Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: JANJI DI BAWAH LANGIT SENJA
Assalamu'alaikum readers... terimakasih banyak sudah mau mampir di sini, silakan mau langsung baca kisah ini juga nggak papa. Ini sequel dari novel "MAAF BU, AKU BUKAN ANAKMU!" karena kisah ini lanjutannya dari ALINA yang masih remaja.. Ini ALINA versi dewasanya.. Terimakasih sekali lagi yang sudah mau mendukung karya ini...
Jangan lupa, selesai baca tinggalkan jejaknya ya mau like, komentar tambah hadiah apalagi kalau ngasih vote waaah maa Syaa Allah bahagia banget author ❤️❤️❤️
Happy reading....
SINOPSIS :
Sepuluh tahun. Cukup lama untuk mengubah luka menjadi kekuatan, dan air mata menjadi ketenangan.
Alina Mahendra kini tumbuh menjadi wanita berhijab anggun. Namanya sering disebut‑sebut di ruang sidang sebagai pengacara muda yang tegas, berani bicara lurus, dan tidak pernah mau kompromi soal kebenaran. Di sampingnya selalu ada Farhan Adhitama. Pemuda berpostur tegap itu sejak sekolah sudah memendam rasa dalam diam. Selain cerdas di bidang sains, ia juga menguasai karate sampai tingkat tinggi—bukan untuk pamer, tapi murni supaya punya cukup tenaga melindungi orang yang paling ia sayangi. Bertahun‑tahun ia belajar menunggu. Hingga akhirnya tiba saatnya ia memberanikan diri melamar. Dan bahagianya tak terkira, saat tahu perasaan itu ternyata saling mengisi, lalu direstui sepenuh hati oleh kedua keluarga.
Namun kebahagiaan yang hampir sempurna itu ternyata tidak berjalan tanpa bayangan.
Dari kegelapan masa lalu yang hampir terlupakan, Raka Haris kembali muncul. Bukan lagi dengan wajah dan nama yang dulu dikenal orang. Kini ia berjalan di tengah masyarakat dengan identitas baru: Arka Pradana, pengusaha muda tampan, berkelas, dermawan, dan disegani banyak pihak. Di balik topeng kesempurnaan itu, dendamnya justru makin membara. Ia mewarisi kelicikan ayahnya, lalu mengembangkannya jauh lebih kejam, lebih cerdik, dan jauh lebih sulit dilacak jejaknya. Baginya, Alina adalah akar dari segala kehancuran yang menimpa nama dan kekayaan keluarga Haris bertahun silam. Dan ia memilih waktu paling kejam untuk membalas. Tepat di hari‑hari terakhir menjelang akad nikah gadis itu.
Raka merangkai jebakan berlapis sedemikian rupa, sampai‑sampai kebenaran sendiri yang seolah berbalik menjerat leher Alina. Nama baik, karier yang dibangun tetes keringat bertahun‑tahun, kepercayaan orang tua, bahkan cinta suci yang hendak diikatnya dengan Farhan, semuanya melayang di ujung tanduk. Saat orang lain hanya mudah percaya apa yang tampak di permukaan, Alina dan Farhan harus berjuang bahu‑membahu menguak kepalsuan satu per satu. Namun makin dalam mereka menggali fakta, makin jelas satu hal mengerikan. Musuh mereka tidak cuma memakai satu topeng saja. Dan kebenaran yang sesungguhnya, ternyata jauh lebih gelap dari apa pun yang pernah mereka bayangkan.
...BAB 1...
...JANJI DI BAWAH LANGIT SENJA...
Lima tahun bukan waktu yang singkat.
Cukup panjang mengubah gadis remaja yang dulu sering menunduk takut dan penuh luka, menjadi wanita berhijab anggun yang kini berani berdiri tegak menghadap hakim dan berbicara lantang soal keadilan. Cukup panjang juga mengubah pemuda pendiam yang cuma dikenal jago bela diri, menjadi ilmuwan cerdas berwibawa yang setiap langkahnya selalu membawa ketenangan.
Sore itu di halaman belakang rumah Mahendra, udara beraroma kuat melati dan mawar putih yang sedang mekar lebat. Langit di atas kepala berwarna jingga kemerahan, perlahan berganti ungu gelap di pinggir ufuk.
Alina duduk tenang di samping Bu Kirana. Jilbab warna krem lembut jatuh sempurna menutupi dadanya, busana gamis berwarna hijau sage membuatnya tampak bersinar lembut—namun sorot matanya tetap memancarkan ketegasan khas yang selalu melekat pada dirinya. Jari‑jarinya tanpa sadar memilin‑milin ujung kain jilbab, tanda kecil yang cuma diketahui orang terdekat kalau ia sedang gugup sekali.
Di hadapannya berdiri Farhan. Kemeja putih lengan panjang dan celana bahan abu‑abu tua yang ia pakai terlihat sederhana, tapi postur tubuhnya yang bidang dan tegap—hasil latihan karate bertahun‑tahun—tetap membuat siapa saja yang lewat tak sembarangan mendekat. Wajahnya tampan bersih. Tatapannya dalam, lembut sekali saat tertuju pada Alina, tapi tetap menyimpan wibawa yang sulit dijelaskan dengan kata. Di tangannya tergenggam kotak kecil berisi cincin berlian sederhana, tapi berkilau lembut kena cahaya matahari sore.
Yang tidak banyak orang tahu, jari‑jemari pemuda itu sedikit gemetar di balik kotak itu.
“Sudah hampir sepuluh tahun aku mengenalmu, Lin,” suaranya pelan, agak tercekat di awal kalimat, tapi terdengar jelas sampai ke sudut‑sudut halaman. “Dari saat kau masih sering bersembunyi takut kalau harus berhadapan dengan orang banyak. Sampai kini, kau yang berani berteriak lantang menuntut kebenaran di ruang sidang yang dingin itu.”
Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu terlalu kencang.
“Dulu aku cuma berani memandangmu dari jauh. Cuma berjanji dalam hati, akan melindungimu sebisa aku, walau peran itu cuma sebatas teman saja. Tapi makin lama aku sadar… ini bukan sekadar kagum. Aku mencintaimu. Bukan cuma karena siapa dirimu sekarang. Tapi karena setiap proses yang kau lalui. Setiap air mata yang kau sembunyikan sendirian. Dan setiap kebaikan yang tetap kau jaga erat‑erat, meski dunia pernah berkali‑kali menyakiti hatimu.”
Bu Kirana yang duduk di samping Alina langsung mengusap pelan pipinya dengan ujung selendang. Air mata bahagia sudah menggelinding tanpa ia sadari. Di sisi lain, Pak Aditya hanya tersenyum tipis sambil sesekali menepuk pelan dadanya—sisa sakit lama yang kadang masih datang mengganggu, tapi sore itu rasanya sama sekali tidak mengganggu kebahagiaannya. Restu itu sebenarnya sudah ia berikan jauh hari sebelumnya.
Farhan melangkah selangkah mendekat. Tetap menjaga batas sopan sebaik mungkin, tapi matanya sama sekali tidak berani bergeser dari wajah gadis di hadapannya.
“Aku tidak akan pernah janjikan jalan yang selalu mulus ke depannya. Tidak ada manusia yang sanggup menjanjikan itu. Tapi aku berjanji satu hal saja. Di mana pun kau nanti berdiri menegakkan hukum, aku akan selalu ada di sebelahmu. Jadi tameng kalau bahaya mendadak datang. Jadi tempat kau beristirahat kalau lelah sudah sampai di ubun‑ubun. Dan jadi pendamping yang akan selalu mengingatkanmu kembali pada kebenaran, persis seperti yang selalu kau ajarkan padaku selama ini.”
Suaranya makin lembut, hampir berbisik saja.
