"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Sabotase Proses Hukum
"Kamu tidak bisa menebus apa yang sudah menjadi sifat aslimu, Arga." Keysa menatap tajam langsung ke sepasang mata cokelat gelap itu. Tidak ada keraguan, tidak ada rasa gentar. Ia meraih tasnya dengan gerakan kasar, memasukkan ponselnya ke dalam, lalu berdiri. "Selesaikan makan siangmu. Aku kembali ke kantor lebih dulu."
Keysa memutar tubuhnya, berjalan cepat keluar dari kedai sempit itu tanpa menoleh ke belakang lagi.
Sepatu hak tingginya berbunyi nyaring beradu dengan trotoar jalanan ibu kota yang mulai dipadati pekerja kantor. Otaknya bekerja sepuluh kali lipat lebih cepat. Ia harus segera menghubungi Harris lewat saluran telepon rahasia yang tidak bisa dilacak oleh tim legal suaminya. Keysa tahu betul seberapa mematikan jaringan informasi Alvandra Group jika Arga sudah memberi perintah.
Dua puluh menit kemudian, Keysa sudah tiba di meja kerjanya yang menempel tepat di depan ruang direktur utama. Ia membanting pelan tasnya, membuka layar tablet, dan langsung menekan nomor ekstensi kantor pengacaranya.
Panggilan tersambung pada nada dering ketiga.
"Harris, dengarkan aku baik-baik," Keysa langsung memotong tanpa salam pembuka. "Abaikan ancaman Arga di telepon tadi. Dia sedang tidak waras. Percepat pengajuan sidangnya. Kalau butuh tanda tangan basah, aku akan mencari cara memaksanya."
Hening sesaat di ujung sana. Terdengar suara helaan napas berat dari pengacara tersebut.
"Keysa, ini bukan soal ancaman verbal dari suamimu lagi," suara Harris terdengar sangat letih. "Tim legal raksasa dari Alvandra Group baru saja mendatangi kantorku sepuluh menit yang lalu. Mereka tidak membuang waktu."
Jantung Keysa seakan berhenti berdetak sesaat. "Apa maksudmu mereka mendatangi kantormu? Apa yang mereka lakukan?"
"Mereka membawa surat penangguhan hukum resmi dari pengadilan sipil pusat. Berkas cerai kalian diblokir secara sepihak, Key."
"Diblokir? Atas dasar apa?!" Nada suara Keysa meninggi tanpa sadar, menarik perhatian beberapa karyawan di lorong yang langsung menunduk pura-pura sibuk. "Pernikahan ini tidak punya ikatan harta gono-gini! Kontraknya sangat jelas!"
"Bukan soal harta," balas Harris cepat. "Tim legal suamimu menggunakan rekam medis kecelakaan itu. Mereka menggunakan alasan bahwa kondisi medis dan stabilitas mental Arga saat ini sedang tidak stabil akibat amnesia retrograde (lupa ingatan masa lalu). Dalam hukum, keputusan legal seperti perceraian bisa ditangguhkan jika salah satu pihak dianggap tidak memiliki kapasitas mental yang sadar untuk memahami konsekuensi dari keputusannya."
Keysa memejamkan mata rapat-rapat. Jemarinya mencengkeram kuat ujung meja kayu tersebut.
Otak bisnis Arga benar-benar mengerikan. Laki-laki itu kehilangan ingatannya, namun insting bertahannya sama sekali tidak tumpul. Arga membalikkan fakta medis yang seharusnya menguntungkan Keysa menjadi sebuah jerat hukum yang tidak bisa dipatahkan dengan mudah.
"Lalu apa langkah kita sekarang?" desis Keysa tajam.
"Kita tidak bisa melawan surat medis dari rumah sakit pusat itu, Key. Pengadilan sipil menolak melanjutkan proses mediasi sampai dokter bedah Arga mengeluarkan surat keterangan sehat secara mental dan kognitif." Harris terdengar sangat menyesal. "Suamimu benar-benar mengunci semua pintumu."
Keysa memutus sambungan telepon itu secara paksa. Layar tabletnya meredup secara otomatis, sejalan dengan habisnya sisa kesabaran yang ia miliki hari ini.
Ia berdiri tegap, merapikan kemejanya, dan berjalan cepat menuju pintu ganda ruang kerja Arga. Tanpa repot-repot mengetuk, Keysa mendorong dua daun pintu kayu mahoni itu hingga terbuka lebar. Suara bantingan pintu membentur dinding membuat Reno, yang sedang melaporkan jadwal di dalam, meloncat kaget.
