Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran mereka
Kata‑kata Annisa menggantung di udara, membuat suasana ruang makan terasa semakin tegang. Chensi masih terdiam, matanya menatap lurus ke wajah gadis itu, namun tatapannya kini terlihat berubah—bukan lagi kaget, melainkan penuh ketegasan yang sulit digoyahkan.
Setelah beberapa saat, ia menggelengkan kepala perlahan namun tegas.
“Tidak bisa,” ucapnya singkat namun keras. “Aku tidak akan mengizinkanmu pergi, apalagi membawa anakku pergi jauh dari jangkauanku.”
Annisa terkejut, matanya membelalak. “Tapi Tuan… saya sudah jelaskan alasannya. Kita tidak bisa menikah, berbeda keyakinan, dan saya tidak ingin membebani hidup Tuan. Lebih baik saya pergi dan menyelesaikannya sendiri.”
Chensi berdiri, melangkah mendekat hingga berdiri tepat di hadapan Annisa. Suaranya menjadi lebih berat dan penuh kekuasaan yang biasa ia gunakan dalam urusan bisnis.
“Siapa bilang kita tidak bisa bersama? Jika halangan terbesarnya adalah perbedaan keyakinan, maka ada satu jalan untuk menyelesaikannya. Ikutilah keyakinan dan adat kami. Jadilah seperti wanita lain di sisiku. Dengan begitu, kau bisa tetap tinggal di sini, menjadi bagian dari hidupku, dan anak ini akan lahir dengan status yang jelas, tanpa harus disembunyikan atau dibawa pergi ke tempat yang jauh.”
Mendengar usulan itu, wajah Annisa seketika memucat. Ia berdiri juga, mundur selangkah sambil menggeleng kuat‑kuat.
“Tidak! Itu tidak mungkin, Tuan! Demi apa pun, saya tidak akan pernah meninggalkan keyakinan yang saya pegang sejak lahir. Itu adalah bagian dari diri saya, lebih dari sekadar aturan atau kebiasaan. Saya rela hidup susah, rela bekerja keras, tapi tidak akan pernah mengubah apa yang saya yakini demi alasan apa pun!” teriaknya dengan suara parau, air matanya mulai menetes deras.
Chensi mengerutkan dahi, merasa kebingungan sekaligus kesal karena permintaannya ditolak mentah‑mentah. “Kenapa kau begitu keras kepala? Apa salahnya menyesuaikan diri agar hidup kita menjadi lebih mudah? Di sini kau akan hidup berkecukupan, anak kita akan tumbuh dengan segala kemewahan dan perlindungan. Apa lagi yang kau minta?”
“Bukan soal kemewahan atau kebutuhan hidup, Tuan!” jawab Annisa sambil menangis terisak. “Ini soal hati dan prinsip hidup. Jika saya mengubah keyakinan saya hanya demi kenyamanan, berarti saya sudah mengkhianati diri sendiri, mengkhianati ajaran yang saya percayai, dan juga mengkhianati keluarga yang telah mendidik saya. Saya tidak bisa melakukannya, sekalipun Tuan mengancam saya dengan apa pun.”
Pertengkaran kecil pun terjadi. Keduanya memegang pendirian masing‑masing, tidak ada yang mau mengalah. Annisa menangis sesenggukan, merasa terjebak di antara keinginan untuk menjaga harga diri dan keyakinannya, serta kenyataan bahwa ia kini mengandung anak dari lelaki yang memegang seluruh kekuasaan atas hidupnya.
Sementara itu, Chensi juga merasa bingung dan marah—bukan pada Annisa, tapi pada situasi yang mempersulit segalanya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa perbedaan ini akan menjadi tembok setinggi ini. Namun satu hal yang ia yakini sepenuhnya. Ia tidak akan membiarkan anaknya dibawa pergi dan dibesarkan jauh darinya, tanpa ia bisa melihat atau melindunginya.
Akhirnya, Chensi mengangkat suaranya sedikit lebih keras untuk menghentikan perdebatan itu.
