Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Apa yang terjadi di sini?" tanyanya menuntut, penuh rasa ingin tahu atas apa yang dilakukan ketiga orang dewasa itu di kamar adiknya.
Sementara itu, Alden hanya bisa menghela napas panjang, lalu menyerahkan selembar kertas yang sempat ia baca kepada Geo.
"Sepertinya Kei berencana meninggalkan rumah ini setelah acara pers kemarin."
Kalimat itu membuat Geo dan Keyla terbelalak kaget.
"Kenapa?"
"Kok bisa? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Alex yang mendengar suara anak-anaknya hanya bisa terdiam, masih tak percaya dengan keterangan yang baru saja ia terima dari Jena, orang kepercayaannya sendiri.
Jujur saja, ia merasa sangat kecewa pada Jena. Wanita itu baru memberitahunya setelah ia menerima surat panggilan dari sekolah Keisya tepat di depan gerbang rumah. Saat itu ia dan Alden baru saja pulang dari kantor untuk mengambil berkas yang tertinggal.
Di sana, di depan pintu pagar, berdiri seorang remaja yang menyerahkan surat itu. Logo sekolahnya asing bagi mereka, sampai akhirnya mereka membaca nama yang tertera di sana.
Alex pun segera memanggil Jena dan menanyakan hal itu, hingga akhirnya pembicaraan berlanjut ke kamar Keisya. Hati mereka semakin perih saat melihat gadis itu sudah mengemasi semua barang miliknya.
"Maafkan saya, sebelumnya Nona Keisya merasa tugasnya sebagai pengganti Nona Keyla sudah selesai setelah acara pengumuman malam itu," jelas Jena pada Keyla dan Geo yang masih menunggu penjelasan.
Keringat dingin membasahi punggungnya. "Jadi, Nona Keisya memutuskan untuk pergi. Terlebih karena ia merasa posisinya semakin tidak dianggap..." kalimat terakhir itu diucapkannya sangat pelan, ragu untuk melanjutkannya.
"Tidak dianggap? Apa maksudmu?" Kali ini Alden yang meninggikan suara, karena Jena belum pernah mengatakan hal ini sebelumnya.
Jena menelan ludah. Suasana di ruangan itu terasa begitu menekan. "Ehm... selain merasa tidak diperhatikan oleh Tuan dan Tuan Muda lainnya, para pekerja pun memperlakukannya seolah ia bukan siapa-siapa di rumah ini."
Alex langsung mencengkeram kerah baju Jena, membuat pria itu semakin gemetar. "Ayah, tenang dulu!" Keyla segera menarik ayahnya menjauh. Ia masih butuh Jena untuk bercerita lebih banyak tentang Keisya, sedangkan Alex, Alden, dan Geo tampak begitu marah hingga hampir kehilangan kendali diri.
Setelah dilepaskan, Jena kembali melanjutkan. "Saat Tuan dan Tuan Muda sedang berlibur di vila, tidak ada satu pun pelayan yang menyajikan makanan untuk Nona Keisya. Para pengawal pun mengabaikannya seolah ia tidak ada."
Semua mata tertuju pada kotak yang kini diambil Jena dan dibuka isinya. "Jadi Nona membeli makanan instan yang menurutnya mudah disiapkan sendiri."
Alden menatap tajam tumpukan bungkus makanan pabrik di dalam kotak itu. "Jangan sampai Ivan mengetahui hal ini," ucapnya berbisik, karena ia bisa membayangkan apa yang akan dilakukan adiknya itu jika tahu. Ivan adalah orang yang paling kejam jika sudah menyangkut keselamatan keluarganya.
Bruk!
Semua orang menoleh ke arah pintu saat mendengar suara benda jatuh. Di sana berdiri Ivan, menatap tajam satu per satu penghuni kamar Keisya.
Wajahnya yang tadi terkejut perlahan berubah dingin, senyum miring terukir di bibirnya sementara alisnya mengerut tajam. "Siapa yang berani tidak menghormati anggota keluarga Jordan?" suaranya pelan namun bergetar menakutkan.
"Kak Ivan?" Geo mengerutkan kening, hendak menghampiri namun ditahan oleh Alex.
Alex mulai bisa mengendalikan emosinya kembali, terlebih melihat kondisi Ivan saat ini. "Tenang dulu di kamar, Arden. Nanti malam kau bebas melakukan apa saja pada mereka," perintah Alden. Namun tampaknya permintaan itu akan ditolak mentah-mentah oleh Arden, sisi lain dari Ivar yang selama ini berusaha disembunyikan oleh Alex dan Alden.
Sisi itu muncul karena rasa sakit hati mendalam saat kehilangan ibu dan Keyla di masa lalu, sosok yang paling dicintainya. Ia benar-benar bisa mengamuk jika ada yang menyakiti keluarganya. Itulah sisi kejam yang tersimpan di balik kelembutan Ivan.
"Arden, di sini masih ada adik-adikmu. Apa kau tidak memikirkan perasaan mereka?" Kali ini Alex berbicara dengan tegas, dan tampaknya berhasil meyakinkannya. Akhirnya sosok itu berbalik menuju kamar Ivan untuk beristirahat sejenak.
Meninggalkan ruangan yang kini dipenuhi keheningan penuh tanya. Alex dan Alden saling bertukar pandang, sepakat untuk menjelaskan kondisi sebenarnya Ivan kepada Geo dan Keyla.
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu