Bagaimana jadinya jika kamu harus menikah dengan musuh kamu, itu yang di rasakan Haziqa Elvarreta Shanum atau kerap di sapa Hazi.
Seorang Dokter umum di salah satu rumah sakit di Jakarta ,anak kedua dari pasangan Kiyia Luqman dan Nyai Khodija.
Hazi harus menikah menggantikan sang kakak, apakah Kehidupan Hazi, akan baik- baik saja setelah menikah, tunggu updatenya hanya di novel ini yaa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Istri Pengganti 9
Kini di ndalem kiayi Luqma sudah banyak sekali pelayat yang berdatangan, dari para kiayi sepuh hingga para ulama dari luar kota juga begitu banyak.
Arras kini mengambil alih tuan rumah, karena kini dirinya adalah suami dari Hazi, ia menyambut para pelayat di depan di dampingi oleh ayahnya dan juga Han yang terlihat begitu bersedih.
" Ras, ajak adik mu makan dulu, kasian lemes banget dia " pinta Ayah Bram ketika lihat Han yang beberapa kali memijat keningnya dan terlihat begitu lemas.
" Iya yah" jawab Arras.
Arras kemudian beralih ke samping kanan dan duduk di sebelah Han, " Dek, ayo makan dulu, mas temenin" ajak Arras pada Han.
" enggak usah mas, Han enggak laper kok, nanti kalau lapar ,Han ambil sendiri " jawab Han , tersenyum, namun Arras tau di balik senyum. tersebut ada luka yang begitu dalam.
" Mas, om.. maafin abi ya... kalau abi ada salah, maafin mbak Mila juga ya... Han enggak tau kenapa mbak mila bisa kabur begitu saja di hari H" ujar Han meraih tangan Arras dan menatapnya bergantian dengan menatap ayah bram.
" Sudah jangan di pikirkan ,kami sudah memaafkan dan menerima semuanya, kami juga tidak merasa di rugikan karena Haziqa yang menerima menjadi pengantin pengganti" jawab Ayah Bram mengusap Kepala Han,walau umurnya masih terbilang waktu kecil.
" Iya, bener kata ayah "imbuh Arras.
" aku titip Mbak Hazi ya... mas, mbak Hazi bisa jadi dokter itu perjuangan yang tidak mudah, di keluarga kami, dulu banyak yang meremehkan mbak Hazi, tapi karena rasa bersalah umi dan abi karena terlalu memikirkan mbak mila yang saat itu masih kecil dan sudah memiliki adik, jadi umi dan abi lebih memperhatikan mbak mila dari pada mbak Hazi, dan untuk menebus kesalahan umi dan abi, mereka mengizinkan mbak Hazi untuk kuliah dengan jurusan yang di inginkan mbak Hazi dan mendukung mbak Hazi " ucap Han pada Arras .
" pasti, sudah jangan sedih lagi, InsyaAllah abi tenang di sana dan banyak yang mendoakan abi, kalau abi tau kamu sedih, beliau juga pasti sedih " sahut Arras memeluk adik iparnya tersebut.
" Makasih mas dan mohon maaf sekali lagi" ujar Han.
Sedangkan di dalam suara isak tangis Hazi yang mengiringi bacaan Yasin dari para pelayat, di sampingnya ada Lyora yang setia menemani Hazi dan juga Atthaya yang tampaknya, sedikit tidak suka dengan keluarga Hazi. karena Mila yang meninggalkan sang kakak di hari pernikahannya.
Sedangkan Bunda Sofia yang sudah menerima kenyataan dan juga sebenarnya ia juga ingin Hazi yang menjadi menantunya,kini beliau setia di samping umi khodijah dan memberikan dukungan untuk besannya tersebut.
Kini jam menujukan pukul setengah lima, jenazah abi luqman di makamkan di belakang pesantren, di pemakaman keluarga dan lebih dulu di sholatkan di masjid pesantren.
Air mata Hazi kembali mengalir deras ketika keranda yang membawa abinya di angkat oleh banyak orang dan banyak yang ingin mengantarkan abinya ke peristirahatan terakhir abinya.
Karena begitu banyak orang yang mengantarkan abi luqman ketempat peristirahatan terakhir beliau, Hazi dan umi khodijah di minta untuk menunggu di rumah saja, karena kebanyakan dari mereka adalah para lelaki.
" Bun, aku balik dulu ya.... capek " ujar Atthaya.
" Nak Atthaya, makasih sudah menemani dan mendoakan abi, Nak Atthaya istirahat saja, pasti Nak Atthaya lelah" ucap Umi Khodijah yang sudah mengikhlaskan suaminya, walau pasti beliau merasa kehilangan.
"Capek lah, orang dari tadi liatin orang nangis " jawab Atthaya dengan ketus sambil menatap ke arah kakak iparnya yang masih menangis.
Bunda Sofia segera menegur putri bungsunya, " Dek yang sopan " tegur Bunda Sofia.
Hazi mengusap air matanya kasar dan menghampiri uminya, ia merasa sakit hati dengan perkataan adik iparnya.
" Tan- tante istirahat saja, biar umi sama saya" ujar Hazi yang merasa tersinggung dengan perkataan adik iparnya, apalagi emosinya kini sedang tidak stabil karena kepergian abinya.
" Terima kasih atas bantuannya, maaf jika keluarga kami ada salah, jangan khawatir saya akan mengganti kerugian keluarga tante " imbuh Hazi dengan suara gemertarnya.
" Nak Hazi, tidak usah dengarkan perkataan Atthaya, kamu sekarang mantu bunda, Bunda ikhlas menemani dan membantu di sini" jawab Bunda Sofia, yang memang sudah mengikhlaskan kejadian tadi pagi.
" Saya juga akan meminta cerai dengan Dokter Arras tante, setelah utang saya lunas dengan keluarga tante " ujar Hazi kembali yang membuat umi khodijah dan yang lainnya terkejut .
Umi khodijah menarik sang putri untuk mundur dan tidak berbicara seenaknya pada mertuanya sedangkan Atthaya tampak muak dengan perkataan kakak iparnya yang menurutnya tidak punya sopan santun dan tidak menghargai bundannya.
" Enggak tau malu banget loe, udah baik kita enggak nuntut, kakak gue keluar banyak dan uangnya di bawa kakak loe, itu uang mahar dan kakak gue harus ngeluarin dua kali uang mahar buat loe , malah gini perlakuan loe " ucap Attahya , memang benar apa yang Atthaya katakan.
Mila membawa pergi uang mahar yang di berikan Arras senilai satu Miliar dan mahar Hazi dengan apa yang di kasih ke Mila berbeda, Hazi hanya mendapatkan lima puluh juta, itu saja Hazi tidak memintanya sama sekali.
" Saya tadi sudah bilang, saya akan menggantinya dan kerugian keluarga kalian untuk acara di Jakarta nanti, saya akan menggantinya dengan menyicilnya dan uang mahar yang di berikan oleh Dokter Arras tadi, saya akan kembalikan sekarang juga " balas Hazi yang kemudian naik ke kamarnya untuk mengambil amplop berisi uang mahar yang di berikan olehnya tadi.
" Atthaya, Bunda dan ayah enggak pernah ngajarin kamu kurang ajar, minta maaf sekarang sama umi khodijah dan kakak ipar kamu, kamu keterlaluan " tegur Bunda sofia pada anak bungsunya itu.
" Tapi emang bener kan bun? satu miliar itu enggak dikit loh bun dan di bawa kabur begitu saja, habis itu perginya di hari H pernikahan lagi " sahut Attahya yang semakin tidak terkontrol.
"Jaga ucapan kamu Atthaya " ujar Bunda Sofia menaikan nada bicaranya pada putri bungsunya.
" Bunda marahin Atthaya demi membela, keluarga enggak tau malu ini bun, Atthaya enggak habis fikir sama bunda " jawab Atthaya.
" Lyora apa boleh tante minta tolong ?" bisik Bunda Sofia pada Lyora yang kini berada di dekatnya, lebih tepatnya sedang menenangkan umi khodijah.
"aku paham tante" jawab Lyora yang mengerti maksud Bunda Sofia.
Lyora kemudian mengajak Atthaya untuk keluar mencari udara segar dan dengan mudahnya Lyora mengajak Atthaya dengan sekali ajakan.
Bunda Sofia kemudian menghampiri besannya yang terlihat berusaha untuk menahan segalanya " umi maaf atas apa yang di lakukan Atthaya, mungkin dia perlu waktu untuk semua ini mi, karena dia terlalu sayang dengan kakaknya" ujar Bunda Sofia.
" Gapapa bu, apa yang di ucapkan Atthaya memang benar, maafkan Haziqa juga yang kurang sopan tadi, saya akan menasihatinya nanti " sahut umi khodija dengan sisa tenaga yang ada.
"Jangan umi, Hazi tidak salah , ini memang salah Atthaya yang tidak sopan tadi, saya memaklumi apa yang di katakan Hazi tadi " jawab Bunda Sofia.
Tidak lama Hazi turun dengan amplop coklat besar yang berisi uang pecahan seratus ribuan yang menjadi maharnya tadi.
" ini bu saya kembalikan dan ini tas milik Dokter Arras yang isinya bajunya Dokter Arras, terima kasih atas segala bantuannya"