NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Alex membuka matanya dan melihat jam yang menunjukkan pukul lima pagi.

Sinar fajar yang mulai menyusup di sela-sela gorden kamar Mira seketika membuat kesadarannya pulih seutuhnya. Rasa panik langsung menghantam dadanya.

"Sial!!" umpat Alex tertahan.

Ia bangkit dari tempat tidur dan memakai pakaiannya dengan tergesa-gesa.

Tangannya gemetar saat mengancingkan kemeja, sementara bayangan wajah Lani mendadak berputar di kepalanya, memicu rasa bersalah yang teramat sangat.

"Mas, mau kemana?" tanya Mira dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, mencoba menahan lengan Alex.

"Aku harus pulang. Lani pasti akan menungguku," jawab Alex dingin tanpa menatap Mira.

Ia menyambar kunci motornya dan bergegas keluar.

Alex segera melajukan motornya menuju ke rumah.

Jalanan ibu kota yang masih sepi di pagi buta membuatnya bisa memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi.

Di sepanjang jalan, jantungnya bertalu hebat, merangkai berbagai alasan untuk menutupi pengkhianatannya.

Sesampainya di rumah ia melihat lani yang duduk di kursi tamu.

Keadaan istrinya begitu mengenaskan; mata sembap, wajah pucat pasi, dan pandangan mata yang kosong menatap lurus ke arahnya.

"Lan..." panggil Alex lirih, melangkah mendekat dengan ragu.

Lani mendongakkan kepalanya, menatap pria yang beberapa hari lalu memeluknya hangat di Bali.

"Masih ingat rumah, Mas?" suaranya terdengar begitu datar namun sarat akan kepedihan yang mendalam.

"Aku bisa jelaskan, Lan. Aku ketiduran di kantor. Pak Firman memintaku menyelesaikan pekerjaannya yang..."

"Mas cukup! Jangan berbohong lagi!" potong Lani, suaranya meninggi, bergetar hebat menahan badai emosi.

"Semalam kamu dimana? Siapa wanita yang mengangkat ponselmu?!"

Alex tersentak, lidahnya mendadak kelu. Ia tidak menyangka Lani akan tahu soal semalam.

"Siapa, Mas?!" tuntut Lani lagi, air matanya kini mulai menetes deras.

Alex menghela napas panjang, mencoba mencari celah untuk membalikkan keadaan demi menutupi rasa bersalahnya yang kian menyudutkan ego kelaki-lakiannya.

"Apakah kamu sudah melakukan tes kehamilan? Bagaimana hasilnya?" tanya Alex tiba-tiba, mencoba mengalihkan fokus.

Lani tersenyum getir, tidak percaya dengan ketegaan suaminya.

"Mas, jawab pertanyaan ku! Jangan mengalihkan pembicaraan!"

"Jawab, Lani! Apa hasilnya?!" bentak Alex balik, suaranya menggelegar demi menutupi kegugupannya sendiri.

"Pasti negatif lagi, kan?! Kamu itu memang wanita mandul!"

PLAKKKK!!

Suara tamparan yang dilayangkan oleh Lani ke pipi suaminya bergaung keras di ruang tamu yang sunyi itu.

Napas Lani memburu, tangannya yang gemetar terasa panas setelah menghantam wajah pria yang paling ia cintai sekaligus paling ia benci detik ini.

"Tega kamu, Mas, bicara seperti itu. Padahal semalam kamu membelaku saat aku dihina Ibu!" tangis Lani pecah, dadanya sesak luar biasa.

"Heh! Wanita mandul!!"

Tiba-tiba sebuah suara melengking memotong tangisan Lani.

Tanpa diduga, pintu depan yang tidak terkunci terbuka lebar.

Ibu Narti mendorong tubuh Lani hingga wanita itu terhuyung ke belakang.

Rupanya, Ibu Narti, Sisil, dan Dimas sengaja datang pagi-pagi untuk menagih keputusan Alex.

"Kurang ajar kamu menampar anakku!" bentak Ibu Narti dengan mata mendelik geram.

"Mas, kamu tidak apa-apa?"

Bersamaan dengan itu, muncul sosok wanita lain dari belakang Ibu Narti.

Kedatangan Mira yang langsung memeluk tubuh Alex membuat dunia Lani runtuh seketika.

Sahabat karibnya itu kini berdiri di sana, memandang Lani dengan tatapan puas yang tersamarkan.

"Semalam, aku dan Alex..." ucap Mira sengaja menggantungkan kalimatnya dengan nada manja di pelukan Alex.

PLAKKK!

Lani kembali melayangkan tamparan, kali ini mendarat telak di pipi Mira hingga wanita itu memegangi wajahnya yang memerah.

"Tega kamu, Mir! Kamu sahabatku dan kamu berselingkuh dengan suamiku?!" teriak Lani histeris.

"Mantan suami," potong sebuah suara dingin.

Lani menoleh ke arah Alex dengan tatapan tidak percaya.

