Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Ketakutan di Balik Kabut Rahasia
Mobil taktis lapis baja milik Diego Costa perlahan bergerak meninggalkan pelataran mansion Guinevere, menyisakan keheningan malam yang pekat di bawah rintik hujan yang kian mereda. Dallas masih berdiri mematung di tempatnya, menatap lurus ke arah gerbang luar dengan pikiran yang berkecamuk.
"Kau memikirkan kata-kata ayahmu, Dallas?" tanya Bellamy, suaranya memecah kesunyian malam. Ia melangkah mendekat, memperhatikan rahang Dallas yang masih mengeras sempurna.
Dallas menoleh lambat, menatap wajah Bellamy yang tampak begitu tenang—terlaju tenang untuk situasi yang segila ini. "Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya? Ayahku tahu nama Sylvester. Siapa Sylvester? Nyonya Diane memimpikan makam dan masa depan alternatif yang mengerikan. Dan Tuan James... rambutnya memutih dalam sekejap." Pria itu mengepalkan tinjunya erat-erat. "Ada sesuatu yang disembunyikan dariku, Bellamy. Dan kurasa kau tahu sesuatu."
Jantung Bellamy berdegup kencang mendengar desakan Dallas. Sebagai jiwa Livana Minerva yang masuk ke dunia ini tanpa bantuan sistem apa pun, ia harus mengandalkan insting mafianya sendiri secara manual. 'Dia terlalu peka. Jika Dallas terus menggali, dia akan tahu bahwa dunia ini memiliki rahasia besar, dan aku bukanlah Bellamy asli yang manja itu,' batinnya cemas.
Namun, Bellamy dengan cepat menarik topeng cegil-nya. Ia memajukan tubuhnya, menatap Dallas dengan binar mata yang agresif dan manja. "Kenapa kau menatapku begitu, Calon Suamiku? Kau curiga padaku? Satu-satunya hal yang kusembunyikan darimu malam ini hanyalah seberapa besar keinginanku untuk mengurungmu di kamarku sekarang."
Dallas menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang mendadak pening. "Bellamy, aku sedang serius. Berhentilah bercanda."
"Aku tidak bercanda!" Bellamy mengerucutkan bibirnya, merapikan kerah kemeja Dallas yang sedikit basah oleh hujan. "Dengar, Dallas. Dunia ini penuh dengan orang-orang tua yang memiliki masa lalu kelam. Biarkan Papa James dan Papa Diego menyelesaikan urusan mereka. Yang terpenting sekarang adalah... kita sudah menang. Fernando dan Javier sudah hancur, bukan?"
Dallas terdiem sejenak, menatap lekat-lekat mata Bellamy. Ada kabut rahasia di sana, namun ia memilih untuk mengalah demi menjaga kewarasan mentalnya yang baru saja dihantam badai malam ini. "Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi untuk sekarang. Tapi jika hal ini membahayakan ibuku... aku tidak akan tinggal diam."
"Ibumu aman bersama pasukan Papa Diego, Sayang. Percayalah padaku," ucap Bellamy tersenyum puas, bernapas lega dalam hati karena berhasil mengalihkan kecurigaan Dallas untuk sementara.
...****************...
Sementara itu, di dalam kamar utama lantai dua, James Guinevere masih mendekap erat tubuh Diane. Keheningan kamar itu terasa begitu intim sekaligus menegangkan bagi James, terutama dengan layar Sistem Novel yang terus berkedip di sudut matanya—layar yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri sebagai pembawa jiwa Sylvester.
[ Status Alur: Skenario Kematian Diane Guinevere [GAGAL]. ]
[ Peringatan: Plot Novel terdistorsi parah akibat intervensi entitas tak terikat (Bellamy Guinevere). ]
"James... lepaskan dulu. Aku ingin melihat wajahmu," gumam Diane, suaranya bergetar pelan di dada James, membuyarkan fokus suaminya dari layar sistem.
James perlahan melonggarkan pelukannya, membiarkan Diane menatap wajahnya. Diane menyentuh pipi James yang tampak sedikit lebih tirus, lalu jarinya beralih mengusap rambut di bagian pelipis James yang kini memutih pekat seperti perak.
"Kenapa kau mendadak menua seperti ini, James? Katakan padaku yang sebenarnya... apa kau menyembunyikan penyakit mematikan dariku?" air mata Diane akhirnya menetes, matanya memancarkan rasa ketakutan yang teramat sangat akan kehilangan suaminya.