“Maukah kau menerimaku, Lin? Untuk melangkah bersama, menuju ikatan yang halal dan kekal di sisi‑Nya?”
Air mata bahagia Alina akhirnya tumpah juga. Ia mengangguk pelan, berkali‑kali, sambil berusaha menahan isak tangisnya. Selama ini pun ia sebenarnya menyimpan rasa yang sama. Sejak bertahun lalu, saat ia tanpa sengaja melihat Farhan berdiri tenang di sudut ruangan, dan tiba‑tiba ia sadar, ketenangan yang selama ini ia cari‑cari, ternyata selalu hadir setiap kali pemuda itu ada di dekatnya.
“Mau,” jawabnya lirih, tapi tegas. “Aku mau, Farhan.”
Tepuk tangan terdengar lembut dari sekeliling. Tak lama kemudian telepon genggam Pak Aditya berdering keras. Dimas, adik tiri Alina yang kini sedang menuntut ilmu jauh di Madinah, menelepon tepat di detik‑detik itu. Sinyalnya sempat putus‑nyambung, tapi suara bahagianya terdengar jelas sampai ke telinga semua orang, mendoakan kakaknya dan calon iparnya agar selalu dilindungi dan disatukan dalam keberkahan selamanya.
Sore itu rasanya sempurna sekali.
Luka‑luka lama seolah sudah tertutup rapat. Usaha Pak Aditya kini kembali berdiri tegak, bahkan jauh lebih besar dan lebih bersih dari sebelumnya. Butik busana milik Bu Kirana makin dikenal luas orang. Dimas makin hari makin cerdas dan dekat dengan Sang Pencipta. Alina dengan kariernya di dunia hukum. Farhan dengan hasil‑hasil penelitiannya yang mulai dipakai banyak lembaga resmi. Semuanya terasa utuh. Seolah tidak ada lagi yang kurang.
Tapi kebahagiaan yang tampak sempurna itu, luput dari pengamatan sepasang mata yang sudah terlalu lama mengintai dari balik bayang‑bayang.
Malam harinya, di lantai paling atas gedung pencakar langit tertinggi di pusat kota, ruang kerjanya tertutup kaca gelap anti intip dari luar. Seorang pemuda duduk sendirian di balik meja kerja besar. Jas hitam buatan luar negeri melekat rapi di badannya, rambut disisir rapi ke belakang, wajahnya tampan terawat dengan senyum yang selalu terlihat ramah, rendah hati, dan penuh wibawa. Di papan nama besar di luar ruangan tertulis jelas: ARKA PRADANA. Pengusaha muda terkaya di usia dua puluh sembilan tahun. Sering menyumbang ke panti dan masjid. Sering dipuji media sebagai teladan terbaik generasi penerus bangsa.
Tidak ada satu jiwa pun di kota ini yang tahu. Di balik nama baru, penampilan baru, dan topeng kesempurnaan itu, tersembunyi Raka Haris. Nama yang dulu sempat menjadi buah bibir, lalu seolah ditelan bumi begitu saja.
Jari‑jarinya yang panjang dan pucat bergerak pelan menyentuh permukaan layar tablet besar. Di sana terpampang berita utama portal berita hari ini, disertai foto besar Alina dan Farhan yang baru saja bertunangan.
Senyum ramah yang biasa terukir di bibirnya perlahan berubah menjadi lengkungan dingin. Hanya di bibir saja. Tidak pernah sampai ke matanya. Di dasar hatinya, kebencian itu mendidih pelan, sudah bertahun‑tahun ia simpan rapat‑rapat. Ia ingat semuanya. Bagaimana gadis yang dulu ia kira lemah dan mudah diatur, justru menjadi alasan utama mengapa ayahnya kini sudah lama tiada di dalam sel penjara yang lembap. Mengapa nama besar keluarga Haris runtuh seketika tanpa sisa. Mengapa ia harus rela mengubur jati dirinya sendiri, mengubah segalanya dari nol, lalu membangun kembali kerajaan kekuasaannya dengan cara‑cara yang jauh lebih kotor, jauh lebih kejam, dan jauh lebih cerdik dibanding apa pun yang pernah dilakukan ayahnya dulu.
