NovelToon NovelToon
Jangan Harap Cintaku Lagi

Jangan Harap Cintaku Lagi

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:69.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.

Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.

Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.

Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Kabar yang Membuat Panik

Begitu mobil pick up berhenti di depan toko grosir, Arvin sudah lebih dulu membuka pintu.

"Biar aku aja, Ra."

Ia langsung berjalan ke belakang mobil, membuka bak, lalu mengambil beberapa keranjang plastik kosong yang biasa dipakai mengangkut barang.

Vira bahkan belum sempat mengatakan apa-apa. Namun melihat itu semua malah mengingatkannya pada kehidupan sebelumnya.

Saat ia mengajak Daril belanja, pria itu terlihat malas turun dari mobil. Bahkan saat Vira mengambil keranjang-keranjang kosong, Daril tak ada niat untuk membantu.

"Padahal Daril selalu aku kasih uang. Bahkan lebih dari gaji kuli," pikir Vira. "Tapi tiap aku ajak belanja..."

Pada akhirnya ia hanya mendesah pelan.

"Ra," panggil Arvin karena Vira malah diam, tak segera masuk ke dalam toko.

"Eh, ada apa Vin?" tanya Vira terhenyak dari lamunannya.

"Kenapa diam?" tanya Arvin.

"Ah, itu. Aku lupa bilang. Ambil keranjangnya ntar aja. Soalnya ini bukan toko langgananku."

Arvin mengernyit.

"Aku denger di sini harganya lebih murah," jelas Vira. "Jadi aku mau coba."

"Oh..." Arvin mengangguk mengerti.

Vira akhirnya masuk ke dalam toko, menghampiri pemiliknya diikuti Arvin di belakangnya. Ia menanyakan berbagai macam harga barang yang akan ia beli. Bahkan sempat menawar harga dengan mengatakan ia mau mengambil banyak.

"Silakan dipilih. Minyak goreng sama mi instan baru datang," ujar pemilik toko setelah harga deal.

Vira mengangguk lalu mulai menyusuri lorong-lorong toko sambil mencatat jumlah barang yang dibutuhkan.

Di belakangnya, Arvin mendorong troli tanpa banyak bicara.

"Mi instan ayam bawang dua dus. Kare ayam dua dus, goreng rendang dua dus..."

Belum sempat Vira mengulangi ucapannya, Arvin sudah mengangkat dus pertama ke atas troli, disusul dus kedua, ketiga, dan seterusnya. Gerakannya cepat dan cekatan.

"Minyak goreng dua kardus."

Arvin kembali bergerak.

Vira tersenyum miris. Arvin benar-benar berbeda dari Daril. Jika Daril, Vira harus ikut turun tangan mengambil dus-dus itu. Tapi Arvin...

Beberapa pelanggan sampai berhenti sejenak melihat pemuda itu mengangkat kardus-kardus besar seolah tidak memiliki beban.

Sesekali Vira melirik ke belakang. "Berat?"

Arvin hanya tersenyum kecil. "Belum seberapa."

Tak lama kemudian mereka berpindah ke rak gula, tepung, sabun, sampo, dan kebutuhan lain.

Setiap kali Vira menyebut barang, Arvin selalu lebih dulu mengambilnya.

Bahkan saat melihat Vira hendak menjinjing satu kardus minyak goreng, Arvin buru-buru menghentikannya.

"Ra."

"Hm?"

"Biar aku aja," kata Arvin langsung mendekati Vira.

"Ini gak berat kok."

"Tetep aja." Arvin mengambil kardus itu dari tangan Vira. "Kamu yang hitung barangnya. Angkat-angkat biar aku."

Vira hanya tersenyum tipis. Saat bersama Daril pria itu malah mengeluh.

"Ra, bantuin dong," pinta Daril. "Kalau cuma aku sendiri yang angkat ntar malah gak kelar-kelar. Lagian aku gak mau encok karena harus mengangkat semuanya sendirian."

Ingatan itu membuat Vira makin muak pada Daril.

"Kamu kenapa?" tanya Arvin yang melihatnya Vira terdiam. Sorot matanya dipenuhi kekhawatiran. "Lelah? Atau gak enak badan?"