James menatap manik mata Diane dengan kedalaman rasa yang murni milik Sylvester. Sifat mafianya yang kaku membuatnya tidak bisa berkata 'aku mencintaimu' dengan mudah, jadi ia memilih menggenggam tangan Diane dan mengecup punggung tangannya dengan sangat dalam.
"Aku tidak sakit, Diane. Ini hanya... harga yang harus kubayar untuk memastikan kau tetap bernapas di sampingku malam ini," bisik James, suaranya berat dan serak.
"Harga? Apa maksudmu?!" Diane semakin bingung. "Dan apa hubungannya dengan mimpi burukku tentang makam dan anak Diego Costa itu? James, kau membuatku takut!"
"Dengar, Diane," James mencengkeram bahu Diane dengan protektif, menatapnya lurus. "Mimpi itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Kau tidak akan mati karena racun, dan rumah ini tidak akan hancur. Selama aku masih bernapas, aku akan membalikkan takdir apa pun yang mencoba merenggutmu dariku. Mengerti?"
"Kau... kau berbicara seolah-olah kau tahu apa yang akan terjadi esok hari," Diane menatap James dengan pandangan asing namun terikat. "Kau bukan James yang dulu kukenal. James yang dulu tidak akan pernah menatapku seposesif ini..."
"Lalu apa kau membenci James yang sekarang?" tanya James dengan seringai tipisnya yang karismatik, menepis jarak di antara mereka hingga hidung mereka bersentuhan.
Diane tersipu, wajahnya memerah sempurna di usia matangnya. "T-Tidak... aku tidak membencimu. Aku hanya... khawatir padamu."
"Kalau begitu berhenti menangis dan patuhi suamimu," sahut James mutlak, sebelum kembali membungkam bibir Diane dengan kecupan protektif yang menuntut kepatuhan penuh dari wanita itu.
...****************...
Kembali ke halaman depan, Bellamy dan Dallas memutuskan untuk masuk kembali ke dalam mobil dan meninggalkan mansion Guinevere menuju apartemen pribadi milik Dallas demi menghindari kericuhan pelayan yang masih sibuk mengurus sisa simulasi alarm palsu.
Di dalam mobil yang berjalan sunyi, Bellamy bersandar di bahu tegap Dallas. Pikirannya melayang memikirkan Diego Costa. Sebagai glitch yang bergerak tanpa panduan sistem, Bellamy merasa posisinya mulai terancam. 'Sialan. Diego Costa benar-benar tahu sesuatu tentang dunia nyata. Jika dia tahu tentang papaku Sylvester... apakah dia juga curiga bahwa aku adalah Livana?'
Ada rasa takut yang samar di sudut hati Bellamy. Ia tidak takut pada kehancuran musuh-musuhnya, namun ia takut jika suatu hari nanti, Dallas mengetahui bahwa seluruh kedekatan agresif dan cinta cegil yang ia berikan selama ini... berawal dari tujuannya untuk mengacaukan plot dunia novel ini.
"Dallas," panggil Bellamy lembut.
"Ya?" Dallas menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan malam yang basah.
"Jika suatu hari nanti... kau tahu bahwa aku bukan orang yang kau bayangkan... apakah kau akan tetap memakai cincin itu?" tanya Bellamy, suaranya mendadak terdengar sangat serius, kehilangan nada caper-nya yang biasa.
Dallas terdiam sejenak. Ia melirik cincin platinum bertatahkan berlian hitam di jari manis kirinya, lalu beralih menatap Bellamy sekilas dengan binar mata yang sarat akan kabut obsesi pelindungnya.
"Aku tidak peduli siapa kau di masa lalu, atau rahasia apa yang kau sembunyikan dengan ayahku dan Tuan James," ucap Dallas, suaranya terdengar sangat mutlak dan dingin, namun penuh komitmen. "Malam ini, kau melamarku di depan seisi kota, dan aku menerimanya. Kau sudah mengikatku, Bellamy. Dan aku tidak akan pernah melepaskan perisai yang sudah memilih untuk berdiri di depanku."
Bellamy tertegun, sebelum akhirnya tersenyum lebar dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Ia kembali memeluk lengan tegap Dallas dengan manja. "Kau benar-benar pintar bicara sekarang, Calon Suamiku. Cepat jalankan mobilnya, aku sudah tidak sabar untuk mengurungmu malam ini!"
D itu ternyata Deborah?? 🤣