NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Mikayla

Rumah Untuk Mikayla

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Ibu Tiri
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Letupan Kecil di Hati

Pagi itu, sinar matahari seolah enggan bersahabat dengan mendung yang masih menggelayuti suasana hati Mikayla. Langkah kakinya terasa begitu berat dan lunglai saat menyusuri koridor panjang lantai dua sekolah. Matanya sedikit sembap akibat tangisan yang tumpah ruah di depan minimarket tadi malam. Sisa-sisa kelelahan fisik dan batin tercetak jelas di wajah pucatnya.

Kali ini, tidak ada sosok tinggi Arka yang berjalan di sampingnya sambil mengomel atau menawarkan diri membawakan tas ranselnya. Begitu motor matic Arka terparkir di area parkir sekolah tadi, seorang guru piket langsung memanggil cowok itu. Sebagai ketua kelas yang terkenal cerdas dan aktif di OSIS, Arka memang selalu menjadi tangan kanan andalan para guru untuk mengurus berbagai berkas di ruang guru sebelum bel masuk berbunyi.

Setelah berpisah dengan Arka di area parkiran dengan lambaian tangan singkat, Kayla terpaksa melangkah sendirian melewati area koridor yang kebetulan mengarah ke deretan kelas 12. Karena waktu masih menunjukkan pukul enam lewat empat puluh lima menit, suasana di sekitar koridor kelas itu masih terbilang cukup sepi. Hanya ada satu-dua siswa yang berjalan terburu-buru, membuat gema langkah sepatu Kayla terdengar begitu kentara.

Namun, ketenangan singkat itu tidak bertahan lama. Dari balik pilar beton di persimpangan koridor, sebuah bayangan tinggi mendadak melangkah keluar dan langsung menghadang tepat di depan jalur berjalan Kayla.

Kayla menghentikan langkahnya mendadak. Ia mendongak, dan mendapati Gavin sudah berdiri di sana.

Penampilan cowok itu berantakan, jauh lebih kacau daripada biasanya. Jaketnya tersampir asal di sebelah bahu, dan kantung matanya terlihat menghitam, menandakan bahwa cowok itu mungkin tidak tidur semalaman setelah balapan liar kemarin. Wajah Gavin yang biasanya dipenuhi senyum meremehkan, kini tampak tegang dan dipenuhi gurat kecemasan yang nyata.

"Kay, lo kemarin ke mana sih?!" cecar Gavin langsung, memotong jarak di antara mereka. Suaranya terdengar agak serak, menuntut penjelasan seketika. "Gue pusing nyariin lo ke seluruh area sirkuit semalam, tau gak? Pas gue balik ke garis finish setelah menang, lo udah nggak ada di tempat."

Kayla menarik napas pendek. Mengingat kembali kejadian menegangkan di sirkuit semalam—terutama saat sosok misterius berpakaian serba hitam hampir mendekatinya sebelum diselamatkan Arka—membuat dadanya kembali berdegup kencang. Namun, ia memilih untuk menyembunyikan fakta itu dari Gavin. Ia tidak mau memperpanjang urusan, apalagi memicu baku hantam antara Gavin dan Arka.

Kayla menatap Gavin dengan tatapan matanya yang tajam dan sedingin biasanya. "Gue pulang," jawab Kayla singkat, nyaris tanpa ekspresi.

Mendengar jawaban super lempeng dari Kayla, Gavin sempat tertegun selama beberapa detik. Ia menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Kayla, mencoba mencari kebohongan di sana, sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat lega. Ketegangan di bahu cowok bad boy itu perlahan luruh.

"Oo... oohh... ya udah, bagus deh kalau lo emang langsung pulang," ucap Gavin. Anehnya, nada suara cowok itu yang biasanya selalu terdengar angkuh, sombong, dan meledak-ledak, kini mendadak menurun drastis. Suaranya berubah menjadi jauh lebih lembut, menyiratkan ketulusan yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. "Gue... gue cuman takut lo kenapa-napa di tempat liar kayak gitu, Princess."

Deg.

Kayla terpaku di tempatnya berdiri. Jantungnya melewatkan satu detakan. Kalimat sederhana yang keluar dari mulut Gavin itu mendadak memberikan sebuah letupan kecil yang hangat di dalam hatinya.

Seumur hidupnya berteman dengan cowok-cowok di sekolah, perhatian yang ia terima biasanya selalu datang dari Arka yang bernada protektif dan cenderung menceramahinya layaknya seorang ayah. Namun, mendengar kekhawatiran yang tulus dari seorang Gavin—cowok urakan yang terkenal tidak pernah peduli pada keselamatan orang lain—membuat pertahanan di hati Kayla sedikit goyah. Di saat dirinya merasa terasingkan di rumah karena kehadiran calon ibu tiri, dan merasa kehilangan perhatian dari ayahnya sendiri, fakta bahwa ada orang lain yang pusing mencarinya semalaman terasa seperti sebuah penawar luka yang menenangkan.

Kayla buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha menyembunyikan semburat merah tipis yang mungkin muncul di kedua pipinya akibat letupan kecil itu. Sifat juteknya kembali ia pasang sebagai perisai.

"Gue bukan anak kecil yang gampang diculik, Gav."

Gavin yang melihat reaksi canggung Kayla justru kembali mengembangkan senyum miring andalannya, namun kali ini senyuman itu terlihat jauh lebih hangat. Ia menggeser posisinya, berdiri di sebelah Kayla tanpa lagi memedulikan jarak aman yang biasa Kayla tetapkan.

"Yaudah, yuk ke kelas. Keburu bel masuk bunyi, tar lo dihukum lagi gara-gara kesiangan," ajak Gavin santai. Cowok itu melangkah lebih dulu, namun dengan sengaja melambatkan ritme jalannya agar tetap sejajar dan bisa terus menemani langkah lunglai Mikayla menyusuri koridor menuju kelas mereka.

Kayla terdiam sesaat, menatap punggung tegap Gavin yang berjalan di sebelahnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak menolak kehadiran cowok itu. Ia melangkah beriringan dengan Gavin, membiarkan dirinya sedikit terhanyut dalam kenyamanan palsu yang ditawarkan sang bad boy, tanpa tahu bahwa di balik kedekatan mereka yang mulai terjalin pagi ini, sepasang mata bermasker hitam dari kejauhan kembali mengunci pergerakan mereka dengan tatapan penuh dendam.

"Target gue bener,Gavin..Awas Lo!gue bakal bikin Lo ngerasain apa yang gue rasain" ucap pria itu dengan tangan mengepal kuat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!