanyaan terus mengganggunya.

Bagaimana kalau laki-laki yang ia buang adalah pintu menuju keluarga Mahendra?

Dan bagaimana kalau Kirana, sekali lagi, mendapatkan sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya?

1
sukensri hardiati
ni mereka dah nikah belum sih....?
Leha Rahman
lanjut Thor 😊
Syahdu: Halo kak, yuk baca novelku I Love You Brutally🫶🏻🤍 Kisah gadis yang blak-blakan banget ke cowo yang ditaksir. Mohon Dukungannya ya😆🫶🏻🤍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!