Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sampai rumah
Deru halus mesin mobil berpadu dengan hembusan pendingin ruangan yang sejuk, menciptakan atmosfer tenang di dalam kabin.
Di kursi belakang, Diantha menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap deretan pepohonan dan bangunan kota yang bergerak mundur.
Di sampingnya, Alif, sang adik, tampak asyik dengan dunianya sendiri , jemarinya lincah bergerak di atas layar ponsel, sesekali menyenandungkan lagu yang sedang viral.
Namun, pikiran Diantha tidak benar-benar berada di dalam mobil itu..
Pandangannya yang kosong menembus kaca jendela justru melemparkannya kembali pada memori beberapa jam yang lalu di sekolah baru mereka.
Bayangan wajah Althaf mendadak melintas di benaknya.
Diantha tersenyum tipis tanpa sadar saat mengingat bagaimana cowok bertubuh jangkung itu mendekatinya dengan senyum ramah yang langsung mencairkan kegugupan Diantha, menawarkan diri untuk menjadi "pemandu wisata" dadakan..
Ia ingat betul bagaimana Althaf mengajaknya berkeliling, menunjukkan deretan laboratorium yang berbau antiseptik, perpustakaan luas yang tenang dengan aroma buku tua yang khas, hingga kantin belakang yang katanya punya siomay paling enak se-kecamatan.
Cara Althaf bercerita penuh humor dan gestur tangan yang ekspresif , berhasil membuat Diantha yang tadinya merasa terasing di lingkungan baru, menjadi jauh lebih rileks.
Althaf bahkan sengaja berjalan lambat agar Diantha bisa menyamakan langkah, sebuah perhatian kecil yang entah mengapa terasa sangat berarti bagi Diantha.
"Kak, udah sampai. Bengong terus ih dari tadi."
Suara cempreng Alif seketika membuyarkan lamunan Diantha..
Ia mengerjapkan mata dan tersadar bahwa mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti dengan sempurna di depan pagar rumah mereka yang bernuansa minimalis..
"Eh? Oh, iya," sahut Diantha agak gugup, buru-buru membenarkan letak tas ranselnya.
Pak Joko, memutar tubuhnya dari kursi kemudi sambil tersenyum ramah melalui spion tengah. "Sudah sampai Nak Diantha, nak Alif."
Diantha membuka pintu mobil, disusul oleh Alif dari sisi sebelah.
Sebelum menutup pintu, Diantha membungkuk sedikit, memberikan senyuman terbaiknya. "Makasih banyak ya, Pak Joko, sudah dijemput."
"Iya, Pak! Makasih ya, untung jemputnya cepat, Alif udah laper banget ini," timpal Alif dengan gaya khasnya yang ceplas-ceplos.
Pak Joko terkekeh pelan. "Sama-sama Nak.. Langsung masuk, istirahat dan makan siang."
Setelah mobil Pak Joko pergi, Diantha dan Alif melangkah masuk ke halaman rumah.
Aroma melati yang ditanam Mamah di pot-pot dekat teras menyambut penciuman mereka, memberikan rasa akrab yang menenangkan setelah seharian melepas energi di sekolah baru.
Rumah yang Sunyi dan Ritual Ganti Baju..
Begitu pintu depan terbuka, suasana rumah terasa sepi
sepertinya Ibu Alisa sedang mengambil jemuran di teras belakang di lantai dua rumah mereka..
"Mamah pasti nggak dengar suara mobil Pak joko , kadi nggak tau kalo kita sudah pulang," bisik Alif sambil melepas sepatu ketsnya dan menaruhnya rapi di rak..
"Iya, biarin aja , nanti juga kalo Mamah turun pasti tau kita dah ada dirumah.. Yuk, langsung ke kamar, ganti baju. Badan Kakak udah lengket banget," balas Diantha sembari melangkah menaiki tangga menuju lantai dua, diikuti Alif yang langsung ngacir ke kamarnya sendiri di yang juga berada di lantai dua..
Di dalam kamarnya yang bernuansa ungu pastel, Diantha meletakkan tas sekolahnya di atas meja belajar. Ia melepas seragam putih-abu-abunya yang terasa gerah, lalu segera membersihkan diri kilat di kamar mandi.
Setelah membasuh wajahnya yang letih dengan air dingin yang segar, ia memilih sepotong kaus oblong longgar berwarna abu abu dan celana kulot santai.
Rambut panjangnya ia ikat asal menjadi cepol atas yang rapi..