Pria itu berdiri kaku, menatapnya tanpa ada sisa-sisa kehangatan dari Bali.

Ego dan hasutan yang bertubi-tubi membuat Alex membuang nuraninya demi menutupi aibnya sendiri.

"Mulai hari ini, aku jatuhkan talak satu kepadamu, Lani," ucap Alex dengan tatapan dingin.

Mendengar kalimat itu, Sisil langsung merangsek masuk ke dalam kamar.

Tak butuh waktu lama, Sisil mengambil pakaian dan melemparnya ke wajah Lani.

"Pergi dari sini, mandul!!" teriak Sisil kasar.

Dimas tidak tinggal diam. Dengan seringai licik, Dimas mendorong tubuh Lani beserta tas dan pakaian Lani keluar dari pintu rumah, melemparkan barang-barang itu ke atas lantai teras yang dingin.

Di atas teras kontrakan yang pernah menjadi saksi bisu tawa dan doanya, Lani menangis sesenggukan, memeluk pakaiannya yang berserakan di tanah.

Kehancurannya kini telah genap, tepat di pagi hari setelah badai terbesar merubuhkan seluruh hidupnya.

Lani hanya bisa terduduk diam, menyaksikan seluruh adegan penghinaan itu terjadi di depan mata kepalanya sendiri.

Tidak ada satu pun orang di sana yang berniat membelanya, maupun yang bergerak untuk menghentikan aksi keji itu.

Di tengah tumpukan pakaiannya yang berserakan di atas jalanan, Lani perlahan memaksakan tubuhnya untuk bangkit berdiri.

Ia menarik napas panjang sedalam yang ia bisa, mengangkat dagunya tinggi-tinggi meski seluruh persendian tubuhnya bergetar hebat.

Dengan suara yang bergetar namun sarat akan ketegasan yang mantap, Lani berujar menatap mereka satu per satu.

"Suatu hari nanti kalian akan melihat sendiri... bagaimana perempuan yang kalian buang dan kalian hinakan ini akan berdiri kembali di atas kakinya sendiri. Aku bangkit bukan untuk memohon kembali ke rumah ini, melainkan untuk menunjukkan kepada kalian semua, siapa di antara kita yang benar-benar kuat."

Lani membalikkan tubuhnya lalu berjalan pergi meninggalkan pekarangan.

Langkah kakinya bergerak perlahan, melangkah pergi sembari membawa luka yang teramat dalam, serta sebuah tekad baru yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Pintu rumah itu berdentum tertutup dengan sangat keras di belakang punggungnya.

Tanpa ada ucapan maaf, dan tidak ada sedikit pun rasa penyesalan dari pria yang pernah menjadi suaminya.

Lani kini berdiri sebatang kara di tengah jalanan perumahan, di antara tumpukan baju dan barang-barang pribadinya yang berserakan di atas tanah yang basah.

Langit di atas sana seolah-olah turut merasakan kepedihan hatinya; awan hitam mendadak berkumpul dan hujan deras langsung turun mengguyur bumi.

Air hujan yang dingin mengalir deras menyelimuti tubuh Lani yang mulai melemah, membasahi wajahnya yang telah penuh dengan air mata, serta mengotori barang-barang miliknya dengan cipratan lumpur tanah.

Dengan tubuh yang menggigil kedinginan, Lani berlutut, memunguti satu per satu pakaiannya yang berserakan di atas jalanan dengan gerakan tangan yang bergetar.

Ia memasukkan kain-kain basah itu ke dalam kopernya yang sudah dalam kondisi setengah rusak akibat dilempar tadi.

Beberapa potong pakaiannya sudah tampak sangat kotor bercampur dengan air tanah, namun ia tetap melipatnya dengan perlahan.

Detik itu, tangisnya akhirnya pecah dengan sejadi-jadinya di bawah guyuran hujan.

Tangisannya bukan hanya karena rasa dingin yang menusuk tulang atau rasa malu karena menjadi tontonan fana, melainkan karena luka penolakan di dalam hatinya jauh lebih menyiksa ketimbang apa pun.

Suami yang dulu ia cintai dengan segenap jiwa dan ia pertahankan mati-matian dari hinaan keluarga, kini justru mengusirnya layaknya sampah tanpa perasaan.

Kenapa, Mas Alex...? bisiknya lirih pada dirinya sendiri di tengah deru suara hujan.

Apakah kehadiranku di hidupmu selama ini memang sebegitu tidak berharganya?

Beberapa kendaraan roda empat tampak melintas di jalanan tersebut.

Sebagian melambatkan lajunya sejenak untuk menonton, sebagian lagi hanya melaju cepat seolah-olah tidak melihat keberadaan seorang wanita yang tengah menangis tergugu di bawah guyuran hujan deras sembari menenteng sisa-sisa kehancuran hidupnya.

Lani memaksakan dirinya untuk berdiri kembali, memeluk erat koper lusuhnya yang terasa berat karena air.

Air matanya terus mengalir menyatu dengan derasnya air hujan.