Arga duduk bersandar santai di kursi kulit kebesarannya. Laki-laki itu sedang memutar-mutar sebuah pulpen emas di jari kanannya. Wajahnya sangat tenang, seolah tidak terjadi badai apa pun. Jas abu-abunya tersampir rapi di sandaran kursi.
"Keluar, Reno," perintah Keysa dingin dengan pandangan lurus menatap wajah Arga.
Reno tidak berani membantah. Asisten junior itu setengah berlari keluar ruangan dan menutup pintu ganda dengan sangat hati-hati, meninggalkan dua predator di puncak rantai makanan itu di dalam satu ruangan tertutup.
"Kau memblokir berkas ceraiku di pengadilan dengan alasan tidak waras?" cecar Keysa, berjalan mendekati meja kerja Arga dengan langkah penuh perhitungan.
"Bukan tidak waras. Hanya tidak stabil secara kognitif." Arga membetulkan istilah itu dengan nada sangat santai, seolah mereka sedang membahas jenis kertas untuk mencetak dokumen. Ia meletakkan pulpen emasnya di atas meja. "Pengacaramu yang payah itu menelepon dan menangis mengadukan kekalahannya padamu?"
"Kamu benar-benar licik, Arga." Keysa mengebrak meja kerja kayu tersebut dengan kedua tangannya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam ke mata cokelat gelap suaminya. "Kamu memalsukan status mentalmu di depan hukum hanya untuk menahanku agar tidak pergi."
Arga tidak marah melihat keberanian istrinya. Laki-laki itu justru menikmati setiap detik konfrontasi ini. Ia membalas tatapan membunuh Keysa dengan sorot mata yang penuh dominasi kepemilikan.
"Aku tidak memalsukan apa pun, Keysa." Arga ikut mencondongkan tubuhnya, memangkas jarak wajah mereka di atas meja yang lebar itu. "Tanya dokter bedahku. Ingatanku tentang tiga tahun terakhir ini hilang total. Otakku memang sedang rusak. Tim legalku hanya menggunakan celah kecil di undang-undang untuk melindungiku dari keputusan sepihak yang merugikan."
"Merugikan? Aku sedang menyelamatkan kita berdua dari pernikahan palsu ini!"
"Pernikahan ini sangat nyata di mataku saat ini." Arga membalas dengan suara rendah yang sangat berbahaya.
"Kamu tidak mencintaiku, dan aku sangat membencimu!" Keysa meninggikan suaranya, emosinya mulai bocor dari celah benteng pertahanan sedingin es yang selama ini ia bangun susah payah. "Lepaskan pemblokiran itu sekarang juga, Arga. Jangan memaksaku bermain kotor dengan membocorkan rekam medismu yang sebenarnya ke media luar. Saham Alvandra Group akan anjlok jika publik tahu CEO mereka kehilangan ingatan!"
Ancaman Keysa terdengar sangat tajam dan mematikan. Perempuan itu tahu betul titik lemah perusahaan. Namun, bukannya gentar, Arga justru tersenyum miring. Senyum yang selalu ia pakai saat ia tahu ia memegang kartu as kemenangan di tangannya.
Arga membuka laci mejanya perlahan. Ia menarik sebuah map cokelat tebal berlogo firma hukum nomor satu di ibu kota. Dengan gerakan yang sangat lambat dan terukur, Arga melempar dokumen penangguhan pengadilan itu ke atas meja, tepat di depan kedua tangan Keysa.
Bunyi kertas tebal menabrak kayu itu menggema di ruangan sunyi tersebut.
Keysa menunduk, matanya membaca kilat kop surat resmi dari pengadilan negeri. Ada cap stempel merah yang menandakan bahwa proses hukum dihentikan tanpa batas waktu yang ditentukan.
"Silakan bocorkan kondisiku ke media mana pun yang kau mau, Istriku." Arga bersandar kembali ke kursinya, melipat kedua lengan di depan dada yang bidang. "Saham perusahaan mungkin akan turun sementara, tapi aku bisa menaikkannya kembali dalam sebulan. Sebaliknya, kau tidak akan pernah bisa mendapatkan surat persetujuan dariku sampai aku benar-benar siap."
Keysa menatap dokumen itu dengan rahang mengeras. Otaknya berputar mencari celah, namun kali ini ia benar-benar terkunci oleh taktik kotor laki-laki arogan ini.
Arga berdiri dari kursinya. Ia berjalan memutari meja kerja perlahan, berdiri menjulang tepat di samping Keysa. Laki-laki itu menundukkan kepalanya, membisikkan kalimat yang menggetarkan udara di sekitar mereka.
"Selama aku belum mengingat alasan bodoh kenapa aku menandatangani kontrak itu, kau tidak akan pergi ke mana-mana, Keysa."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..