“Cukup! Kita tidak perlu membahas hal ini lagi malam ini. Dengarkan keputusanku yang terakhir. Jika kau menolak mengikuti jalanku, maka kau tetap harus tinggal di sini. Kau tidak boleh pergi ke mana pun. Kau akan melahirkan anak ini di rumah ini, di bawah pengawasanku. Aku akan memastikan kau dan bayi ini mendapatkan segala yang terbaik, tanpa mengubah keyakinanmu—itu janjiku. Tapi satu hal yang tidak akan pernah aku izinkan. Yaitu kau membawa anakku pergi jauh dari pandanganku.”
Annisa menatapnya dengan pandangan campuran antara sedih dan kecewa. “Tapi Tuan… jika saya tetap tinggal di sini, bagaimana nasib saya? Saya bukan istri, bukan juga wanita simpanan. Saya hanya akan terlihat seperti orang asing yang menumpang hidup, dan itu akan menyakiti hati saya sendiri.”
Chensi menatapnya lekat, lalu suaranya melunak sedikit meski ketegasannya tetap terjaga.
“Kau akan tetap menjadi dirimu sendiri. Kau bebas menjalankan ibadahmu, berpakaian sesuai kebiasaanmu, dan hidup sesuai apa yang kau percayai. Tidak ada yang akan memaksamu mengubahnya. Tapi kau dan anak ini akan tetap di sini, di bawah tanggung jawabku. Aku tidak akan membiarkan darah dagingku tumbuh tanpa perlindungan ayahnya. Itu adalah keputusanku, dan tidak ada yang bisa mengubahnya.”
Annisa tertegun, menangis terisak lebih keras. Ia sadar, meski ia menolak pindah keyakinan, ia tetap tidak memiliki kebebasan untuk pergi. Ia terikat oleh nasib, oleh janji tak tertulis, dan oleh kenyataan bahwa anak di dalam rahimnya adalah bagian dari lelaki yang berdiri di hadapannya ini.
Di malam yang semakin larut itu, keduanya berpisah dengan hati yang sama‑sama berat. Annisa kembali ke kamarnya dengan perasaan bingung—ia berhasil mempertahankan keyakinannya, namun kini terjebak dalam situasi yang lebih rumit dari sebelumnya. Sementara Chensi duduk sendirian di ruang kerjanya, menyadari bahwa ia harus mencari jalan tengah yang bisa menjaga hati Annisa, prinsipnya, dan masa depan anak mereka tanpa harus saling merusak satu sama lain.
Sejak malam itu, Chensi benar‑benar menepati janjinya. Ia tidak lagi memaksa Annisa untuk mengubah keyakinan atau adatnya. Ia memerintahkan semua pelayan untuk menghormati kebiasaan gadis itu—menyediakan makanan yang halal, memberikan ruang dan waktu untuk beribadah, serta tidak mengganggu privasinya. Bahkan, ia sendiri mulai berusaha memahami hal‑hal yang dilarang dan diizinkan bagi Annisa, agar tidak lagi melakukan hal yang menyinggung perasaannya.
Namun, sikap Annisa tetap dingin dan menjaga jarak. Di matanya, ia masih terasa terpenjara. Ia bersyukur karena tidak dipaksa berpindah agama, namun hatinya tetap gelisah karena situasi yang tidak jelas. Setiap malam, setelah semua orang terlelap, ia akan duduk bersujud, mencurahkan segala keresahannya dalam doa yang panjang dan penuh air mata.
“Ya Allah… berikanlah hamba jalan yang terang. Apa yang harus hamba lakukan? Hamba ingin menjaga keyakinan, namun hamba juga tidak bisa menolak kenyataan ini. Bagaimana nanti jika anak ini lahir? Statusnya tidak jelas, hubungannya dengan ayahnya tidak terikat secara sah menurut ajaran hamba. Agama apa yang akan ia ikuti? Apakah ia akan tumbuh dalam kebingungan?”
Pertanyaan‑pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, membuat tidurnya tidak pernah tenang.
Hingga suatu malam, saat Chensi datang ke kamarnya untuk memastikan kondisinya—seperti yang sudah menjadi kebiasaan baru—Annisa akhirnya memberanikan diri mengutarakan hal yang paling mengganjal di hatinya.
“Tuan Chensi…” panggilnya dengan suara lirih namun tegas. “Ada satu hal lagi yang membuat saya tidak tenang. Jika nanti anak ini lahir… agama apa yang akan ia anut? Keyakinan siapa yang akan ia ikuti?”