Vira akhirnya menoleh. Kali ini tersenyum hangat. "Nggak apa-apa, kok."

"Ya udah. Kita lanjut belanja?"

"Baik, Pak Kuli."

Arvin terkekeh malu. "Jangan panggil begitu."

"Lho, katanya tadi kamu memang kuli."

"Iya sih...."

"Tapi mulai sekarang kamu asistenku."

Arvin menoleh. "Asisten?"

"Iya."

Entah kenapa, satu kata sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.

Asisten. Bukan kuli, bukan buruh, bukan orang suruhan atau kacung. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memberinya sebutan yang terdengar begitu berharga.

 

Setelah semua barang selesai dipilih dan diambil, mereka mulai memindahkannya ke bak pick up.

Arvin kembali bekerja tanpa disuruh. Ia menyusun setiap kardus dengan rapi, memisahkan barang yang mudah penyok dan yang mudah pecah.

Mi instan diletakkan paling bawah. Minyak goreng di sisi kanan agar beban seimbang. Sabun dan sampo ditaruh di bagian atas.

Telur diposisikan paling belakang lalu diberi ganjalan kardus kosong agar tidak bergeser selama perjalanan.

Vira memerhatikan semuanya tanpa berkata-kata. Lagi-lagi tanpa sadar ia membandingkan Arvin dengan Daril saat kilasan masa lalu itu kembali berputar di kepalanya.

"Ril, sabun dan shampo jangan ditaruh di bawah," kata Vira dulu. "Nanti kemasannya rusak dan isinya keluar."

Daril mendengus. "Udah terlanjur, Ra. Masa dibongkar lagi. Capek tahu."

"Itu telurnya diganjal kardus --"

"Gak diganjal juga gak bakal pecah, Ra," potong Daril. jelas terlihat malas. "Ngapain ribet-ribet."

Vira menghela napas panjang mengenang itu semua. Lalu tatapannya jatuh pada Arvin.

"Kamu sering nyusun barang begini?" tanyanya akhirnya.

Arvin mengangguk. "Kalau salah naruh, nanti pas jalan barangnya rusak."

Vira tersenyum puas. "Bagus."

Arvin menggaruk tengkuknya. "Aku cuma belajar dari pengalaman."

Sebelum naik ke mobil, Arvin melihat seutas tali rafia tergantung di dekat pintu gudang. Tanpa berpikir panjang, ia memintanya.

"Pak, minta talinya buat mengikat barang ya."

"Ambil aja," sahut pemilik toko.

Beberapa menit kemudian seluruh muatan sudah terikat kuat. Arvin menarik talinya sekali lagi memastikan semuanya benar-benar kokoh.

"Udah aman."

Vira mengangguk pelan. Dalam hati ia semakin yakin. Orang seperti ini memang layak diberi kesempatan.

"Dia gak hanya kuat kerja, tapi juga memiliki inisiatif tanpa harus selalu diperintah. Benar-benar bertolak belakang dengan Daril. Aku dulu benar-benar buta."

Itulah kualitas yang selama ini ia cari. Dan baru kini ia temukan.

***

Sementara itu, Mirna yang baru pulang dari warung melangkah pelan menyusuri jalan desa sambil membawa kantong plastik berisi kebutuhan dapur.

Saat melewati pos ronda, ia tak sengaja mendengar obrolan dua remaja yang sedang duduk di bangku bambu.

"Eh, aku dengar Hartato lagi deketin Vira, ya?"

"Iya. Dia memang udah lama naksir sama Vira. Begitu dengar Vira putus sama Daril, langsung tancap gas deh."

Mirna spontan memperlambat langkahnya.

"Serius?"

"Iya lah. Kemarin aja dia dateng ke toko Vira."

Remaja satunya mencondongkan badan, menurunkan suaranya, tetapi tetap terdengar jelas oleh Mirna.

"Aku malah dengar Hartato lagi didesak orang tuanya buat cepat nikah."

"Wah, jangan-jangan dia bakal langsung lamar Vira."

DEG!

Kantung belanjaan di tangan Mirna hampir terlepas. Perlahan wajahnya memucat.

"Melamar... Vira?" gumamnya lirih.

