NovelToon NovelToon
Masih Ada Esok?

Masih Ada Esok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Duda / Penyelamat
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Tabina Lutfi

Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.

Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.

Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.

Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gemericik Air

Di pinggiran sungai yang jernih, Javin berjalan perlahan melintasi bebatuan licin dengan langkah berhati-hati. Ell mengekor di belakangnya dengan napas bersemangat, sementara Owen berjaga dari tepi sungai sebelum akhirnya menyusul ikut membasahi kakinya.

“Kakak, Ell boleh nyebur enggak, Kak?” tanya Ell menatap Owen penuh harap.

“Boleh, tapi di pinggir aja ya. Arusnya lumayan deras di tengah,” nasihat Owen mengingatkan. Begitu mendapat izin, tanpa ragu Ell langsung menceburkan kakinya ke dalam air dingin.

“Kak Javin!” seru Ell mendadak, membuat Javin menoleh. “Bantu tangkap ikan ini!” lanjutnya menunjuk bayangan kecil yang berenang cepat di sela-sela batu.

Javin melangkah mendekat, membungkuk perlahan, dan dengan gerakan sigap berhasil menangkap seekor ikan kecil.

“Yeyy!!” sorak Ell gembira sambil bertepuk tangan.

“Tangkap yang banyak, Vin! Nanti malam kita bakar-bakar!” seru Owen dari arah berlawanan seraya mengacungkan jempolnya.

“Ya kalau gitu bantuin lah, Bang!” balas Javin tertawa. Tak lama, ketiganya larut dalam keasyikan menangkap ikan bersama di bawah naungan pepohonan rindang.

Sementara itu di sebuah restoran, Jaya dan Lily sedang menikmati makanan mereka. Namun sejak tadi, perhatian Lily tak sepenuhnya tertuju pada makanan. Ia terus memandangi wajah papinya dengan tatapan ragu, seolah ada beban berat yang menuntut untuk diucapkan.

Jaya akhirnya menyadari tatapan intens putrinya itu. “Kenapa lihatin Papi terus? Papi tahu kok kalau Papi ganteng,” ucapnya percaya diri seraya mengusap dagunya.

Lily tertawa kaku, berusaha menutupi kegugupannya.

“Kenapa? Ada yang pengin kamu omongin?” tanya Jaya mengikis jarak.

Lily menarik napas panjang. “Soal bekas lipstik itu... beneran punya Mami, Pih?” tanyanya pelan.

Jaya mendadak meletakkan sendoknya. 'Apa dia curiga?' batin Jaya bertanya-tanya sebelum akhirnya membalas dengan senyum tenang. “Iya, Sayang. Kamu enggak percaya sama Papi?” tanya Jaya, menyudutkan Lily secara halus.

“Enggak gitu... Lily cuma takut aja,” balas Lily merasa bersalah, lantas menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Takut apa?”

“Takut Papi... punya pacar lagi,” aku Lily jujur.

Jaya tertawa kecil menanggapi kepolosan putrinya. “Ya enggak lah, Sayang. Cinta Papi itu udah habis buat kalian berlima dan Mami. Papi enggak ada kepikiran sama sekali buat cari pacar baru,” tegas Jaya mencoba meyakinkan.

“Tapi Lily juga takut...” Lily mendadak terdiam, menghentikan kalimatnya di udara.

Jaya semakin penasaran. “Takut apa lagi, Sayang?”

Lily menggeleng pelan, memilih menyuap makanannya kembali.

“Takut Papi bohong sama kita...” gumam Lily amat lirih—sebuah bisikan hati yang tak sempat terdengar oleh pendengaran Jaya.

Deru ombak menyambut kedatangan Wafa dan Rafa di pantai. Tanpa buang waktu, Wafa langsung berlari menyongsong gulungan air laut, sementara Rafa memilih duduk di atas pasir hangat yang berjarak lumayan jauh.

Pandangan Rafa tak lepas dari sosok adiknya yang sedang tertawa lepas menepuk air. 'Senang banget bisa lihat Lo ketawa tanpa beban gini, Waf. Tolong bertahan lebih lama ya...' batin Rafa tulus. Rasa panas mendadak menjalar di sudut matanya, menahan air mata yang mendesak keluar.

“NGAPAIN BENGONG, BANG? SINI!!” teriak Wafa dari kejauhan melambaikan tangan.

Mendengar seruan itu, Rafa menyapu matanya cepat lalu bangkit berlari menghampiri Wafa. Keduanya pun larut dalam permainan air, saling menyiram dan tertawa membelah suasana sore.