Chensi duduk di tepi tempat tidur, menatap perut Annisa yang mulai terlihat sedikit membesar. Ia menjawab dengan nada santai, seolah itu adalah hal yang sudah jelas baginya.
“Tentu saja ia akan mengikuti keyakinanku. Ia adalah anakku, pewaris satu‑satunya harta dan kekuasaanku. Di sini, hukum dan adat kami yang berlaku. Ia akan tumbuh menjadi orang yang kuat, mengikuti jejak ayahnya.”
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, wajah Annisa seketika berubah pucat lalu memerah karena emosi yang meledak. Ia duduk tegak, matanya berkaca‑kaca namun memandang tajam ke arah Chensi.
“Tidak bisa! Itu tidak adil! Anak ini juga darah daging saya! Jika ia mengikuti keyakinan Tuan, berarti ia menjauh dari ajaran yang saya percayai dan saya yakini sebagai kebenaran! Bagaimana saya bisa membesarkannya dengan hati tenang jika ia tidak mengikuti jalan yang saya anggap benar?”
Emosi Annisa meluap, tangisnya kembali pecah. Ia merasa seolah akan kehilangan haknya sebagai ibu juga. “Kenapa Tuan selalu mengambil keputusan sendiri? Mulai dari hidup saya, tempat tinggal, hingga masa depan anak saya—semua Tuan atur sesuka hati! Apakah saya hanya dianggap sebagai wadah untuk melahirkan pewaris harta Tuan saja?”
Chensi terkejut melihat reaksi gadis itu. Ia segera mengulurkan tangan untuk menenangkan bahu Annisa. “Tenanglah, Annisa… Jangan terlalu emosi, nanti berdampak pada kandunganmu. Kita bisa membicarakannya baik‑baik.”
Namun sentuhan itu justru membuat Annisa semakin kesal dan marah. Dalam keadaan emosi yang memuncak, ia tidak berpikir panjang. Ia menangkap pergelangan tangan Chensi yang ada di dekatnya, lalu menggigitnya sekuat tenaga, seolah melampiaskan segala rasa tertekan, marah, dan bingung yang selama ini ia pendam.
“Aduh!”
Chensi terkejut, namun ia tidak menarik tangannya seketika. Ia hanya mengerutkan dahi menahan rasa perih, membiarkan Annisa menggigitnya sampai gadis itu sendiri yang akhirnya melepaskan gigitannya, lemas dan menangis tersedu‑sedu.
Di pergelangan tangan Chensi terlihat bekas gigitan yang cukup dalam, merah membengkak, bahkan sedikit mengeluarkan darah. Namun lelaki itu tidak marah, tidak juga membentak. Ia hanya menatap Annisa dengan pandangan yang penuh rasa sakit—bukan pada lukanya, melainkan pada penderitaan gadis itu.
“Sudah cukup melampiaskannya?” tanyanya dengan suara lembut, lalu mengusap air mata yang mengalir di pipi Annisa dengan tangan yang masih utuh. “Maafkan aku… aku tidak bermaksud membuatmu merasa terpinggirkan. Aku hanya belum terbiasa membagi keputusan dengan orang lain.”
Annisa tertegun, melihat bekas gigitan itu dan menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ia menutup mulutnya, matanya terbelalak karena rasa bersalah.
“Tuan… maafkan saya! Saya tidak bermaksud menyakiti Tuan… saya hanya bingung dan takut…” ucapnya terbata‑bata, tangannya gemetar ingin menyentuh luka itu namun takut.
Chensi tersenyum tipis, lalu menggeleng. “Tidak apa‑apa. Lukanya akan sembuh. Tapi pertanyaanmu itu benar. Ini juga masalah yang harus kita pikirkan bersama, bukan hanya keputusanku semata. Berikan aku waktu untuk memikirkannya. Aku tidak ingin membuatmu terus menderita seperti ini.”
Malam itu, mereka berdua terlelap dalam suasana yang masih berat, namun setidaknya satu hal sudah jelas—masalah ini tidak akan selesai hanya dengan satu keputusan sepihak. Chensi pun mulai menyadari bahwa ia harus menemukan jalan yang bisa menghormati hati Annisa, sekaligus menjaga haknya sebagai ayah.