Ia memutar tubuhnya sejenak, menatap untuk yang terakhir kali ke arah bangunan yang dulu sempat ia sebut sebagai "rumah tangga".

Sebuah tempat yang kini telah resmi menjelma menjadi sebuah memori yang paling pahit.

"Cukup, semuanya sudah cukup sampai di sini."

Ia melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan kawasan perkampungan itu.

Melangkah tanpa arah tujuan yang pasti, tanpa ada tempat tumpuan untuk bersandar, namun di dalam hatinya kini terselip satu harapan kecil: bahwa hujan deras hari ini akan menjadi simbol dari awal kebebasannya untuk membuka lembaran hidup yang baru.

Hujan badai belum juga menunjukkan tanda-tanda akan reda.

Lani tampak terduduk lemas di tepi jalan raya yang sunyi, punggung ringkihnya bersandar lemah pada tiang listrik yang dingin.

Koper rusaknya diletakkan begitu saja di samping tubuhnya, sementara rambut panjang dan pakaiannya yang sudah basah kuyup membuat seluruh badannya menggigil hebat tak terkendali.

Sorot matanya tampak kosong, hampa tanpa menyisakan binar kehidupan.

Wajah cantiknya berubah menjadi sangat pucat pasi, dan hela napasnya terdengar semakin berat berembus.

Tidak ada lagi air mata yang keluar dari pelupuk matanya, karena seluruh air matanya telah habis terkuras tanpa sisa sejak tadi.

Tiba-tiba, seberkas cahaya lampu mobil menembus kegelapan hujan.

Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam tampak memperlambat lajunya dan berhenti tepat tak jauh dari tempat Lani meringkuk.

Pintu kemudi terbuka dan seorang pria bertubuh tegap turun dari dalam mobil.

Ia mengenakan setelan jas hitam yang masih tampak sangat rapi, dengan sebuah payung besar yang langsung terbuka di tangan kanannya.

Langkah kaki pria itu bergerak perlahan mendekati trotoar, hingga akhirnya langkah sepatunya terhenti tepat di hadapan Lani.

"Mbak, apakah Mbak baik-baik saja?" tanya pria itu cemas.

Pria itu membalikkan tubuh wanita itu secara perlahan untuk memastikan keadaannya. Namun, begitu wajah yang basah kuyup itu tersorot lampu jalan, napas sang pria mendadak tertahan.

"L... Lani? Apakah kamu benar-benar Lani?" tanya pria itu dengan nada suara yang pelan.

Sepasang matanya menyipit tajam menembus tirai hujan, berusaha memastikan identitas wanita di bawahnya.

Lani mendengar suara bariton itu samar-samar di antara deru angin.

Dengan sisa-sisa tenaga terakhir yang masih tersisa di dalam tubuhnya, ia mendongakkan kepalanya perlahan.

Sepasang matanya yang sayu menatap lurus ke arah sosok pria tampan yang kini berdiri tegak di depannya—sebuah wajah yang tidak asing lagi, seseorang yang pernah mengisi lembaran masa lalunya.

Namun, dunia Lani saat ini sudah terlanjur berubah menjadi terlalu gelap dan terlalu berat untuk ia tanggung sendiri.

Sebelum bibirnya sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan itu, kesadarannya mendadak menguap. Tubuhnya limbung kehilangan keseimbangan.

Brugh!

Lani jatuh pingsan, tubuhnya ambruk tepat di depan kaki pria tersebut.

"Lani!"

Pria itu dengan sigap langsung bergerak cepat menangkap tubuh ringkih Lani sebelum sempat membentur kerasnya permukaan tanah yang dingin.

Gurat kepanikan dan rasa cemas yang teramat besar langsung tergambar jelas di wajah tampannya.

"Pak! Cepat bantu saya! Ada wanita pingsan!" serunya dengan lantang memanggil sang sopir pribadi yang berada di dalam mobil.

Tanpa membuang waktu untuk bertanya lebih jauh mengenai apa yang terjadi, pria itu langsung mengangkat tubuh basah Lani ke dalam dekapannya, membawanya masuk ke dalam kabin mobil yang hangat sembari melindunginya dari terpaan hujan menggunakan jaket jas hitamnya.

Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan, pria itu menatap lekat-lekat wajah Lani yang tampak teramat pucat dan menyedihkan.

Jantungnya berdegup kencang, dipenuhi oleh pusaran emosi yang tak menentu.

Setelah bertahun-tahun lamanya kita berpisah jalan, mengapa aku harus menemukanmu kembali dalam kondisi sehancur ini, Lani?

Rahang bawah pria itu dengan rahang yang mengeras menahan amarah pada siapa pun yang telah menyakiti wanita di dekapannya.

Pria itu adalah Afrain, mantan suami Sisil sekaligus sosok dari masa lalu Lani yang kini kembali muncul ke permukaan secara tak terduga, tepat di saat titik terendah dalam hidup Lani baru saja dimulai.

1
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!