Namun, tiga puluh menit kemudian, tawa Wafa mendadak terputus. “Aduhh...” bisiknya memegangi perut bagian atasnya.

“Kenapa, Waf?! Ada yang sakit?” tanya Rafa panik seketika, menghampiri dengan raut wajah tegang.

Wafa berusaha mengulas senyum tipis. “Enggak, Bang... Gue cuma capek. Gue istirahat dulu ya di sana,” alibi Wafa seraya melangkah lambat menuju tempat tas mereka tergeletak.

Rafa memandangi punggung adiknya yang berjalan agak membungkuk. “Minumnya ada di dalam tas gue, Waf!” teriak Rafa memastikan.

Begitu mendudukkan tubuhnya di atas pasir, Wafa meringis pelan sambil sesekali memukul dadanya yang terasa dihantam beban berat. "Ya Tuhan... bisa enggak sih kalau mau sakit gini pas malam aja? Enggak enak banget siang-siang lagi asyik main tiba-tiba kumat gini," gumam Wafa kesal pada kondisinya sendiri.

Ia memejamkan mata sejenak menetralkan sesak, lalu berseru menyamarkan kondisinya, “Bang Rafa!!”

Rafa bergegas berlari menghampiri. “Kenapa?”

“Gue lapar,” celoteh Wafa santai.

Rafa bernapas lega, meredakan kepanikannya. “Ayo. Lo mau makan apa?”

“Makan apa aja deh. Tapi gue pengin minum es kopi susu... pasti segar banget,” ujar Wafa membayangkan kenikmatan minuman dingin itu.

Rafa membelalakkan mata, emosinya seketika naik ke permukaan. “Lo gila ya, Waf?!” bentak Rafa marah.

Setelah selesai makan, Lily membuka percakapan untuk memecah keheningan di antara mereka. “Pih, kita masih harus beliin Lego sama makanan pesanan adek-adek.”

“Ya udah, ayo kita pergi sekarang. Nanti keburu kemalaman,” jawab Jaya seraya bangkit dari duduknya.

Mereka pun berjalan menuju toko Lego dan gerai dessert di sekitar area tersebut. Setelah puas memilih semua barang dan makanan yang dititipkan, keduanya akhirnya berjalan menuju parkiran untuk pulang.

Di dalam mobil, suasana mendadak lengang. Hanya terdengar gumpalan suara mesin sedan yang melaju halus membelah jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalan. Beberapa kantong belanjaan berisi Lego pilihan Ell serta aneka dessert termasuk Dubai chewy cookie pesanan si bungsu tergeletak rapi di jok belakang.

Lily menyandarkan kepalanya di kaca jendela, menatap lampu jalanan yang membayang buram. Percakapan di restoran tadi masih terngiang-ngiang jelas di kepalanya. Pengakuan Papinya bahwa "cinta Papi udah habis buat kalian berlima dan Mami" seharusnya membuat hatinya tenang. Tapi entah mengapa, rasa ganjil itu masih bersarang di dadanya.

"Kok ngelamun terus? Masih mikirin soal bekas lipstik itu?" tanya Jaya lembut, meretakkan keheningan. Tangannya yang sebelah kiri terulur mengusap pelan puncak kepala Lily.

Lily tersentak kecil dari lamunannya, lalu menggeleng cepat seraya mengulas senyum tipis. "Enggak kok, Pih. Cuma... capek aja."

"Beneran cuma capek? Bukan karena takut Papi bohong?" goda Jaya dengan nada bercanda, meski matanya tetap fokus menatap jalanan di depan.

Jantung Lily berdesir pelan. Ia menoleh menatap profil samping wajah papinya yang tampak tenang. 'Papi denger gumaman aku tadi?' batin Lily cemas.

Sebelum Lily sempat menjawab, ponsel Jaya yang ditaruh di dekat tuas transmisi tiba-tiba berdering nyaring. Sebuah nama kontak tanpa foto profil terpampang di layarnya.

Mata Lily refleks tertuju pada nama yang tertera di layar ponsel tersebut. Senyum di wajah Jaya mendadak memudar tipis, berganti dengan raut wajah yang sulit diartikan. Tanpa mengangkat panggilan itu, Jaya dengan cepat mematikan suaranya dan menaruh ponselnya telungkup di konsol tengah.

"Kok enggak diangkat, Pih? Siapa tahu penting," tanya Lily dengan nada penuh selidik, berusaha menahan getar di suaranya.

"Ah, enggak... paling cuma telepon dari kolega kantor soal pekerjaan. Ini kan hari libur, Papi enggak mau itu nganggu waktu kencan kita," jawab Jaya santai, diiringi tawa kecil yang terdengar sedikit dipaksakan di telinga Lily.