 

...✨"Kesempatan bukan selalu diberikan kepada yang paling pintar, tetapi kepada mereka yang mampu menjaga kepercayaan."...

..."Orang yang tulus tak perlu banyak bicara. Sikapnya sudah lebih dulu menjelaskan siapa dirinya."...

..."Kepercayaan adalah modal yang lebih berharga daripada uang, karena uang bisa dicari, tetapi kejujuran tidak mudah ditemukan."✨...

.

To be continued

1
anonim
Alvin pergi bekerja melewati rumah Vira.

Pulang dari bekerja kembali melewati rumah Vira.

Arvin beli beras sebagai alasan datang. Nanti kalau ada kesempatan ingin memperingatkan Vira tentang gosip yang sedang beredar.
anonim
Tokonya Vira sepi dari pembeli.

Yanti menawarkan diri untuk menjaga toko.

Vira tidak menjawab. Vira merasa ada yang aneh akhir-akhir ini.

Vira pikirannya berkelana mengingat tentang sikap pelanggan yang bersikap tidak semestinya. Tatapan mereka penuh rasa curiga, bahkan jijik.

Toko Vira bisa rugi kalau sepi pelanggan.

Vira memutuskan Yanti menjaga toko setelah pekerjaan rumah selesai.

Vira tetap akan mengawasi Yanti jangan sampai bisa mengutil uang atau barang dagangannya.
anonim
Gosip yang menimpa Vira masih saja jadi perbincangan warga. Ada yang percaya karena didukung dengan fakta telah melihat sendiri leher Vira merah.

Ada yang menegor tidak boleh sembarangan nebak. Bisa jadi memang benar karena tomcat.

Deril yang kecewa diputus sama Vira juga menambah keruh suasana.

Arvin geram mendengar pembicaraan mereka. Merasa Vira bukan perempuan seperti yang mereka bicarakan.

Arvin masuk ke dalam warung. Dia memperingatkan pada ibu-ibu yang sedang menggosip.

Apa yang dikatakan Arvin membuat mereka diam
Cicih Sophiana
sukses slalu...semangat kak 💪😍😍
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Cicih Sophiana
yg hati nya tulus berakhir dgn kebahagiaan... sehat bahagia dan sukses slalu kak Nama... bintang lima untuk kak Nana 🙏👍🥰🥰
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin, moga KK juga demikian 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Cicih Sophiana
nanti mampir...
Cicih Sophiana
5 tahun telah terlewati Arvin dan Vira... usaha mereka semakin maju semoga Arvin dan Vira semakin bahagia...
Cicih Sophiana
hukuman penjara selama 15 tahun untuk Daril tok tok tok... sidang di tutup🫢😀
Cicih Sophiana
wah Vira seperti nya hamil nih...
fii 🤩
👍👍👍
anonim
Arvin setia mendampingi Ibunya yang mentalnya terganggu. Masa lalunya menjadikan Arvin tulus dalam merawat Ibunya.

Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.

Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.

Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.

Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.

Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.

Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.

Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
anonim
Pak Kades dan istrinya sudah mendengar gosip tentang Vira.

Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.

Pak Kades juga belum tentu percaya.

Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.

Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.

Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
anonim
Dasar Ibu dan anak sama-sama bejatnya. Keduanya masih menginginkan Vira tapi dengan cara yang salah.
anonim
Kebetulan sekali leher Vira di gigit tomcat. Jadi semakin meyakinkan ibu-ibu dengan apa yang telah dikatakan Tari.

Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.

Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.

Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
anonim
Daril ini lekaki pecundang. Menambah omongan yang sudah gak benar, dengan bicara bohong.

Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.

Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
A.R
mau bangun usaha kok minta dana sama org lainn,,, gadaikan saja tuhh rmh ibu mu
Anitha
Alhamdulillah akhir bahagia Vira dan Arvin...

Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Kembali kasih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
fii 🤩
mampir kk
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Makasih, Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
abimasta
terimakasih thor
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Saatnya Vira menanyakan skincare yang hilang.

Yanti langsung tersedak mendengarnya.

Dia mengelak, tidak tahu.

Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.

Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.

Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.

Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.

Tari mengaku itu miliknya.

Ditanya beli di mana, harganya berapa.

Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!