Kini ia tidak lagi cuma bermain soal dokumen palsu atau merusak usaha orang. Di tangannya mengalir jaringan pencucian uang lintas negara, perdagangan ilegal yang disamarkan rapi di balik perusahaan properti raksasa. Semuanya berjalan sangat bersih di atas kertas. Bahkan tim penyidik paling hebat sekalipun, sampai detik ini belum pernah menemukan satu titik celah pun.
Dan ia sudah memilih waktu yang paling pas untuk membalas dendamnya. Tepat saat kebahagiaan Alina sedang berada di puncak tertingginya.
“Kau pikir cuma karena jadi pengacara hebat, dan sebentar lagi menikah dengan pria yang sempurna di mata semua orang… lalu semuanya selesai begitu saja, Alina?” bisiknya pelan pada dirinya sendiri. Suaranya rendah, berat, dan mengerikan di tengah keheningan ruangan yang kedap suara itu.
“Belum. Permainan baru saja dimulai.”
Ia menekan satu tombol kecil di permukaan mejanya. Tak lama kemudian berkas tebal masuk lewat surel kantornya. Itu berkas perkara besar yang sedang hangat dibicarakan orang. Tuduhan pencucian uang ratusan miliar terhadap perusahaannya. Dan dengan perhitungan matang yang sudah ia susun berbulan‑bulan lamanya, ia sudah mengatur segala jalannya. Hingga pada akhirnya, kasus berat itu jatuh persis ke tangan satu‑satunya pengacara yang paling ia benci—dan sekaligus paling ia butuhkan untuk kelancaran rencananya. Alina Mahendra.
Raka tahu betul kelemahan terbesar gadis itu. Alina hidup dan mati demi kebenaran. Ia akan berjuang mati‑matian membela apa yang ia yakini benar. Maka Raka akan memberinya kebenaran palsu yang disusun sedemikian rapi berlapis‑lapis. Sehingga kelak saat semuanya terbongkar nanti, bukan nama Arka Pradana yang hancur lebur. Tapi nama baik Alina. Karier yang ia bangun tetes keringat bertahun‑tahun. Kepercayaan orang tuanya. Kehormatan keluarganya. Dan yang paling menyakitkan hatinya, ikatan suci yang hendak ia bangun bersama Farhan Adhitama.
“Kau, akan menjebak dirimu sendiri dengan tanganmu sendiri, Alina...” gumamnya lagi pelan, lalu mematikan layar tablet itu sekaligus. Ruangan kembali gelap gulita. “Dan tepat di hari pernikahanmu nanti… saat semua orang sedang memujimu sebagai wanita paling beruntung sedunia… saat itulah aku pastikan semuanya runtuh.”
Sementara itu, jauh di bawah sana di rumah keluarga Mahendra, Alina baru saja membuka pesan masuk dari ketua kantor hukum tempat ia bekerja. Isinya singkat saja. Ada perkara besar. Kliennya pengusaha muda bernama Arka Pradana. Dan secara khusus, pria itu meminta Alina menjadi penasihat hukum utamanya.
Alina mengerutkan pelan kedua alisnya. Jari telunjuknya tanpa sadar mengelus halus permukaan layar gawainya. Ada firasat aneh yang tiba‑tiba menjalar pelan dari ubun‑ubun sampai ke ujung jari‑jarinya. Sebuah rasa tidak enak yang samar, sulit dijelaskan asal‑usulnya.
Namun ia hanya menghela napas panjang, lalu menguncikan kembali layar ponselnya.
Belum ada yang tahu. Bahwa berkas sederhana yang baru saja mendarat di genggamannya itu, adalah pintu gerbang dari segala bahaya, kebohongan berlapis, dan deretan topeng palsu yang perlahan‑lahan akan mulai terbuka satu per satu.
Bersambung…
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