Lily mengepalkan jemarinya di atas pangkauan. Keraguan yang tadi sempat mengendur kini kembali membakar dadanya. Papi yang ia kenal biasanya selalu terbuka jika ada urusan pekerjaan, tapi sikap terburu-buru menyembunyikan ponsel itu membuat kecurigaan Lily makin tebal.

"Pih..." panggil Lily lirih.

"Iya, Sayang?"

"Papi beneran sayang kan sama kita semua? Papi enggak akan nyembunying apa pun dari Lily dan yang lain kan?" tanya Lily, menatap Papinya dengan mata berkaca-kaca.

Jaya menghentikan kemudi sejenak ketika lampu lalu lintas berganti merah. Ia memutar tubuhnya menghadap Lily, menatap putrinya itu dengan tatapan mata yang amat dalam dan penuh kasih.

"Lily, dengar Papi ya," ujar Jaya lembut, memegang kedua belah tangan Lily yang terasa dingin. "Papi mungkin bukan orang tua yang sempurna. Tapi Papi janji, semua yang Papi lakukan... itu semua demi kebaikan dan kebahagiaan kalian. Papi enggak akan pernah khianatin memori Mami atau rasa sayang Papi ke kalian."

Lily menelan ludah, berusaha menyerap setiap kata yang diucapkan sang papi. Di balik kehangatan tatapan itu, ada sesuatu yang tersimpan rapat—sebuah rahasia yang Jaya jaga demi melindungi anak-anaknya.

"Udah ya, jangan dipikirin lagi. Kasihan yang lain udah nungguin di rumah," lanjut Jaya tersenyum hangat seraya kembali melajukan mobil begitu lampu berubah hijau.

Lily mengangguk pelan, menyunggingkan senyum paksa. Ia memilih kembali menatap keluar jendela, membiarkan keheningan menyelimuti sisa perjalanan mereka pulang. Di dalam hatinya, Lily hanya bisa berdoa, berharap ketakutannya hanyalah prasangka buruk belaka.

Kembali ke Rafa dan Wafa, keduanya telah selesai makan.

“Udah kenyang belum?” tanya Rafa.

Wafa mengangguk pelan.

Rafa menatap adiknya dengan raut wajah gusar. “Lain kali jangan makan apa pun yang udah dilarang sama dokter, Waf! Gue pengin Lo sembuh!” tegurnya dengan nada menggebu-gebu.

Wafa berdecak pelan, memasang wajah tanpa dosa. “Lagian kalau udah waktunya mati, ya bakal mati juga, Bang,” jawab Wafa santai.

“Gak usah ngomong sembarangan!” semprot Rafa kesal, tak sanggup mendengar jawaban pasrah dari adiknya. Ia menarik napas panjang untuk menetralkan emosi. “Udah, jangan bahas itu lagi. Sekarang temenin Abang cuci motor.”

Ajakannya itu mendapat sambutan hangat dari Wafa. Keduanya pun asyik mencuci motor sport hitam milik Rafa di pencucian umum. 

Suasana hangat menyelimuti mereka saat sesekali canda tawa pecah di tengah cipratan air. Tanpa aba-aba, Rafa tiba-tiba mengarahkan ujung selang dan menyemprotkan air ke tubuh Wafa.

“Lah, apa-apaan nih, Bang?! Enggak gini juga dong!” protes Wafa terperanjat, sementara Rafa tertawa terbahak-bahak melihat adiknya basah kuyup.

“Lo kan dari tadi pagi belum mandi!” ledek Rafa puas.

“Ya tapi enggak gini juga caranya!” Wafa merebut selang yang dipegang Rafa lalu balas menyemprotkan airnya ke arah sang kakak. Namun, bukannya menghindar, Rafa hanya berdiri diam sambil tersenyum hangat menatap wajah ceria sang adik di balik terpaan air.

Pukul 17.10, Owen, Javin, dan Ell akhirnya tiba di rumah. Tangan Owen dan Javin tampak kerepotan membawakan ember berisi ikan hasil tangkapan dari sungai, sedangkan Ell berjalan bangga paling depan sambil menggenggam erat toples plastik kecil berisi seekor ikan cupang berwarna merah.

Kondisi ketiganya sudah tidak karuan. Sekujur tubuh Ell basah kuyup dari ujung kepala sampai kaki, sementara celana dan kaus Owen maupun Javin setengahnya basah oleh cipratan air sungai.

Melihat pintu depan yang masih terkunci rapat, Owen berdecak pelan seraya memindahkan ember ke tangan kirinya. “Belum pada pulang juga ternyata. Betah banget jalan-jalan di luar,” gumam Owen kesal sebelum akhirnya merogoh saku untuk mengambil kunci dan membuka pintu.

“Sabar, Bang. Siapa tahu mereka masih di jalan,” balas Javin menenangkan seraya melangkah masuk mengekor di belakang Owen.

“Ya udah, kalian pada mandi dulu sana,” perintah Owen seraya menaruh ember di lantai ruang tengah.

Mereka pun beranjak untuk membersihkan diri. Saat menyalakan lampu kamar mandi, pandangan Owen mendadak terhenti pada sebuah benda mengilap yang tergeletak di samping wastafel. Ia melangkah mendekat lalu memungutnya.

“Lho... jam tangan punya siapa nih?” gumam Owen heran.

Saat membolak-balik jam tangan rantai perak berdesain maskulin itu di bawah temaram lampu, ingatan Owen langsung berputar. 'Ini kan... jam tangan punya Julian?' batinnya. Owen teringat saat kemarin malam Julian, numpang mandi di kamar mandinya. Jam tangan ini pasti tertinggal di sana. 

Tak lama setelah Owen, Javin, dan Ell yang sudah ganti baju bersih kembali berkumpul di ruang tengah untuk memandangi ikan hasil buruan mereka, suara deru mesin mobil Jaya terdengar masuk ke pekarangan rumah, disusul raungan standar motor sport milik Rafa.

Pintu depan kembali terbuka. Jaya dan Lily melangkah masuk membawa kantong belanjaan berisi Lego dan dessert, disusul Rafa dan Wafa yang pakaiannya tampak agak basah setelah baru saja asyik menyemprot air saat mencuci motor di halaman.

Melihat kedatangan adik perempuannya, Owen mendekati Lily yang sedang menaruh barang belanjaan di meja.

“Dek,” panggil Owen pelan seraya mengeluarkan jam tangan perak dari sakunya. “Ini jam tangan Julian, kan? Ternyata ketinggalan di kamar mandi kakak. Mau kamu yang simpan atau gimana?”

Melihat benda itu, raut wajah Lily yang tadinya cerah seketika berubah agak sendu. Bayangan kemarahan Julian tadi siang dan tuduhan cemburunya soal Javin kembali terngiang.

“Taruh di kamar Lily aja deh, Kak. Nanti biar Lily yang balikin ke Lian,” jawab Lily lirih seraya menerima jam tangan tersebut. 

Javin yang duduk tak jauh dari sana sempat melirik sebentar, namun memilih pura-pura sibuk membukakan kemasan Lego milik Ell.

Sementara itu, Rafa berjalan mendekati kerumunan Javin dan Ell yang sedang lesehan di atas karpet. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap ember besar yang berisi air kecokelatan di dekat meja.

Rafa berjongkok, menyipitkan mata menatap beberapa ekor ikan yang berenang ke sana kemari di dalamnya. “Ini ikan hasil nangkep di sungai?” tanya Rafa heran seraya menunjuk ke dalam ember.

Mendengar pertanyaan abangnya, Ell yang sedang memeluk toples ikan merahnya langsung mendongak dengan wajah berseri-seri.

“Iya, Bang! Kak Javin sama Kak Owen jago banget nangkepnya!” seru Ell bersemangat, melompat berdiri dari karpet. “Bang Rafa, Papi, Kak Lily... ayo nanti malam kita bakar-bakar ikannya! Pasti seru banget!”

Jaya yang baru selesai meletakkan kantong belanjaan di meja dapur tertawa terkekeh melihat antusiasme si bungsu. “Boleh banget! Tapi syaratnya, yang bersihin ikannya Bang Rafa sama Kak Owen ya!”

“Lho, kok jadi Rafa sama Bang Owen, Pih? Yang nangkep kan Javin!” protes Rafa tak terima, refleks menunjuk Javin yang hanya bisa menyeringai polos dari atas karpet.

“Bantuin napa, Bang! Lagian kan Ell yang minta, masa Lo tega nolak permintaan adek sendiri?” sahut Wafa jahil seraya menepuk pundak Rafa dari belakang, mengiringi candaannya dengan tawa kecil yang sengaja ia ulurkan untuk menyamarkan rasa sesak yang kembali mengusik dadanya.

Suasana ruang tengah yang tadinya sepi pun seketika pecah oleh gelak tawa dan perdebatan hangat mereka, siap menyambut acara bakar-bakar ikan nanti malam.

1
Putry Chan
sedikit saran ya deskripsi paragraf pertama pengenalan anak trlalu panjang
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat
Tabina Lutfi: terimakasih atas sarannya kk
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!